
"Paman? Kenapa paman diam saja?" Tanyanya membuatku terkejut.
"Aku disini Aster, tidurlah ... hujannya sudah reda, petirnya juga sudah hilang." Suara Arsel membuatku menoleh kearahnya yang sudah berdiri dihadapanku menghalangi cahaya lilin dibelakangnya. Lalu manik merahnya itu menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku jelaskan.
Ku alihkan pandanganku pada manik ungu yang ku lihat samar dari mata anak itu.
"Tapi paman–" Ucap anak itu terhenti saat tangan Arsel mengelus keningnya dengan lembut dan penuh perhatian, membuat matanya kembali terpejam dengan tangannya yang masih memeluk tanganku dengan erat.
Tak lama kemudian seluruh ruangan menjadi terang kembali dan ku lihat anak itu sudah terlelap dalam tidurnya dengan pakaian tidur berwarna putih yang dikenakannya.
"Masih tidak mau mengakuinya?" Tanya Arsel menatapku dengan serius, lalu ku alihkan kembali pandanganku pada sosok Aster.
Secara perlahan ku lepaskan tangannya dari tanganku, dan membiarkan Arsel menyelimuti tubuh anak itu dengan selimut tebal milik ku. Lalu mataku melihat sebuah cincin yang tak asing dikalung anak itu.
"Ini?" Gumamku sambil meraih cincin itu dan memperhatikannya.
"Cincin pernikahan kak Helen denganmu." Ketus Arsel membuatku menoleh kearahnya yang sudah berdiri tegap disampingku.
"Ceritakan semua yang kau tau padaku." Ucapku membalas tatapan seriusnya.
Entah kenapa aku merasa penasaran sekarang, aku merasa ada sesuatu yang tidak ku ketahui dan Arsel menyembunyikannya dariku. Bahkan kepalaku mulai berpikir mungkin anak ini memang putriku sekarang.
"Untuk apa?" Tanyanya sambil berbalik badan dan melangkahkan kakinya menuju ambang pintu.
"Arsel!" Ucapku membuatnya berdecak kesal.
"Ck! Ikuti aku." Ucapnya membuatku bergegas.
***
-Aster-
Aku kembali ke rumah bersama dengan paman Eric, sedangkan paman merah masih sibuk dengan nenek di rumah mewah itu.
Sesampainya di rumah paman, aku langsung berlari memasuki rumah untuk menemui kak Hana.
"Eh nona sudah pulang?" Tanya kak Hana saat melihatku berlari memasuki dapur.
"Iya, aku pulang." Jawabku langsung terjun ke dalam pelukan hangat kak Hana.
"Bagaimana dengan nyonya? Apa nona sudah bertemu dengan nyonya?" Tanya kak Hana sambil mengelus puncak kepalaku.
"Baik, nenek sangat baik padaku ...." Jawabku membalas senyuman hangat kak Hana.
Sejujurnya aku masih terkejut dengan pembicaraan yang ku dengar tempo hari. Tapi saat nenek menemuiku di ruangan itu, aku merasa semuanya akan baik-baik saja. Apalagi saat mendengar penuturannya dan meyakinkanku untuk membuat ayah mengakuiku sebagai putrinya apapun caranya.
Lalu kami banyak berbincang mengenai masa kecil ayah dan paman merah. Nenek juga menunjukan album foto paman merah dan ayah saat mereka masih kecil, dan fotonya benar-benar menggemaskan.
Aku bahkan baru tau kalau rambut paman itu sebenarnya berwarna hitam seperti rambut ayah, tapi nenek bilang paman merah mengecat rambutnya menjadi warna merah. Dan aku selalu memanggilnya paman merah tanpa sadar.
"Nona?" Suara kak Hana menyadarkanku dari lamunanku.
"Ya?" Tanyaku sambil mengulas senyum.
"Apa nona sudah makan? Mau dibuatkan sesuatu?" Tanya kak Hana.
"Kalau gitu Aster mau dibuatkan teh hijau." Pintaku langsung mendapat anggukan cepat dari kak Hana.
"Kalau gitu nona tunggu di ruang tengah ya, nanti saya antarkan kesana ...." Tutur kak Hana membuatku mengangguk dan segera pergi ke ruang tengah.
Entah kenapa aku jadi ketagihan meminum teh hijau setelah mencobanya sekali di rumah nenek, awalnya aku tak begitu suka dan tidak mau mencicipinya. Tapi paman memintaku untuk mencicipinya sedikit untuk menghormati keinginan nenek. Jadi aku mencicipinya sedikit, tapi malah jadi ketagihan.
Setelah diingat-ingat, malam itu aku merasa ada yang berubah dari aroma tubuh paman. Aku juga jadi banyak bicara karena merasa takut, aku merasa sedikit bersalah pada paman merah karena berbicara seperti itu.
"Sudah jadi." Suara kak Hana menyadarkanku.
"Uwah wanginya ...." Ucapku saat mencium aroma teh hijau dihadapanku.
"Masih panas nona, tunggu sampai tehnya menghangat supaya lidah nona tidak terluka." Tutur kak Hana menghentikan tanganku yang hampir meraih cangkir teh itu dengan terburu-buru.
"Ku dengar nona sempat demam, bagaimana kondisi nona sekarang?" Lanjutnya bertanya.
"Sudah membaik. Nenek merawatku dengan baik hehe," jawabku tak bisa menyembunyikan perasaanku. Meski awalnya merasa sedih karena ayah tidak mau mengakuiku sebagai putrinya, tapi ... nenek mengakuiku sebagai cucunya dan itu membuatku senang.
***
Waktupun berlalu dengan cepat, paman juga sudah kembali dari rumah nenek. Dan sekarang dia sedang menemaniku belajar di dalam kamarku.
"Hee ... aku baru tau kalau kamu anak kelas tiga SD ...." Tutur paman begitu terkejut dan membuatku menoleh kearahnya yang sedang duduk diujung tempat tidur sambil memperhatikan buku catatanku.
"Nilaimu juga bagus-bagus, apa-apaan ini?" Lanjutnya berguman sambil membuka lembaran buku ditangannya.
"Memangnya Aster belum bilang ya?" Tanyaku membuat manik merah paman melirik kearahku.
"Bagaimana bisa anak kecil sepertimu berada di kelas tiga? bukankah dilihat dari usiamu harusnya kamu berada di kelas satu kan?" Tanya paman dengan ekspresi tak percayanya.
"Hem ... Aster masuk sekolah lebih awal," Jawabku kembali mengerjakan pekerjaan rumahku.
"Kau masuk sekolah saat usiamu baru 5 tahun? Bagaimana bisa? Usiamu saat itu harusnya menjadi usia anak-anak yang lagi senang-senangnya bermain, kenapa kak Helen mengirimmu ke sekolah? masa kecilmu ... berakhir dengan cepat ...." Oceh paman dengan ekspresi yang tak bisa ku gambarkan, sedangkan aku hanya bisa tersenyum kaku diam-diam saat mendengar ocehannya itu.
Ibu memang menjadi guru privatku saat usiaku menginjak 4 tahun. Saat aku sudah bisa menulis, membaca dan berhitung, ibu mengirimku ke sekolah dasar untuk melanjutkan pendidikanku karena ibu harus fokus dengan pekerjaannya.
Dan saat itu aku mendapatkan banyak teman, mereka sangat baik padaku. Tapi setelah mereka tau aku tidak memiliki seorang ayah, mereka langsung menjauhiku dan mengejek ku sesuka mereka.
"Sudah selesai?" Tanya paman mengejutkanku.
"Se–sedikit lagi." Jawabku kembali mengerjakan pekerjaan rumahku dengan perasaan campur aduk yang menggangguku sekarang.
Aku tidak tau ... haruskah aku merasa senang sekarang? karena masih memiliki keluarga, atau merasa sedih dengan kenyataan ibu dan nenek yang tak akan pernah menemuiku lagi meski aku berteriak memanggil mereka sampai suaraku habis, seperti hari itu .... Batinku mengingat hari menyedihkan itu.
"Kalau sudah selesai langsung tidur ya, besok aku akan mengantarmu ke sekolah sebelum pergi ke luar kota." Tutur paman meruntuhkan lamunanku, dan ku rasakan telapak tangannya mengelus puncak kepalaku dengan lembut.
"Iya." Jawabku sambil melihat jam dinding yang menunjukan pukul 08:15 malam.
Besok paman akan bekerja di luar kota selama beberapa hari, dan lagi-lagi rumah besar ini akan menjadi lebih sepi seperti sebelum-sebelumnya.
Ku harap tidak akan ada hujan besar dan petir lagi. Batinku.
"Kamu yakin tidak mau tinggal di rumah nenek sampai aku kembali dari luar kota?" Tanya paman yang sudah duduk kembali disamping tempat tidurku.
"Aster baik-baik saja, kan ada kak Hana." Jawabku sambil tersenyum, berusaha meyakinkan paman merah untuk tidak mengkhawatirkanku.
"Kalau begitu aku akan meminta anak itu untuk datang, jadi kamu tidak akan merasa kesepian selama aku tidak ada." Tutur paman setelah menghela napas lelahnya.
"Anak itu? siapa?" Gumamku bertanya-tanya dengan anak yang dimaksud oleh paman.
.
.
.
Thanks for reading...
Suka dengan ceritanya? tekan 👍 dan ❤ dibawah. Tinggalkan jejak di kolom komentar juga, supaya author lebih semangat melanjutkan kisah Aster dan lebih rajin lagi updatenya 😁