
-Aster-
"Aster?" Suara Sean membuatku menengadah melihatnya berdiri dihadapanku sebelum membantuku berdiri.
"Sean hiks ...," gumamku bersamaan dengan tangannya yang menggeplak seseorang dibelakang ku. Orang yang sejak tadi mengikutiku, aku tau dia sedang bertugas. Tapi kenapa dia kukuh sekali mengikutiku yang ketakutan setengah mati ini? Padahal untuk berjalan saja aku kesulitan.
"Sakit bego!" Pekik suara Hendric.
"Lu yang bego, pergi sana!" Serunya membuatku menoleh kebelakang ku.
"Jadi hantu itu ... Hendric?" Tanyaku setelah mengambil napas dalam. Mencoba mengatur napasku yang sedikit sesak.
"Ayo keluar." Ajak Sean bersamaan dengan suara tawa yang menakutkan membuatku refleks memeluk tubuh Sean dengan seluruh kekuatanku.
"Ah tidak mau, aku takut hiks ... kaki ku sakit!"
"Kaki? Kau terluka?"
"Itu, aku tidak bisa berjalan. Jadi aku merangkak sampai sini, sekarang lututku terasa sakit hiks ...," jawabku mengingat kembali saat-saat aku merangkak dengan seluruh tenagaku yang tersisa.
"Kau merangkak?" Tanyanya membuatku mengangguk dalam pelukannya, "dan anak itu terus mengikutimu?" Lanjutnya kembali bertanya membuatku mengangguk untuk kedua kalinya.
"Si bodoh itu!"
***
-Sean-
"Tadi aku yakin melihat Aster bersama Carel dan Lusy di dekat pintu masuk. Kenapa sekarang aku hanya melihat mereka berdua? Dimana Aster?" Gumamku memperhatikan punggung Carel dan Lusy yang berjalan cepat menuju pintu keluar. Apa mereka terpisah?
"Kyaaa!"
"Aster?" Lanjutku bergumam segera membuka topengku dan melepaskan jubah hitam yang ku kenakan, tidak lupa ku lap kedua tanganku yang berlumuran cairan merah sebelum berlari ke arah sumber suara.
Ku lihat anak itu tengah berlutut dilantai sambil terisak, lalu dengan cepat ku ulurkan kedua tanganku untuk membantunya berdiri.
"Sean hiks ...," gumamnya bersamaan dengan tanganku yang menggeplak Hendric dibelakang Aster.
Anak ini benar-benar sinting, bisa-bisanya dia mengikuti Aster sampai perempuan ini kesulitan untuk berjalan.
"Sakit bego!" Pekik Hendric saat menerima pukulanku.
"Lu yang bego, pergi sana!" Seruku membuat Aster menoleh kebelakangnya.
"Jadi hantu itu ... Hendric?" Tanyanya masih mencengkram kedua tanganku dengan erat.
"Ayo keluar." Ajakku bersamaan dengan suara tawa yang menakutkan membuatnya refleks memeluk tubuhku dengan seluruh kekuatannya.
"Ah tidak mau, aku takut hiks ... kaki ku sakit!"
"Kaki? Kau terluka?" Tanyaku berusaha melepaskan pelukannya, tapi terlalu erat.
"Itu, aku tidak bisa berjalan. Jadi aku merangkak sampai sini, sekarang lututku terasa sakit hiks ...," jelasnya tak bisa ku bayangkan saat-saat dia merangkak dengan seluruh tenaganya untuk sampai ke tempat ini. Dan si gila itu terus mengekorinya dibelakang?
"Kau merangkak?" Tanyaku membuatnya mengangguk dalam pelukanku, "dan anak itu terus mengikutimu?" Lanjutku kembali bertanya untuk memastikan, dan Aster menganggukan kepalanya untuk kedua kalinya.
"Si bodoh itu!" Geramku, ingin rasanya aku berlari ke tempatnya dan memukul kepalanya yang bodoh itu. Tapi ku urungkan, lebih baik aku membawa Aster keluar daripada membuang tenaga untuk mengejar anak bermata duitan itu.
***
"Ini," ucapku sambil memberikan minuman kaleng rasa jeruk ke tangan Aster. Dan dia langsung menerima minuman itu dengan kedua tangannya.
Kami langsung pergi ke luar untuk menghirup udara segar setelah mengobati lututnya yang terluka. Bahkan Aster sempat mengganti pakaiannya dengan seragam atasan olahraga terlebih dulu karena pakaiannya kotor terkena cairan merah yang dijadikan sebagai bahan darah bohongan.
"Terima kasih." Ucapnya sebelum meneguk minumnya, membuatku menghela napas lega sebelum duduk disampingnya. Mengisi tempat kosong disana.
Syukurlah dia sudah lebih tenang, batinku memperhatikan ekspresi Aster yang terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Sudah lebih baik?" Tanyaku lagi, ingin memastikan perasaannya. Takut-takut dia hanya berpura-pura baik-baik saja.
Ku lihat Aster mengangguk lesu memberikan jawabannya padaku. Sepertinya dia sangat terkejut, aku yakin dia tidak akan mau masuk ke tempat seperti itu lagi meski ditawari berbagai macam hadiah sebagai imbalannya.
"Kenapa kau masuk ke dalam kalau kau setakut itu?" Tanyaku sambil meraih pita merah muda yang merosot dari rambutnya, lalu ku rapikan rambutnya yang berantakan itu menggunakan jari-jari tanganku.
"Itu ... aku hanya tidak suka melihat Carel berduaan dengan Lusy. Jadi aku–" Jawabnya setelah menjeda ucapannya sebentar sebelum melanjutkan penjelasannya.
Benar-benar membuatku tak habis pikir dengan jawabannya itu. Bisa-bisanya dia masuk ke tempat menakutkan dengan bermodal tekad seperti itu? Padahal dia yang paling tertekan dan ketakutan jika berada disana. Tapi dia masuk bertiga dan mengekori mereka dari belakang sampai terpisah seperti itu?
"Aku tidak tau kalau tempatnya akan semenakutkan itu, teman-teman juga berdandan sangat menakutkan."
"Memangnya kau tidak mendengar jeritan orang-orang saat kau berjaga diluar?" Gumamku masih merapikan rambutnya.
"Dengar kok." Ucapnya membuatku bertemu tatap dengan manik ungunya yang terlihat jernih. Apa karena dia sudah menangis?
"Terus kenapa masuk?" Dengusku kembali melanjutkan kegiatanku mengepang rambut panjangnya.
"Ya itu tadi, aku–"
"Ya ya aku dengar. Jangan diulangi lagi!" Potongku membuatnya berhenti bicara.
Rambutnya halus ..., lanjutku dalam hati, merasakan kelembutan rambut Aster yang ku genggam.
"Kau bisa mengepang rambut?" Tanya Aster mengejutkanku.
"Sedikit." Jawabku singkat sambil mengikatkan pita merah muda itu ke rambut Aster supaya kepanganku tidak lepas.
"Apa kau punya adik perempuan?"
"Tidak."
"Keponakan perempuan?"
"Tidak."
"Saudara perempuan?"
"Tidak."
"... terus kau belajar mengepang darimana?" Tanyanya sambil meraba rambutnya dengan hati-hati.
"Rahasia." Jawabku membuatnya mendelik kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan, sangat menggemaskan, "ayo pergi!" Lanjutku sambil bangkit dari posisi duduk ku.
"Kemana?" Tanyanya terlihat bingung.
"Berkeliling menikmati suasana festival," jawabku membuatnya segera bangkit dari tempat duduknya dan langsung meraih tangan kananku dengan antusias.
Ku lihat senyuman lebarnya sudah tercetak indah diwajahnya, mempercantik parasnya. "Ayo! Kita pergi ke stand permen apel dulu ya, permenku di sita Teo pagi ini." Tuturnya sambil menarik ku pergi bersamanya.
Mau tak mau aku pun mengikuti langkah kecilnya dari belakang selagi tangan kananku bergandengan dengan tangan kirinya.
***
-Kalea-
"Makan yang benar!" Seru Teo sambil melap mayonaise yang menempel di hidungku, membuatku bertemu tatap dengan manik hijaunya yang terlihat cantik.
"Ekhem!" Dehem Nadin menyadarkan ku dengan kehadirannya.
Kami memang sedang berkeliling bersama, tapi aku tidak menyadari kehadirannya karena kami memang sudah berpisah dan janjian akan bertemu kembali di pinggir lapangan olahraga.
"Dimana Tia?" Tanyaku mencoba untuk mencairkan suasana.
"Pergi bermain game bersama temannya." Jawabnya sambil duduk di sampingku.
"Lalu dimana anak menyebalkan itu?" Tanyaku lagi, mencari sosok Carel yang tidak terlihat batang hidungnya.
"Dimana lagi kalau bukan bersama dengan tunangannya." Jawab Nadin sebelum menghela napas berat, "enak ya bisa bersenang-senang dengan pasanganmu ...," lanjutnya membuatku tersendak saat sedang meminum jus mangga ku.
"Kapan ya kak Nathan balik?" Gumamnya benar-benar menghancurkan suasana. Bahkan Teo sampai tidak bisa bersuara sedikitpun berkat ucapan Nadin.
Anak ini, kenapa harus menghancurkan suasana? Dia mau membuatku dan Teo merasa tidak nyaman ya?
.
.
.
Thanks for reading...