
-Aster-
Waktu sudah menunjukan pukul 12:30 siang, sekolah dipulangkan lebih cepat setelah bu Estelle memberikan pengumuman pembagian raport yang dipercepat dari jadwal.
"Kamu kenapa Lea?" Suara Nadin menarik perhatianku yang sedang membereskan buku-buku cerpen dan novel yang ku pinjam dari perpustakaan.
Ku lihat Kalea tampak murung dan tidak bersemangat seperti biasanya, lalu dia juga tidak menggangguku lagi. Aku senang karena mereka berhenti menggangguku, jadi anak-anak lainpun tidak berani menggangguku. Tapi tetap saja, aku merasa penasaran jika mereka tiba-tiba berhenti menggangguku.
Sebenarnya ada apa dengan Kalea?
"Aku akan tinggal dengan ayahku." Jawab Kalea menghentikan langkahku yang hendak keluar dari dalam kelas.
Ayah? maksudnya ayahku? Batinku bertanya-tanya sambil menoleh kearah Kalea yang masih duduk ditempatnya.
"Bagus dong, bukankah ayahmu sangat baik?" Tutur Nadin terdengar gembira berkebalikan dengan raut wajah Kalea yang tampak kusut.
"Bukan ayahku yang kau kenal, tapi ayah kandungku." Jelas Kalea melunturkan senyuman lebar Nadin sekaligus mengejutkanku.
Ayah–kandung Kalea?
"Bu–bukankah ayahmu itu ayahmu? Kenapa ada ayah kandung?" Tanya Nadin terlihat kebingungan.
"Kau tau kan ayahku itu ayahnya Aster, sudah jelas dari marga yang dimiliki anak itu. Lalu sekarang tiba-tiba ayah kandungku datang dan ingin merawatku ...." Jelasnya dengan suara gemetaran, bahkan tubuhnya juga ikut bergetar. Sepertinya Kalea berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nadin.
Kalea .... Batinku merasa kasihan padanya, pasti dia sangat membenciku sekarang karena ayah yang dia anggap sebagai ayahnya sendiri sudah direbut olehku yang adalah putri kandungnya.
Dengan cepat ku langkahkan kakiku meninggalkan ruang kelas bersamaan dengan perasaan rinduku pada sosok ayah yang datang secara tiba-tiba.
Aku ingin memeluk ayah! Batinku mempercepat langkahku.
"Kau mau pulang?" Suara Teo mengejutkanku, rasanya jantungku hampir jatuh ke lantai saat anak itu tiba-tiba muncul dihadapanku.
"Ya–ya." Jawabku sambil mengelus dadaku dan berhenti tepat dihadapan anak itu.
Dia punya kesamaan buruk dengan Carel ya? Lanjutku dalam hati sambil memperhatikan manik hijau Teo yang terus menatap buku-buku ditanganku.
"Ada apa?" Tanyaku mengejutkannya.
"Bukunya ...." Jawabnya sambil menunjuk buku ditanganku.
"Ah, aku mau mengembalikannya ke perpustakaan dulu, setelah itu baru pulang." Jelasku ikut memperhatikan buku-buku ditanganku.
"Kalau begitu biar aku yang kembalikan." Ucapnya sambil mengangkat kedua telapak tangannya, menungguku untuk menyerahkan semua buku ditanganku.
"Tapi–" Ucapku segera dihentikan olehnya.
"Berikan saja, kau tunggu jemputanmu saja sana!" Jelasnya sambil merebut buku-buku ditanganku dan pergi begitu saja.
"Ada apa dengannya?" Gumamku merasa bingung sendiri dengan tingkah lakunya.
Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi, aku kembali melangkahkan kakiku menuju pos satpam. Tempat diamana biasanya aku menunggu pak supir, paman merah, ayah dan siapapun yang datang terlambat untuk menjemputku.
Namun langkahku langsung terhenti begitu melihat seorang pria dewasa seusia ayah sedang menyenderkan tubuhnya pada mobil mewah berwarna merah dibelakangnya.
Paman itu terlihat gelisah memperhatikan gedung sekolah dibelakangku, dan lagi dia sangat mirip dengan seseorang.
"Permisi ...." Ucapku setelah memberanikan diri dan berjalan menghampirinya.
"Ya?" Ucapnya tak memperdulikan kehadiranku, bahkan paman itu tidak menatapku sedikitpun.
"Apa paman sedang menunggu seseorang?" Tanyaku sambil menoleh kearah gedung sekolah yang sejak tadi terus ditatap olehnya.
"Itu ...," Ucapnya terhenti saat pandangan kami bertemu tatap, lalu raut wajahnya tiba-tiba berubah terkejut.
"Kau anaknya Helen dan Ansel ya?" Lanjutnya bertanya sambil berjongkok dihadapanku, membuatku terkejut saat tiba-tiba tangannya meraih pundak ku.
"A–anu ...." Ucapku tak berani melanjutkan pertanyaanku, rasanya lidahku mendadak kelu.
"Ah maaf, namaku Victor. Aku ayahnya Kalea, senang bisa bertemu denganmu." Jelasnya menjawab pertanyaanku.
"Kalea? Paman ini ayahnya Kalea?" Tanyaku lagi langsung mendapat anggukan cepat darinya bersamaan dengan tangannya yang melepaskan pundak ku.
"Jadi paman datang untuk menjemput Kalea?" Lanjutku kembali bertanya padanya.
"Ya. Tapi sejak tadi aku belum melihatnya keluar ...." Jawabnya terlihat murung.
Apa Kalea tidak suka dengan ayahnya? Padahal dimataku paman Victor begitu menyayangi Kalea. Lantas apa yang salah jika dia tinggal dengan ayahnya? Batinku bertanya-tanya sambil menoleh kearah gedung sekolah sambil ikut berjongkok dihadapan paman itu tanpa ku sadari.
"Sepertinya Kalea tidak ingin bertemu denganku ya?" Tanya paman Victor sambil tersenyum miris padaku setelah menatapku terkejut saat tiba-tiba aku ikut berjongkok dihadapannya.
"Bu–bukan begitu, tadi ... piket! Kalea masih piket. Mungkin sebentar lagi dia keluar." Jawabku melantur.
Ada apa denganku? Kenapa aku berbohong? Batinku merasa sedikit bersalah saat melihat raut wajah paman Victor yang sedikit berubah.
"Begitukah? Syukurlah," gumamnya terlihat lega, "sepertinya kamu dan Kalea berteman baik ya." Lanjutnya kembali mengulas senyum, senyum yang terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Be–begitulah." Ucapku memaksakan senyuman kaku ku bersamaan dengan suara bantingan pintu mobil yang sedikit mengejutkanku dari luar gerbang sekolah.
"Siapa namamu?" Tanyanya.
"Namaku–" Jawabku terpotong saat mendengar suara ayah memanggil namaku.
"Aster–" Ucap ayah terhenti saat tiba-tiba Kalea terjun kedalam pelukannya dan membuatnya terkejut, begitupun denganku.
"Ayah datang untuk menjemputku kan? Aku sangat merindukanmu ayah." Tutur Kalea masih memeluk ayah dengan erat.
Aku tidak menyadari kedatangannya .... Batinku terus memperhatikan Kalea sambil bangkit dari posisi jongkok ku.
Kenapa? Hatiku sakit? Aku tidak suka Kalea memeluk ayah sembarangan seperti itu. Lanjutku masih dalam hati sambil meremas pakaian dibagian dadaku.
Lalu ku lihat paman Victor mulai berjalan mendekati Kalea dan ayah dengan langkah cepatnya saat melihat ayah berusaha melepaskan pelukan Kalea darinya.
"Lea ...." Suara paman Victor bersamaan dengan langkahku yang menghampiri ayah.
"Tidak mau!" Ucap Kalea menghentikan langkahku dan gerakan tangan ayah yang berusaha melepaskan pelukan anak itu.
"Aku tidak mau ikut denganmu! Kau bukan ayahku!" Lanjutnya membuat paman Victor tak jadi meraih puncak kepala Kalea.
"Aku–" Ucap paman Victor kembali dihentikan oleh isakan Kalea dipelukan ayah.
"Ibu tidak pernah bilang kau ayahku! Kau juga tidak pernah menemuiku, aku ... ayahku adalah ayah Ansel!" Tuturnya sambil terisak.
Kalea .... Batinku merasa kasihan padanya, dia pasti kebingungan karena ayah yang dia anggap sebagai ayahnya sendiri adalah ayahku, lalu ayahnya sendiri tiba-tiba datang untuknya.
"Kau boleh menganggap papaku sebagai ayahmu seperti sebelumnya Ka–kalea." Ucapku setelah mengumpulkan seluruh keberanianku untuk berbicara padanya.
"Tidak! ayahku hanya milik ku seorang!" Teriak Kalea dengan nada membentaknya.
"Sudah cukup Lea!" Ucap ayah langsung melepaskan pelukan Kalea dengan paksa, "aku bukan ayahmu, Victor–lah ayahmu. Kau tidak boleh bersikap buruk pada ayahmu, aku tidak keberatan jika kamu masih mau menganggapku sebagai ayahmu. Tapi kamu juga harus menerima ayahmu sendiri ... biar bagaimanapun dia ayahmu, dan kau putrinya." Lanjut ayah berusaha berbicara selembut mungkin.
"Lea ... maafkan aku." Gumam paman Victor semakin menurunkan nada bicaranya dan terlihat lesu.
.
.
.
Thanks for reading...