
-Kalea-
Ku langkahkan kaki ku menuju perpustakaan untuk mencari keberadaan Aster. Biar bagaimana pun dia sangat suka dengan tempat itu, jadi mungkin saja aku bisa menemukannya disana. Begitulah pikirku.
Tapi ditengah perjalanan menuju perpustakaan, aku melihat tuan Albert bersama putranya berdiri di halaman akademi. Tak jauh dari tempatku berdiri.
"Dia sedang menjelaskan situasinya ya?" Gumamku masih memperhatikan ayah dan anak yang terlihat tidak akur itu.
Aku jadi merasa kasihan pada anak itu ... semua orang sedang hangat membicarakan keluarganya karena ibu dan nenek ku. Pasti dia kesulitan menghadapi orang-orang merepotkan itu. Lanjutku dalam hati sambil memperhatikan ekspresi murung Sean.
Entahlah, aku sendiri tidak tau kenapa bisa merasa kasihan padanya. Mungkin karena dia saudara tiriku? Atau mantan saudara tiriku ya? Lalu dia juga tidak tau kalau ibu tirinya sudah memiliki seorang anak seusianya. Jika dia tau, dia pasti akan sangat terkejut kan?
"Kau yakin tidak menceraikannya karena masalah itu kan?" Teriak anak itu mengejutkanku yang baru melangkahkan kakiku kembali.
"Bohong kan? Kau memang sudah mengetahui perbuatan wanita itu dan diam-diam menceraikannya?" Lanjutnya masih berteriak.
"Jaga mulutmu itu!" Tegas tuan Albert membuat putranya bungkam.
Benar! Jaga mulutmu itu, jika kau berteriak seperti itu, orang lain bisa mendengarnya loh. Memangnya kau mau mendengar gosip baru tentang keluargamu lagi? Bisa-bisa mereka semakin menjelekan ayahmu. Jangan membuat situasi semakin rumit. Gerutuku dalam hati, menyetujui tindakan tuan Albert.
"... kenapa aku jadi menguping pembicaraan mereka ya?" Gumamku segera bergegas menuju perpustakaan, tapi lagi-lagi langkahku kembali terhenti saat mendengar seseorang memanggil namaku.
Dengan malas, aku pun menoleh kearah sumber suara yang memanggilku. Dari suaranya saja aku sudah bisa mengetahui siapa yang memanggilku. Ya, siapa lagi kalau bukan tuan Albert.
"Ah, ternyata benar kau." Ucapnya saat berhasil mendekatiku yang masih mematung ditempat.
"Selamat sore tuan Albert." Sapaku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku.
"... sepertinya kau baik-baik saja ya dengan berita yang sudah beredar,"
Apa maksudnya? Ah, artikel itu juga sudah menguak rahasia terbesar ibu ya? Semua orang sudah tau soal ibu yang menyembunyikan keberadaan anaknya. Tapi mereka tidak mengetahui sosok anak ibu, mereka juga tidak tau ibu memiliki anak laki-laki atau perempuan. Tapi ... kenapa tuan Albert? Batinku bertanya-tanya sambil mengingat keseluruhan isi artikel yang ku baca.
"Memangnya saya harus bersikap seperti apa dengan semua berita yang tuan maksud itu?" Lanjutku bertanya sambil menunjukan senyuman terbaik ku lagi.
"Menurutmu sikap seperti apa yang seharusnya kau tunjukan disituasi seperti ini?" Tanyanya bersamaan dengan langkah Sean yang sudah mendekati ayahnya.
"Entahlah," singkatku masih bertahan dengan senyuman palsuku.
"... apa ibumu memintamu bersikap seperti ini juga dihadapan ayah tirimu?" Tanyanya membuatku terkejut dengan ucapannya.
"Ayah–tiri? Apa maksudmu?" Tanya Sean sama terkejutnya denganku.
Jantungku rasanya mau copot, tapi aku harus menuruti perkataan ibu. Biar bagaimanapun yang bisa ku lakukan saat ini adalah melindungi diriku sendiri dari masalah yang ibu buat. Selain itu, bisa-bisanya dia mengatakan dirinya sebagai ayah tiriku ketika dia sendiri sudah menceraikan ibuku.
Tapi, kenapa aku harus melindungi nama baik ibuku? Dia kan sudah membuangku, aku ... tidak memiliki kewajiban untuk menutupi kebenarannya lagi kan? Dan lagi, jika semua orang tau aku putrinya Claretta. Bukankah hal itu akan bagus? Bisa menjadi gosip pengalih, dan mereka akan melupakan soal gosip keluarga Veren yang menjebak mantan istri tuan Albert. Mereka juga tidak akan membicarakan soal Sean lagi. Sempurna kan?
"... jadi maksudmu dia saudara tiriku?" Suara Sean meruntuhkan lamunanku. "Tidak mungkin!" Lanjutnya dengan sorot mata tak percayanya, menatap tajam kedalam mataku. Reaksi yang normal kan?
"Kau–"
"Kau benar, mana mungkin aku saudara tirimu kan? Tuan Albert saja sudah bercerai dengan istrinya. Lalu ... aku juga sudah lama dibuang oleh ibuku, tidak maksudku nyonya Claretta." Ucapku berhasil memotong ucapan tuan Albert.
"Jadi wajar kan jika aku sangat tenang dalam siatuasi seperti ini? Anggap saja dia sudah mendapatkan karma dari semua perbuatan dan keserakahannya." Lanjutku kembali menunjukan senyuman terbaik ku.
Bohong! Tentu saja aku ingin segera berlari menemui ibuku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku juga sudah memutuskan untuk melupakannya dan fokus dengan hidupku sendiri. Sesuai dengan keinginan ibu.
***
-Nathan-
Ku hela napas letihku setelah berpisah dengan Nadin, "haruskah aku menemuinya setiap dia menghubungiku? Melelahkan." Gumamku merasa lelah karena belakangan ini sering menemui Nadin karena keinginannya.
Padahal dia sendiri mengetahui kesibukanku, tapi masih saja menyusahkanku. Haruskah ku teruskan perjodohan tidak masuk akal ini? Lanjutku dalam hati sambil berjalan menuju halaman akademi.
Ya, sangat tidak masuk akal. Bahkan keluarga Nadin tidak seterkenal keluarga Kalea dimasanya dulu. Dia juga tidak memiliki marga seperti keluarga Kalea. Tapi kenapa nenek menerima perjodohan ini? Padahal dulu sangat ngotot ingin menjodohkanku dengan orang terpandang juga.
Tidak bisa dimengerti! Seandainya rumor buruk tentang Kalea tidak beredar. Dan dia tidak mencari masalah dengan orang lain, mungkin aku– Batinku terhenti saat melihat Kalea berhadapan dengan tuan Albert dan putranya tak jauh dari tempatku berdiri.
"Sungguh pemandangan yang tidak biasa. Padahal malam itu mereka terlihat tidak akur." Ucapku mengingat pertemuan Kalea dan tuan Albert dipestaku. Saat dia tak sengaja menabrak tubuh tuan Albert.
Tanpa sadar, aku sudah memperhatikan gerak-gerik Kalea sepanjang malam itu. Batinku merasa malu sendiri dengan kebiasaan buruk ku yang sering memperhatikan orang lain diam-diam.
"Tapi apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa serius sekali? Apa soal ibu dan neneknya Kalea?" Gumamku segera menggelengkan kepalaku untuk menepis rasa ingin tahuku.
Tidak baik bagiku jika aku terlalu penasaran dan ingin tahu urusan keluarga orang lain. Urusanku saja masih menumpuk, jadi mari kita pergi saja dan urus urusanku sendiri. Batinku kembali melangkahkan kakiku menuju parkiran.
Tapi langkahku kembali terhenti saat mendengar teriakan putra tuan Albert. "... jadi maksudmu dia saudara tiriku?" Suaranya mengejutkanku, ku lihat dia sedang menatap mata tuan Albert. "Tidak mungkin!" Lanjutnya melirik tajam pada Kalea.
Apanya yang tidak mungkin? Jelas-jelas dia saudara tirimu. Batinku merasa dongkol saat melihat ekspresi tidak sukanya itu.
"Kau–" Suara tuan Albert terpotong oleh Kalea.
"Kau benar, mana mungkin aku saudara tirimu kan? Tuan Albert saja sudah bercerai dengan istrinya. Lalu ... aku juga sudah lama dibuang oleh ibuku, tidak maksudku nyonya Claretta." Ucapnya mengejutkanku.
Dia? Dibuang oleh ibunya? Batinku meragukan indra pendengaranku.
Ku lihat kedua orang itu pun sama terkejutnya denganku saat mendengar apa yang diucapkan oleh anak perempuan dihadapannya.
"Jadi wajar kan jika aku sangat tenang dalam siatuasi seperti ini? Anggap saja dia sudah mendapatkan karma dari semua perbuatan dan keserakahannya." Lanjutnya terdengar sangat tenang namun terasa begitu menyayat hati bagi orang yang mendengarnya.
Apalagi ekspresi sok tegarnya yang dia tunjukan pada tuan Albert dan putranya.
"Aku ... benar-benar tidak salah dengar kan?" Gumamku kembali memastikan indra pendengaranku bersama hembusan angin sore yang menerpa tubuhku.
.
.
.
Thanks for reading...