
-Aster-
"Selamat datang nona," sapa seorang perempuan remaja seumuran Carel dan Teo, mempersilahkan ku untuk masuk ke halaman rumahnya.
"Bagaimana kabar anda hari ini?" Lanjutnya bertanya dengan ekspresi ramahnya.
"Baik," jawabku singkat, masih mengekorinya dari belakang.
"Syukurlah, senang mendengar anda baik-baik saja meski saya dengar kondisi ayah anda masih belum ada kemajuan." Tuturnya memelankan suaranya, menghancurkan suasana hatiku yang sedang baik-baik saja.
Padahal aku datang bukan untuk mendengar ucapannya yang tidak sopan itu, aku datang untuk bertemu dengan kepala keluarga yang tidak lain adalah ayahnya. Apa dia tidak sadar sedang berbicara dengan siapa? Apa dia sedang meremehkan ku?
"Saya yakin sudah memberitau tuan Robert untuk merahasiakan kondisi ayah. Tapi sepertinya mulutnya tidak bisa dipercaya ya, haruskah saya batalkan kerja sama kami? Atau haruskah saya robek mulutnya?" Tuturku menghentikan langkahku sambil memasang senyum sarkasku yang sudah ku latih, lalu ku tatapan manik hitam perempuan itu saat dia membalikan badan menghadap ku.
"I–itu ...," gumamnya terlihat sedikit terkejut, "heh~ memangnya seorang tuan putri sepertimu berani melakukan hal keji seperti itu?" Lanjutnya segera membalas senyuman sarkasku.
"Hem, apa kakak pikir aku tidak berani melakukannya?" Tanyaku segera memasang senyuman terbaik ku.
"Aku bahkan bisa membuatmu memohon ampun!" Lanjutku segera berjalan menuju ruang kerja tuan Robert dengan rasa kesalku yang ku coba tahan.
Aku tau tatapan itu, akhir-akhir ini aku semakin mengenal ekspresi orang-orang seperti mereka yang bermuka dua. Begini-begini aku juga sudah menyesuaikan diri dengan cara keluarga Veren untuk menghukum, melawan dan menjatuhkan musuhnya.
Awalnya memang sulit, tapi semakin hari, aku semakin membutuhkannya. Jadi mau tak mau akupun mulai menyesuaikan diriku seperti orang-orang di keluarga Veren.
Ku buka pintu ruang kerja tuan Robert dengan kasar, ku lihat semua orang di dalam terlihat terkejut dengan kehadiranku.
"Nona muda? Bukankah Anda akan tiba satu jam lagi?" Tanya tua Robert segera berjalan menghampiriku.
"Kau pikir aku bisa bermalas-malasan di situasi seperti ini?" Tanyaku segera duduk di sofa kecil yang tersedia di dalam ruang kerja itu sebelum dipersilahkan.
"Ambilkan minum dan makanan untuk nona." Ucapnya membuat dua pelayan di dalam ruangan itu segera pergi dari hadapanku.
"Tuan Robert." Ucapku tak bisa berpaling dari sosoknya yang sudah duduk dihadapanku, mengisi sofa kosong disebrang sana.
"Iya nona?" Tanyanya terlihat bingung dengan senyuman canggungnya.
"Sepertinya kerja sama kita, kita batalkan saja ya." Jawabku sambil menunjukan senyuman terbaik ku, tepat bersamaan dengan kedatangan putrinya tuan Robert yang terlihat–pucat?
"A–apa maksud nona? Di–batalkan? Kenapa?" Tanyanya terbata-bata dengan ekspresi bodohnya.
"Hem, menurutmu kenapa ya?" Ucapku bertanya balik, kembali memasang senyuman terbaik ku.
"Apa saya sudah melakukan kesalahan?"
"Hah~ benar!" Seru ku setelah menghela napas kasar bersamaan dengan ekspresi kesalku yang tidak bisa ku sembunyikan lagi.
"Memangnya ap–"
"Kau lupa apa pura-pura bodoh?" Potongku sambil melirik sosok perempuan yang sudah berdiri dibelakang tuan Robert. Siapa? Siapa lagi kalau bukan putrinya yang sudah membuatku kesal itu.
"Ck, baiklah akan ku beritahu ... aku yakin sudah memintamu untuk tutup mulut perihal kondisi ayahku. Tapi sepertinya mulutmu itu minta untuk dirobek ya? Atau mau ku jahitkan?" Lanjutku berdecak kesal bersamaan dengan kedatangan kedua pelayan yang sudah membawakan hidangan untuk ku.
"Itu–nona." Ucapnya langsung menoleh pada putrinya.
"Apa yang sudah kau katakan pada nona muda?" Lanjutnya membuat perempuan itu membisu.
"Berapa orang yang mengetahui kondisi ayahku di rumah ini?" Tanyaku tak memperdulikan permohonannya itu.
"Itu, tidak banyak. Hanya saya, putri saya dan istri saya." Jawabnya tidak berani menatap mataku.
"Benarkah? Kau yakin tidak sedang berbohong padaku?" Tanyaku lagi tidak ingin menurunkan tingkat kewaspadaan ku.
"Benar nona, saya tidak bohong! Tolong jangan batalkan kerja sama kita nona, saya benar-benar membutuhkan bantuan nona."
"... kalau begitu, minta putrimu untuk bersujud dihadapanku sebagai permintaan maafnya padaku." Titahku setelah membisu selama beberapa saat.
Ku harap pria tua dihadapanku ini tidak meminta anaknya untuk bersujud padaku. Karena aku tidak benar-benar menginginkannya, anggap saja aku sedang mengujinya. Jika dia menyayangi putrinya, dia pasti akan melawanku. Tapi jika dia ....
"Cepat turuti keinginan nona! Kau tidak mau kan jika bisnis keluarga kita hancur? Lagipula semua ini terjadi karena kau sudah membuat nona kesal. Cepat bersujud!" Tuturnya membuatku semakin kesal saat melihat sifat orang tua dihadapanku ini.
"Tapi ayah–" Ucap perempuan itu terhenti saat tubuhnya dipaksa untuk bersujud dihadapanku.
"Mohon maafkan putri saya nona." Lanjut tuan Robert.
"Perjanjiannya saya batalkan!" Ucapku sambil bangkit dari posisi duduk ku.
"Hah? Ap–kenapa? Bukankah putri saya sudah bersujud untuk meminta maaf pada nona?"
"Hiks ...," suara tangis perempuan itu membuatku merasa sedikit kasihan padanya. Tapi jika melihat sikap sebelumnya padaku, aku malah merasa puas.
"... kau tidak memenuhi kriteria ku. Ku pikir kau akan membela putrimu, tapi ternyata aku salah. Kau malah mendorongnya untuk bersujud padaku, padahal ku pikir kau akan memaki ku untuk membela putrimu." Jelasku membuat perempuan itu menengadah menatap mataku dengan mata berkaca-kacanya.
"Itu–"
"Anggap saja itu ujian dariku, dan anda gagal." Potongku sambil menunjukan senyuman terbaik ku sebelum aku pergi dari kediaman tuan Robert.
"Nona?" Gumam Hans mengikutiku dari belakang setelah aku keluar dari ruang kerja tuan Robert, dia memang sengaja ku minta menunggu di luar.
"Tunggu!" Teriak seorang perempuan yang tidak lain adalah putrinya tuan Robert.
"Sa–saya mohon maaf atas perkataan buruk saya sebelumnya. Saya mohon jangan batalkan kerja sama nona dengan ayah saya, saya mengaku salah. Jadi–" Tutunya memohon sambil menggenggam tangan kiriku dengan kedua tangannya.
Ku sunggingkan senyuman manisku pada perempuan dihadapanku, entah kenapa aku merasa menang dari perempuan itu. "Lihat! Aku benar-benar bisa membuatmu memohon padaku kan?" Tanyaku membuat ekspresi sedihnya berubah menjadi ekspresi terkejut.
"Lain kali jangan pernah meremehkan orang lain hanya karena usia mereka lebih muda darimu kakak. Kau harus melihat asal-usul mereka juga jika ingin selamat. Kau pasti takut kan jika ayahmu menghukum mu?" Lanjutku mengingat rumor buruk tentang tuan Robert yang suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga pada istri dan putrinya.
Yah setelah dilihat secara langsung, dia memang lebih sampah daripada yang ku pikirkan. Buktinya dia lebih memilih diriku daripada membela putrinya, sepertinya selain suka KDRT, dia juga mata duitan. Pikirku merasa kesal sendiri saat mengingat semua informasi tentang tuan Robert yang diberikan oleh Hans padaku.
"Itu ... po–pokoknya saya mohon jangan batalkan kerja sama kalian." Pintanya kembali memohon.
"Jika kakak sebegitu penakutnya, kenapa kakak bersikap sok berani sebelumnya? Harusnya kan kakak bersikap baik saja dan jangan cari masalah. Sudah tau ayahmu seperti itu, masih saja sempat-sempatnya menyinggungku." Tuturku semakin membuat tangisnya menjadi, bahkan tanganku tidak dia lepaskan sejak tadi.
.
.
.
Thanks for reading...