Aster Veren

Aster Veren
Episode 235




-Aster-


Uh gawat! Aku harus mengatakan sesuatu, jangan sampai Carel tau, ayo tahan dirimu Aster. Jangan menangis, tidak boleh, pokoknya tidak boleh menangis. Batinku berusaha untuk menahan air mataku selagi aku memikirkan sesuatu untuk di katakan.


"Katakan padaku! Apa ada yang mengganggumu?" Tanyanya tiba-tiba, membuatku terkejut. Dengan cepat ku gelengkan kepalaku yang sudah menempel di dada bidangnya.


"Sungguh?"


"Ya."


"Baiklah ...," gumamnya membuatku terkejut saat aku merasakan sentuhan lembutnya di punggungku, bahkan aku merasa hangat sekarang karena Carel sudah membalas pelukanku.


"Jadi siapa kekasihmu itu?" Tanyaku merasakan tubuh Carel yang terperajat, seperti aku berhasil membuatnya terkejut.


"Ap—kau mendengar itu dari mereka?" Ucapnya berusaha melepaskan pelukanku lagi, tapi tidak berhasil karena aku kembali mengeratkan pelukanku.


Untuk saat ini aku merasa tidak bisa berbicara dengan Carel jika aku melihatnya langsung, jadi aku putuskan untuk memeluknya supaya aku bisa menghindari tatapannya itu.


"Mendengar apa? Aku tidak mendengar apapun. Bukankah kau sudah punya kekasih selama kita tidak bertemu? Siapa orangnya? Apa kau tidak punya niatan untuk memperkenalkannya padaku?"


"Hah?"


"Tidak punya? Kau tidak punya kekasih?" Lanjutku terus menekannya. Entahlah melihatnya yang kesulitan karena pertanyaanku membuatku merasa sedikit senang karena menjahilinya.


"Aku—"


"Kamu mengatakannya pada Dean saat aku pingsan malam itu kan?" Ucapku melonggarkan pelukanku dan dengan cepat Carel melepaskan pelukanku hingga membuatku refleks menengadah dan bertemu tatap dengan manik merahnya.


Eh? Apa aku terlalu berlebihan? Batinku saat melihat wajah Carel yang memerah.


Aku di beritau Kalea dan Dean di detik-detik terakhirku sebelum memutuskan untuk pergi mencari Carel setelah selesai berbicara dengan Teo. Dean bilang Carel merebutku darinya yang sudah menolongku lebih dulu, dan hal yang paling membuatku terkejut adalah saat Dean mengatakan Carel menekankan kalau aku adalah kekasihnya.


Dan saat ini aku ingin memastikannya dengan terus mendesaknya. Sedikit kekanak-kanakan sih, tapi hal ini sangat langka bagiku untuk melihat wajah malu Carel.


"Kamu—"


"Hmm?"


"Sialan mereka! Awas saja mereka, aku benar-benar akan menghajar mereka semua ...," gumamnya terlihat kesal sambil mengeratkan genggamannya dibahuku.


"Tidak mau mengatakannya langsung?" Ucapku lagi berhasil menarik perhatiannya kembali padaku, manik merahnya yang terlihat bercahaya itu kembali menatapku dengan ekspresi terkejutnya yang sangat kentara. Bahkan tanpa sadar air mata yang sejak tadi ku tahan sudah menetes dengan sendirinya.


Aku tidak tau, apakah perasaan yang sedang ku rasakan ini adalah perasaan bahagia atau perasaan sedih? Aku sedih mengetahui Carel menderita karenaku dan seberapa kerasnya dia berjuang untuk mencariku. Dan disisi lain aku juga bahagia karena aku salah paham dengan ucapan Dean sore ini. Mengetahui Carel tidak memiliki kekasih, entah kenapa malah membuatku merasa lega dan bahagia.


"... sepertinya Dean salah paham. Aku akan menjelaskannya pada Dean kalau kamu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu hari itu. Kamu mengatakannya hanya untuk menggertaknya saja supaya kamu—" Tuturku terhenti saat merasakan tangan Carel mendorong kepalaku mendekati wajahnya.


Eh apa? Hah? Lanjutku dalam hati ketika merasakan sentuhan bibir Carel di bibirku saat aku tidak bisa melanjutkan ucapanku karena terkejut dengan tindakannya.


Lalu ku rasakan hembusan angin yang kembali bertiup menerpa tubuhku dalam situasi yang tidak pernah ku duga. Ku lihat Carel sudah menutup matanya bersamaan dengan rambutnya yang bergoyang tertiup angin.


Jantungku! Batinku saat merasakan degupan jantungku yang mulai berpacu bersamaan dengan Carel yang sudah melepaskanku.


"Aku ... sangat mencintaimu Aster." Ucapnya dengan jeda yang cukup lama berhasil membuatku terkejut untuk kesekian kalinya, lalu ku lihat manik merahnya sudah menatapku dengan lembut selagi jari tangan kanannya menghapus air mata diwajahku dengan lembut.


"... hiks, aku tau. Aku juga, aku mencintaimu Carel." Tangisku semakin menjadi saat melihat senyuman Carel yang entah bagaimana itu terasa menyakitkan bagiku. Seolah-olah aku mengetahui semua kesulitannya dan merasa lega saat melihatnya tersenyum padaku.


"Eh?"


"Haha, maafkan aku hiks haha ... ini aneh padahal aku merasa bahagia tapi air mataku terus keluar hiks."


Padahal aku berniat untuk menjahilinya dan bertekad untuk tidak menangis di hadapannya. Tapi air mataku ini benar-benar tidak bisa diajak berkompromi. Sangat menyebalkan!


"Kemarilah!" Seru Carel kembali memeluk tubuhku dan menepuk pelan punggungku, lalu mengusapnya dengan lembut.


"Hiks, Carel ... Carel Carel hwaaa aku tidak bisa menahannya lagi. Selama ini aku sangat takut kita tidak bisa bertemu lagi, aku takut saat memikirkan semua orang akan benar-benar melupakanku seperti ayah. Aku takut jika kehadiranku bisa membahayakan paman Tesar dan bibi Nina, aku takut jika Dean dan Sarah akan terlibat dalam bahaya karena ku, aku takut saat harus tidur di tempat gelap untuk bersembunyi dari kejaran orang-orang. Aku—ugh sakit ...," tuturku benar-benar melepaskan semuanya sampai merasakan sakit di dadaku. Rasanya baru kemarin aku menangis di pelukan ayah, sekarang aku malah menangis di pelukan Carel.


"Aster—"


"Aku takut tapi sekarang tidak lagi, karena aku memilikimu yang selalu ada dalam keadaan tersulitku Carel. Meski mungkin kamu tidak beruntung memilikiku tapi aku beruntung memilikimu." Lanjutku semakin mengecilkan suaraku saat Carel tiba-tiba melepaskan pelukannya.


"Siapa yang tidak beruntung memilikimu?" Tanyanya membuatku bingung dengan reaksinya, apa dia kesal?


"Kamu?"


"Katakan lagi!"


"Kamu."


"Lagi!"


"Kam—" ucapku kembali terhenti saat Carel kembali menciumku dengan tiba-tiba. Membuatku tekejut dengan ciumannya yang berbeda dari sebelumnya. Entah kenapa rasanya—lidahnya masuk ke dalam mulutku?


Pahit! Apa karena dia merokok tadi? Batinku mengingat kepulan asap yang keluar dari mulut Carel.


"Hah~" ucapku dan Carel bersamaan saat ciuman kami berakhir, "aku tidak pernah berpikir kalau aku tidak beruntung karena bisa memilikimu. Bahkan dipertemuan pertama kita pada hujan di hari itu, aku merasa aku sangat beruntung karena sudah bertemu denganmu. Aku beruntung karena kamu juga ternyata mencintaiku ... jadi jangan pernah berpikiran seperti itu lagi. Mengerti?" Lanjutnya membuatku mengangguk paham.


"... tapi Carel, tadi itu ...," ucapku sambil meraih bibirku dan menatap manik merah Carel yang terlihat sedikit bergetar, bahkan rona merah di wajahnya kembali mencuat menghiasi wajahnya.


"Pahit!" Lanjutku membuatnya terkejut.


"Ap—pahit?"


"Ya, rasanya seperti ... kau merokok?"


"Ti—tidak mana mungkin aku—"


"Jangan berbohong. Kau pikir aku tidak tau? Aku melihatmu merokok cukup lama tadi." Dengusku sambil berkacak pinggang menatapnya dengan tajam.


"Itu ...,"


"Aku sudah dengar semuanya dari Teo." Tuturku setelah menghela napas dalam, "maafkan aku Carel. Karenaku kamu jadi melewati waktu yang sangat menyakitkan. Seandainya aku bisa membuat rencana yang lebih baik daripada rencana rekayasa kematianku. Mungkin itu tidak akan terlalu menyakitimu." Lanjutku tak berani menatap manik merah Carel.


"Tidak, jangan katakan itu. Aku tau itu hal terbaik yang bisa kamu pikirkan saat itu. Selain itu, dengan rencanamu itu musuh-musuh keluarga Veren jadi berhenti mencarimu kan? Orang-orang yang di kirim pak tua itu juga berhenti mencarimu dalam waktu dua bulan. Jadi aku pikir itu rencana yang cukup bagus, kamu berhasil menipu semua orang termasuk diriku. Dan aku juga minta maaf karena tidak bisa membawamu dalam keadaan selamat, seandainya aku bisa datang tepat waktu, mungkin kamu tidak akan terluka." Tuturnya sambil menggenggam kedua tanganku dan berbicara dengan lembut.


.


.


.


Thanks for reading...