Aster Veren

Aster Veren
Episode 103




-Ansel-


Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 pagi, dan aku masih sibuk mengurusi pekerjaanku. Rasanya kepalaku akan pecah jika terus-terusan disibukan dengan berkas-berkas sialan dihadapanku ini.


Aku sampai tidak memiliki waktu untuk menghubungi putriku sedetik pun karena Rigel tidak ada disampingku untuk membantuku. Padahal biasanya aku membagi pekerjaanku padanya, tapi hari ini dan seterusnya aku harus bisa mengurusnya sendiri karena Rigel sudah ku kirim kembali ke Singapura untuk mengurus perusahaanku di sana.


Awalnya dia menolak dan kukuh memintaku untuk ikut, tapi aku menolaknya karena perusahaanku disini juga sedang tidak baik-baik saja. Kalau aku pergi siapa yang akan mengurusnya?


"Apa aku cari sekertaris baru saja ya?" Gumamku sambil memijat pangkal hidungku setelah menghela napas letih.


Kebetulan sekali pekerjaanku bertambah setelah selesai mengurus masalahku dengan orang-orang yang terlibat dalam kasus kecelakaan mendiang ibu.


Ku kira wanita itu bekerja sama dengan ibunya ..., batinku mengingat hari persidangan. Padahal aku sudah berpikir mereka akan hidup lama di penjara. Tapi yang masuk jeruji besi cuma ibunya saja karena dia terbukti tidak bersalah.


"... pasti sulit menjalani hidup setelah wajahnya terpampang diberbagai media pemberitaan. Victor pun sampai dibuat khawatir padanya," gumamku mengingat ekspresi menyedihkan Claretta.


Tok tok tok!


Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar, membangunkanku dari lamunan singkatku. "Masuk!" Teriak ku mempersilahkan.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka menampilkan sosok Khael dan Arsel yang memasuki ruang kerjaku dengan ekspresi berseri-serinya, membuatku mengernyit bingung memperhatikan anak dan ayah dihadapanku itu.


"Ada apa?" Ketusku pada Arsel saat mata kami bertemu tatap. Belum sempat dia menjawab, putranya sudah berlari mendekati meja kerjaku dan mengejutkanku.


"Khael mau main!" Serunya sambil mendongakan kepalanya di depan meja kerjaku dengan jari-jari tangannya yang sudah mencengkram erat pinggiran meja.


Lihatlah! Dia sangat lucu karena tubuh mungilnya tidak lebih tinggi dari meja kerjaku, aku yang melihat tubuhnya gemetaran hanya bisa menebak kalau Khael sedang berjinjit sekarang. Lalu ekspresi wajahnya juga sangat menggemaskan, pipinya menggembung dan memerah seperti sedang menahan napas supaya bisa melihat wajahku dari posisinya.


Padahal dia bisa menghampiriku langsung ke sisi lainnya, tapi anak ini malah memaksakan dirinya untuk tetap berdiri di depan meja kerjaku.


Benar-benar menggemaskan bukan?


"Pft ...," Gumamku tak kuasa menahan tawaku, tapi sebaik mungkin aku berusaha untuk menahan suara tawaku saat melihat Khael bersusah payah berusaha menahan dirinya dihadapanku, "mau main denganku?" Lanjutku setelah berhasil mengendalikan diriku.


"Iya!" Ucapnya sangat antusias dengan senyuman lebarnya.


"... tapi pekerjaanku belum selesai," tuturku merasa menyesal karena tidak bisa mengindahkan permintaannya.


"Kau masih sibuk bekerja di hari libur seperti ini?" Suara Arsel yang baru berkicau, membuatku menoleh kearahnya yang sudah duduk manis di sofa yang tersedia di ruang kerjaku. Entah kenapa aku merasa kesal saat melihatnya sesantai itu, seolah tak perduli dengan kehadirannya dan putranya yang sudah mengganggu waktu kerjaku.


"Mau menggantikanku?" Tawarku menatapnya dalam.


"Tidak, terima kasih." Tolaknya sambil meraih buah apel dihadapannya dan langsung mengigitnya.


"Kalau begitu kenapa kau tidak pergi keluar saja? Bawa anakmu sekalian." Saranku sambil meraih kembali keyboard komputerku yang sempat ku abaikan karena merasa letih.


"Hah~ Hana masuklah!" Teriak Arsel setelah menghela napas kasarnya, lalu tak lama kemudian orang yang dipanggil pun masuk ke dalam ruang kerjaku.


"Ya tuan," ucap pelayan itu dengan sopan.


"Bawa Khael main di luar, ada yang mau aku bicarakan dengan kakak ku."


"Eh~ papa bilang Khael boleh main sama paman. Kenapa sekarang di suruh main sama Hana di luar?" Protes Khael yang sudah berdiri disamping ayahnya. Entah sejak kapan dia berdiri disana, aku bahkan tidak menyadari kepergiannya dari depan meja kerjaku.


"Nanti setelah papa selesai bicara ya, sekarang Khael main bersama Hana dulu." Jelas Arsel dengan suara lembutnya.


"... baiklah," pasrahnya dengan bibirnya yang sudah mengerucut kesal, berjalan mendekati Hana dan menarik ujung pakaiannya. "Ayo pergi!" Lanjutnya membuat Hana mengangguk dan segera membungkukan tubuhnya padaku dan Arsel sebelum pergi ke luar bersama dengan Khael.


***


"Ini maksudnya ... apa?" Gumamku saat membuka semua surat yang diberikan oleh Arsel ke tanganku.


"Tidak tau, aku bahkan belum melihatnya karena suratnya dilabel dan di tunjukan untukmu." Ucapnya membuatku menatap kesal manik merahnya yang terlihat menyebalkan itu.


"Lalu kenapa semua surat ini pergi ke rumahmu?" Tanyaku menatapnya curiga sambil menyandarkan tubuhku kesandaran sofa yang ku duduki, berhadapan dengan Arsel.


"Hem... kenapa ya? Menurutmu kenapa?" Jawabnya balik bertanya, membuatku berdecak kesal. Sudah lama sekali dia tidak membuatku sekesal ini, ditambah dengan semua surat sampah di tanganku. Rasanya rasa kesalku jadi bertambah berkali-kali lipat.


Apa kesabaranku sedang di uji sekarang? Semua orang yang mengirimiku surat meminta persetujuan untuk menjodohkan putra mereka dengan putriku, lalu mereka menawarkan kerja sama dan menjanjikan hal-hal sampah sampai membuat darahku memanas.


Apa mereka pikir hartaku akan habis kalau tidak menerima tawaran mereka? Bukankah mereka yang ingin menambah kekayaan mereka dengan melakukan perjodohan ini? Gerutuku dalam hati, berusaha menahan rasa kesalku yang hampir memuncak.


"Apa ku musnahkan saja ya keluarga mereka?" Lanjutku sambil melempar semua kertas ditanganku ke atas meja, menarik perhatian Arsel.


Ku lihat dia sudah meraih semua surat itu dan mulai membacanya, "ini?!" Ucapnya dengan ekspresi kesal yang perlahan mulai menghiasi wajah menyebalkannya itu.


"Mereka cari mati ya? Beraninya mereka menginginkan keponakan tersayangku." Lanjutnya segera meremas semua kertas itu.


"Iya kan?"


"... kau tidak membuka yang lainnya?" Tanya Arsel membuatku melirik kearah tumpukan surat lainnya.


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Isinya pasti sama,"


"Kalau begitu biar ku bakar saja semua sampah ini!" Ucapnya segera meraih semua tumpukan surat yang belum ku buka, tapi tangannya langsung berhenti saat melihat dua buah surat yang menarik perhatiannya.


Ya, bakarlah! Batinku sambil mengangguk mantap menyetujui keputusannya itu.


"Ini? Kau yakin tidak akan membukanya?" Lanjutnya sambil memberikan dua buah surat yang sudah mencuri perhatiannya itu. Lalu ku raih dua surat ditangannya dan ku lihat lambang keluarga Alterio dan Alaric disana.


"Mereka ... tidak mungkin kan?" Gumamku sambil menatap malas surat-surat ditanganku.


"Biar ku buka!" Ucap Arsel merebut kembali surat yang diberikannya padaku.


Ku lihat dia mulai membaca isi surat dari Ian dengan ekspresi seriusnya yang perlahan berubah menjadi ekspresi jijik? Lalu beralih pada surat dari Albert, kali ini ekspresinya malah biasa saja. Berkebalikan dari sebelumnya.


Apa yang ditulis mereka sampai orang ini memasang ekspresi seperti itu? Batinku merasa penasaran dengan apa yang dibaca oleh Arsel, lebih penasaran lagi dengan isi surat yang ditulis oleh Ian. Karena dia Arsel sampai membuat ekspresi jijik seperti itu dihadapanku.


"Aku tidak akan memberikan keponakanku!" Ucapnya kemudian, nyaris berteriak dan mengejutkanku yang tengah menikmati teh hangat di tanganku.


Tidak akan memberikan keponakanku? Jangan bilang .... Batinku memperhatikan ekspresi Arsel, detik berikutnya aku langsung bisa menebak isi surat yang dibacanya tanpa melihatnya terlebih dulu. Apalagi dia sampai mengatakan tidak akan memberikan keponakannya. Itu berarti isi suratnya mirip atau sama dengan surat-surat yang sebelumnya ku baca.


Tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat ku rebut kembali dua surat di tangan Arsel dan mulai membacanya, "mereka berdua cari mati juga ya?!" Ucapku benar-benar dibuat kesal dengan isi surat yang ku baca. Bahkan lebih kesal dari sebelumnya, rasanya darahku bukan memanas lagi sekarang, tapi mendidih.


.


.


.


Thanks for reading...