
-Aster-
Setelah pertemuan tak terduga ku dengan ibunya Carel dan makan siang bersamanya, waktu sudah berjalan selama beberapa hari sampai hari yang dinanti pun tiba. Hari apa? Tentu saja hari ulang tahunku.
Dan saat ini aku tengah melakukan beberapa persiapan untuk acara malam ini. Persiapan yang lebih melelahkan dari persiapanku untuk menghadiri acara ulang tahunnya kak Nathan waktu itu.
Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun di rumah nenek, padahal aku sangat yakin kalau semalam aku tidur di kamarku—asrama. Tapi ... aku malah terbangun di kamarku sendiri.
"Nona?" Suara kak Hana sambil memijat wajahku dengan lembut.
"Hmm?" Gumamku tanpa membuka kedua mataku.
"Pemijatannya sudah selesai, setelah ini nona–" Tuturnya terpotong oleh suara kak Desi yang berteriak memasuki kamarku. Rasanya jantungku hampir copot dibuatnya.
"Desi! Tidak bisakah kamu berbicara dengan nada yang lebih rendah? Kenapa harus selalu berteriak? Nona sampai terkejut karenamu." Omel Hana terdengar kesal.
Tapi aku setuju dengan perkataannya, kak Desi memang selalu seperti itu jika sedang panik. Dan teriakannya itu selalu membuatku terkejut sampai tak habis pikir, bagaimana bisa pelayan yang satu ini bisa bertahan lama di rumah nenek?
"Ahahaha, ma–maafkan saya nona. Habisnya kita sudah tidak ada waktu lagi. Jadi–" Tuturnya sambil terkekeh.
"Jadi kau panik," dengus kak Mila bersamaan dengan kelopak mataku yang sudah terbuka, memperhatikan langit-langit kamarku.
"Apa airnya sudah siap Desi?" Tanya kak Hana sambil membantuku bangun dari posisi terbaring ku, mengalihkan perhatian kak Desi.
"Sudah," jawabnya antusias.
"Baiklah, kalau begitu tolong siapkan gaun dan aksesori yang sudah disiapkan oleh tuan Arsel. Nona akan mengenakannya malam ini." Tutur kak Hana membuat kedua pelayan itu bergegas.
"Mari nona." Lanjut kak Hana saat aku menoleh kepadanya.
"Hah~ baiklah." Gumamku sambil menghela napas letih saat melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 05:00 sore. Tinggal dua jam lagi sampai acaranya dimulai.
Tidak bisakah aku melakukan persiapan yang sewajarnya? Tubuhku rasanya sangat letih ... padahal kegiatanku hari ini hanya berbaring di atas tempat tidur, membiarkan kak Hana memijat tubuhku, melakukan beberapa perawatan pada wajah dan rambutku, lalu membiarkannya memandikanku juga.
Tapi kenapa bisa seletih ini ya? Batinku sambil mengekori kak Hana yang berjalan memasuki kamar mandi dengan handuk putih ditangannya.
***
"Sudah selesai," ucap kak Hana bersamaan dengan kak Desi dan kak Mila. Bahkan ekspresi mereka juga terlihat kompak menunjukan kegembiraan yang sulit untuk dideskripsikan. Mebuatku terbebani.
"Nona benar-benar terlihat sangat cantik." Tutur kak Mila kemudian, membuatku ikut memperhatikan bayangan diriku pada pantulkan cermin dihadapanku.
... woah, apa ini benar diriku? Kenapa rasanya sangat berbeda? Apa aku memang secantik ini? Batinku bertanya-tanya sambil terkagum-kagum dengan wajahku yang terlihat berbeda karena riasan tangan kak Desi.
"Semua ini berkat kak Hana, kak Mila dan kak Desi. Terima kasih banyak karena sudah membantuku bersiap." Lanjutku setelah puas memperhatikan riasan wajah ku yang terlihat natural dengan aksesori bunga dirambutku yang sudah ditata rapi oleh kak Mila. Lalu gaun cantik berwarna biru langit yang ku kenakan, terlihat sangat cantik–juga sedikit berat ditubuhku. Tapi terasa nyaman saat dikenakan.
"Tidak, nona memang sudah cantik dari sananya. Kami hanya sedikit merias wajah nona supaya terlihat lebih segar dan memakaikan apa yang diperintahkan oleh tuan Arsel. Jadi nona tidak perlu berterima kasih pada kami. Karena kami hanya melakukan tugas kami sebagai pelayan rumah yang diberikan tugas untuk membantu persiapan nona." Tutur kak Mila dengan suara lembutnya, bahkan tatapannya terlihat begitu hangat dengan sudut bibirnya yang sudah terangkat membentuk senyuman manis diwajahnya.
"Tidak, bagaimanapun juga aku tetap berterima kasih pada kakak-kakak sekalian. Terima kasih banyak." Ucapku setelah menggelengkan kepalaku tidak setuju dengan apa yang ku dengar dari mulut kak Mila.
"Huhu, aku jadi terharu ... bagaimana ini Mila? Nona benar-benar sangat cantik dan baik." Isak kak Desi mengejutkanku, begitupun dengan kak Hana dan kak Mila.
"Ah! Kenapa hatimu lemah sekali? Lepaskan aku!" Ucap kak Mila berusaha melepaskan pelukan kak Desi yang tiba-tiba memeluk tubuh kak Mila.
Rasanya baru kemarin aku tinggal di rumah ini dan merayakan ulang tahunku bersama ayah, paman dan nenek. Tapi sekarang ... nenek. Batinku mengingat sosok nenek dan kenangan hangatku bersama nenek.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun nona." Ucap kak Hana bersamaan dengan kak Mila dan kak Desi, membuatku terkejut.
Ku rasakan sudut bibirku terangkat saat melihat senyuman ketiga kakak pelayan dihadapanku, membuatku ikut tersenyum juga. "Ah–ya, terima kasih banyak."
"Nona~ bolehkah saya memeluk nona?" Tanya kak Desi dengan rengekannya, melentangkan kedua tangannya mendekatiku. Namun dengan cepat kak Hana dan kak Mila menarik mundur tubuh kak Desi.
"Eh? Kenapa?"
"Kenapa apanya? Kau tau berapa lama kita mendandani nona? Jangan kau rusak kecantikan nona dengan pelukanmu itu." Tutur kak Hana membuatku tak bisa berkata apapun. Padahal aku tidak masalah kalau mereka mau berpelukan denganku, tapi saat aku melentangkan tanganku untuk menyambut kak Desi, mereka malah menariknya mundur.
"Benar, aku tidak akan membiarkanmu!" Lanjut kak Mila beseru, membuat kak Desi murung.
"Apa sudah selesai–" Suara paman merah menarik perhatian ku, "woah, lihatlah keponakan ku ini. Benar-benar cantik." Lanjutnya membuatku malu.
"Paman!" Seruku sambil mendekati paman.
"Bagaimana dengan gaunnya? Apa nyaman dipakai?" Tanya paman membuatku mengangguk mantap untuk menjawab pertanyaannya.
"Ck, kenapa kau ada disini?" Decak ayah yang sudah berdiri disamping paman dengan setelan abu-abu yang terlihat cocok di tubuhnya. Bahkan rambutnya juga sudah ditata sedemikian rupa, memperlihatkan aura ketampanannya.
... Papaku ini sangat tampan ya? Batinku merasa bangga dengan ketampanan ayah.
"Paman ... datang sendiri?" Tanyaku mencari sosok Khael yang mungkin bersembunyi dibalik tubuh ayahnya. Tapi tidak ku dapati dia dibelakang paman.
"Kau mencari Khael?" Tanya Ayah membuatku menengadah dan mengangguk cepat untuk menjawab pertanyaannya yang tepat sasaran.
"Dia sudah menunggumu di bawah, para tamu undangan juga sudah tiba. Ayo pergi." Lanjut ayah sambil mengulurkan telapak tangan kanannya padaku.
"Tunggu!" Cegah paman menghentikan sambutan tanganku, "biarkan aku berfoto dengan keponakanku dulu. Setelah itu kalian boleh pergi." Lanjutnya sambil mengeluarkan heandphonenya dari saku jas yang dikenakannya.
"Tidak boleh!" Seru ayah segera meraih tanganku dan menggandengku keluar kamar.
"Hee... dasar pelit!" Seru paman terdengar kesal.
"Selamat jalan tuan, nona." Ucap kak Hana bersamaan dengan kak Mila dan kak Desi yang sudah membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat mereka saat aku dan ayah melewati mereka.
"Aster, biarkan aku berfoto dengannya dulu!" Ucap paman nyaris berteriak.
"Papa?" Gumamku sambil menengadahkan kepalaku untuk melihat ekspresinya. Tapi pandangan ayah fokus tertuju ke depan.
"Tidak usah pedulikan. Fokus saja pada pijakanmu, jangan sampai tersandung." Ucapnya saat menyadari tatapanku.
"Itu ...,"
Perkataan ayah memang benar, saat ini aku harus fokus pada pijakan ku. Kalau tidak, aku bisa terjatuh karena menginjak gaunku sendiri. Padahal aku pikir paman akan membuatkan ku gaun setengah pendek seperti waktu itu. Ternyata malah membuatkan gaun panjang seperti ini ... merepotkan.
"... tuan Ansel Veren bersama nona Aster Veren memasuki ruangan." Suara seorang penjaga pintu membuatku sedikit terkejut bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar memperlihatkan kemewahan dekorasi ruangan yang tidak pernah ku bayangkan akan semewah ini. Lalu pandangan ku berlanjut pada sekumpulan para tamu yang terlihat cantik dan tampan dengan apa yang mereka kenakan.
"Papa ini?" Gumamku tak bisa berkata apapun lagi karena merasa takjub dengan apa yang ku lihat saat ini. Rasanya air mataku ingin keluar.
"Selamat ulang tahun Aster." Ucap semua orang membuatku merinding, apalagi saat mereka semua serempak membungkukkan tubuhnya untuk memberikan salam hormat–padaku?
"Terima kasih atas kehadiran kalian semua diacara perayaan ulang tahun putriku malam ini. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mari kita mulai acaranya." Ucap Ayah membuat senyuman semua orang merekah, diikuti oleh pemain orkes yang mulai memainkan musik untuk sesi berdansa.
"Mau berdansa denganku?" Tanya ayah sambil mengulurkan tangannya padaku, membuatku tersenyum lebar sebelum menyambut uluran tangannya.
"Tentu saja." Ucapku kemudian.
Ibu ... aku merasa sangat bahagia hari ini. Apa ibu dan nenek melihatku? Apa nenek Marta juga melihatku? Lanjutku dalam hati sambil memperhatikan wajah tembok ayah yang menunjukan senyum tipisnya saat bertemu tatap denganku.
.
.
.
Thanks for reading...