Aster Veren

Aster Veren
Episode 171




-Sean-


Waktu sudah menunjukan pukul 03:00 sore saat aku sampai di akademi. Hari ini aku benar-benar senang karena bisa menghabiskan banyak waktu bersama dengan Aster. Rasanya semua perasaan buruk ku hilang saat Aster bersamaku. Ingatan tentang pertemuanku dengan ibu pun tidak terlalu ku pikirkan.


Pikiran buruk tentang ibu menikah lagi dan melupakan ku juga tidak terlalu ku ambil pusing. Toh, jika itu bisa membuat ibu bahagia, aku tidak keberatan jika ibu melupakanku.


Awalnya aku hanya iseng mengikuti Aster bertemu dengan kliennya, lalu saat pertemuannya selesai. Aku mencoba untuk mengajaknya bermain denganku, meski awalnya dia menolak karena harus segera kembali ke kediaman Veren. Tapi akhirnya Aster mengalah dan mau bermain denganku, lalu aku membawanya ke taman hiburan untuk bermain wahana ekstrem bersamanya.


Entahlah, aku merasa butuh banyak berteriak. Dan bermain wahana ekstrem adalah solusinya, melihat kondisi Aster juga, aku merasa dia membutuhkan hiburan. Lalu kami juga menghabiskan banyak waktu untuk mencoba berbagai makanan yang dijual di sana. Sangat menyenangkan, apalagi saat mengingat ekspresi gembira Aster saat mencoba banyak makanan manis disana. Sangat menggemaskan.


Rasanya seperti kencan, karena hanya kami berdua yang bersenang-senang. Hans? Dia kembali ke kediaman Veren untuk menggantikan Aster menyelesaikan pekerjaannya. Lalu kembali lagi pada pukul 02:30 sore untuk menjemput Aster.


"Hhehe ...,"


"Kau gila?" Suara Hendric menghancurkan kesenanganku yang tengah membayangkan waktu kebersamaanku dengan Aster beberapa jam yang lalu.


"Kau bilang apa?" Tanyaku sambil mendelik sebal padanya dan bangkit dari posisi berbaring ku.


"Kau gila?" Ulangnya membuatku refleks melemparkan bantal ditempat tidurku ke wajahnya, hingga dia memekik.


"Apa sih? Aku cuma tanya, apa kau gila? Kenapa cengengesan seperti itu? Padahal kau mendapat hukuman dari kepala sekolah karena terlambat kembali ke akademi." Jelasnya mengingatkanku kembali pada ceramah pak Justin.


Saat sampai di akademi, aku langsung menemui pak Vito untuk memberikan tinta hitam yang dia minta belikan. Lalu pak Vito memberitauku kalau pak Justin memintaku untuk menemuinya di ruangannya. Jadi, mau tak mau aku harus pergi menemuinya di ruangan kepala sekolah. Dan aku langsung mendapatkan setumpuk pertanyaan lengkap dengan ceramahnya juga.


"Hah~ aku akan pergi sekarang." Gumamku setelah menghela napas letih dan bangkit dari tempat tidurku.


"Ke perpustakaan?"


"Ya. Aku harus menyelesaikan hukumanku jika ingin tidur cepat." Jawabku sambil meraih daun pintu, bersiap untuk pergi dari kamar ku untuk membantu petugas perpustakaan yang sedang kerepotan menyusun buku-buku.


Ku dengar akademi mendapatkan banyak buku baru yang bisa dipelajari. Lalu semua siswa dan siswi yang mengembalikan buku pinjaman mereka sebagai materi pembelajaran mereka, buku-buku pinjaman itu dikembalikan hari ini. Dan petugas perpustakaan kewalahan membereskan buku-buku itu saking banyaknya peminjam buku.


"Kira-kira malam ini aku tidur jam berapa ya?"


***


-Aster-


Ku hentikan aktivitas menulisku saat melihat Hans senyum-senyum memperhatikanku tak jauh dari meja kerjaku. Dan itu membuatku sedikit terganggu.


Ada apa dengannya?


"Apa ada yang ingin kau katakan?" Tanyaku membuatnya semakin tersenyum lebar dengan mata berbinarnya.


"Hhehe, apa nona bersenang-senang bersama tuan muda Sean?"


Jadi dia penasaran dengan kegiatanku hari ini? Batinku sambil menghela napas panjang. Ya, jika dipikirkan lagi aku harus berterima kasih padanya karena dia mau menggantikan ku menyelesaikan pekerjaanku.


"Hmm ... Aku cukup bersenang-senang, tapi jika diingat-ingat lagi, anak itu cukup menyebalkan." Lanjutku bergumam, kembali mengingat-ingat kebersamaan ku dengan Sean.


"Menyebalkan?" Tanya Hans melunturkan senyuman lebarnya saat aku melipat kedua tanganku di dada.


"Kau tau? Anak itu ternyata sama saja seperti Carel. Malah bisa ku bilang, kalau Sean lebih Aktif dari Carel. Dia terus-terusan mengajak ku bermain wahana ekstrem, berlarian kesana-kemari mengelilingi taman hiburan. Padahal dia tau kalau aku takut, tapi tetap saja membawaku pada wahana ekstrem. Sangat menyebalkan kan?" Jelasku tak bisa melupakan paksaan Sean saat mengajak ku bermain wahana ekstrem.


"Tapi nona bersenang-senang kan?"


"... Ya, aku banyak mencoba makanan manis di sana. Dan aku juga cukup bersenang-senang, ini pertama kalinya aku bermain ke taman hiburan. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Sean," jawabku ikut tersenyum saat melihat Hans kembali tersenyum lebar. Apalagi pagi ini aku sudah banyak menangis di makam ibu dan nenek, tapi siapa sangka siangnya bisa bersenang-senang dengan Sean.


Ya, aku harus berterima kasih padanya. Karenanya aku bisa sedikit melepaskan bebanku dengan banyak berteriak. Lanjutku dalam hati sebelum melanjutkan kembali pekerjaanku.


"Aku juga berterima kasih padamu Hans. Karenamu pekerjaanku siang ini bisa terselesaikan. Terima kasih ya." Ucapku memberikan senyuman terbaik ku pada Hans.


"... Sa–sama-sama nona, lagipula–saya senang bisa membantu nona, jadi–"


"Pft ...,"


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk mentertawakan mu, tapi kau sangat lucu Hans. Aku hanya mengucapkan terima kasih seperti biasanya, kenapa kau terlihat gugup seperti itu?" Jelasku berusaha mengendalikan diriku.


Ku lihat Hans menundukan kepalanya, "apa aku salah bicara?" Gumamku merasa tidak enak padanya, kenapa reaksinya begitu ya?


"Itu ... Soalnya nona, nona ... Terlihat cantik saat sedang tersenyum seperti itu, dan saya juga sudah lama tidak melihat senyuman nona, jadi saya merasa gu–gugup." Jelasnya membuat wajahku memanas saat mendengar penuturannya, bahkan aku bisa melihat telinga Hans memerah saat dia mengusap tengkuknya dan berbicara padaku sambil menunduk. Reaksinya yang seperti itu, aku baru pertama kali melihatnya, dan itu terlihat cukup asing bagiku.


"Ha–haha, jadi belakangan ini aku me–memang jarang tersenyum ya? Aku tidak menyadarinya," tuturku berusaha mencairkan suasana canggung yang ku rasakan. Lalu tanpa banyak bicara lagi, aku putuskan untuk kembali fokus pada pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi.


***


-Kalea-


"Ada apa denganmu?" Tanyaku saat melihat ekspresi berseri-seri Sean yang jarang sekali ku lihat. Padahal belakangan ini dia selalu terlihat murung. Dan lagi, saat ini dia sedang dihukum kan? Kenapa dia terlihat gembira? Bukankah normalnya orang yang dihukum merasa sedih atau menyesal?


"Kau mau tau?" Jawabnya balik bertanya, membuatku kesal. Apalagi saat melihat senyuman menggodanya.


"Tidak usah memberitauku." Ucapku berubah pikiran.


"Yakin?"


"Ya."


"Baiklah, kalau begitu aku tidak perlu memberitaumu soal kencanku dengan Aster hari ini, hehe ...," Jelasnya kembali cengengesan sambil merapikan buku-buku dihadapannya.


Tunggu! Dia bilang apa? Kencan? Bersama Aster? Jadi alasan dia terlambat kembali ke akademi karena dia berkencan dengan Aster disela-sela berbelanjanya?


"Kau ... Jadi alasanmu–"


"Ya, aku tidak sengaja bertemu dengannya di kafe Oliphia. Lalu aku mengajaknya kencan, kami pergi ke taman hiburan dan bersenang-senang bersama." Potongnya sambil tersenyum lebar.


"Kau tidak sedang berhalusinasi kan?" Tanyaku sambil memukul tangannya dengan buku tebal ditanganku hingga dia memekik.


"Kalau tidak percaya ya sudah, tidak perlu memukulku juga!" Dengusnya sambil mengusap tangannya dan kembali merapikan buku dihadapannya, menyusunnya sesuai dengan ketentuan yang dipakai di perpustakaan akademi.


"... Bagaimana kondisinya? Apa dia terlihat baik-baik saja?" Tanyaku setelah membisu cukup lama.


"Kenapa tanya aku? Bukankah kau sudah sering bertemu dengannya? Belakangan ini kau sering bermain ke kediamannya kan? Lalu tuan Ansel juga sering mengunjungimu."


"Aku tidak pernah melihat Aster di kediamannya, mungkin hanya satu kali. Jadi aku bertanya padamu."


"Serius? Lalu kenapa kau pergi ke kediaman Veren kalau tidak bisa bertemu dengan Aster?"


"Aku hanya memenuhi undangan ayah–maksudku tuan Ansel."


"... Kenapa tuan Ansel yang cinta anaknya itu terus mengundangmu?"


"Entah, akupun terus mempertanyakannya. Karena aku merasa sikap tuan Ansel belakangan ini berubah, aku seperti melihat sosoknya beberapa tahun lalu saat dia masih sangat menyayangiku dan memprioritaskan ku. Tapi setelah dia bertemu dengan Aster, kasih sayangnya beralih pada putrinya dan aku mendapatkan kasih sayang baru dari ayah kandungku. Aku juga merasa ada hal yang disembunyikan oleh tuan Ansel dan orang-orang di kediaman Veren. Aku ingin menanyakan hal ini pada Aster, tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya." Jelasku panjang lebar, mengingat waktu kebersamaanku dengan ayah belakangan ini.


"Hmm ... Dari yang ku lihat, kondisi Aster baik-baik saja meski tubuhnya menyusut dan–"


"Apa maksudmu menyusut? Kau pikir manusia bisa menyusut hah?!" Potongku merasa tidak terima dengan perumpamaan menyusut yang digunakan oleh Sean.


"Kau benar-benar tidak bisa diajak bicara santai ya? Maksudku tubuhnya mengecil, atau gampangnya dia kurusan. Lalu ekspresinya sudah banyak berubah, kau bisa mengerti jika bertemu dengannya langsung." Jelasnya membuatku mengernyit bingung dengan ucapan terakhirnya.


Jadi ... Aster kurusan? Apa dia tidak bisa menjaga pola makannya karena sibuk? Apa orang-orang disana tidak bisa merawat Aster dengan baik? Kenapa bisa berat badannya berkurang? Gerutuku dalam hati, merasa kesal pada orang-orang disekitar Aster yang tidak bisa menjaga kondisi tubuh Aster dengan baik.


.


.


.


Thanks for reading...