
-Aster-
"... ternyata kamu jauh lebih cantik dari yang ku bayangkan ya," tutur wanita cantik yang tengah duduk disampingku sambil mengelus lembut punggung tangan kananku.
Tante ini ... ibunya Carel ya? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan wajah cantiknya yang dipolesi oleh make up tipis untuk menutupi wajah pucatnya.
... sebenarnya ibunya Carel sakit apa? Lanjutku masih bertanya-tanya dalam hati, mataku juga tidak bisa berpaling dari sosoknya.
Tubuhnya terlihat kurus, warna kulitnya pun berwarna putih pucat. Belum lagi sorot matanya terlihat sedikit lelah dan sayu layaknya orang sakit.
"... tante ini–ibunya Carel?" Tanyaku kemudian, ingin memastikan rasa penasaranku akan sosoknya.
"Iya, panggil saja aku ibu, hehe ...," jawabnya sambil tersenyum lebar disusul oleh suara tawanya.
"Ibu?" Gumamku merasa bingung dengan jawaban yang ku terima. Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang tidak memperkenalkan namanya dan malah memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan "Ibu".
"Carel pasti sering membuatmu kerepotan ya?" tanyanya tiba-tiba, menatapku dengan tatapan seriusnya.
"Ah–tidak–" sangkalku.
"Kamu tidak perlu melindunginya, dia memang anak yang–sedikit menyebalkan, jadi kalau dia nakal bilang saja padaku atau kamu pukul saja dia sekuat tenaga." Lanjutnya memotong ucapanku dengan perubahan sorot mata yang terlihat berbinar diakhir kalimatnya.
Entah kenapa melihat ekspresinya yang seperti itu, aku jadi teringat dengan ibu. Sifatnya yang penuh semangat pun begitu mirip dengan ibu. Apa semua ibu memang memiliki sifat seperti itu ya?
"Pokoknya kamu jangan sungkan untuk memukul Carel kalau dia bersikap jahil padamu." Ucapnya membangunkanku dari lamunan singkat ku.
"E–eh? hha–haha ... tante–" Ucapku terhenti saat melihat perubahan sorot mata ibunya Carel lagi. Kali ini sorot matanya terlihat tajam dengan kedua alisnya yang hampir menyatu saat mengernyitkan keningnya. Masa aku didukung untuk memukul anak menyebalkan itu sih?
"Tante?" Tanyanya membuatku berkeringat dingin saat bertemu tatap dengannya.
"I–ibu?" Ucapku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku, dan ku lihat bibir merah ibunya Carel langsung tertarik ke atas, membentuk senyuman yang indah dengan tatapannya yang melunak.
"Ya, pintar ...," Gumamnya sambil mengelus puncak kepalaku.
Benar-benar mirip dengan ibu .... Batinku tak bisa berkata apapun lagi selain mengingat sosok ibu yang telah tiada. "Ah, aku jadi merindukannya sekarang."
"Hem? Kamu mengatakan sesuatu Aster?" Tanya ibunya Carel membuatku tersadar dengan gumamanku.
"Eh–itu, tidak ada. Hhehe ...," Kilahku.
Padahal aku sangat yakin kalau aku mengatakannya didalam hati, tapi ternyata tanpa sadar aku mengatakannya dari mulutku ya? Untung saja ibunya Carel tidak dengar.
"... Semakin lama dilihat, kamu semakin manis ya Aster. Aku jadi ingin mengangkatmu menjadi putriku," tuturnya sambil mendekap tubuhku, membuatku terkejut dengan pelukan tiba-tiba yang ku dapat.
"Tidak-tidak! Akan jauh lebih baik jika kamu menjadi menantuku saja hehe." Lanjutnya mempererat pelukannya.
Menantu?
"Ibu?" Suara Carel mengejutkanku, bahkan ibunya Carel pun ikut terkejut dan refleks melepaskan pelukannya.
"Carel?" Gumamku bersamaan dengan ibunya Carel.
"Ibu sedang apa disini?" Tanyanya penuh selidik.
"Ibu hanya mengantar ayahmu," jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari Carel. Mencurigakan.
"Aku tidak diberitahu kalau ibu dan ayah akan berkunjung ke akademi tuh." Tutur Carel sambil berkacak pinggang dengan salah satu tangannya.
"Itu ... Ibu–mau memberikan kejutan untukmu."
"Ugh–iya begitulah,"
Eh? Kenapa? Ada apa ini? Batinku bertanya-tanya dengan situasi ku saat ini.
"Habisnya kamu selalu menunda pertemuan ibu dengan Aster, jadi ... Ibu putuskan untuk menemuinya sendiri. Kebetulan hari ini ayahmu ada urusan di akademi, jadi ibu memaksa untuk ikut dengannya." Lanjutnya menjelaskan pada Carel dengan penuh semangat diakhir kalimatnya.
"Menunda?" Gumamku semakin dibuat bingung oleh ibu dan anak dihadapanku ini.
"Hah, ibu kan tau kalau ibu harus banyak beristirahat dan pulih dulu–" Tutur Carel setelah menghela napas letihnya.
"Tuh kan, kau mengatakannya lagi. Ibu sudah bosan mendengarnya. Lagipula ibu tidak melakukan hal-hal yang luar biasa yang bisa membuat tubuh ibu cepat lelah. Ibu hanya ingin berbincang ringan dengan Aster, tapi kau terus menunda pertemuan ibu dengan Aster. Menyebalkan!" Tutunya kembali memeluk tubuhku dengan manja.
"E–eh?" Gumamku tak tau harus bereaksi seperti apa.
... Ternyata ibunya Carel jauh lebih kekanakan dari ibuku ya? Batinku kembali mengingat sosok ibu yang pernah merengek seperti ibunya Carel. Bedanya ibu merengek pada nenek untuk mendapatkan izin keluar dihari pergantian tahun.
Malam itu ibu merengek pada nenek untuk mengajak ku pergi melihat kota di malam tahun baru ya? Batinku mencoba mengingat kembali kejadian malam itu.
"Ibu, ibu lupa kalau aku dan Aster bersekolah di akademi ya? Kami hanya bisa pulang saat liburan sekolah belangsung–" jelas Carel menghancurkan lamunanku, dan lagi-lagi ucapannya dipotong oleh ibunya.
"Kau kan bisa meminta izin keluar selama beberapa jam pada petugas sekolah." Tutur ibunya Carel sambil mengerucutkan bibirnya, terlihat menggemaskan.
Jadi ibunya Carel sudah lama ingin bertemu denganku ya? Selain itu ... aku tidak tau kalau anak menyebalkan ini menceritakan ku pada ibunya. Kira-kira apa yang dia ceritakan soalku pada ibunya ya? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan Carel yang terlihat kerepotan menghadapi ibunya.
"Hah~ dasar Carel. Bagaimana bisa kau tidak meluangkan waktumu untuk menemui ibumu sebentar? Padahal kau tinggal meminta izin pada petugas sekolah, kalau bisa kau minta izin langsung pada paman–maksudku kepala sekolah." Tuturku mulai angkat bicara untuk membela ibunya Carel, entah kenapa fikiran jahilku muncul.
"Benar kan? Putraku ini memang tidak memiliki hati." Timpal ibunya Carel sambil menunjukan ekspresi sedihnya.
"Hmm, padahal dia sempat membawaku kabur dari akademi hanya untuk melihat festival." Ucapku sambil melirik jahil padanya.
"Itu–karena Aster–" ucap Carel kembali terpotong.
"Benarkah? Putraku membawamu kabur dari akademi? Hanya untuk melihat festival?" Tanya ibunya Carel dengan ekspresi terkejutnya.
"Ya, dia membuatku membolos selama seharian penuh." Angguk ku mencoba memasang ekspresi sedih seperti yang dilakukan oleh ibunya Carel.
"Jangan bohong! Sebelum aku membawamu pergi, kau sudah membolos duluan ya!" Kilahnya terlihat gelisah dengan sorot mata kesalnya.
"Carel!" Seru ibunya Carel sambil memeluk tubuhku kembali.
"Ya?" Jawabnya refleks.
"Lain kali kalau mau membolos jangan mengajak orang lain ya? Kalau bisa sih kamu juga jangan membolos lagi, hilangkan kebiasaan burukmu itu. Bisa kan?" Lanjut ibunya Carel membuat pria bermanik merah itu bungkam dan hanya bisa menganggukan kepalanya pasrah. Tapi detik berikutnya dia melirik tajam padaku, membuatku refleks meletakan lidahku padanya sebelum membuang pandanganku darinya.
... Sekali-kali menjahilimu bolehkan Carel? Jangan aku terus yang jadi korban kejahilanmu. Kau juga harus merasakan rasa kesal yang ku dapatkan saat kau menjahiliku. Batinku merasa puas dengan ekspresi kesal yang dibuat oleh Carel.
"Pft ...," gumamku berusaha untuk menahan suara tawaku yang nyaris lepas saat melihat ekspresi Carel yang terlihat menyedihkan dihadapan ibunya.
Jadi dia tidak bisa melakukan apapun dihadapan ibunya ya? Aku baru tau kalau sosok Carel dihadapan ibunya adalah menjadi anak baik yang penurut. Padahal selama ini dia selalu menjadi anak yang paling menyebalkan.
.
.
.
Thanks for reading...