Aster Veren

Aster Veren
Episode 113




-Teo-


Ku hentikan langkahku menuju kantin saat melihat Carel mengikuti kakeknya menuju taman belakang akademi.


Ekspresi mereka terlihat begitu serius dan canggung. Bahkan anak pembuat onar itu terlihat tidak senang dan enggan menemui kakeknya. Langkahnya pun terlihat sangat dipaksakan untuk mengikuti sosok pria dihadapannya.


Firasatku tidak enak, batinku saat mengingat ucapan Aster sebelum bel istirahat berdering. Anak itu mengatakan hal yang tidak ingin ku dengar, dan sekarang perkataannya benar terjadi.


"Apa yang sedang mereka bicarakan? Aku tidak bisa mendengarnya." Gumamku yang sudah berdiri dibalik pohon tak jauh dari posisi mereka berdiri.


Aku tidak berniat untuk menguping pembicaraan mereka, tapi saat melihat reaksi aneh dari Carel, aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Jadi mau tak mau aku harus mencaritaunya sendiri, karena aku tau jika menanyakannya pada Carel, dia pasti tidak akan mau memberitauku.


"Ada apa mencariku? Bukankah pertemuannya sebentar lagi? Kenapa malah membuang-buang waktu dengan menemuiku?" Suara Carel terdengar dingin.


"Aku hanya ingin memastikan kau belajar dengan benar dan tidak berbuat onar–"


"Kakek tidak perlu mengkhawatirkanku, tanpa diperingati pun aku sudah belajar dengan baik."


"Baguslah kalau kau mengerti. Jadi ayahmu tidak sia-sia sudah meyakinkanku untuk menyetujui keputusan yang kau ambil untuk memasuki jurusan ilmu kedokteran–"


"Jadi akhirnya kakek yakin denganku karena ayah ya? Tidak masalah, selanjutanya aku akan membuatmu mengakui kemampuanku sendiri." Ucapnya dengan sorot mata menantang lengkap dengan senyuman sarkasnya. Terlihat menyebalkan.


"Aku akan menantikannya! Tapi ingat satu hal, jangan pernah mengecewakanku dengan kelakuanmu yang selalu berbuat onar itu!" Tuturnya membalas senyuman sarkas Carel, "karena aku tidak ingin mendengar nama baik keluarga Alterio kembali tercemar dan dipermalukan karena ulah bodohmu." Lanjutnya membuatku merinding saat merasakan tekanan hebat diatara mereka.


... aku jadi penasaran, sejak kapan hubungan mereka tidak baik seperti ini? Bukankah dulu mereka baik-baik saja? Batinku bertanya-tanya dengan aura permusuhan mereka.


"Aku tidak pernah mempermalukan nama baik keluarga Alterio!" Ucap Carel penuh penekanan.


"Kau bercanda? Karenamu aku harus menundukan kepalaku pada semua orang tua yang anaknya kau hajar habis-habisan hari itu, aku bahkan mengeluarkan banyak uang untuk biaya pengobatan anak-anak itu. Kau pikir semua itu apa?!"


Ha? Apa yang ...,


"Aku tidak pernah memintamu untuk menundukan kepalamu pada mereka, aku menghajar anak-anak itu karena mereka pantas mendapatkannya!"


"Kau!!"


"Sudahlah, aku lelah berdebat denganmu, waktu istirahatku bisa habis kalau terus mendengar omelanmu. Lagipula masalah itu sudah tuntas kan? Jangan mengungkitnya kembali." Ucap Carel sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kakeknya, namun baru tiga langkah dia berjalan, mantan pemimpin keluarga Alterio itu menghentikan langkahnya dengan suara tegasnya. Tapi detik berikutnya, anak itu kembali melanjutkan langkahnya dan tak memperdulikan kakeknya yang terus memanggil namanya dengan emosi.


"Carel!"


***


"Hari itu?" Gumamku sambil mengikuti langkah Carel menuju kantin.


Entah kenapa aku jadi merasa terganggu dengan pembicaraan Carel dan kakeknya, rasanya seperti ada hal yang mengganjal dihatiku. Pikiranku mengatakan aku melupakan sesuatu yang begitu penting, sesuatu yang mungkin menjadi pemicu permusuhan Carel dan kakeknya.


... tapi apa yang ku lupakan? Batinku sambil menghentikan langkahku saat melihat perkelahian kakak tingkat dengan adik kelasnya di pinggir lapangan olahraga. Terlihat dari warna dasi yang mereka kenakan, tidak sama.


Lalu mataku tertuju pada seorang pria yang berjalan cepat dengan tatapan tajamnya mendekati kedua orang yang sedang berkelahi itu. Dan tanpa peringatan, orang itu langsung melayangkan tinjunya pada kakak tingkat yang sudah memukuli temannya? Warna dasinya sama dengan orang yang babak belur disana! Batinku memperhatikan pria yang sudah terduduk di tanah, meringis kesakitan memegangi perutnya.


"Sudah ku bilang berhentilah mengganggu temanku!" Seru pria yang baru datang itu dengan suara kesalnya.


"Beraninya kau memukul wajahku!!" Geram kakak tingkat itu berniat menghajar adik kelas dihadapannya, namun dengan gesit dia berhasil menghindari pukulan kakak tingkat yang mengincar wajahnya.


"Kau pantas mendapatkannya!" Ucap pria itu kepada kakak kelas dihadapannya sambil menangkis tendangan yang dilayangkan oleh pria dihadapannya.


"Kenapa tidak ada yang melerai mereka?" Gumamku memperhatikan beberapa orang yang juga memperhatikan perkelahian ketiga kakak tingkat itu.


"RASAKAN INI!!" Teriak pria yang berhasil melayangkan tinjunya kewajah kakak tingkat tertua dihadapannya, dan tak lama kemudian dia mendapatkan balasan dari kakak tingkat itu, dia mendapatkan pukulan telak dibagian ulu hatinya.


"Jangan berteriak padaku!" Ucapnya terdengar penuh dengan penekanan, sedangkan orang yang dipukul malah mengerang kesakitan. Tentu saja sakit, karena yang dipukul adalah bagian vitalnya kan?


Deg!


Tiba-tiba saja jantungku berdebar tak karuan saat melihat tatapan tajam kakak tingkat tertua itu, dia menatap begitu tajam pada adik kelasnya seolah-olah dia sedang bersiap untuk menerkam hewan buruan dihadapannya.


Entah kenapa, rasanya aku pernah melihat tatapan menyebalkan itu! Batinku sambil meremas kedua telapak tanganku saat melihat perkelahian dihadapanku.


Tak lama kemudian pak Vito datang bersama dua orang pria berdasi sama dengan orang yang babak belur itu. Dan mereka bertiga digiring pergi menuju ruang guru oleh pak Vito.


"Aku ingat sekarang!" Gumamku saat berhasil menemukan potongan puzzle terakhir dalam kepalaku.


Kejadian hari itu! Apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri? Ingatan terakhirku ... aku melihat Carel berlari mendekatiku dengan ekspresi begisnya, batinku berusaha mengingat kejadian buruk yang ku alami tahun lalu saat aku dikeroyok oleh anak-anak berandal di jalanan sempit.


"... apa dia menghajar anak-anak itu?" Gumamku mengingat ucapan kakeknya Carel beberapa saat lalu. Jelas sekali dia mengatakan kalau dia menghabiskan banyak uang untuk pengobatan anak-anak yang dihajar habis-habisan oleh Carel.


"Aku tidak salah dengar!" Lanjutku segera berlari kearah kantin untuk menyusul Carel dan berniat menanyakan kejadian hari itu padanya.


***


-Carel-


"Rel?" Suara Teo membuatku menoleh kearahnya saat sedang mengantre untuk mendapatkan makan siangku.


"Ada apa dengan wajahmu itu?" Tanyaku merasa heran dengan ekspresi yang dia tunjukan, padahal biasanya dia selalu berekspresi datar seperti tembok.


"Ada yang ingin ku tanyakan," jawabnya membuatku mengernyit bingung, dan entah kenapa aku merasa merinding sendiri saat melihat tatapan seriusnya itu.


"Tidak akan ku jawab!"


"A–apa? Aku bahkan belum bertanya!" Ucapnya terlihat begitu terkejut dengan jawaban yang ku berikan, detik berikutnya aku hanya bisa terkekeh melihat wajahnya yang mengeluarkan berbagai ekspresi, mulai dari ekspresi bingung sampai ekspresi dongkolnya.


Sebenarnya apa yang mau dia tanyakan sampai berekspresi seperti itu? Batinku bertanya-tanya sambil mengambil nampan yang sudah terisi satu piring nasi dan satu mangkuk sup dengan segelas air putih.


Lalu ku langkahkan kakiku menuju meja Aster diikuti oleh Teo yang masih menggerutu, tapi langkahku terhenti saat melihat sosok Nadin dan Tia yang bergabung dengan Aster dan Kalea.


"Kenapa berhenti?" Tanya Teo mengejutkanku.


"Lihatlah!" Ucapku sambil menunjuk meja yang ditempati Aster dan Kalea.


"Hee... sepertinya mereka sudah berbaikan ya?" Gumam Teo saat melihat Kalea menghapus air mata Nadin dengan tisu ditangannya. Bahkan Aster dan Tia pun dibuat bingung oleh tangisan Nadin yang sempat mencuri perhatian semua orang karena suaranya yang cukup kencang.


"Kau mau kemana?" Tanya Teo menghentikan langkah pertamaku untuk mencari meja kosong lainnya. "Tidak akan bergabung dengan mereka?" Lanjutnya membuatku menghela napas dalam.


"Kau mau menghancurkan kebersamaan mereka?" Tanyaku kembali melanjutkan langkahku menuju meja terujung di kantin, "lalu, bukannya ada yang mau kau tanyakan padaku?" Lanjutku membuatnya langsung mengekoriku.


... sepertinya yang ku lihat di taman tadi, benar orang ini! Rupanya dia menguping pembicaraanku dengan kakek ya? Batinku mengingat bayangan Teo yang bersembunyi dibalik pohon.


.


.


.


Thanks for reading...