
-Ansel-
Waktu sudah menunjukan pukul 02:00 pagi dini hari, ku lihat Aster masih terlelap dalam tidurnya dengan posisi menyamping menghadap kearahku yang sudah duduk dipinggiran tempat tidur.
"Mimpi indah ...." gumamku sambil mengusap keningnya sebelum pergi dari kamarku.
Sekarang kepalaku terasa sakit lagi, lanjutku dalam hati sambil merasakan denyutan dikeningku.
Padahal aku sudah mencoba untuk tertidur, tapi tetap saja tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lagipula siapa yang bisa tidur dengan nyenyak setelah mendengar berita buruk dari orang kepercayaan kita? Apalagi menyangkut dengan keluargaku.
Sebagai penerus keluarga selanjutnya aku harus melakukan sesuatu untuk melindungi keluargaku, memberikan keamanan dan kenyamanan untuk mereka sampai posisiku bisa diserahkan pada penerus berikutnya yang lebih pantas.
Ku langkahkan kakiku memasuki ruang kerja ibu yang sekarang menjadi ruang kerjaku, berantakan sekali. Batinku memperhatikan tumpukan berkas yang masih menggunung dimeja kerjaku.
"Aku bahkan tidak sempat mengganti pakaianku," lanjutku bergumam, memperhatikan kemeja hitam dan celana berbahanku yang belum ku ganti.
Ku hela napas letihku sebelum melanjutkan pekerjaanku, biar bagaimanapun aku harus menyelesaikan semua pekerjaan yang tersisa sebelum jadwal pertemuanku dengan Ian Alterio tiba pagi ini.
Ian Alterio adalah ayahnya Carel, dia mengundangku ke kediamannya untuk membahas sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tau itu penting atau tidak.
Tapi dari telpon yang ku terima kemarin sore, bisa ku dengar suara seriusnya yang membuatku berspekulasi bahwa pertemuanku dengannya pagi ini sangat penting. Dan aku tidak bisa menolak undangannya.
Jrass...
Suara hujan menemaniku pagi ini, ku harap Aster tidur dengan nyenyak. Batinku mengingat bagaimana Aster sangat sulit tertidur jika mendengar suara hujan, apalagi hujan deras dengan petir.
"... meski sudah menjalani beberapa terapi dan pergi ke psikiater, sepertinya rasa traumanya itu tidak bisa menghilang dengan mudah." Gumamku sambil menoleh kearah jendela kamar yang menampilkan rintik hujan diluar.
Bayangan kejadian beberapa tahun lalu kembali hadir dalam ingatanku. Saat mataku menyaksikan sendiri bagaimana putriku diperlakukan dengan kasar oleh Tesar, lalu penjelasan Arsel mengenai mimpi buruk yang dialami Aster karena trauma berat di masa lalunya, dan itupun karena Tesar.
Dengan cepat ku gelengkan kepalaku untuk menghilangkan semua ingatan buruk itu, karena jika dibayangkan terus-menerus lama-lama aku bisa lepas kendali. Lagipula hal itu sudah berlalu, yang penting saat ini adalah kebersamaanku dengan Aster.
***
-Wanda-
"Wah lihatlah siapa yang datang." Ucapku saat melihat Aster memasuki ruang makan dengan dress biru muda selutut bermotif bunga diujungnya. Dia juga tampak cantik dengan rambut hitamnya yang dikepang dan diberi jepit bunga didekat telinga sebelah kirinya.
"Kak Aster!" Teriak Khael langsung memeluk tubuh Aster yang akan berjalan kearah kursi kosong didekatku.
"Khael, hari ini kamu juga terlihat tampan dan menggemaskan ya." Tuturnya membalas pelukan putraku sambil tersenyum lebar.
"Hhehe... hari ini main sama Khael lagi ya," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Tentu saja." Angguk Aster ikut tersenyum manis menanggapi ajakan Khael.
"Sama Carel juga." Tegasnya membuat Aster terkejut.
"Eh? Ca–carel?"
"Dia bilang mau datang lagi."
"Benarkah? Kenapa dia tidak bilang padaku?"
Lihatlah kedua anak itu, mereka terlihat seperti adik kakak ya. Menggemaskan sekali melihat mereka berdua mengobrol dengan berbagai ekspresi seperti itu, terutama Aster. Entah sudah berapa banyak ekspresi yang dia buat, pantas saja Carel dan Arsel sangat senang menggoda Aster.
Wajahnya mudah dibaca.
"Aster!" Teriak Arsel mengejutkanku dan kedua anak itu saat dia muncul secara tiba-tiba diambang pintu.
Panjang umur, baru saja aku membicarakannya dalam hati.
"Papa," ucap Khael sedikit berteriak sambil berlari mendekati Arsel yang juga berlari ... mendekati Aster? Dengan ekspresi gembiranya?
"Bagaimana kabarmu? Maaf ya aku baru bisa menemuimu. Ah, aku sangat merindukanmu. Kau masih sama seperti dulu ya? Apa kau makan dengan benar? Kenapa tubuhmu masih terlihat kecil begini? Apa orang itu memberimu makan dengan benar? Harusnya aku tidak mudah mempercayakanmu padanya ...." Tanya Arsel bertubi-tubi, tampaknya dia sangat senang bisa bertemu dengan keponakannya lagi sampai lupa diri begitu dihadapan putranya.
Aku masih ingat bagaimana dia merawat Aster saat anak itu sedang sakit, bahkan rasa sayangnya terhadap Aster pun belum berubah sedikitpun. Saat aku sedang mengandung Khael pun dia sangat cerewet ingin memiliki anak perempuan seperti Aster, tapi yang keluar malah jagoan kecil.
"Anu–paman," ucap Aster menghentikan ocehan Arsel dengan rona merah diwajahnya.
"Ya?" Jawab Arsel memperhatikan wajah keponakannya yang sudah memerah dengan seksama sambil tersenyum tipis padanya.
"Aster mau turun." Jelasnya sambil melirik kearah Khael yang sudah berkaca-kaca karena diabaikan oleh ayahnya.
Ah, ini pertama kalinya dia melihat sifat asli ayahnya ya ... sepertinya kau juga lupa dengan posisimu sebagai seorang ayah. Batinku memperhatikan ayah dan anak secara bergantian.
"Ah, maaf." Ucapnya segera menurunkan Aster, lalu melirik kearah putranya yang terlihat murung berdiri tak jauh darinya.
"Papa tidak sayang Khael." Gumam anak itu membuat Arsel terkejut dan segera meraih tubuh Khael kedalam pangkuannya saat dia hendak berlari kearahku.
"Ma–mana mungkin papa tidak menyayangimu." Kilahnya membela diri.
"Bohong." Dengusnya terlihat kesal dengan wajah menggemaskannya itu.
"... dimana papa?" Tanya Aster mengundang perhatianku dan Arsel.
"Ya, dimana kak Ansel? Bukankah seharusnya dia datang bersamamu untuk sarapan pagi bersama? Tapi aku tidak melihatnya sejak tadi." Lanjutku ikut bertanya setelah menyiapkan sandwich untuk sarapan pagi kami selagi Hana sibuk menyiapkan lemon tea untuk ku dan Arsel, tak lupa menyiapkan susu juga untuk Khael dan Aster.
"Mungkin dia pergi ke kantor bersama Tomi. Aku hanya melihat Rigel yang sedang sibuk memeriksa semua berkas di ruang kerja ibu, maksudku ruang kerja kakak." Jawabnya sambil mendudukan Khael didekat Aster setelah membenarkan ucapan terakhirnya.
"Papa sangat sibuk ya ...." Gumam Aster terlihat murung membuatku ikut bersedih dengan perubahan emosinya.
Padahal dia baru saja bisa tertawa dan tersenyum lagi setelah puas menangis kemarin. Tapi sekarang wajah murungnya kembali lagi dengan cepat. Apa dulu dia juga seperti ini? Saat ibu dan neneknya meninggal, aku bahkan tidak bisa membayangkannya.
Tapi Arsel bilang Aster tinggal dengan tetangganya, mungkin saat itu mereka yang mengisi kesepian Aster dan menghibur kesedihannya juga disaat ibu dan neneknya pergi meninggalkannya seorang diri.
Anak kecil sepertinya tinggal di dunia yang luas ini tanpa kasih sayang .... Batinku dengan cepat ku gelengkan kepalaku untuk menepis semua pikiran buruk ku.
Tidak! apa yang sudah ku pikirkan barusan? Padahal sekarang dia sudah hidup dengan keluarganya, dikelilingi oleh orang-orang baik yang menyayanginya dengan kasih sayang yang melimpah. Kenapa aku khawatir? harunya aku bersyukur karena dulu Arsel menemukannya, dan merawatnya dengan baik, lanjutku masih dalam hati.
"Eh? Paman pulang hari ini?" Suara Aster membuyarkan lamunanku.
"Iya, paman harus menyelesaikan pekerjaan paman yang belum selesai ... padahal aku masih mau disini dengan Aster." Jelas Arsel dengan ekspresi murungnya setelah meminum lemon tea miliknya.
"Kalau gitu Khael juga harus pulang?" Tanya Khael dengan ekspresi polosnya setelah meminum susu yang sudah dihidangkan Hana untuknya.
"Kalau kamu masih mau disini, papa akan minta Hana dan Eric untuk tetap tinggal. Jadi sore nanti kamu ikut Eric pulang ke rumah bersama Hana." Jelasnya sambil mengelus puncak kepala Khael yang sudah tersenyum lebar dengan mata berbinarnya.
"Asik! Kita bisa main sampai puas kak Aster." Ucapnya begitu menggemaskan penuh dengan semangat.
"Sebelum itu habiskan dulu sarapannya." Ucapku mulai angkat bicara sebelum meminum lemon tea ku.
"Apa kak Wanda juga akan pulang bersama paman?" Tanya Aster membuatku melirik kearahnya dan bertemu tatap dengan manik ungunya yang terlihat cantik itu.
"Hari ini aku akan pergi ke rumah sakit." Jawabku merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya bermain dengan Khael.
"Tidak apa-apa, Khael akan tetap disini main sama kak Aster." Ucap Khael sambil tersenyum manis kepada Aster membuatnya ikut tersenyum, begitupun denganku dan Arsel.
.
.
.
Thanks for reading...