Aster Veren

Aster Veren
Episode 244




-Aster-


Ku langkahkan kedua kaki ku memasuki rumah diikuti oleh Carel dengan suasana hatinya yang terlihat bagus. Apa karena dia memenangkan batu kertas gunting denganku?


Ya, kami memutuskan untuk bermain batu kertas gunting untuk menentukan dengan siapa aku akan pulang. Padahal aku sudah memutuskan untuk kembali bersama dengan Hans dan Mila karena ayah taunya aku pergi bersama dengan mereka. Tapi akhirnya aku kalah dan mau tak mau harus pulang dengan Carel.


Benar-benar pria licik! Batinku merasa tersakiti dengan kemenangan yang dia punya, apalagi saat aku mengingat permainan pertama yang ku menangkan.


Saat Carel berhasil ku kalahkan dalam satu kali permainan gunting batu kertas, dia langsung meminta dua ronde lagi untuk memastikan pemenangnya. Sangat licik bukan?


"Kau masih marah? Apa sebegitu tidak sukanya pulang bersamaku?" Tanya Carel mengejutkanku.


"Bukannya tidak suka pulang bersama mu, tapi ... aku kesal karena kamu minta tambahan ronde untuk permainan batu kertas gunting tadi. Padahal kan aku sudah menang." Jawabku tak bisa menahan rasa kesalku lebih lama lagi.


"Ha—hah? Jadi karena itu ekspresi terus-terusan kamu tekuk?"


"Menurutmu?" Dengusku sambil melipat kedua tanganku di dada sebelum memalingkan pandanganku darinya.


"Aster!" Suara ayah menarik perhatianku, ku lihat ayah sudah berjalan menghampiriku saat menuruni anak tangga terakhir.


"Ayah?"


"Untuk rencana kunjungan kita, apa kamu tidak keberatan untuk berkunjung besok?" Tanya ayah membuatku sedikit bingung dengan ucapannya. Tapi detik berikutnya aku langsung teringat dengan pembicaraanku dengan ayah yang berniat untuk pergi ke tempat peristirahatan ibu.


"Aku tidak keberatan." Jawabku sebelum menunjukan senyuman lebarku, rasanya sudah sangat lama kan? Aku jadi sangat bersemangat sekarang.


"Kunjungan? Kalian mau berkunjung kemana?" Ceplos Carel yang sempat ku lupakan kehadirannya.


"Bukan urusanmu." Jawab ayah dengan ketus.


"Cih pelitnya, apa kau sengaja tidak mau memberitahu ku supaya aku tidak ikut bersamamu?" Dengusnya setelah berdecih.


"Meski aku memberitahumu, aku tetap tidak akan mengajakmu tuh. Lagipula ini kunjungan keluarga." Jelas ayah berhasil membuat ekspresi kesal Carel terlihat, padahal beberapa menit lalu dia sangat gembira karena mengantarku pulang.


"Kau—" Geram Carel segera ku hentikan dengan meraih tangannya, untungnya itu berhasil. Ku lihat dia sudah melirik ke padaku dengan tatapan bingungnya yang meminta penjelasan.


"Kami akan pergi ke tempat peristirahatan ibu dan nenek. Jadi ... itu, la—lain kali ayo kita pergi berdua oke." Bisik ku merasa sedikit gugup karena melakukannya di depan ayah.


"Kalian ...,"


"Iya—iya ayah?"


"Sejak kapan kalian jadi sedekat itu?" Tanyanya benar-benar membuatku terkejut. Apa ayah sudah mengetahui hubunganku dengan Carel?


"Apa maksudmu pak tua? Bukankah selama ini kami juga terlihat dekat? Matamu buta ya?" Jawab Carel menambah rasa terkejutku, bisa-bisanya dia mencoba untuk memulai pertengkaran dengan ayah. Apa dia sudah sangat bosan sekarang? Tapi kenapa harus mencari masalah dengan ayah?


Hah~ padahal aku juga sedang kesal padanya, tapi secara ajaib rasa kesal itu menghilang karena melihat ketidakakuran ayah dan Carel, lalu secara naluri aku langsung menengahi mereka. Tapi apa itu tidak berhasil?


Hari yang di nantipun tiba, hari ini aku pergi bersama ayah ke tempat peristirahatan ibu dan mampir di toko bunga untuk membeli beberapa bunga untuk ibu dan nenek.


Lalu tanpa membuang banyak waktu, kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju tempat tujuan dengan ayah yang mengemudikan mobilnya sendiri, dan aku duduk di sampingnya sambil memperhatikan layar ponselku yang terus bergetar.


Saat ini aku tengah bertukar pesan dengan Carel, dia terus menghubungiku dari pagi-pagi buta sampai sekarang. Aku bahkan tidak tau apakah dia tidak bangun dari tempat tidurnya atau apakah dia tidak ada pekerjaan lain?


Ini benar-benar membuatku penasaran karena Carel begitu cepat membalas pesanku, dan saat aku pergi mandi sampai aku sarapan, dia terus mengirimkan pesan spam karena aku terlambat membalas pesannya.


Tidak kah dia berpikir aku sibuk hari ini? Apalagi aku sudah memberitaunya kalau aku akan pergi ke makam ibu bersama dengan ayah, harusnya dia memberikan waktu untuk ku kan? Tapi kenapa anak ini malah terus menggangguku?


"Siapa yang bertukar pesan denganmu sejak tadi? Aku lihat kamu sangat sibuk dengan ponselmu, padahal kita sudah lama tidak pergi keluar bersama." Tutur ayah mengejutkanku dan refleks ku matikan tombol power di handphone ku.


"Ah ini ... bukan siapa-siapa hehe." Ucapku sambil memasukan benda pipih itu ke dalam saku pakaianku.


"Apa ayah sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibu?" Lanjutku berusaha mencari topik untuk menghilangkan suasana canggung yang menggangguku.


"Tidak juga, bagaimana denganmu?"


"Aku? Kalau aku ingin segera bertemu dengan ibu dan menceritakan banyak hal padanya. Aku ingin memberitaunya kalau aku baik-baik saja, dan sekarang ingatan ayah juga sudah kembali. Jadi tidak ada yang perlu ibu khawatirkan lagi." Jawabku sedikit menghaluskan suaraku sambil memperhatikan jalanan.


"Maaf karena ku kamu jadi mengalami banyak hal berat ...,"


"Sekarang ayah minta maaf lagi? Bukankah aku sudah melarangnya?" Tanyaku menoleh pada ayah dan menatapnya dengan serius.


"Aku tau, tapi rasanya permintaan maaf ku tidak cukup." Jawabnya membuat suasana hatiku memburuk. Bagaimana bisa ayah memikirkan itu cukup atau tidak untuk menghilangkan rasa bersalahnya?


"Yang memutuskan cukup atau tidak kan aku, saat aku mengatakan cukup. Bukankah itu artinya ayah sudah terlalu banyak mengatakan kata maaf?" Tuturku bertemu tatap dengan manik merah ayah bersamaan dengan mobil yang berhenti karena lampu merah.


Tadinya aku tidak berniat untuk mengatakan isi hatiku saat ini, tapi karena aku sudah tidak tahan dengan ekspresi yang terus ayah buat saat dia meminta maaf. Maka mau tak mau akhirnya aku lepas kendali, dan mengatakan apa yang ingin ku katakan tanpa memikirkan perasaan ayah terlebih dulu.


"Minta maaf itu baik, tapi jika terus-menerus mengatakan maaf. Bukankah itu akan menghilangkan makna sesungguhnya dan terdengar tidak tulus?" Lanjutku kembali memperhatikan jalanan di hadapanku, lalu tak lama kemudian lampu hijau kembali menyala dan ayah kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"... benar, maaf karena tidak memikirkan hal itu." Ucap ayah setelah membisu cukup lama, sepertinya ayah memikirkan dengan hati-hati apa yang baru saja ku katakan sebelum membuka suaranya lagi.


"Aku maafkan, jadi berhentilah meminta maaf lagi oke. Bukan berarti aku muak mendengar permintaan maaf ayah, tapi karena aku benar-benar sudah memaafkan ayah. Semuanya sudah berlalu kan?" Tuturku berusaha menjelaskan perasaanku sebaik yang ku bisa.


"Iya, kamu benar. Kalau begitu kata terima kasih tidak masalah kan?" Jawab ayah sambil menunjukan senyum tipisnya yang terlihat menawan.


"Ya itu lebih baik. Aku juga lebih suka kata itu daripada kata maaf. Jadi ayah, terima kasih karena sudah mengingatku kembali."


.


.


.


Thanks for reading...