
-Aster-
Waktu sudah menunjukan pukul 06:30 malam sekarang, Carel dan Khael sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Jangan tanya paman Eric dan kak Hana, mereka juga kembali ke kediaman paman merah sesuai perintah yang diberikan paman pada mereka pagi tadi.
Dan saat ini aku sedang melamun di teras kamarku yang terletak di lantai atas, menunggu kepulangan ayah yang belum juga kembali dari pekerjaannya.
"Rumah ini jadi terasa sepi," gumamku mengingat kembali hari-hariku bersama nenek, karena biasanya nenek akan menemaniku jika ayah belum pulang kerja.
Tapi sekarang, aku kembali seperti dulu saat pertama kali kehilangan ibu dan nenek. Malam itu aku menatap bintang-bintang dilangit di depan teras rumah sampai bi Siti menemukanku termenung seorang diri disana.
"Papa kapan pulang ya?" Gumamku lagi sebelum menghela napas panjang bersamaan dengan hembusan angin malam yang menyapa tubuhku dengan lembut.
Ingatanku benar-benar berkelana sekarang, memikirkan berbagai hal. Mulai dari kesibukan ayah yang semakin sibuk dari sebelumnya, lalu ekspresi Carel yang belum pernah ku lihat sebelumnya siang tadi dan perasaan aneh yang ku rasakan saat ini. Entahlah, rasanya aku sangat kesepian sekarang.
Biasanya disaat seperti ini Carel akan tinggal sampai papa pulang. Tapi dia pergi sepuluh menit setelah mobil paman Eric keluar dari gerbang rumah nenek.
Sikapnya yang seperti itu benar-benar menggangguku. Batinku kembali menghela napas panjang sambil memperhatikan mobil paman Rigel yang keluar dari kediaman nenek.
"Setelah mobil paman Eric, lalu mobil paman Tomi dan sekarang mobil paman Rigel. Papa kapan pulang ya?" Gumamku kembali melihat bintang-bintang di langit.
"Apa yang kau lakukan disana?" Suara ayah mengejutkanku, membuatku segera berbalik badan kearah sumber suara itu.
"Papa, kapan pulang?" Tanyaku segera berhambur ke pelukan hangatnya yang sudah ku rindukan sejak tadi, "aku bahkan tidak mendengar suara mobil papa." Lanjutku yang tak menyadari kedatangan mobil ayah.
"Kau tidak melihatku di bawah? Padahal tadi papa sempat memanggilmu saat baru keluar dari dalam mobil. Selain itu, jangan berdiri diteras dengan menggunakan pakaian tipis seperti ini. Kau bisa masuk angin nanti." Tutur ayah membuatku terkekeh saat mendengar omelan dengan wajah temboknya itu.
"Pekerjaan papa sudah selesai?" Tanyaku berusaha mengalihkan arah pembicaraan ayah.
"... sudah." Jawabnya terlihat lesu.
Sepertinya papa sangat kelelahan ya. Batinku sambil memperhatikan tatapan lesu ayah yang menatap dalam pada dinding kamar disampingku, lalu tak lama kemudian aku bisa mendengar helaan napas panjangnya sebelum tatapannya kembali tertuju padaku.
"Sudah makan?" Tanyaku masih menengadah memperhatikan ekspresi lelah ayah.
"Belum, kau sendiri sudah makan?" Jawab ayah balik bertanya sambil mengelus puncak kepalaku dengan telapak tangan kanannya.
"Aku menunggu papa pulang."
"Jadi belum makan?"
"Hhehe... belum."
"Hah~ kau ini nakal sekali, padahal sudah sering ku ingatkan supaya makan tepat waktu. Kenapa selalu menunda waktu makan?"
"Aster kan tidak suka makan sendiri, jadi menunggu papa pulang untuk makan bersama."
"Baiklah, kamu tunggu di ruang makan. Papa mau mandi dulu." Tutur ayah sebelum melepaskan telapak tangannya dari puncak kepalaku.
"Baik." Jawabku sambil tersenyum lebar.
***
-Carel-
"Darimana saja? Kenapa jam segini baru pulang?" Suara ayah mengejutkanku yang diam-diam melewati ruang kerjanya untuk sampai ke kamarku.
Padahal ku kira dia sangat sibuk, kenapa bisa melihatku dari celah pintu sekecil itu? Batinku menggerutu sambil mengingat pintu ruang kerjanya yang terbuka sedikit. Tapi sekarang pintu itu sudah terbuka lebar dengan sosok ayah yang sudah berdiri diambang pintu.
"Ck, biasanya juga ayah tidak pernah protes. Ada apa dengan ayah hari ini?" Decak ku merasa kesal sambil memasukan kedua tanganku kedalam saku celana jeans ku.
"Kau mengunjungi ibumu lagi? Bagaimana dengan kondisinya sekarang?" Tanyanya membuatku mendelik kesal dengan perkataannya itu, bagaimana bisa dia tidak mengetahui kondisi istrinya sendiri? Apa dia tidak pernah mengunjungi ibu?
Semua orang tua sama saja ya? Mereka selalu memprioritaskan pekerjaannya daripada keluarganya. Gumamku sambil mengeratkan kepalan tanganku.
"Selamat malam tuan muda." Sapa beberapa pelayan yang berpapasan denganku.
"Hem."
"Anu tuan muda." Ucap salah satu dari mereka menghentikan langkahku, dengan malas ku balikan tubuhku kearah mereka.
"I–ini undangan yang dititipkan tuan Ian untuk tuan muda. Beliau bilang ini undangan dari keluarga Ravindra untuk tuan muda." Jelasnya sambil menunjukan surat undangan ditangannya.
"Undangan?" Gumamku segera meraih undangan itu, "pergilah." Lanjutku membuatnya pergi sebelum aku masuk ke dalam kamarku.
Dengan malas ku buka undangan ditanganku dan membacanya setelah duduk nyaman dipinggiran tempat tidurku.
"Pesta kelulusan si Nathan sekaligus perayaan ulang tahunnya ya?" Gumamku mengingat orang menyebalkan itu.
"... tapi disini dikatakan khusus untuk siswa-siswi yang sekolah di Akademi ... yang ada di ibu kota, apa maksudnya ini?" Lanjutku tak bisa mengalihkan pandanganku dari kertas undangan yang ada ditanganku.
Tunggu! Apa ini artinya kakek sudah mendaftarkanku ke akademi itu tanpa persetujuan dariku? Batinku merasa kesal, tanpa sadar tanganku sudah meremas kertas undangan itu sekuat tenaga.
***
-Aster-
"Jadi Aster sekolah di Akademi lewat jalur partner karena ujian masuknya sudah ditutup?" Tanyaku berusaha mencerna perkataan ayah yang mengatakan aku akan masuk Akademi dan tinggal di Asrama selama tiga tahun. Dan hanya akan pulang ke rumah setiap enam bulan sekali setelah ujian semester selesai dilaksanakan.
"Ya, kamu akan masuk ke akademi sebagai partner Teo." Jawab ayah sebelum menghela napas beratnya lagi.
"Ta–tapi kenapa tiba-tiba papa mengirim Aster ke akademi? Padahal waktu di Singapura papa tidak mengizinkanku masuk sekolah umum dan membuatku home schooling." Tuturku tak bisa memahami pikiran ayah sedukitpun.
"Hah~ sebenarnya aku tidak mau bilang. Tapi sepertinya harus dijelaskan supaya kamu paham." Tutur ayah setelah menghela napas berat untuk kesekian kalinya.
"Apa?" Tanyaku tak bisa berpaling dari tatapan serius ayah.
"Keluarga Carel ingin memasukan Carel ke akademi untuk mempersiapkannya sebagai penerus keluarga Alterio berikutnya, tapi anak itu bersikeras tidak mau masuk ke akademi. Jadi mereka memintaku untuk memasukanmu juga ke akademi, mungkin dengan begitu Carel bisa berubah pikiran." Jelas ayah terlihat lesu.
Jadi karena itu dia terus-terusan murung sejak sore tadi? Dia terus memikirkan hal ini? Batinku mengingat ekspresi murung Carel.
"Tapi dengan ini, aku juga bisa mempersiapkanmu menjadi penerus keluarga Veren berikutnya, seperti yang diinginkan oleh nenekmu." Tutur ayah berkebalikan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kesal.
"... tapi harusnya ku tolak saja permintaannya itu, kalau seperti ini aku tidak akan bisa bertemu dengan putriku dalam waktu yang lama, dasar Ian si*lan!" Lanjut ayah menggerutu kesal sambil menusuk potongan daging dihadapannya dengan pisau makan. Bahkan sorot matanya terlihat begitu tajam sekarang.
Papaku ini benar-benar .... Batinku tak bisa berkata-kata lagi selain melanjutkan makan malamku dengan tenang.
"Ah ya, kita dapat undangan dari keluarga Ravindra." Ucap ayah setelah puas menggerutu sendiri.
"Ravindra?" Gumamku merasa familiar dengan marga itu.
"Sepertinya mereka mengirim undangan itu untuk merayakan hari kelulusan putranya sekaligus merayakan hari ulang tahunnya," jelas ayah sambil memotong daging dipiringnya dengan pisau makan dan garpu.
"Kita akan datang?" Tanyaku sebelum melahap potongan daging digarpuku.
.
.
.
Thanks for reading...