
-Arsel-
"Bagaimana?" Tanyaku pada Eric melalui sambungan telpon.
"Belum ada kemajuan." Jawabnya terdengar tak bersemangat.
"Awasi semua jalur transportasi, jangan biarkan satu orangpun lolos. Entah itu Aster atau si b*debah Rigel." Titahku sebelum mematikan sambungan telpon ku dan meremas tanganku dengan penuh emosi.
Aku yang sejak tadi berdiam diri di kediaman Albert hanya bisa menunggu kabar baik dari Eric dan yang lainnya seperti orang bodoh. Padahal aku juga ingin turun langsung, tapi karena kakak bodohku itu. Aku terpaksa menggantikannya mengawasi Albert selagi dia berkeliaran mencari Aster di luar sana.
Aku tidak tau kalau informasi keberadaan Aster bisa membuatnya kalang kabut seperti itu, si bodoh itu langsung berlari meninggalkan kediaman untuk pergi ke tempat di mana Aster berada. Padahal kondisinya begitu mengkhawatirkan karena terlalu lama mengurung diri di rumah.
Harusnya aku yang memintanya untuk tinggal di kediaman Albert, bukan aku. Batinku sambil menghela napas berat, entah kenapa aku merasa sesak dan ingin pergi dari tempat ini sekarang.
Aku merasa takut jika kakak ku yang bodoh itu akan membuat kesalahan lagi saat bertemu dengan Aster, aku juga takut tidak bisa melihat anak itu lagi seperti terakhir kalinya. Tapi jika aku pergi dari sini, mungkin akan ada kemungkinan Albert ikut campur lagi untuk menyembunyikan Aster, membawanya pergi ke tempat yang lebih jauh.
Dan lagi, dengan kondisiku yang lebih baik dari kakak, aku jadi bisa lebih fokus mengawasi gerak-gerik Albert dan orang-orangnya.
"Di tambah lagi, kapan semua wartawan itu pergi dari sini?" Gumamku melihat sekelompok media masa yang masih mewawancarai Albert.
Semakin ku perhatikan, aku malah semakin ingin menghajarnya karena sudah berbuat sesukanya. Bisa-bisanya dia berkomplot dengan Aster untuk memalsukan kematiannya. Di sisi lain, aku juga merasa tak habis pikir, kenapa Aster sampai senekat itu untuk memalsukan kematiannya?
Apa pada akhirnya dia benar-benar tidak ingin bertemu denganku dan kakak lagi?
Ku rasakan getar ponsel ditanganku, dengan cepat aku mengangkat panggilan masuk dari Wanda.
"Papa?" Suara Khael membuatku sedikit terkejut, tak ku sangka dia akan menghubungiku dengan nomor ibunya. Padahal di rumah ada telpon rumah yang bisa dia gunakan. Tapi anak itu malah memilih menghubungiku dengan nomor Wanda.
"Apa—apa kak Aster sudah ketemu? Khael mau bertemu dengannya." Lanjutnya membuatku terkesiap.
Sudah sangat lama aku menyembunyikan kematian Aster dari putraku itu, bahkan sampai hari itu dia hanya tau kalau Aster pergi ke tempat jauh. Tapi belakangan ini, anak itu juga mulai paham dengan situasi yang sebenarnya, apalagi saat melihat kondisi kakak ku yang seperti itu.
Lalu diam-diam Khael mulai mencaritau apa yang sebenarnya terjadi? Sampai dia mendengar beberapa ucapan para pelayan yang tidak sengaja dia dengar hingga membuatnya berlari menemuiku untuk menanyakan kebenaran dari apa yang dia dengar. Setelah itu, Hana membantuku untuk membuat Khael mengerti sedikit demi sedikit, begitupun dengan Wanda.
Aku tidak pernah menduga kalau hari ini akan datang, aku tidak tau apakah Khael senang atau—
"Papa?" Ucapnya lagi dengan suara bergetar, seperti sedang menahan isak tangisnya?
"I—iya?"
"Khael rindu kak Aster, tolong bawa kak Aster kembali secepatnya." Jawabnya dengan tangisannya yang sudah tumpah.
"Iya, tenanglah. Aku pasti akan kembali bersama Aster." Ucapku setenang mungkin, berusaha meredakan tangisan putraku yang terasa menyayat hati.
Padahal kebersamaannya dengan Aster belum terlalu lama karena mereka harus berpisah, Aster harus pergi ke akademi dan Khael harus ikut bersamaku dan Wanda ke luar negri. Tapi entah bagaimana ceritanya? Anak itu malah terlihat lebih dekat dengan Aster dibandingkan denganku dan Wanda. Jadi wajar saja dia begitu sedih saat mendengar Aster meninggal.
-Carel-
"Apa yang terjadi?" Tanyaku saat melihat Victor berlari kearahku dengan tergesa-gesa.
"Tesar dan istrinya pergi dari rumah, aku sudah berusaha mengikutinya. Tapi tiba-tiba mereka menghilang dari pandanganku." Tuturnya dengan sorot mata bersalahnya, membuatku sangat kesal.
Padahal aku sudah memintanya untuk mengawasi mereka, menjadikan mereka tawanan rumah karena siapa tau Aster akan datang menemui mereka. Tapi, jika melihat mereka kabur dari rumah. Apa itu artinya mereka sudah mengetahui ancaman yang Aster dapatkan?
"Apa mereka mendengar sesuatu? Atau ada orang lain yang menghubungi mereka?" Tanyaku kemudian, berusaha untuk memahami situasi mereka sekarang.
"Tidak ada, hanya saja mereka melihat siaran televisi berita malam. Mungkin karena keributan yang tuan Albert lakukan, mereka jadi berpikir untuk mencari Aster dan berniat untuk melindunginya." Jelasnya satu pikiran denganku.
"Kalau begitu, kerahkan semua orang untuk memeriksa sekitar. Aku yakin mereka belum pergi terlalu jauh, kalau benar mereka mencari Aster dan berniat untuk melindunginya—membawa Aster pergi dari tempat ini, maka kita bisa menghentikannya.Lagipula pencarian kita juga menemukan titik terang, siapa tau mereka bertemu dengan Aster sebelum kita." Tuturku panjang lebar sambil memeriksa layar ponselku yang tidak menunjukan tanda-tanda akan ada pesan masuk atau panggilan masuk dari Eric dan Hans.
"Baik!"
Ku lihat Victor sudah berjalan menjauhiku dengan terburu-buru mengeluarkan handphone di dalam saku celananya. Sepertinya dia akan memberikan perintah pada orang-orangnya.
Meski begitu, aku tidak menyangka dalam situasi seperti ini semua orang begitu cepat mengambil tindakan. Terutama pak tua bodoh yang bermasalah itu. Batinku mengingat sosok tuan Ansel yang segera berlari dengan tergesa-gesa keluar dari kediamannya. Bahkan tanpa pikir panjang dia pergi dari kediamannya seorang diri dengan mengendarai mobil pribadinya, padahal kondisinya terlihat buruk.
"Siapa sangka dia akan menjadi orang paling gila sekarang?" Lanjutku bergumam, mengingat kembali ekspresi tak sabarannya itu.
Lupakan! Mari fokus mencari Aster lagi ..., lanjutku dalam hati bersamaan dengan sosok Rigel yang ku lihat keluar dari dalam hutan?
"Si bedebah itu!" Geramku segera berlari mendekatinya yang tidak menyadari keberadaanku. Tapi langkahku terhenti saat melihat orang itu tiba-tiba melesatkan tembakannya ke dalam hutan.
"Apa yang dia—" Lanjutku terhenti saat melihat tuan Ansel datang dari arah berlawanan dan segera menghajar paman Rigel.
Aku yang tak bisa ikut campur dengan perkelahian mereka hanya bisa mematung di tempatku, padahal aku berniat menghajar orang itu lebih dulu darinya. Tapi tanpa diduga, aku malah melihatnya muncul dihadapanku. Benar-benar menyebalkan.
Padahal kondisinya sedang buruk, tapi pak tua yang satu ini rupanya masih bisa berkelahi ya?
"Nona!" Suara Hans menarik perhatianku, dengan cepat aku menoleh kearah tempat Rigel menembak tadi.
Tidak mungkin kan?
Ku langkahkan kakiku memasuki pinggiran hutan dengan terburu-buru dengan bermodal penerangan dari cahaya layar ponselku, bersamaan dengan itu ku tepis semua pikiran buruk ku dengan napasku yang mulai terasa sesak. Bahkan rasanya tenggorokanku terasa kering sekarang, tubuhku juga mulai terasa lelah karena terus berlarian kesana-kemari tanpa arah untuk menemukan Aster.
.
.
.
Thanks for reading...