
-Carel-
Waktu sudah menunjukan pukul 08:00 malam, hari ini benar-benar menjadi hari yang sangat melelahkan. Apalagi sebentar lagi akan ada ujian praktek. Kegiatanku semakin padat. Tapi untungnya aku masih bisa makan siang bersama dengan Aster, meski sempat dihalangi oleh anak menyebalkan itu. Untung Teo berhasil membawa Aster pergi dari hadapanku dan anak itu.
"Hah~" Gumam Teo sambil menghela napas dalam nan panjang.
Ada apa dengan anak satu ini? Sejak kembali ke kamar sore tadi, ekspresinya jadi seperti orang bodoh begini. Sebenarnya apa yang sudah dia lalui sore ini? Batinku bertanya-tanya sambil mengingat ucapan Teo yang akan melindungi Kalea dari si Nathan sebelum melengos pergi mengekori Kalea.
"Ekhem!" Dehemku kemudian, membuat pria berambut pirang itu terperajat dan menatapku dengan mata bulatnya.
"Kau mengejutkanku!" Dengusnya sambil mengelus dadanya.
"Memangnya dehemanku itu sekeras apa bodoh?" Ketusku sambil mendelik kesal padanya yang bersikap berlebihan, "bagaimana? Apa yang terjadi sore tadi?" Lanjutku bertanya.
"Tumben kau penasaran dengan masalah orang lain selain Aster?"
"Tidak boleh?"
"Bukannya tidak boleh, hanya saja ... seperti keajaiban kau bisa perduli pada orang lain selain–"
"Ceritakan saja apa yang sudah terjadi, aku kesal melihat ekspresi bodohmu itu sejak tadi!" Potongku sambil melemparkan bantal tidurku tepat diwajah Teo.
"Eks–wajah bodoh?" Gumamnya sambil meraih bantal tidur diwajahnya.
"Ya, kau tidak sadar sudah memasang ekspresi bodoh sejak kembali dari melindungi si Kalea itu?" Jelasku berusaha menahan perasaan kesalku.
"... sebenarnya Carel ...,"
"Apa?" Dengusku mulai habis kesabaran.
"Bisa kau cubit aku? Pukul pun tidak apa-apa."
"Kau sint*ng ya?" Tanyaku tak bisa menyembunyikan kernyitan didahiku.
"Mungkin! Habisnya, Kalea ... masa dia bilang menyukaiku di depan Nathan dan Sean," jelasnya masih dengan ekspresi bodohnya yang berhasil membuatku sedikit tersentak saat mendengar ucapannya.
"Kau bercanda?" Kernyitku bertanya.
"Tidak–"
"Tapi anak itu, bukankah dia cinta mati dengan si Nathan?" Lanjutku masih bertanya.
"Entahlah, yang pasti entah bagaimana aku mengiyakan ucapan Kalea dan membuat si Nathan putus asa. Bahkan Sean, anak itu tak bisa berkutik saking terkejutnya–"
"Kau tidak lihat aku juga terkejut?"
"... terkejut? Dengan ekspresi seperti itu?" Tanyanya setelah membisu selama beberapa saat, dia bahkan sampai memperhatikan wajahku dengan matanya yang semakin memicing, sangat mengganggu!
"Tapi Carel, yang membuatku bingung adalah ... perempuan itu, dia–"
"Dia?"
"Dia malah menyatakan perasaannya padaku setelah Nathan dan Sean pergi dari hadapan kami. Ku kira dia hanya berakting supaya pria itu tidak jadi membatalkan pertunangannya dengan Nadin. Tapi, kenapa dia malah menyatakan perasaannya padaku?" Jelasnya membuatku ternganga tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar, bagaimana seorang Teo bisa mendapat pengakuan dari seorang perempuan? Itupun dari Kalea?
"... la–lalu bagaimana reaksimu?" Tanyaku.
"Aku ... mana bisa aku menolak pernyataannya yang terlihat menggemaskan seperti itu?" Jawabnya membuatku geli, apalagi saat melihat ekspresi Teo yang mulai senyum-senyum sendiri.
"Jadi kau dan Kalea?" Tanyaku lagi setelah menelan salivaku dengan susah payah.
"Ya! Kami sudah resmi berpacaran." Jawabnya sambil tersenyum lebar menunjukan deretan gigi putih nan rapinya.
"Bisa-bisanya kalian–"
"Kau kapan dengan Aster?"
"Apa maksudmu?"
***
-Teo-
"Kau mengejutkanku!" Dengusku sambil mengelus dadaku, berusaha meredakan degupan jantungku yang sempat berpacu karenanya.
"Memangnya dehemanku itu sekeras apa bodoh?" Ketusnya sambil mendelik kesal padanku, "bagaimana? Apa yang terjadi sore tadi?" Lanjutnya kemudian.
"Tumben kau penasaran dengan masalah orang lain selain Aster?" Tanyaku sambil memiringkan kepalaku sedikit, mencoba untuk menelisik sosok Carel yang tengah duduk di atas tempat tidurnya.
"Tidak boleh?"
"Bukannya tidak boleh, hanya saja ... seperti keajaiban kau bisa perduli pada orang lain selain–"
"Ceritakan saja apa yang sudah terjadi, aku kesal melihat ekspresi bodohmu itu sejak tadi!" Potongnya sambil melemparkan bantal tidurnya tepat diatas wajah dan membuatku memekik kesakitan dibagian hidungku.
"Eks–wajah bodoh?" Gumamku sambil meraih bantal tidur diwajahku dan mengelus hidungku dengan tangan kananku.
"Ya, kau tidak sadar sudah memasang ekspresi bodoh sejak kembali dari melindungi si Kalea itu?" Jelasnya terlihat begitu menahan diri, berusaha menahan perasaan kesal didadanya.
"... sebenarnya Carel ...,"
"Apa?" Dengusnya mulai habis kesabaran.
"Bisa kau cubit aku? Pukul pun tidak apa-apa." Tuturku kembali teringat dengan kejadian sore tadi saat Kalea tiba-tiba mengakan aku pacarnya dihadapan Nathan dan Sean.
"Kau sint*ng ya?" Tanya Carel tak bisa menyembunyikan kernyitan didahinya.
"Mungkin! Habisnya, Kalea ... masa dia bilang menyukaiku di depan Nathan dan Sean," jelasku tak bisa menepis momen sore tadi.
"Kau bercanda?" Kernyit Carel bertanya.
"Tidak–" Jawabku terpotong.
"Tapi anak itu, bukankah dia cinta mati dengan si Nathan?" Lanjutnya masih bertanya.
"Entahlah, yang pasti entah bagaimana aku mengiyakan ucapan Kalea dan membuat si Nathan putus asa. Bahkan Sean, anak itu tak bisa berkutik saking terkejutnya–" Jelasku kembali dipotong oleh anak menyebalkan disebrang tempat tidurku.
"Kau tidak lihat aku juga terkejut?"
"... terkejut? Dengan ekspresi seperti itu?" Tanyaku setelah membisu selama beberapa saat dan memicingkan mataku, memperhatikan wajah Carel yang sulit untuk digambarkan.
"Tapi Carel, yang membuatku bingung adalah ... perempuan itu, dia–" Lanjutku terpotong.
"Dia?"
"Dia malah menyatakan perasaannya padaku setelah Nathan dan Sean pergi dari hadapan kami. Ku kira dia hanya berakting supaya pria itu tidak jadi membatalkan pertunangannya dengan Nadin dan berhenti mengejar Kalea. Tapi, kenapa dia malah menyatakan perasaannya padaku?" Jelasku membuatnya ternganga tidak percaya dengan apa yang baru saja ku katakan, untuk pertaman kalinya aku bisa melihat ekspresi Carel yang terlihat asing nan langka itu. Sangat lucu!
"... la–lalu bagaimana reaksimu?" Tanyanya.
"Aku ... mana bisa aku menolak pernyataannya yang terlihat menggemaskan seperti itu?" Jawabku kembali teringat dengan ekspresi malu-malu Kalea saat menyatakan perasaannya padaku. Bahkan tanpa sadar sudut bibirku sudah terangkat membentuk lengkukan huruf "U" dengan sempurna.
"Jadi kau dan Kalea?" Tanya Carel memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa detik.
"Ya! Kami sudah resmi berpacaran." Jawabku sambil tersenyum lebar.
"Bisa-bisanya kalian–"
"Kau kapan dengan Aster?" Tanyaku memotong ucapannya.
"Apa maksudmu?"
Ayolah jangan berpura-pura bodoh seperti itu Carel! Kalau kau ku beritau apa yang direncanakan Sean untuk mendekati Aster, kau pasti tidak akan bisa tenang. Gerutuku dalam hati saat mengingat pembicaraan rahasia Kalea dengan Sean sebelum kami pergi menemui Nathan di taman belakang akademi.
Intinya Sean meminta bantuan pada Kalea supaya dia bisa semakin dekat dengan Aster, aku sempat mendengar pembicaraan mereka sekilas. Dan agak menyebalkan saat tau dia membantu Kalea dengan niatan tertentu. "Cih! Saudara apanya kalau membantu saja tidak tulus?" Gumamku merasa kesal sendiri.
.
.
.
Thanks for reading...