Aster Veren

Aster Veren
Episode 68




-Kalea-


Sesi berdansa telah usai, dengan cepat Carel pergi meninggalkanku untuk menemui seorang pria yang berdansa dengan Aster.


Ku langkahkan kaki ku mengikutinya dan melihat tingkah kekanak-kanakannya yang membuat keributan, mencuri perhatian beberapa orang disekiling mereka.


"Hah~ benar-benar bocah, sebenarnya usianya berapa tahun sekarang?" Gumamku setelah menghela napas letih, dengan melihatnya saja mataku sudah lelah. Bagaimana bisa Aster berteman dengan orang sepertinya?


Sepertinya dia juga tidak menyadari perasaan Carel ya? Lanjutku dalam hati sambil memperhatikan ekspresi kesal Carel yang masih mengoceh pada pria dihadapannya. Sedangkan Aster hanya membisu tak bisa berkata apapun, ekspresinya tampak kebingungan.


"Sepertinya dia kesulitan mengatasi kebodohan Carel." Angguk ku kembali menghela napas sambil mengedarkan pandanganku untuk mencari keberadaan papa.


"Papa dimana ya? Ku pikir tadi masih berdiri didekat ayah ...," lanjutku masih mencari keberadaan papa yang tidak ada didekat ayah, maksudku paman Ansel. Rasanya sulit sekali memanggilnya paman setelah lama memanggilnya dengan sebutan ayah.


Bruk!


Tanpa sengaja aku menabrak tubuh seseorang dan hampir terjatuh karena tidak memperhatikan jalan, beruntung kaki ku bisa cepat menyeimbangkan tubuhku. Lagian kenapa si bodoh itu pergi sendiri? Tidak bisakah dia menuntunku sampai kepinggir ruangan? Gerutuku dalam hati, merasa kesal dengan sikap cuek Carel.


"Ma–maaf." Ucapku merasa bersalah karena telah menabraknya.


"... kau?" Suaranya membuatku menengadah untuk melihat siapa yang baru saja ku tabrak tanpa sengaja itu.


"Ah ...." Gumamku merasa sangat sial karena berhadapan dengan suami baru ibu–ku.


"Ada apa sayang?" Suara ibu membuatku melirik kearah kedatangannya.


"Tidak dia–" Jawabnya terpotong dengan kehadiran kedua putranya. Aku tau karena melihat foto mereka di internet, bahkan pernikahan ibu pun tampak mewah disiarkan secara live di stasiun televisi.


Albert Alaric, aku tidak tau dia terkenal dalam usaha apa, yang ku tau dia adalah seorang pria berstatus tinggi dilihat dari bagaimana dia menarik perhatian para wartawan diacara pernikahannya. Bisa ku bayangkan berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk meliput acara pernikahannya jika dia bukan orang berstatus tinggi, dan lagi memangnya ada orang bodoh yang mau meliput pernikahan rakyat biasa? Dan lagi siapa yang mau menonton acara pernikahan orang yang tak dikenal?


Kepalaku berdenyut saat mengingat tayangan acara pernikahan ibu di televisi, dan lagi ... ibu bahkan tidak mengundangku, terakhir bertemupun dia hanya bilang "Hiduplah dengan damai bersama ayahmu dan lupakan aku! Jika kita bertemu disuatu tempat, bersikaplah seperti kita tidak saling mengenal. Mengerti?" Begitulah katanya dengan tatapan yang tak pernah ku duga.


Kenapa aku harus berhadapan dengan mereka? Tatapan ibu ... benar-benar menggangguku. Batinku tak bisa mengalihkan perhatianku dari sorot mata ibu yang begitu terganggu dengan kehadiranku.


"Aku mengerti, aku akan segera pergi jadi berhentilah menatapku seperti itu!" Gumamku merasa kesal berkali-kali lipat dari sebelumnya.


"Sekali lagi saya minta maaf karena tidak memperhatikan sekitar, kalau begitu saya permisi dulu." Lanjutku sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Siapa dia ayah?"


"Tidak kah dia mirip dengan ibu?"


"Kau juga menyadarinya ya?"


"Hhaha, begitukah? Ngomong-ngomong bagaimana? Kalian menikmati pesta malam ini? Sudah lama kita tidak pergi bersama keacara seperti ini kan? Ibu sangat senang bisa pergi bersama dengan kalian lagi ...." Jelas ibu sebelum aku benar-benar menjauh dari sisi mereka.


Lihatlah dia tampak bahagia sekarang ... senang melihatmu bahagia bersama keluarga barumu. Batinku sambil meremas pakaianku dengan gemas.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 malam, acara malam ini hampir selesai dan aku memutuskan untuk pulang setelah papa mengajak ku untuk pergi bersama ayah dan Aster.


"Kau tidak pernah bilang kalau kau memiliki seorang kakak," protes Aster pada Carel yang berjalan disampingnya.


"Jahatnya, kau tidak pernah menceritakan soalku pada temanmu?" Rengek pria berambut putih yang sebelumnya berdansa dengan Aster, siapa lagi kalau bukan kakaknya Carel?


"Berisik Dwi!" Bentak Carel tampak terganggu dengan rengekan pria dibelakangnya.


"Kalian, menyingkirlah dari putriku!" Ucap ayah membuatku terperajat, mengingat aku sedang berjalan diantara ayah dan papa.


"Berhentilah bersikap seperti itu," lanjut paman Ian yang berjalan disamping ayah.


"Benar tuan, anda tidak boleh terus-terusan bersikap seperti itu. Bukankah anda sudah berjanji tidak akan mengintimidasi teman-teman nona lagi dengan tatapan tajam tuan? Saat di Singapura juga–" Jelas paman Rigel yang berjalan dibelakang terhenti saat melihat ayah meliriknya dengan tatapan mengancam.


"Tutup mulutmu itu Rigel!" Ucapnya penuh penekanan.


"Kau ini benar-benar sudah berubah ya? Kemana perginya dirimu yang sedingin es itu?" Tutur papa setelah menghela napas beratnya.


Entah kenapa, aku merasa menjadi nyamuk diantara mereka semua.


"Kau tidak boleh main dengan kami!" Lanjut Carel sambil menghalangi Aster dari kakaknya, dia benar-benar terlihat kesal dan lagi kak Dwi terlihat menikmati setiap reaksi yang ditunjukan oleh Carel, sepertinya dia senang menggoda adiknya didepan orang yang disukainya ya?


"Kau juga jangan datang ke rumahku lagi!" Ucap ayah yang sudah menarik Aster kedalam pelukannya.


Ada apa denganku? Batinku sambil memegangi dadaku tanpa sadar, rasanya hatiku tidak senang melihat kedekatan Aster dengan ayah. Padahal aku sudah lama melupakan perasaan iriku, bahkan aku juga sudah hidup bersama papa dalam waktu lama beberapa tahun terakhir ini, sama seperti Aster dengan ayah. Jadi wajar kalau hubungan mereka menjadi sedekat itu kan? Tapi kenapa hatiku seperti ini ya?


Rasanya benar-benar sesak. Benar-benar tidak adil bukan?! Aster hidup dikelilingi orang-orang baik seperti ayah dan paman Arsel, dia bahkan mendapatkan teman seperti Carel. Tapi aku? Dibuang oleh ibuku dan ditinggalkan sahabat baik ku juga ....


"Pa–papa? Se–sesak, tolong lepaskan aku!" Gumamnya tak bisa berkutik dalam pelukan ayah.


"Tak ada habisnya menonton mereka, Lea papa ambil mobil dulu ya. Kamu tunggu disini sebentar." Ucap papa membuatku menoleh padanya dan mengangguk patuh.


Tidak! Aku tidak sendirian, meskipun ibu tidak mengakuiku sebagai putrinya lagi ... aku masih memiliki papa yang menyayangiku dengan tulus. Batinku segera menggelengkan kepalaku untuk menepis semua pikiran negatifku saat melihat punggung papa yang menjauhiku.


"Permisi." Suara seorang pria dewasa diarah belakangku menarik perhatian semua orang.


"Tuan Albert, selamat malam." Tutur paman Ian dengan senyuman ramahnya.


"Ada perlu apa?" Ketus ayah masih memeluk Aster.


"Pa–papa tidak baik berbicara seperti itu!" Ucap Aster sambil melepaskan pelukan ayahnya.


"Rigel siapkan mobil sekarang!" Lanjut ayah membuat paman Rigel bergegas.


"Situasi macam apa ini sebenarnya?" Gumamku tak begitu mengerti dengan situasi canggung ini.


"Ansel Veren dan Ian Alterio, senang bertemu dengan kalian. Maafkan aku karena terlambat menyapa kalian, sepertinya kalian sudah mau pulang ya?" Tuturnya membalas senyuman ramah paman Ian.


"Benar tuan, sepertinya anda juga sudah bersiap untuk pulang ya?" Balas paman Ian bersamaan dengan kedatangan putra keduanya tuan Albert.


Sepertinya ibu masih belum datang .... Batinku merasa gelisah.


"Bisakah saya menanyakan sesuatu?" Suara ayah membuatku menoleh kearahnya yang sudah terlihat serius.


"Tentu saja." Jawab tuan Albert dengan senyuman ramahnya yang tak ku sukai.


"Bukankah kita harus bergegas? Kau bilang ada pertemuan penting kan? Untuk apa membuang waktu disini?" Tutur seorang pria disampingnya yang tak lain adalah putranya.


"Tidak apa-apa, hanya sebentar. Lagipula ibumu masih didalam bersama kakakmu kan? Dan lagi ada hal yang mengangguku sejak tadi." Jelasnya membuatku resah saat melihat tatapan tuan Albert yang terlihat dingin melirik ku dengan hati-hati.


"Bisakah kau mengantarku ke kamar kecil sebentar? Papa aku pergi dulu sebentar ya," ucap Aster mengejutkanku saat tangannya meraih pergelangan tangan kiriku dan menarik ku kearah kamar kecil.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku angkat bicara sambil melepaskan genggamannya.


"Maaf, aku ... tidak suka dengan tatapan paman itu saat melirikmu."


"Kau menyadarinya?"


"Uh–ya, dia terlihat mengamatimu dan gerak-gerikmu juga terlihat–"


"Aku ... kenapa kau bersikap baik padaku? Padahal dulu aku selalu bersikap jahat padamu, bukankah kau bisa mengabaikanku saja?" Tuturku mengeluarkan isi pikiranku, lagipula bukankah aneh jika Aster masih bersikap baik padaku? Bukankah lebih normal jika dia menyimpam dendam padaku?


"Aku, aku memang belum bisa melupakan kejadian dimasa lalu. Tapi ... aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bersikap seperti ini padamu. Aku hanya, merasa ekspresimu itu sangat mengangguku. Rasanya aneh melihatmu menjadi begitu pendiam, padahal dulu kau selalu terlihat ceria bersama dengan Nadin. Tapi–" Jelasnya segera ku potong saat melihat ekspresinya yang menggangguku.


"Bodoh! Kau memang bodoh ya? Jika aku menjadi dirimu, mungkin aku tidak akan pernah memaafkan orang sepertiku. Bahkan anak itupun masih belum bisa memaafkanku, jadi bagaimana bisa kau bersikap seperti ini padaku? Benar-benar tak bisa dimengerti ...." Tuturku mengingat perkataan Carel saat berdansa denganku sebelumnya.


Kau memang tak bisa menyimpan dendam ya Aster? Bagaimana anak sepertimu bisa sebaik ini pada orang sepertiku? Aku tidak mengerti, sungguh! Padahal usia kami sama. Tapi, rasanya dia lebih dewasa dariku.


.


.


.


Thanks for reading...