Aster Veren

Aster Veren
Episode 116




-Aster-


Setelah mendengar ucapan Kalea soal rahasia yang ingin dia beritaukan padaku dan Nadin, kami langsung pindah tempat ke kamarku dan Kalea. Dan saat ini kami sudah berkumpul di kamarku, bahkan Tia juga ikut bergabung bersama kami.


"Rahasia apa yang kau maksud?" Tanya Nadin yang sudah duduk diatas tempat tidur Kalea, mengawali pembicaraan kami.


"Itu ... sepertinya aku menyukai Teo!" Seru Kalea dengan suara rendah bersama rona merah diwajahnya, membuatku terkejut begitupun dengan Tia dan Nadin.


"Serius? Aku tidak salah dengar kan?" Tanya Tia begitu antusias memperhatikan Kalea yang tengah duduk dikursi belajarnya yang dia hadapkan kearah pintu kamar. Sedangkan aku dan Tia, kami duduk diatas tempat tidurku.


"Lea?" Gumamku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.


"Kau tidak berbohong demi diriku kan Lea?" Lanjut Nadin membuatku teringat kembali dengan masalahnya saat ini.


Ya, pasti Nadin akan berpikir seperti itu jika tiba-tiba Kalea menceritakan isi hatinya kan? Apalagi waktunya sangat pas dengan masalah yang baru saja menimpanya. Simpulku dalam hati, tak bisa melepaskan pandanganku dari ekspresi murung Nadin.


"Tidak!" Seru Kalea menarik perhatianku, "aku tidak tau sejak kapan dan di mana pastinya. Tapi ku rasa, aku benar-benar menyukai anak itu. Jadi Nadin, kau boleh sedikit egois dan berjuang untuk mempertahankan hubunganmu dengan si Nathan itu. Aku sudah lama melupakannya–" Jelas Kalea dengan menekankan nama kak Nathan penuh rasa kesal, lalu ucapannya segera dipotong oleh Tia yang sejak tadi membisu tak mengerti dengan arah pembicaraan kami.


"Jadi kau pernah suka dengan kak Nathan?" Tanya Tia dengan ekspresi terkejutnya.


"Itu sebenarnya tia ...," ucap Nadin mulai meceritakan semuanya pada Tia, mulai dari masalahnya dengan Kalea dimasa lalu sampai hubungannya dengan kak Nathan. Bahkan dia juga menceritakan keburukannya terhadapku pada Tia.


"Ka–kau bercanda kan? Bagaimana bisa kau bersikap sejahat itu hanya karena seorang anak laki-laki?! Lalu kau juga sudah bersikap jahat pada Aster? Bukan hanya Kalea saja?" Tanya Tia begitu terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Tidak, aku serius! Kalau kau mau menjauhiku ... aku akan menerimanya. Tidak ada alasan untuk kau tetap berteman denganku, aku–" tutur Nadin kembali dipotong oleh perempuan berambut hitam sebahu yang tengah duduk disampingku ini.


"Kau sangat baik ya Aster, kalau aku menjadi dirimu. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan mereka berdua, tapi karena mereka sudah kau maafkan maka aku juga tidak bisa tidak memaafkan mereka kan? Kalau mereka jahat padamu lagi, bilang saja padaku. Aku akan melindungimu! Aku akan membuat mereka lebih menderita, lebih dari kau menderita karena mereka selama ini!" Ucapnya sambil memeluk ku dengan erat.


"A–anu, Tia? Aku baik-baik saja, jadi ...," gumamku tak bisa melepaskan pelukan tulus Tia yang sedikit membebaniku. Selain itu, aku merasa tidak enak pada Kalea dan Nadin juga. Mereka pasti tersinggung dengan ucapan Tia.


"Ya, kami memang pantas mendengar perkataannya." Ucap Kalea dan Nadin secara bersamaan, sepertinya mereka masih tidak bisa menerima perlakuan baik ku.


"Ku mohon balaslah perbuatan jahatku ini Aster!" Lanjut Nadin, "aku tidak bisa menerima perlakuan baik mu yang tidak masuk akal ini." Lanjutnya mulai merengek.


"Ap–apa maksudmu?" Gumamku merasa bingung, bagaimana bisa perlakuanku tidak masuk akal? Dan entah kenapa aku merasa menjadi seperti orang jahatnya disini. Padahal aku tidak melakukan apapun.


"Benar kan? Ini semua tidak masuk akal, dia tidak seperti orang normal pada umumnya." Lanjut Kalea sambil menghela napas letihnya membuat Nadin menganggukan kepalanya, menyetujui ucapan Kalea.


"Apa maksudmu? Aku sangat-sangat normal!" Ucapku tak terima dengan apa yang baru saja ku dengar, berusaha melepaskan diriku dalam pelukan Tia yang masih memeluk tubuhku dengan erat.


"Kau tidak normal! Kalau kau normal, kau tidak akan memaafkan kami dengan mudah kan? Setidaknya kau bisa membalas perbuatan kami, jika tidak bisa membalas semuanya, kau bisa membalas satu atau dua perbuatan jahat kami kan?" Jelas Nadin membuatku tak bisa berkutik.


Bagaimana bisa aku membalas perbuatan kalian disaat kalian sendiri sedang kesulitan dengan masalah hidup kalian masing-masing. Dan lagi, memangnya dengan membalas dendam masalahnya akan selesai sampai disana? Bukankah nantinya akan melahirkan dendam baru? Batinku tak bisa mengutarakan isi pikiranku. Bukan tidak bisa, hanya saja aku tidak ingin membuat mereka tambah terbebani dengan pendapatku.


"Benar juga!" Gumam mereka bertiga serempak, membuatku merasa lega tanpa alasan.


***


-Teo-


Ku langkahkan kaki ku memasuki gerbang akademi mengikuti langkah Carel didepanku.


Ku lihat dia terus menghela napas sepanjang perjalanan menuju akademi, entah apa yang mengganggu pikirannya itu.


"Kau yakin tidak apa-apa kita mengintip disini?" Suara yang sangat familiar membuatku menoleh kearah sumber suara itu, dan ku dapati sosok Tia yang tengah berdiri disamping Kalea, memperhatikan Nadin dan Nathan?


Ada urusan apa dia datang ke akademi pagi-pagi begini? Batinku segera menggelengkan kepalaku untuk menepis rasa penasaranku yang tak mendasar.


"Sudah pasti untuk menemui tunangannya kan? Apalagi?" Lanjutku bergumam.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Carel mengejutkanku. Ku lihat dia sudah menghentikan langkahnya dihadapanku dan menatapku dengan manik merahnya.


"Bukan apa-apa, tapi ...," jawabku kembali melirik kearah Nadin dan Nathan saat mendengar ucapan Tia.


"Kau yakin mereka bisa berbaikan?"


"Tentu saja! Kalau tidak bisa, aku sendiri yang akan menghajar si Nathan itu!"


Dia bilang apa? Kenapa cara memanggil nama orang itu berbeda dari biasanya? Lanjutku dalam hati, tak bisa melepaskan pandanganku dari ekspresi Kalea yang terlihat serius penuh tekad.


"Memangnya mereka sedang bertengkar ya?" Tanyaku membuat perhatian Carel tertuju pada Nadin dan Nathan yang berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri.


"Hmm ...," gumamnya membuatku melirik padanya, "entahlah, kenapa aku harus pernasaran dengan hidup orang itu? Cih." Lanjutnya sebelum berdecih dan melanjutkan langkahnya menuju gedung akademi.


"Anak ini, entah kenapa dia sangat menyebalkan!" Gumamku kembali mengikuti langkahnya.


Tapi, aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana cara Kalea memanggil si Nathan tadi. Jelas-jelas dia memanggil nama itu dengan penuh penekanan, serta ekspresinya berbeda dari biasanya.


Biasanya dia akan memanggil nama itu dengan sebutan kak Nathan, lalu ekspresinya mencerminkan rasa gembira saat bertemu dengan orang yang disukainya. Nada bicaranya pun selalu terdengar lembut dan hangat. Tapi tadi? Kenapa dia memanggilnya dengan nada dan ekspresi yang berbeda?


.


.


.


Thanks for reading...