
-Aster-
Ku lihat mata Khael sudah berkaca-kaca, bahkan hidunya juga sudah memerah. Apa dia akan menangis? Batinku merasa kasihan padanya karena kelakuan Carel.
"Kau mau membuatnya menangis di sini ya?" Tanyaku sambil mencubit pinggang Carel dengan gemas.
"Aduh! Apa sih?" Tanyanya setelah mengaduh menoleh padaku dengan ekspresi kesaktiannya.
"Hmph, ayo pergi Khael!" Dengusku sambil meraih tangan mungilnya menuju ketengah-tengah ruangan dimana semua orang berdansa dengan gembira disana. Bahkan aku bisa melihat Teo dan Kalea yang sedang berdansa disana. Terlihat serasi dan bahagia.
"Wleee," ucap Khale sambil menoleh kearah Carel disela-sela langkah kecilnya, dia sangat menggemaskan saat memeletkan lidahnya dan memasang ekspresi mengejeknya.
"Awas kau ya!" Geram Carel terlihat kesal mempercepat langkah Khael.
Lucunya ..., batinku tak bisa mengalihkan perhatianku dari sosok Khael yang berjalan disampingku sambil bergandeng tangan.
***
"Ada apa?" Tanyaku saat melihat tatapan Khael setelah sesi berdansaku dengannya selesai. Sepanjang berdansa tadi aku benar-benar dibuat malu setengah mati oleh bisikan orang-orang yang memperhatikanku dengan Khael.
Karena perbedaan tinggiku dengan Khael, aku terpaksa berdansa dengan tarian laki-laki dan membuat Khael berdansa dengan tarian perempuan. Meskipun seadanya.
Tapi bisikan yang ku dengar bukan bisikan buruk, justru mereka memuji ketampanan, kelucuan, dan kegemasan Khael yang berdansa denganku dengan gembira. Mereka pasti tidak menyangka bahwa anak kecil ini bisa berdansa dengan lincah, membuatku sedikit kesulitan karena gaun yang ku kenakan.
"Memang sih Khael sangat menggemaskan, siapa juga yang bisa tahan dengan anak selucu ini?" Gumamku tak bisa berpaling dari sosok Khael, bahkan tanpa sadar aku sudah memasang ekspresi tersenyumku saat mata kami bertemu tatap.
"Apa kakak–" Ucapnya terpotong dengan kedatangan paman Arsel yang tiba-tiba berdiri dihadapanku dan Khael.
"Ayo berdansa dengan paman juga." Ucapnya membuatku tak bisa berkutik saat melihat senyuman lebar paman yang sudah lama tak ku lihat. Tanpa sadar aku sudah menunjukan senyuman canggung ku.
"Papa!" Geram Khael yang merasa kesal karena ucapannya dipotong.
"Wah ternyata ada putraku disini ya? Maaf ya papa tidak melihatmu, habisnya kau sangat pendek sih hehe." Tuturnya membuatku syok begitupun dengan Khael.
I–itu ejekan ya? Bisa-bisanya paman berkata seperti itu pada putranya sendiri .... Batinku segera melirik Khael yang sudah memasang ekspresi kesalnya.
"Papa mau ngajak berantem ya?" Tanya Khael mempertajam tatapannya. Entah kenapa ekspresi kesalnya itu juga terlihat begitu menggemaskan dimataku.
Ternyata jadi orang tampan itu ... mau memasang ekspresi seperti apapun akan tetap terlihat tampan dan–menggemaskan ya? Batinku terpaku pada sosok Khael.
"... eh? Memangnya kau bisa menang dari papa?" Tanya paman menghentikan lamunan singkatku yang mengagumi ketampanan anak kecil disampingku ini.
"Entah kenapa, semakin diperhatikan ... paman semakin menyebalkan ya?" Gumamku tak bisa berkutik dengan kelakuan paman yang terus menggoda putranya.
"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya paman melirik ku, dengan cepat ku gelengkan kepalaku.
"Tidak ada," jawabku sambil memalingkan wajahku darinya.
"Hmm... mencurigakan."
"Ayo berantem sama Khael sini!" Seru Khael kembali menarik perhatian paman.
"Siapa takut? Dengan tubuh kecilmu itu papa hanya perlu menggu–" Ucap paman terhenti saat menyadari kehadiran bibi Wanda dibelakangnya.
"Kau berniat membuat anakmu menangis dihadapan semua orang ya?" Tanya bibi Wanda kemudian, membuat paman menepi. Membiarkan sosok bibi Wanda terlihat olehku dan Khael.
"Ibu! Papa–" Ucap Khael berhambur kedalam pelukan bibi, dan bibi menyambutnya dengan tangan terbuka membuat ucapan Khael terhenti saat dia menyadari tubuhnya terangkat dan digendong oleh ibunya.
"Haha, lihatlah. Kau saja masih suka digendong tapi sok-sokan mau mengajak papa beramtem–"
"Suamiku ini mau ku beri pelajaran ya?" Ucap bibi Wanda lagi-lagi menghentikan ucapan paman.
"Ma–maaf."
E–eh? Sejak kapan paman takut dengan bibi?
"Hajar papa!" Ucap Khael terlihat menggemaskan.
Melihat kedekatan paman dengan keluarganya membuatku ikut bahagia. Apalagi saat melihat reaksi Khael yang menggemaskan.
"Hoo kau mau menghajar papamu?" Tanya paman dengan senyum sarkasnya membuat Khael menciut bersamaan dengan tangan bibi yang sudah mencubit perut paman sampai membuat paman meringis.
"Iya, terima kasih bibi." Jawabku membalas senyumannya sebaik mungkin.
"Sudahlah, papa mau berdansa dengan Aster. Kau pergi saja sana!" Ucap paman sambil meraih tanganku dan membawaku pergi dari hadapan bibi dan Khael. Ku lihat Khael sudah memasang ekspresi kesalnya.
Mau tak mau aku pun mengikuti langkah paman dan mulai berdansa lagi, bergabung bersama orang-orang yang sedang berdansa dengan pasangan mereka, terlihat menyenangkan.
"Bagaimana sekolahmu?" Tanya paman kemudian sambil membimbingku berdansa.
"Menyenangkan, apalagi aku memiliki teman-teman yang sangat baik." Jawabku tak bisa mengendalikan senyumanku.
"Begitukah? Syukurlah." Ucap paman dengan senyum hangatnya, tidak kalah hangat dengan tatapannya.
***
-Carel-
"Orang tua itu!" Geramku merasa kesal karena kesempatanku untuk berdansa dengan Aster dicuri olehnya. Padahal niatku ingin berdansa dengan Aster setelah membiarkan anak kecil itu mengambil kesempatanku.
"Ternyata anak dan ayah sama saja ya? Awas saja kalian!" Gumam ku sambil mengepalkan kedua tanganku didalam saku celana depanku.
"Kamu tidak pergi berdansa Carel?" Tanya Lusy yang entah kenapa tidak juga pergi dari sisiku.
Ada apa dengan anak ini? Kenapa dia terus mengekoriku? Lanjutku dalam hati, merasa kesal sendiri.
"Carel?"
"Ck, jangan mengikutiku!" Seruku penuh penekanan sambil melangkahkan kakiku kearah Teo dan Kalea.
"Tapi–"
"Kau tidak berdansa?" Tanya Teo saat aku sampai dihadapannya.
"Kau lihat sendiri kan?" Jawabku sambil melirik Aster yang tengah berdansa dengan gembira bersama orang tua menyebalkan itu.
"Ah, kau kalah cepat ya?" Ucap Kalea dengan senyum menyebalkannya.
"Jangan mengejek ku!" Geramku membuatnya bersembunyi dibalik punggung Teo.
"Aku tidak mengejek tuh." Ucapnya mengintip dibalik punggung Teo.
"Kalian ini ...," ucap Teo setelah menghela napas letih.
"Bagaimana kalau berdansa denganku saja?" Tanya Tia dengan ekspresi penuh harap yang tergambar jelas diwajahnya.
"Hah~ cari orang lain saja." Tolak ku membuatnya berdecih kesal.
"Kalau denganku bagaimana?" Tanya Nadin yang sejak tadi membisu, membuatku melirik padanya.
"Pergi saja dengan kekasihmu sana!" Dengusku.
"Hah~ sayangnya dia tidak datang hari ini." Jawabnya setelah menghela napas berat.
"Benarkah?" Tanya Tia.
"Ya, dia pergi ke luar negri beberapa hari lalu." Jawab Nadin.
"Luar negri?" Tanya Kalea mendahuluiku.
"Kau diberitahu berapa lama kak Nathan pergi ke luar negri?" Lanjut Teo ikut bertanya.
"Tidak, tapi sepertinya kak Nathan akan tinggal lama di luar negri." Jawab Nadin dengan ekspresi sedihnya.
"Darimana kau tau? Apa kak Nathan yang memberitaukannya padamu? Tapi bukannya kalian belum berbaikkan ya?" Tanya Tia dengan ekspresi bingungnya.
.
.
.
Thanks for reading...