Aster Veren

Aster Veren
Episode 147




-Kalea-


Siang ini aku berkunjung ke kediaman ayah untuk menemui Aster. Ku pikir dia sangat kesepian saat ini karena ayah tak kunjung kembali dari tugasnya di Singapura.


Angin berhembus lembut saat aku dan Aster berjalan menuju rumah kaca, ku lihat raut wajah Aster terlihat murung menatap lurus ke depan bersama langkah kakinya yang terlihat tak bersemangat.


Hah~ kenapa kau harus marahan dengan si bodoh itu? Batinku langsung teringat pada sosok Carel, padahal jika hubungan mereka baik-baik saja aku yakin anak itu sudah berkunjung ke kediaman ayah setiap hari.


"Apa kau belum menjelaskan semuanya pada Carel?" Tanyaku setelah mengumpulkan seluruh keberanian ku untuk membahas soal Carel dan Aster.


"... setelah dipikirkan lagi, sepertinya tidak ada yang harus dijelaskan."


"Hah? Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Kau harus menjelaskan semuanya dan memperbaiki hubunganmu dengan Carel."


"Kalau begitu semua yang sudah ku lakukan akan sia-sia. Sayang kan?" Jelasnya saat sampai di depan pintu rumah kaca, menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku bersamaan dengan hembusan angin yang kembali menerpa tubuh kami, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.


"Sayang?" Gumamku benar-benar merasa terkejut dan kesal saat mendengar jawabannya yang tidak pernah ku duga. Apalagi saat melihat senyuman palsu dan tatapan sendu diwajahnya.


"Kau yakin mengatakan hal itu?" Suara Teo membuat kami menoleh kearah sumber suara secara bersamaan.


Anak itu memang berniat datang ke kediaman ayah juga untuk menemaniku menghibur Aster, bahkan Nadin dan Tia pun harusnya sudah tiba.


"Saat ini Carel sudah mengetahui alasan dia dijodohkan dan berniat untuk membangkang,"


"Se–serius?" Tanyaku sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ku dengar. Ku lihat Teo sudah menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaanku.


"Cepat atau lambat dia juga akan mengetahui alasanmu tiba-tiba berubah. Kau tau? Anak itu cukup pintar dalam hal mencaritau." Lanjutnya membuatku melirik kearah Aster yang sudah sedikit tertunduk, terlihat berpikir keras akan suatu hal.


Apa dia akan membuat rencana lain? Batinku bertanya-tanya sambil menggigit bibir bawahku karena merasa kesal pada keputusannya.


Ingin rasanya aku berteriak padanya kalau dia tidak perlu melakukan hal yang diinginkan oleh si Lusy itu. Lagipula ancamannya itu benar-benar tidak dipercaya, memangnya dia bisa menghancurkan hubungan dua keluarga hanya dengan mengancam Aster untuk menjauhi Carel?


***


"Apa kalian sudah dengar?" Teriak Nadin mengejutkanku, Aster dan Teo yang tengah menikmati tea time kami di rumah kaca.


Ku lihat Teo terbatuk dan tersendak karena terkejut saat mendengar suara teriakan Nadin. Lalu dengan cepat ku berikan saputanganku untuk melap teh yang sedikit tumpah ke pakaiannya.


"Tidak bisakah kau datang dengan sedikit lebih tenang?" Dengusku membuat Nadin terkekeh dan segera duduk di kursi kosong dekat Aster.


"Hhehe, maaf." Ucapnya sambil mengusap tengkuknya.


"Kau datang sendiri? Dimana temanmu itu?" Tanya Teo setelah melap Noda dipakaiannya.


"Daripada itu, apakah kalian sudah mendengar rumor tentang kondisi nyonya Alterio?" Jawabnya mengalihkan pembicaraan, tak memperdulikan pertanyaan Teo.


"Apa yang terjadi?" Tanya Aster yang sejak tadi membisu. Ku lihat dia sudah meletakan kembali cangkir teh ditangannya dan menatap serius Nadin yang sudah menatapnya balik.


Ternyata mau kamu menyembunyikan perasaanmu sebaik apapun, kamu tidak akan pernah bisa untuk tidak mengkhawatirkan Carel ya? Batinku merasa sedikit lega karena ternyata Aster masih sosok Aster yang aku kenali. Padahal belakangan ini aku merasa Aster sudah berubah menjadi orang lain.


***


-Aster-


Hembusan angin malam terus berhembus lembut menyapu wajahku, membuat tubuhku bergidik kedinginan. Waktu juga sudah menunjukan pukul 09:00 malam. Tapi aku masih terjaga dan tidak bisa pergi tidur karena rasanya hatiku sangat gelisah setelah menerima panggilan dari ayah yang memberitau jadwal kepulangannya diundur. Belum lagi aku juga masih kepikiran dengan ucapan Nadin soal kondisi ibunya Carel yang memburuk setelah melakukan oprasi.


Padahal, seingatku. Ayah tidak pernah benar-benar memperdulikan pekerjaannya, dia selalu melempar semua pekerjaannya pada paman Rigel. Tapi kenapa tiba-tiba ayah begitu memperdulikan pekerjaannya? Lanjutku dalam hati, mengingat semua momen kebersamaan ku bersama ayah.


Dulu ayah akan langsung menghentikan pekerjaannya jika aku masuk ke ruang kerjanya, lalu paman Rigel akan mengomeli ayah, tapi ayah tidak memperdulikannya dan membawaku pergi dari ruang kerjanya. Begitulah yang ku ingat.


"Haaah~ membosankan ...." Ucapku sambil menghela napas panjang di teras kamar, menopang daguku dengan kedua tanganku yang bertumpu pada balkon kamar.


Ku tatap langit berbintang dengan bulan yang meredup karena tertutupi awan. Lalu kembali menghela napas saat mengingat kembali pembicaraanku dengan Kalea, Teo dan Nadin siang ini.


Nadin bilang kondisi ibunya Carel memburuk, kira-kira bagaimana perasaan anak itu sekarang? Apa dia baik-baik saja?


"Ku harap kondisi ibu segera membaik," bisik ku sebelum melangkahkan kakiku memasuki kamar dan menutup rapat-rapat jendela kamarku. Berusaha untuk lari dari pikiran buruk ku mengenai kondisi ibunya Carel.


Aku yakin ibu akan baik-baik saja, aku percaya ibu bisa bertahan. Begitulah pikiranku yang tidak pernah ku pikirkan akan ku sesali di masa depan.


Waktu berlalu begitu cepat, bahkan tak terasa waktu liburanku tinggal tersisa satu Minggu. Tapi ayah masih belum kembali juga, apa pekerjaannya sangat sulit? Aku benar-benar merindukannya sekarang, bahkan beberapa hari terakhir ini ayah berhenti memanggilku, padahal setiap malam tidak pernah absen untuk menelpon ku.


Ku harap ayah baik-baik saja dan segera kembali. Batinku tak bisa bertahan lebih lama lagi dalam kesepianku. Rasanya aku benar-benar ditinggal sendirian di rumah sebesar ini, padahal ada kakak-kakak pelayan, tukang kebun dan satpam. Tapi rasanya tetap sepi.


Ku langkahkan kaki ku menuju rumah kaca yang setiap hari ku kunjungi untuk melihat bunga Aster pemberian nenek yang sengaja ditanam di sana.


"Nona!" Teriak seseorang menghentikan langkahku, dengan cepat aku berbalik badan untuk melihat si pemilik suara itu.


"Paman Hans?" Gumamku saat melihatnya kesulitan bernapas, sepertinya dia sudah berlarian kesana-kemari untuk mencariku.


"Itu ...," ucapnya masih berusaha mengontrol pernapasannya dengan ekspresi yang sulit untuk ku gambarkan.


"Ada apa?"


"Ba–baru saja tuan menelpon melalui telpon rumah, beliau meminta nona untuk pergi ke kediaman Alterio sebagai perwakilan keluarga Veren."


"Aku? Kenapa?" Gumamku merasa sedikit bingung, kenapa aku harus pergi sebagai perwakilan keluarga Veren?


Aku tau kalau saat ini hanya aku yang tersisa di rumah, karena ayah dan keluarga paman Arsel sedang berada di luar negri. Tapi kenapa aku harus pergi sebagai perwakilan keluarga Veren? Apa ada hal penting yang mengharuskan ayah mengirim aku pergi? Hal apa? Apa soal pekerjaan?


"... saya mendapat berita bahwa nyonya Alterio sudah berpulang. Tuan memberitau saya untuk menyampaikannya pada nona, ja–jadi nona bisa pergi sebagai perwakilan keluarga Veren. Saat ini tuan dalam perjalanan untuk kembali." Tuturnya kembali menjelaskan situasi yang tidak ku pahami.


"Tunggu! Maksudnya nyo–nyonya Alterio itu ... i–ibunya Carel?" Ucapku tak bisa mencerna ucapan paman Hans dengan baik, aku bahkan meragukan indra pendengaran ku sekarang.


"Benar. Nyonya Alterio sudah berpulang pada pukul 03:00 pagi dini hari."


"Ti–dak mungkin ...,"


Ibu ... kenapa? Bukankah dia berjanji akan pulih demi Carel? Itu yang ibu katakan saat aku mengunjungi ibu diam-diam dihari itu kan? Tapi kenapa sekarang? Batinku tak bisa menahan genangan air mata yang sudah merembes keluar, terjun bebas membasahi wajahku.


"Siapkan mobil, aku akan bersiap!" Titahku pada paman Hans sebelum pergi ke kamarku untuk bersiap dengan bantuan kak Mila.


.


.


.


Thanks for reading...