Aster Veren

Aster Veren
Episode 46




-Arsel-


Ku langkahkan kakiku mendekati Wanda yang sedang berdiri disamping rumah pohon dengan tatapan lurus memperhatikan danau dihadapannya.


Dia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri ya? Batinku bertanya-tanya.


"Maaf aku terlambat." Lanjutku setelah sampai disampingnya bersamaan dengan hembusan angin yang bertiup lembut menyapa kehadiranku.


"Tidak masalah," ucapnya membuatku melirik kearahnya, "jadi kau sudah mengingatnya?" Lanjutnya bertanya sambil membalas lirikanku dan membuat mataku bertemu tatap dengan manik hitamnya.


"Ya," angguk ku sambil mengalihkan perhatianku pada danau dihadapanku, "... jadi apa jawabanmu?" Lanjutku tak ingin membuang waktuku terlalu lama, entah kenapa aku memiliki firasat buruk dari jawaban yang sudah dipersiapkan olehnya itu. Hatiku merasa takut sekarang.


"Kau sangat tidak sabaran ya." Ucapnya membuatku melirik kembali padanya sambil mengernyitkan keningku saat melihatnya tersenyum tipis dengan sorot mata yang jauh memandang ke dasar danau.


Tidak bisa! Batinku kembali mengalihkan perhatianku dari Wanda saat merasakan gelenyar aneh dihatiku, sepertinya perasaanku padanya masih belum berubah. Bahkan detak jantungku kembali berpacu saat melihat rambut panjangnya itu tertiup angin.


"Sepertinya hari ini kau sedang nganggur ya? Apa tidak apa-apa meninggalkan pasien-pasienmu di rumah sakit?" Tuturku mencoba mencairkan suasana berat yang sudah ku rasakan sejak aku tiba.


"Ada banyak dokter disana, kenapa aku harus bekerja keras setiap hari? sekali-kali aku juga ingin beristirahat." Jelasnya terdengar kesal, membuatku terkekeh saat mendengar ucapannya itu.


"Ternyata orang sepertimu juga membutuhkan istirahat ya?" Tuturku setelah puas mentertawakannya.


"Aku juga manusia tau!" Ucapnya langsung mendongakan kepalanya dihadapanku, membuatku terkejut setengah mati dengan tindakannya yang tak seperti biasanya itu.


Bahkan mataku dibuat terpaku dengan ekspresi yang dibuatnya saat ini.


"Hah ...," gumamnya sambil menjauhkan dirinya dari hadapanku setelah menghela napas letihnya membuatku semakin penasaran dengan jawaban yang sudah disiapkannya untuk ku.


"... kau tau?" Lanjutnya bertanya bersamaan denganku yang langsung meneguk salivaku saat merasakan kembali tekanan aneh disekitarku.


"Selama ini aku merasa menjadi orang paling jahat untukmu, yah kau tau ... aku selalu menolakmu secara terang-terangan bukan? Padahal kau sangat baik padaku ...." Lanjutnya sambil tersenyum miris.


"Kemudian suatu hari kau datang lagi padaku dan kembali melamarku ditempat ini, aku benar-benar dibuat terkejut saat kau memintaku untuk memikirkannya baik-baik karena kau bilang lamaranmu saat itu, adalah lamaran terakhirmu ...." Jelasnya kembali memperhatikan danau dihadapannya dengan sorot mata sendunya.


"... lalu apa jawabanmu?" Tanyaku mencuri perhatiannya yang langsung mengubah posisi berdirinya menghadap kearahku yang masih setia berdiri disampingnya.


"Aku mendengar kau dijodohkan dengan seseorang, saat itu aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ku sadari sebelumnya." Ucapnya membuatku tersentak.


"Perjodohan itu–" Jelasku segera dihentikan olehnya.


"Tapi aku tidak mau mengakuinya dan selalu bertanya-tanya, kenapa kau bisa menyukaiku? Apa yang kau suka dari diriku yang tidak istimewa ini? Kenapa kau–" Lanjutnya membuat kesabaranku habis karena Wanda memotong ucapanku sesukanya tanpa mendengarkanku terlebih dulu, lalu dengan cepat ku bungkam mulutnya itu dengan ciuman yang bisa membuatnya berhenti mengoceh.


"Apa harus ada alasan untuk menyukaimu?" Tanyaku setelah melepaskan ciumanku darinya bersamaan dengan hembusan angin yang kembali menerpa tubuhku.


"Aku menyukaimu karena kamu adalah kamu, dan kau sangat istimewa bagiku. Jadi berhentilah mengoceh yang tidak-tidak, berikan saja jawabanmu padaku." Lanjutku tak bisa mengalihkan pandanganku dari manik hitamnya.


"Aku ...." Ucapnya terdengar ragu masih mendongakan kepalanya dihadapanku dengan ekspresi yang sulit untuk ku gambarkan.


"Katakan!" Pintaku berusaha untuk memberikan senyuaman terbaik ku meski rasanya hatiku tidak dalam kondisi baik sekarang.


Entah kenapa aku merasa, kali ini pun kau akan menolak ku. Aku harus benar-benar melupakannya sekarang! Lanjutku dalam hati bersamaan dengan sentuhan bibir lembutnya yang mendarat dibibirku.


Apa yang ... ter–jadi? Batinku berusaha mencerna situasiku pada detik-detik terakhir aku sedang melamun, dan sekarang ku rasakan bibirnya sedikit menekan membuatku terkejut.


"... aku mau menikah dengamu." Ucapnya setelah puas menciumku dan kembali mengejutkanku.


"Kau tuli?!" Tanyanya terdengar kesal.


"Bu–bukan begitu, hanya saja ... apa aku tidak salah dengar? Kau ...." Jelasku merasa salah tingkah sekarang, apalagi bayangan saat Wanda menciumku beberapa detik lalu mulai terbayang dalam ingatanku, bahkan sentuhan bibirnya masih sangat terasa dibibirku. Dan sekarang aku merasa sedikit menyesal karena tidak membalas ciumannya itu.


"Pft..." Ucapnya berusaha menahan tawanya, namun tak berhasil. Detik berikutnya dia malah tertawa lepas dihadapanku dan membuatku merasa malu.


"Kenapa kau tertawa? Kau tidak sedang mempermainkanku kan?" Tanyaku merasa dipermainkan olehnya.


"Hah? Apa? Tidak! Tunggu, hhaha... aduh perutku," Jawabnya berusaha untuk menghentikan tawanya, "... hah, sekarang sudah lebih baik." Lanjutnya sambil menyeka air mata disudut matanya.


"Jadi?" Tanyaku tak bisa menahan kekesalanku.


"Aku hanya berpikir kau sangat lucu, reaksimu itu ... padahal kau yang melamarku, tapi saat aku menerima lamaranmu kau malah terlihat tidak bisa mempercayainya," jelasnya setelah menghela napas leganya.


"Biar ku perjelas, sekali lagi. Aku mau menikah denganmu." Lanjutnya sambil tersenyum manis membuatku tak bisa berkutik sedikitpun.


"He?" Gumamku merasa tak percaya dengan apa yang ku dengar darinya, bagaimana tidak? Aku sudah memprediksinya kalau Wanda akan menolak ku lagi kali ini. Aku bahkan sudah mempersiapkan diri untuk melupakannya, tapi ... apa ini yang disebut dengan sebuah keajaiban?


"Tadinya aku berniat menolakmu karena ku dengar kau dijodohkan dengan seseorang, tapi saat Eric memberitauku soal perjodohanmu yang kau batalkan. Aku merasa harus memberitaumu soal perasaanku yang sebenarnya," Jelasnya segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak! Meski perjodohanmu berlanjutpun, aku tetap ingin memberitaumu. Aku ingin kau tau perasaanku yang sebenarnya sebelum aku menolakmu. Tapi sekarang berbeda ... aku merasa sangat ingin memilikimu, aku ingin kau terus mencintaiku, aku ingin menjadi egois sekarang, aku ... mendadak jadi orang yang serakah sekarang." Lanjutnya panjang lebar dengan emosi naik turunnya yang membuatku tersenyum saat melihat bagaimana dia berusaha menjelaskan perasaannya padaku.


"Aku akan terus mencintaimu Wanda ... terima kasih." Ucapku segera memeluk tubuhnya dan diapun langsung membalas pelukanku, membuatku refleks menciumi puncak kepalanya.


"Aku belum pernah mengatakannya, tapi ... aku pikir, aku juga sudah lama menyukaimu," tuturnya dalam pelukanku, "sangat!" Lanjutnya membuatku tak bisa mengontrol rasa senangku saat mendengar ucapannya itu.


"Meskipun aku menyebalkan?" Tanyaku berusaha menggodanya dan membuatnya mendengus kesal.


"Ya, meskipun kau sangat menyebalkan." Jawabnya semakin mengeratkan pelukannya padaku.


"Hhaha... aku senang mendengarnya. Kalau begitu, aku akan terus bersikap menyebalkan padamu." Tuturku segera mendapat pukulan darinya.


"Aku bercanda, kenapa memukulku?" Lanjutku sambil melepaskan pelukannya dan langsung meraih kotak cincin di dalam saku celanaku.


"Boleh ku pakaikan?" Tanyaku membuatnya mengangguk cepat saat ku tunjukan sebuah cincin di dalam kotak merah yang ku genggam.


"Tentu." Jawabnya sambil tersenyum lebar.


Syukurlah aku tidak lupa membawanya. Batinku sambil memasangkan cincin ditanganku pada jari manis Wanda.


"Tidak sia-sia aku menyimpan cincin ini selama beberapa tahun." Tuturku masih belum puas memperhatikan cincin dijari manis Wanda, benar-benar cantik.


"Terima kasih Arsel." Ucapnya membuat perhatianku teralihkan pada manik hitamnya yang terlihat bersinar.


Sebenarnya meski kau menolak ku lagi hari ini, meski aku sudah siap untuk melupakanmu, meski ku bilang ini adalah lamaran terakhirku, tapi aku pasti akan tetap mencintaimu dan melamarmu lagi. Tapi aku tidak akan pernah mengatakannya padamu, biarkan ini menjadi rahasiaku sendiri. Yang pasti, aku sangat bahagia sekarang.


"Terima kasih kembali Wanda." Balasku sambil mengulas senyuman terbaik ku.


.


.


.


Thanks for reading...