
-Aster-
"Jadi mereka bertengkar?" Tanya Teo setelah mendengar ceritaku.
Ku lihat dia sudah menyenderkan tubuhnya kesandaran sofa yang didudukinya dengan tangan kanannya yang mengusap-ngusap dagunya, bahkan salah satu kakinya sudah ditumpangkan pada kaki lainnya.
Wajahnya pun terlihat sangat serius, sorot matanya terfokus pada cangkir teh dihadapannya. Dia terlihat seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Hem," gumamnya sambil menggaruk pipi kanannya dengan jari telunjuk, "sebenarnya aku tidak berhak memberitaumu soal Kalea, tapi karena aku tidak suka melihatmu kebingungan seperti ini. Maka aku akan menceritakannya, kisah dia selama di SMP." Lanjutnya membuat jantungku berdegup lebih cepat, bahkan tenggorokanku mulai mengering dan susah payah ku telan saliva ku saat mengingat ekspresi dingin Kalea kemarin.
"Kau tau kan Kalea bersahabat baik dengan Nadin?" Tanyanya membuatku mengangguk cepat, "aku tidak tau kapan pastinya, tapi ada rumor mengatakan persahabatan mereka hancur karena Kalea merusak hubungan Nadin dengan orang yang disukainya. Lalu Nadin mulai menyebarkan gosip tentang masa lalu Kalea yang selalu menganggumu untuk membalaskan dendamnya–" Lanjutnya segera ku potong.
"Tunggu! Ma–maksud dari orang yang disukai Nadin itu ...," Tanyaku tak bisa melanjutkan ucapanku sendiri karena tidak bisa membayangkan bagaimana situasi mereka saat itu.
"Begitulah, aku malas menjelaskannya ... lalu suatu hari sekolah mengundang kak Nathan untuk mengisi acara tertentu, kau sendiri tau kan kalau Kalea menyukai kak Nathan sejak SD? Disaat itu, Nadin kembali berulah dengan mengganggu Kalea sampai kesabaran Kalea habis dan menampar wajah Nadin didepan umum. Aku yang memperhatikan dari jauh tidak bisa mendengar apa yang mereka ributkan. Tapi aku bisa melihat pemandangan yang tidak mengenakan dan ekspresi Kalea yang menahan rasa kesalnya dihadapan kak Nathan yang tiba-tiba muncul diantara mereka. Semua orang juga mulai berbisik mengenai kebenaran soal Kalea yang memiliki hobi memukul dan semakin menjauhi Kalea." Jelasnya panjang lebar membuatku tak bisa berkata apapun.
"Kalea ...," gumamku sambil mengepalkan kedua telapak tanganku dipangkuanku, membayangkan situasi Kalea saat itu.
Pasti dia merasa kesal dengan dirinya sendiri karena sudah berlaku kasar pada sahabatnya, didepan umum. Tapi ... kenapa aku merasa Nadin yang bersalah disini? Ada apa denganku?
"... kemudian hari kelulusan tiba dan semua orang yang ingin masuk ke akademi harus mengikuti ujian masuk atau mencari kenalan dari dalam jika tidak ingin mengikuti ujian masuk. Tapi tentu saja nilai ujian nasional mereka harus memenuhi persyaratan. Kalea dan aku mengikuti ujian masuk dan lolos dengan nilai yang cukup memuaskan, tapi Nadin mengambil langkah dengan menjadi partner kak Nathan. Mengejutkan bukan? Padahal ku pikir dia akan ikut ujian masuk dan bersaing dengan Kalea, tapi dia malah menjadi partner kak Nathan dan membuat situasi dimana Kalea semakin membencinya." Lanjutnya kembali menceritakan kisah Kalea.
"Memangnya bisa menjadi partner orang yang lulus dari akademi?" Tanyaku mulai angkat bicara, biar bagaimanapun kak Nathan sudah lulus dari akademi sekarang, tapi Nadin menjadi partnernya? Tidak kah itu aneh?
"Ya, tidak masalah karena hubungan tertentu." Jawabnya sambil membuang pandangannya dariku.
"Hubungan tertentu?"
"Intinya Nadin sudah menjadi tunangannya kak Nathan." Jawabnya setelah menghela napas letihnya.
"Tu–tunangan? Kok bisa? Maksudku, dia kan baru lulus SMP dan kak Nathan juga baru lulus dari akademi ...." Tanyaku merasa sangat terkejut saat mendengar jawaban Teo.
"Tapi usia Nadin lebih tua darimu dan Kalea, dan lagi tak ada larangan mereka tidak boleh bertunangan. Malah dari pengamatanku, banyak siswa-siswi yang memiliki hubungan seperti itu juga di akademi. Lalu saat mereka lulus, satu sampai dua tahun mereka langsung menikah. Tentu saja hanya keluarga kaya yang melakukan hal itu," jelasnya sebelum meraih cangkir tehnya.
"Kenapa hanya keluarga kaya yang melakukan hal itu?"
"Apalagi kalau bukan untuk urusan memperkaya keluarga mereka, anggap saja tunangan mereka itu semacam perjodohan politik yang bisa menguntungkan kedua belah pihak."
"He? Jadi mereka bertunangan bukan atas dasar cinta?"
"Kebanyakan sih begitu, tapi ada juga yang melakukan pertunangan atas dasar cinta. Tapi hanya ada di akademi, disekolah lain mana ada guru yang memperbolehkan hubungan seperti itu disekolah mereka." Jawabnya setelah meneguk air teh ditangannya.
Jadi kak Nathan dan Nadin melakukan perjodohan? Batinku tak habis pikir dengan apa yang baru saja ku dengar, aku bahkan baru tau ada hal seperti itu di akademi.
Entah kenapa aku merasa tidak adil, padahal Mereka terlihat begitu dekat sampai aku berpikir persahabatan mereka tidak akan mudah runtuh hanya karena hal-hal kecil. Tapi saat mendengar Kalea menghancurkan hubungan Nadin dengan orang yang disukainya, aku merasa Kalea sangat keterlaluan. Tapi jika dilihat lagi, bukankah Nadin melakukan hal lebih kejam dengan menghancurkan kehidupan SMP Kalea?
Dia membuat Kalea dikucilkan ....
"Ada apa?" Suara Teo memecahkan lamunanku, ku lihat dia sudah menatapku dengan tatapan seriusnya.
"Tidak, aku hanya ... kepikiran dengan Kalea." Jawabku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku sebisa mungkin.
"Kenapa?" Tanyanya membuatku berhenti tersenyum saat menyadari ekspresinya yang tak bisa ku bohongi.
"Kenapa, kenapa apa?" Ucapku balik bertanya karena tak mengerti dengan tatapannya yang mengangguku.
"Kenapa kau memikirkan orang itu? Bukankah dia orang yang menggoreskan kenangan buruk untukmu? Bukankah lebih normal jika kau mengabaikannya?" Jelasnya setelah menghela napas panjang dan membenarkan posisi duduknya.
"Itu ... aku juga tidak tau kenapa? Tapi, aku merasa Kalea yang sekarang sudah berubah. Dan lagi tak ada alasan untuk aku menghindarinya seperti dulu." Jawabku mengingat kenangan lama saat aku berusaha menghindari Kalea karena tidak ingin diganggu olehnya. Tapi anehnya sekarang aku malah ingin menjadi temannya.
Mungkin karena aku tau bagaimana rasanya sendirian dan tidak memiliki seorangpun teman. Jadi hati nuraniku mendorongku untuk mendekatinya.
Lagipula Kalea pernah menunjukan wajah khawatirnya untuk ku saat penyakitku kambuh, saat itu ayah menggendongku memasuki rumah sakit dengan tergesa-gesa dan Kalea mengekori ayah dibelakang bersama dengan tante Claretta.
"Kau memang aneh ya?" Ucap Teo membuatku membalas tatapan seriusnya yang menghangat.
"Hehe... begitukah?" Tanyaku sambil terkekeh dan menggaruk pipi kiriku dengan jari telunjuk.
"Ya, kau bahkan sampai berteman dengan bocah merepotkan seperti Carel. Bagaimana bisa kau seakrab itu dengannya? Padahal aku selalu ingin kabur darinya karena sifat jahil dan menyebalkannya." Jawabnya setelah menyimpan cangkir teh dihadapannya.
"Pft... kau benar dia memang sangat jahil dan menyebalkan ... tapi tidak semenyebalkan yang kau pikirkan. Terkadang dia bisa menjadi anak yang baik juga." Jelasku hampir tertawa saat mendengar ucapan Teo mengenai Carel.
"Ya, dia hanya baik padamu. Aku tidak bisa menyangkalnya ...." Ketusnya terlihat kesal, dan entah kenapa wajah kesalnya terlihat sangat lucu sekarang.
"Lalu, bagaimana dengan Carel? Kau tau soal dia yang dijauhi teman-temannya juga?" Lanjutku saat mengingat perkataan Kalea yang mengejek balik Carel kemarin.
"Soal itu ... aku tidak tau karena aku tidak satu sekolah dengannya." Jawabnya sambil memalingkan pandangannya ke sembarang arah setelah menjeda ucapannya beberapa detik. Terlihat mencurigakan.
.
.
.
Thanks for reading...