Aster Veren

Aster Veren
Episode 48




-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 pagi, acara pembagian raport masih berlangsung sekarang. Dan aku masih betah berlama-lama menunggu ayah di pos satpam sambil memperhatikan kendaraan roda dua dan roda empat berlalu lalang.


"Nak Aster tidak menunggu di dalam?" Tanya pak satpam ikut duduk disampingku.


"Tidak mau, enakan nunggu disini." Jawabku sambil melirik kearah pak satpam sekilas.


"Kenapa? Bukankah lebih enak nunggu di dalam? Dan lagi pembagian raportnya kan belum selesai, emangnya gak takut dicariin gurunya?" Tuturnya lagi terlihat heran dengan sikap acuh tak acuhku pada pembagian raportku hari ini.


"Biasanya kalau ibu atau nenek nak Aster yang datang, nak Aster selalu ikut ke dalam kelas buat nemenin ibu atau neneknya." Lanjutnya membuatku segera membuang pandanganku saat bertemu tatap dengan pak satpam.


"Itu ...." Gumamku tak ingin melanjutkan pembicaraanku dengan pak satpam.


Sejujurnya aku ingin ikut masuk bersama dengan papa, tapi aku lagi ngambek jadi aku tidak mau dekat-dekat dengan papa dulu, selain itu ada Kalea yang terus nempel pada papa. Lanjutku dalam hati kembali mengingat kejadian kemarin siang dan pagi tadi.


"... itu bi Siti ya?" Gumam pak satpam membuatku mendongak kearah yang dilihat olehnya.


Tanpa pikir panjang aku langsung berlari keluar gerbang untuk menghampiri bi Siti yang baru saja berjalan melewati gerbang sekolah.


"Bibi!" Teriak ku sambil terjun kedalam pelukannya.


"Eh ada nak Aster," ucapnya membalas pelukanku.


"Nak Aster, sekolahnya belum bubaran. Ayo masuk sini lagi!" Teriak pak Satpam tak ku dengarkan.


"Aster rindu bibi, bibi apa kabar?" Tanyaku sambil menengadah pada bibi.


"Kabar bibi baik, bibi juga kangen sama Aster." Jawab bibi sambil mengelus puncak kepalaku dengan lembut, penuh dengan kasih sayang.


Rasanya sudah lama aku tidak merasakan sentuhan bi Siti, aku juga hampir melupakannya setelah tinggal di rumah paman.


"Bibi habis darimana?" Tanyaku sambil melirik tas jinjing ditangannya.


"Bibi baru berziarah dari makam ibu dan nenekmu," jawabnya sambil tersenyum tipis membuatku terkejut saat mendengar jawaban bi Siti.


"Sendirian?" Tanyaku lagi berusaha menyembunyikan kesedihanku setelah berhasil mengendalikan ekspresi terkejutku.


"Tidak, bibi pergi bersama paman Zaenal. Tapi kami berpisah dijalan, jadi bibi pulang duluan." Jawab bibi kembali tersenyum.


Aku lupa ... biasanya aku pergi ke makam ibu bersama nenek setiap kali selesai pembagian raport atau awal tahun. Tapi sekarang nenek tidak ada .... Batinku merasa kesepian, padahal awal tahun aku pergi bersama bi Siti untuk mengunjungi makam ibu dan nenek.


"Aster mau main ke rumah bibi?" Tanya bi Siti meruntuhkan lamunanku.


"Mau!" Ucapku penuh semangat, biar bagaimanapun aku sangat merindukan rumah bi Siti dan tempat tinggalku dulu. Tapi sepertinya akan sangat susah untuk pergi ke rumah yang sudah dihuni oleh orang baru.


"Nak Aster!" Teriak pak satpam lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Sepertinya belum masuk jam pulang sekolah ya?" Tanya bibi sambil tersenyum tipis.


"Hhehe, iya. Hari ini pembagian raport Aster, kalau sudah pulang nanti, Aster akan mengunjungi bibi." Tuturku sambil berlari kearah gerbang sekolah sambil melambaikan tangan kananku pada bi Siti, dan ku lihat bi Siti membalas lambaian tanganku sambil tersenyum hangat.


"Duh kamu ini masih belum berubah juga ya, bagaimana kalau terjatuh lagi?" Omel pak satpam saat aku sampai didekatnya.


"Tidak akan, aku sudah besar sekarang. Jadi pak satpam tidak perlu mengkhawatirkanku." Jelasku sambil melipat kedua tanganku diatas dada.


"Eh sudah besar ya? Kalau sudah besar harusnya tidak berlarian seperti anak kecil dong?" Ejek pak satpam sambil tersenyum sarkas.


"Ah pak satpam ini membuatku jengkel saja!" Ketusku sambil membuang muka darinya.


"Pft... nak Aster ini memang selalu selucu ini ya ...." Goda pak satpam sambil mencubit hidungku, "sepertinya pembagian raportnya sudah selesai." Lanjutnya sambil melirik kearah gedung sekolah.


Ku lihat para orang tua beserta murid-murid lainnya berhamburan keluar dari dalam gedung sekolah.


Lalu mataku menangkap sosok ayah dan Kalea yang berjalan beriringan bersama dengan paman Victor. Entah kenapa hatiku selalu merasa sakit jika melihat Kalea tersenyum manis pada ayah, dan ayah membalas senyuman itu dengan tatapan hangatnya.


"Itu ayah nak Aster kan? Kenapa tidak menghampirinya?" Tanya pak satpam membuatku menoleh padanya dan mendongakan kepalaku untuk melihat tatapan bingungnya itu.


"Bukan urusan bapak!" Ucapku langsung menerima sentuhan pak satpam dipuncak kepalaku, dan dengan gemasnya pak satpam mengacak-ngacak rambutku.


"Habis kamu gemesin sih, rasanya ingin bapak bawa pulang." Jelasnya masih mentertawakanku.


"Gak mau! Udah sana pergi kerja, banyak mobil yang mau keluar tuh, bukain gerbangnya!" Tuturku berhasil melepaskan tangan pak satpam dari kepalaku.


"Hee... padahal bapak punya anak ganteng loh, mau ya jadi mantu bapak." Goda pak satpam lagi disela-sela tawanya.


"Ma–mantu?" Tanyaku merasa bingung dengan candaannya yang tak ku mengerti itu.


"Maksudnya dia ingin menikahkanmu dengan putranya." Jelas ayah mengejutkanku saat tiba-tiba tangannya meraih tubuhku dan menggendongku dipangkuannya.


"Papa?" Gumamku tak bisa berkutik dipangkuannya.


"Nak Aster ini sangat lucu ya pak, cantik seperti ibunya. Kalau boleh buat saya saja pak." tutur pak satpam sambil tersenyum ramah pada ayah, tapi ayah tak menanggapi candaannya dan malah memperhatikaan wajahku dengan serius.


"Akunya yang gak mau!" Ketusku membuat pak satpam kembali terkekeh.


"Iya deh iya gak mau ya? Sayang sekali, padahal bapak mau punya anak lucu seperti nak Aster ...." Tuturnya setelah puas tertawa dan langsung memasang ekspresi murungnya.


"Lu–lucu?" Gumamku merasa malu saat mendengar ucapan pak satpam, ini pertama kalinya aku mendengar diriku lucu dari orang lain.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap ayah mulai angkat bicara saat melihat deretan mobil yang bersiap keluar gerbang.


Sepertinya ayah tidak ingin mengganggu pekerjaan pak satpam dengan membiarkannya terus menggodaku. Jadi ayah membawaku pergi dari hadapan pak satpam, dan ku lihat pak satpam tampak murung berjalan kearah gerbang setelah memperhatikan kepergianku dan ayah.


"Kenapa dia tidak pernah merasa bosan menggodaku setiap hari?" Lanjutku menggerutu kesal tak memperdulikan sosok ayah yang sudah berjalan membawaku kemobilnya.


"Apa dia selalu menggodamu seperti itu?" Tanya ayah membuatku mengangguk cepat sambil menghela napas berat.


"Sepertinya putriku sangat disukai banyak orang ya ...." Gumam ayah sambil tersenyum tipis padaku.


"Disukai banyak orang?" Tanyaku tak mengerti dengan ucapannya itu, karena aku tidak merasa disukai banyak orang. Yang ku tau, teman-temanku tidak menyukaiku dan aku juga tidak memiliki teman di sekolah.


"Bu Estelle dan guru-guru lainnya banyak membicarakanmu, bahkan kepala sekolahpun menyukaimu." Jelas ayah sambil membuka pintu mobil bagian depannya dan membuatku tersipu saat mendengar ucapannya.


"Benarkah?" Tanyaku langsung mendapat anggukan cepat dari ayah.


"Sepertinya kamu sudah bisa berbicara denganku lagi ya?" Tutur ayah sambil tersenyum tipis.


Aku lupa! aku kan masih ngambek sama papa, bisa-bisanya aku bicara pada papa. Padahal dari kemarin aku selalu menghindari pembicaraan dengan papa.


"Besok kita akan pergi ke Singapura, aku sudah mengurus semua surat kepindahan sekolahmu." Lanjut ayah sambil mendudukanku dikursi mobil dan langsung memasangkan sabuk pengamannya.


Ya sudahlah, sudah terlanjur berbicara dengan papa juga. Aku tidak bisa terus-terusan ngambek kan? Apalagi saat papa tidak tau aku ngambek karena apa? Batinku sambil menghela napas berat.


"Emh ... apa Aster boleh meminta sesuatu?" Tanyaku setelah mengumpulkan semua keberanianku.


Untuk pertama kalinya aku meminta sesuatu dari papa, apa papa bisa mengabulkannya? Lanjutku dalam hati.


"Tentu." Jawabnya membuatku merasa gembira.


"Bisa kita pergi mengunjungi makam ibu dan nenek?" Tanyaku, "aku ingin berpamitan pada ibu dan nenek sebelum pergi bersama ayah besok." Lanjutku mengecilkan nada bicaraku karena merasa tidak enak dengan tatapan ayah yang tak bisa ku jelaskan.


"Baiklah, kita pergi sekarang. Kamu yang tunjukan jalannya ya." Ucap ayah sebelum menutup pintu mobil bagianku dan berjalan cepat kearah pintu mobil bagian ayah.


"Setelah itu aku ingin pergi menemui bi Siti juga, bisa kita pergi bersama?" Lanjutku setelah ayah masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya.


"Tentu." Jawab ayah sambil tersenyum tipis dengan tatapan ... sendu?


Ada apa dengan papa? Apa papa tidak suka aku ajak ke makam ibu dan nenek? Tapi kenapa papa tidak menolak permintaanku? Batinku bertanya-tanya.


.


.


.


Thanks for reading...