
-Arsel-
Ku buka mataku perlahan saat mendengar suara mobil yang menjauhi kediamanku. Sepertinya Aster sudah pergi ke sekolah dengan diantar oleh supir pribadiku.
Semalam aku memang memintanya untuk mengantar jemput Aster, mengingat dia adalah keponakanku sekarang. Dan aku benar-benar bersyukur karena bisa bertemu dengannya disaat dia membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya ketika ibu dan neneknya sudah tiada.
Tiba-tiba pikiranku mengingat percakapanku dengan ibu semalam. Dia menelponku untuk memarahiku karena meninggalkan Michelle di restoran seorang diri.
Yah sepertinya wanita itu memang senang sekali mengadu, dan aku tak menyukai sifatnya itu. Bahkan aku tak bisa menerima perjodohan ini.
Saat ibu sedang sibuk mengomel, tanpa sengaja aku membicarakan soal kak Helen. Tentu saja itu membuatnya semakin murka, pasalnya ibu memang tak suka mendengar nama Helen Valeria disebut-sebut dalam keluarganya.
Tapi aku mencoba untuk meyakinkannya jika dia memiliki seorang anak ... darah daging putra pertamanya dengan sebuah pengandaian, apakah dia akan menerimanya?
Dengan sangat jelas dia mengatakan bahwa "Hal itu tidak mungkin, dan lagi dia tak pernah mendengar soal kehamilan kak Helen. Jikapun dia memiliki anak, sudah pasti dia bukan anaknya Ansel Veren kakak ku." Begitulah katanya.
Jelas-jelas Aster itu putrinya kakak, dilihat dari sudut manapun dia memiliki banyak kemiripan dengan kakak dan kak Helen.
Rambut hitam dengan warna ungu diujung rambutnya, perpaduan warna rambut kakak dan kak Helen, lalu bola mata ungu yang dimilikinya sama persis dengan bola mata kak Helen. Bagaimana mungkin dia bukan anak kakak?
Aku sudah memutuskan untuk mengadopsinya dan memberitau kakak soal dirinya apapun yang terjadi, untuk sementara waktu aku hanya perlu menyembunyikan sosoknya dari ibuku. Begitulah rencanaku.
"Untuk sekarang lebih baik aku mandi dulu." Gumamku segera beranjak dari tempat tidurku dan pergi menuju kamar mandi pribadiku.
Kalau aku mau memberitau kakak, berarti waktu yang tepat adalah saat kepulangannya dari Singapura. Lanjutku dalam hati sambil membuka pintu kamar mandi.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 pagi, ponselku sudah berdering berkali-kali dan membuatku kesal karena menganggu konsentrasiku yang sedang sibuk bekerja. Dengan malas ku angkat panggilan masuk dari ibuku itu, sepertinya dia berencana untuk mengomeliku lagi sekarang.
"Ya hallo?" Ucapku mengawali pembicaraan setelah menghela napas lelah dan mengangkat telponnya.
"Arsel! Ibu dengar semalam kamu menelpon Michelle dan membatalkan perjodohan kalian, apa itu benar?" Tuturnya terdengar emosi, dugaanku benar kan? ibu menelpon untuk menceramahiku.
Wanita itu! Sepertinya dia memang senang mengadu ya ... semua hal tentangku dia adukan pada ibu, benar-benar menyebalkan. Batinku menggerutu.
"Arsel?" Suara ibu menyadarkan lamunanku.
"Ya benar, lagipula aku tak butuh wanita pengadu sepertinya dan dia juga tak menyukaiku, jadi untuk apa aku melanjutkan perjodohan bodoh ini?" Jelasku mengingat semua hal tentang Michelle.
Dia memang tak pernah menyukaiku karena sudah lama menyimpan perasaan pada kakak. Tapi kakak tak pernah menyukainya, pertemuan pertamanya dengan Michelle pun menjadi pertemuan terakhir mereka.
Lalu ku dengar dia juga sempat dijodohkan dengan pria lain sebelum menyetujui perjodannya denganku. Tapi aku tak perduli dengan masalahnya, yang aku tau dia juga merasa keberatan dengan perjodohan ini. Jadi aku mengambil keputusan untuk membatalkan perjodohan ini. Untuk kebaikannya dan diriku.
"Kenapa kamu seenaknya membatalkan perjodohannya tanpa memberitau ibu sebelumnya? Kalau begini kerjasama mereke dengan perusahaan kita akan dibatalkan, kau tau itu?" Tutur ibu dengan suara naik turunnya.
"Aku tak perduli, lagipula kakak bisa menjalankan perusahaan lainnya jika perusahaan yang disini bangkrut." Ucapku sambil beranjak dari tempat duduk ku dan berjalan kedekat jendela ruang kerjaku.
"Arsel!" Ucap ibu terdengar kesal.
"Menyebalkan." Lanjutku sambil menghela napas lelah.
***
-Aster-
"Uh ini sangat sakit ...." Ringisku merasakan perih dikedua lututku.
"Hhaha... payah!" Ejek beberapa teman sekelasku yang melihatku terjatuh karena terdorong tubuh gempal Nadin saat sedang berjalan kearah gerbang.
Ini benar-benar sakit. Batinku saat melihat lututku berdarah.
"Pft... maaf ya tubuhmu sangat kecil jadi aku tak bisa melihatnya." Tutur Nadin berusaha menahan tawanya, namun detik berikutnya dia malah tertawa membuat teman-teman lainnya ikut mentertawakanku.
"Kau jahat sekali bilang dia kecil Nadin." Suara Kalea menarik perhatian semua orang.
"Lea ...." Gumam Nadin bersamaan dengan tangan Kalea yang terulur dihadapanku.
"Kau tidak boleh menjahilinya Nadin, dia ini tidak punya ayah dan ditinggalkan oleh ibu dan neneknya. Kita harus bersikap baik padanya kan?" Tutur Kalea membuatku terkejut dan mengurungkan niatku untuk meraih tangannya saat melihat senyum jahilnya.
"Hhaha... benar sekali, Aster kan gak punya ayah terus ditinggal ibu dan neneknya. Bahkan tak ada kerabatnya yang mau menampungnya, dia benar-benar ditinggalkan sendiri." Tutur salah seorang anak pria membuatku teringat kembali dengan wajah ibu dan nenek. Belum lagi semua perkataannya itu benar, dan aku tak bisa menyangkalnya.
"Benarkan dia kasihan, jadi ... sebaiknya kita tak perlu berurusan dengannya. Biarkan saja dia sendirian, kalau bertemu dengannya abaikan saja. Itu lebih mudah daripada harus mengejeknya setiap kali bertemu dengannya. Ayo pergi Nadin." Jelas Kalea membuat semua orang pergi dengan bisikan-bisikan yang menggangguku.
Hiks ... aku memang tak punya ayah, terus kenapa? Ibu bilang banyak anak yang tak beruntung sepertiku, tak memiliki ayah dan ibu. Tapi kenapa aku merasa menjadi anak yang paling tak beruntung disini? Ibu .... Batinku sambil menyeka air mataku dan segera bangkit dari posisi terduduk ku saat melihat pak supir berlari kearahku.
"Nona? Apa yang terjadi?" Tanyanya saat sampai dihadapanku dan segera berjongkok memperhatikan luka dilututku.
"Aku baik-baik saja paman, tadi terjatuh saat berlari keluar sekolah," jawabku menunjukan senyuman terbaik ku.
"Paman datang untuk menjemputku?" Lanjutku bertanya.
"Ya, tuan muda meminta saya untuk menjemput nona. Mulai sekarang saya akan mengantar jemput nona ke sekolah." Jawabnya segera bangkit dari posisi jongkoknya.
"He? Kenapa?" Tanyaku tak mengerti, kenapa paman merah meminta pak supir untuk mengantar jemputku?
"Wah cuaca hari ini tidak bagus ya, tak lama lagi pasti hujan ... sebaiknya kita segera pulang, ayo nona." Ajak paman mengalihkan pembicaraan dan langsung menggandeng tanganku menuju parkiran mobil.
Sesampainya di tempat parkir, paman langsung membukakan pintu mobilnya untuk ku supaya aku bisa langsung masuk.
Tak lama paman masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya, hujanpun turun membawa kenangan buruk dalam hidupku. Kenangan lama yang ingin ku lupakan ....
.
.
.
Thanks for reading...