
-Aster-
"Ulangannya sudah selesai, kamu bisa pulang sekarang." Tutur bu Estelle padaku sambil membereskan lembar jawabanku bersama semua lembar soalnya.
"Terima kasih, kalau begitu Aster pulang sekarang. Sampai besok bu Estelle." Tuturku sambil bergegas pergi dari ruang kelas yang hanya diisi olehku dan bu Estelle karena siswa/siswi lainnya sudah pulang sejak pukul 10:45 siang.
"Sampai jumpa Aster." Balas bu Estelle diiringi senyuman hangatnya.
Ku langkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah menuju tempat parkir dimana ayah menungguku.
"Sudah selesai?" Suara Teo kembali mengejutkanku dan membuat langkahku terhenti.
"Teo?!" Gumamku sambil mengelus dadaku saking terkejutnya.
Anak ini selalu datang tiba-tiba ya .... Batinku memperhatikan sosoknya yang masih berdiri disampingku.
"Ah, maaf membuatmu terkejut. Bagaimana ujiannya?" Tuturnya merasa bersalah.
"Sudah selesai kok." Jawabku kembali melanjutkan langkahku menuju tempat parkir.
"Teo ikut kelas remedial juga?" Lanjutku bertanya.
"Tidak ...." Jawabnya sambil berjalan disampingku.
"Aku kira Teo ikut kelas remedial juga. Soalnya kemarin juga pulangnya sesore ini kan?" Jelasku sambil melirik kearahnya yang sudah memalingkan pandangannya dariku.
"Itu ... aku sibuk diperpustakaan," Ucapnya masih memalingkan pandangannya dariku, "ngomong-ngomong, Kalea dan Nadin sudah tidak mengganggumu lagi ya?" Lanjutnya bertanya.
Kalau diingat-ingat lagi, mereka memang sudah tidak menggangguku lagi sejak terakhir kali aku masuk sekolah dan bertemu dengan paman Tesar yang membuatku tak bisa masuk sekolah lagi selama satu minggu lebih.
"Iya ... aku juga belum melihat mereka lagi sejak masuk sekolah." Jawabku sambil menganggukan kepalaku, entah kenapa aku malah mengkhawatirkan Kalea tanpa alasan sekarang.
Mungkin karena ayah jadi lebih dekat denganku, aku jadi mengkhawatirkan perasaan Kalea.
"Berarti mereka tidak mengganggumu lagi secara diam-diam ya? Syukurlah ...." Gumamnya membuatku bingung saat melihatnya menghela napas lega seperti itu.
"Kalian bersama?" Suara Carel mengejutkanku.
"Oh kau datang?" Ucap Teo menghentikan langkahnya tepat didepan Carel yang sudah berdiri diujung koridor menuju parkiran.
"Kalian saling kenal?" Tanyaku yang berdiri dibelakang Teo.
"Ya." Jawab mereka secara bersamaan dan menoleh kearahku.
"Ba–bagaimana bisa Teo berteman dengan anak nakal seperti Carel?" Tanyaku merasa tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang. Secara Carel bilang dia tidak mau berteman dengan orang yang lebih bodoh darinya. Tapi kenapa dia bisa berteman dengan Teo? Apa mungkin dia lebih pintar dari Carel?
"Kau ini ya!" Geram Carel langsung meraih pipiku dan mencubitnya dengan gemas.
"Swakit Carel! Ampwuun ...." Rengek ku berusaha melepaskan tangannya dari wajahku, tapi sepertinya dia tidak mau mendengarkanku.
"Ca–carel kau membuatnya kesakitan." Ucap Teo berusaha membantuku dengan menenangkan Carel.
"Uh ini sangat sakit tau!" Ucapku sambil mengelus wajahku dengan telapak tanganku setelah cubitan Carel lepas dari pipiku.
"Kenapa kalian bisa berteman?" Tanyaku langsung mendapat pelototan dari Carel, berbeda dengan Teo yang hanya memberikan jawaban dengan senyuman tipisnya.
"Bu–bukan begitu, maksudku ... Carel kan bilang tidak mau berteman dengan orang bodoh, apa itu artinya Teo lebih pintar dari Carel?" Lanjutku berusaha menjelaskan apa yang ku pikirkan.
"Pft..." Gumam Teo terlihat menahan tawanya.
"Siapa yang kau bilang lebih pintar dariku hah?!" Tanyanya penuh penekanan.
"... sudahlah Carel, Aster saja tau mana yang lebih pintar diantara kita." Tutur Teo setelah berhasil mengendalikan dirinya.
"Hem?" Gumamku tak mengerti dengan ucapan anak berambut pirang itu.
"Kau!" Geram Carel terlihat kesal.
"Ah sudah jam segini, aku harus cepat pulang. Aku duluan ya, sampai nanti Aster." Tutur Teo segera pergi dari hadapanku dan Carel setelah dia melihat jam tangan miliknya.
Sepertinya Teo berusaha kabur dari Carel. Batinku masih memperhatikan ekspresi kesal Carel.
"Rahasia, udah yuk pulang!" Jawabnya segera meraih pergelangan tanganku dan membawaku pergi kearah mobil Carel.
"Kenapa Carel yang menjemputku?" Tanyaku merasa heran, biar bagaimanapun ayah bilang dia mau menjemputku juga hari ini. Jadi aku harus menunggunya jika ayah datang terlambat.
"Paman Ansel bilang ada pekerjaan penting yang belum dia selesaikan dan meminta paman Arsel untuk menjemputmu, tapi paman Arsel sedang ada tamu penting di rumahnya sekarang. Jadi aku yang datang bersama supirku." Jelasnya setelah kami sampai didekat mobil Carel.
"Nah sekarang cepat masuk." Lanjutnya bersamaan dengan pak supir yang sudah membukakan pintu mobil untuk ku.
Dengan berat hati akupun masuk kedalam mobil Carel diikuti olehnya. Lalu pak supir pun berjalan menuju pintu lainnya dan masuk kedalam.
***
-Carel-
"Kita sudah sampai." Ucapku membuat anak disampingku ini segera menoleh kearahku setelah menatap lama rumah mewah dihadapannya.
"Ini kan rumah nenek, kenapa Carel membawaku ke rumah nenek?" Tanyanya dengan ekspresi polosnya.
"Kau lupa ya? mulai hari ini kau akan tinggal di rumah tante Marta sampai kepergianmu ke Singapura bersama ayahmu." Jelasku setelah menghela napas lelah mengingat ucapan paman Arsel yang memintaku menjemput Aster dan mengantarkannya ke rumah tante Marta.
"Haa... aku lupa, hehe..." Tuturnya sambil terkekeh, "kalau gitu mari temui nenek." Lanjutnya segera turun dari dalam mobilku dengan penuh semangat, mau tak mau aku pun ikut turun dan mengikutinya masuk kedalam rumah tante Marta.
"Selamat datang nona, tuan muda Carel." Ucap Tomi yang sudah menunggu didepan pintu.
"Itu ...." Gumam Aster melirik kearahku dengan jari telunjuknya yang sudah menempel didagunya.
"Tomi, kau lupa?" Jawabku saat menyadari apa yang ingin dia tanyakan padaku.
"Ah, aku datang paman Tomi." Ucapnya langsung tersenyum hangat kearah Tomi.
"Nyonya sudah menunggu di dalam, mari saya antar ke ruangan beliau." Tuturnya segera memandu kami menuju ruangan tante Marta.
Padahal aku mau mengajaknya berkeliling dulu, batinku sambil menghela napas lelah saat mengingat omelan Tomi sebelumnya.
Aku mengatakan ingin mengantar Aster ke rumah tante Marta dan ingin bermain bersama Aster sebentar sebelum bertemu dengan tante Marta. Tapi Tomi langsung memberikan ceramah panjang untuk ku.
Aku memang nakal sih. Lanjutku dalam hati saat mengingat hari pertamaku berkunjung ke rumah tante Marta bersama ayahku. Aku hampir memasuki semua ruangan yang ada di rumah tante Marta dan membuat keributan besar di dapur dan perpustakaan pribadi milik tante Marta.
"Aku bahkan membuat para pelayan kerepotan ...," gumamku sambil melirik kearah Hans yang baru keluar dari perpustakaan.
... tapi sejak bertemu dengan Aster, tanpa ku sadari aku mulai merubah diriku sedikit demi sedikit. Lanjutku dalam hati sambil memperhatikan punggung Aster yang berjalan didepanku.
Ku lihat dia sedang berbincang dengan Tomi. Tapi aku tak terlalu memperhatikannya, yang ku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya aku bisa menghabiskan waktuku bersama Aster sebelum dia pindah ke Singapura.
"Sebaiknya aku ajak dia kemana ya? main di dalam rumah terus kan bosan ... apa aku ajak ke–" Gumamku terhenti saat aku melihat tante Marta keluar dari dalam kamarnya dengan wajah berseri-serinya.
"Aster!" Ucapnya langsung memeluk cucunya tanpa tau malu, padahal dihadapannya ada orang lain.
"Nenek, apa kabar?" Suara Aster terdengar gembira menerima pelukan hangat dari neneknya.
"Baik sayang, kabar nenek baik. Aster juga terlihat sehat ya ... syukurlah." Ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan menunjukan senyuman lebarnya pada Aster.
"Tomi tolong minta pelayan untuk menyiapkan camilan untuk cucuku." Lanjutnya membuat Tomi segera meninggalkan tempatnya setelah membungkukan sedikit tubuhnya pada tante Marta.
"Eh ada Carel juga, kalian datang bersama ya?" Tanyanya mengejutkanku.
"Ya–begitulah ...." Jawabku sedikit tergugup saat melihat sorot mata lembutnya perlahan kembali menajam.
Nenek ini tidak akan mengizinkanku membawa Aster keluar. Lanjutku dalam hati setelah mengetahui apa yang dipikirkan olehnya saat menatapku seperti itu. Meski aku tau tante Marta ini orang baik, tapi dia sangat mengerikan jika sedang mengerjai orang lain apalagi saat dia marah.
"Ada apa Carel?" Suara Aster menghancurkan lamunanku, "ayo masuk." Lanjutnya membuatku melirik kearah tante Marta yang sudah berjalan masuk ke kamarnya.
"Yah, kalau begitu kita main di rumah nenek ini saja." Gumamku sambil menghela napas pasrah dan segera mengikuti langkah kecil Aster yang berjalan masuk ke kamar tante Marta.
.
.
.
Thanks for reading...