
-Sarah-
"Hah~ lelahnya ...," gumamku sambil meregangkan otot tubuhku yang terasa kaku. Lalu ku lirik jam dinding dibelakangku yang sudah menunjukan pukul 12:10 siang.
"Hampir satu jam Faren dan Yuna pergi keluar. Tapi mereka belum juga kembali." Lanjutku sebelum mendaratkan bokongku di kursi kayu yang ada di sebelahku.
Rasanya sangat membosankan tanpa Faren disini sekarang. Padahal kalau ada dia, aku jadi sangat bersemangat karena ada begitu banyak hal yang bisa dibicarakan dengannya. Bisa dibilang dia pendengar yang baik dan teman mengobrol yang seru. Berbeda dengan Dean yang terlihat tidak tertarik dan bosan dengan ocehanku.
"Mereka belum kembali?" Suara Dean menarik perhatianku, ku lihat dia sudah berdiri didepan pintu dapur dengan tangannya yang memegangi tirai pintu.
Ku gelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya, "belum."
"... apa aku harus menyusul mereka?" Gumamnya bersamaan dengan suara lonceng pintu toko yang menarik perhatian kami.
"Yuna?" Ucapku bersamaan dengannya yang terlihat kelelahan dengan kantong plastik yang dia bawa, dengan cepat dia berlari kearah Dean dan memeluk pria itu.
"Dimana Faren?" Lanjutku tak mendapatinya di manapun.
"Kakak, sembunyi!" Seru anak itu tidak menjawab pertanyaanku membuat Dean mengernyit bingung. Begitupun denganku, kenapa ekspresinya terlihat begitu panik?
"Tenanglah Yuna, ceritakan padaku perlaha oke." Ucap Dean berusaha menenangkan adiknya, dan aku juga sudah mendekati mereka, berjongkok disamping Dean untuk menyamakan tinggiku dengan Yuna.
Lalu ku raih puncak kepala anak itu, membuat anak itu menoleh padaku sekilas dan kembali berkata, "kakak petak umpet. Sembunyi!"
Ku lihat pria itu tampak terkejut saat mendengar ucapan adiknya, "apa maksudnya?" Tanyaku menengadah menatap manik hitam Dean.
"Kakak?"
"Di mana Faren?" Tanyanya membuat Yuna menoleh ke arah pintu toko.
"Kak Faren memintaku untuk kembali lebih dulu dan bersembunyi di sini. Ayo sembunyi kakak." Jawabnya masih keras kepala mengajak Dean bersembunyi.
"Tunggu dulu! Katakan apa yang sebenarnya terjadi." Ucapku tak tahan dengan rasa penasaranku karena tidak bisa terlibat dalam pembicaraan kakak adik di hadapanku ini. Aku juga sudah berdiri memegangi tangan Dean, menuntut penjelasan darinya.
Apa ... apa mungkin orang itu ..., lanjutku dalam hati segera menepis pikiran buruk ku mengenai orang yang terbayang dalam ingatanku. Sosok pria yang pernah di ceritakan oleh Dean saat aku bertemu dengannya untuk pertama kali.
"Yuna bisa jelaskan dengan perlahan?" Suara Dean lebih lembut dari sebelumnya, ku lihat air mata Yuna tumpah saat pria itu meraih wajahnya dan mengelusnya perlaha.
"Di—dia melihatku di depan minimarket, lalu ... orang itu mengikutiku dan kak Faren. Kak—kak Faren memintaku untuk kembali lebih dulu. Tapi ... Yu—Yuna mendengar suara te—tembakan. Huwaaaa Yuna takut sampai tidak bisa berhenti berlari. Kakak, kak Faren!" Tuturnya disela-sela tangisnya benar-benar membuatku terkejut begitupun dengan Dean.
"Anak itu!" Ucapnya segera berlari menuju pintu toko dan dengan cepat aku raih tubuh Yuna berusaha untuk menenangkannya. Padahal aku juga masih terkejut mendengar penjelasannya. Apa—apa Faren baik-baik saja? Dia tidak ..., batinku tak bisa melanjutkan pikiran buruk ku.
Cling!
Suara pintu toko menarik perhatianku, ku lihat Dean masih mematung di depan pintu dan ada sosok Faren yang berdiri dihadapannya. Rupanya anak itu belum pergi dari toko, dan waktu kedatanga Faren juga sangat tidak terduga.
"Faren?" Gumamku bersamaan denga suara Dean yang lebih keras dariku.
"Ada apa dengan wajah kalian?" Tanyanya sambil tersenyum tipis dengan tatapan bingungnya.
"Kakak ... huwaaa kakak tidak apa-apa?" Teriak Yuna segera berhambur kedalam pelukan Faren. Dan Faren menyambut anak itu dengan baik, mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
"Tidak apa-apa, kenapa kamu menangis?" Tanyanya dengan suara rendah yang terdengar lembut itu.
"Faren?" Ucapku setelah mengumpulkan seluruh keberanianku untuk memanggilnya, entahlah untuk sesaat aku merasa ragu untuk memanggilnya. Apalagi saat dia begitu serius menghibur Yuna dengan pelukan hangatnya.
"Ya?" Jawabnya sambil melepaskan pelukannya dan menatapku bingung.
"Itu—"
"Sarah, bisa kamu bawa Yuna pergi sebentar?" Potong Dean segera menoleh kepadaku dengan tatapan seriusnya, mau tak mau akupun mengangguk patuh dan membawa Yuna ke dapur.
"Ayo kita makan coklat di dapur Yuna." Ajak ku membuat mata anak itu berbinar.
"Apa kakak punya?"
"Tentu saja, aku menyimpannya di kulkas dapur."
"Oke, ayo kita pergi!" Serunya begitu bersemangat, membuatku lega saat energinya cerianya kembali dengan cepat.
Kemudian ku lihat Dean sudah mengajak Faren ke luar dari toko, entah apa yang akan mereka bicarakan. Sejujurnya aku juga sangat penasaran dan ingin bergabung bersama mereka, tapi jika aku ikut bergabung siapa yang akan menjaga Yuna? Mana tante Nina belum kembali.
Setelah mengantar tuan pemasok keluar, tante Nina menitipkan toko padaku dan Dean karena dia ingin membeli sesuatu di luar. Tapi entah kenapa dia begitu lama kembali.
Apa sesuatu terjadi padanya? Apalagi tante sedang hamil muda. Tidak-tidak! Mari berpikiran positif, siapa tau tante mampir ke rumah temannya di ujung jalan sebelum kembali ke toko. Dan dia lupa waktu karena sibung berbincang. Batinku segera menepis semua pikiran buruk ku dan bergegas menyusul Yuna. Melupakan rasa penasaranku pada pembicaraan Dean dan Faren di luar.
***
-Aster-
Ku tatap manik hitam Dean dengan seksama saat dia menatapku dengan begitu serius. Sejujurnya aku cukup yakin dengan perasaanku kalau dia berusaha untuk menanyakan apa yang terjadi padaku dan Yuna sampai anak itu menangis ketakutan seperti itu.
Dan lagi, aku juga ingin mengetahui kebenaran dari rumor yang ku dengar tentangnya dan Yuna. Apakah dugaanku selama ini benar?
"Ada apa Dean?" Tanyaku mulai angkat bicara saat anak itu tak kunjung berbicara.
"Dimana? Dimana kalian bertemu dengan orang itu?" Ucapnya balik bertanya, membuatku sedikit terkejut. Ku kira dia akan mengatakan hal lain dulu untuk berbasa-basi, ternyata dia langsung berbicara pada intinya.
Maka aku juga tidak bisa berbasa-basi untuk mendapatkan jawaban yang ku inginkan kan?
"Orang itu? Sebenarnya siapa orang yang kamu maksud itu? Lalu kenapa orang itu mengincar Yuna?" Timpal ku tidak memberikan jawaban yang dia inginkan.
"Kamu! Hah~ baiklah akan ku ceritakan semuanya padamu. Karena kamu sudah menyelamatkan Yuna, maka tidak ada alasan aku menutupi hal ini darimu." Tuturnya terlihat pasrah dan menyerah untuk bertanya padaku.
Cukup lama aku mendengarkan cerita Dean yang terlihat gelisah dengan situasi yang sudah terjadi siang ini. Dan aku juga cukup terkejut saat mendengar cerita yang dia berikan. Ternyata dugaanku selama ini benar.
"Jadi ...," gumamku merasa sangat terkejut dengan informasi yang ku terima dari Dean.
Ibu yang orang-orang katakan pergi dari rumah dan tidak diketahui keberadaannya, ternyata dia tinggal di rumah sakit jiwa karena mentalnya terganggu. Dan anak ini, Dean—dia menanggung semuanya sendiri dan tetap bungkam.
.
.
.
Thanks for reading...