
-Aster-
Setelah mendengar semua rencana paman dan bagaimana hasil diskusinya dengan tuan Albert, sepertinya rencana yang paman siapkan untuk membantu Dean dan Yuna gagal.
Seandainya paman mendiskusikan rencananya denganku terlebih dulu, mungkin hasilnya bisa lebih baik. Apalagi dari semua hal yang ku dengar aku benar-benar tidak menyangka alasan tuan Albert tidak bisa membantu paman adalah karena alasan ekonomi yang sedang mengguncang keluarganya.
Padahal sekali dengar saja aku tidak akan percaya dengan ucapannya. Apalagi jika aku memastikannya sendiri, mau dipikirkan berkali-kali pun hasilnya tetap sama, bagaimana bisa tuan Albert mengatakan omong kosong seperti itu?
Jika tidak ingin membatu, dia bisa langsung bicara tanpa perlu membual. Atau jika menginginkan imbalan dari bantuannya, dia juga bisa bilang. Tapi sampai akhir orang tua itu tidak mengatakan apapun. Batinku merasa kesal.
"Emh... sepertinya memang sulit untuk meminta bantuan padanya dengan latar belakang Dean yang seperti itu. Apalagi keluarga tuan Albert sangat mementingkan hal itu dalam menerima pekerja." Gumamku sambil memeluk bantal dan merebahkan tubuhku di lantai dengan posisi menyamping.
Yah wajar sih bagi tuan Albert untuk mementingkan latar belakang, apalagi keluarganya sangat terkenal di media. Padahal mereka bukan artis. Lanjutku dalam hati sambil menghela napas panjang.
"Kakak lagi apa?" Suara Yuna mengejutkanku, refleks aku bangkit dari posisi berbaringku dan menatap Yuna yang berjalan mendekatiku setelah menutup pintu kamar dengan tangan mungilnya.
Aku lupa kalau aku berbagi kamar dengan anak ini dan kakaknya, aku juga tidak tau situasi ini akan berlangsung sampai sejauh mana?
"Sudah selesai makan?" Ucapku balik bertanya.
"Iya, kakak juga sudah selesai. Tapi dia sedang membantu bibi Nina mencuci piring di dapur." Jawabnya berusaha naik ke atas tempat tidur.
"Benarkah?" Tanyaku lagi sambil membantunya naik dan duduk di sampingku.
"Iya. Kakak Faren kenapa tidak makan?"
"Aku? Aku belum lapar."
"Makanlah sedikit supaya tidak sakit."
"Iya, nanti aku makan." Jawabku sambil mengusap puncak kepalanya dan menunjukan senyuman terbaik ku padanya.
Ku lihat Yuna tampak gelisah dan mencuri-curi pandang dengan tangannya yang sibuk memainkan ujung pakaiannya. Aku yang melihatnya hanya bisa mengernyit bingung karena tidak tau apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Apakah begitu sulit untuk mengatakan hal yang dia pikirkan padaku? Sampai dia terus mencuri-curi pandang seperti itu?
"Ekhem, Yuna?" Ucapku kemudian, memutuskan untuk menanyakannya langsung.
"I—iya?" Jawabnya dengan sedikit terperajat.
"Apa ada yang mau kamu katakan?"
"Emh ... itu, sebenarnya—"
"Yuna?" Suara Dean memotong ucapan Yuna membuatku terkejut begitupun dengan anak itu. Ku lihat pria itu sudah menutup pintu kamar dan berjalan mendekati kami.
"Ada apa dengannya?" Lanjutnya bertanya padaku.
"Tidak tau."
"Yuna mau pergi nonton tv!" Ucapnya tiba-tiba sambil turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa.
Sebenarnya apa yang mengganggu pikirannya? Kenapa dia tidak jadi mengatakannya saat Dean masuk?
***
Waktu sudah menunjukan pukul 10:20 malam saat aku terbangun dari tidurku karena mimpi buruk. Setelah mengalami kejadian buruk beberapa hari lalu, aku jadi kembali mengingat kenangan buruk saat ayah melesatkan tembakannya padaku.
Ku raih kepalaku yang mulai berdenyut sebelum beralih melihat Dean yang tidur di lantai bersama dengan Yuna. Sebelum tidur anak itu merengek ingin tidur di dekat kakaknya, jadi mau tak mau aku tidak bisa memaksanya untuk tidur bersamaku di atas kasur.
Melihat mereka yang tertidur dengan nyenyak membuatku merasa lega. "Syukurlah jika rasa gelisah mereka sudah berkurang." Gumamku segera turun dari tempat tidurku, berniat untuk pergi ke dapur.
Sesampainya di dapur, aku langsung meraih gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu meneguknya sampai habis dan segera mendudukan tubuhku di kursi yang ku tarik keluar dari dalam meja makan.
... kenapa sekarang aku merindukan saat-saat itu ya? Bagaimana kabar paman sekarang? Apa dia sedih saat mendengar berita kematian ku? Lanjutku dalam hati sambil mengepalkan tangan kananku yang masih memegangi gelas kosong.
"Kamu belum tidur?" Suara bibi mengejutkanku, ku lihat bibi sudah berdiri di sampingku dengan ekspresi bingungnya.
"Bibi?"
"Sepertinya kamu terbangun ya? Mau bibi buatkan teh hangat?" Lanjutnya sambil tersenyum hangat dan berjalan kearah kompor, berniat untuk memasak air panas.
"Tidak perlu bibi. Biar aku sa—"
"Sudah, kamu duduk saja dengan tenang oke." Tuturnya memotong ucapanku. Dan kembali mendorong tubuhku untuk duduk di tempatku semula.
Ku hela napas panjang saat tidak bisa menghentikan bibi untuk membuatkan teh hangat untuk ku. Padahal aku tidak menginginkannya, tapi jika melihat situasinya, sepertinya bibi ingin menghiburku.
"Aku baik-baik saja bibi."
"Aku tau." Jawab bibi sambil mematikan kompornya dan menuangkan air panas itu kedalam cangkir teh yang sudah diisi gula dan daun teh.
"Tapi Aster ... apa tidurmu tidak nyaman karena satu kamar dengan Dean dan Yuna?" Tanya bibi tiba-tiba sambil memberikan cangkir teh ditangannya kepada ku.
"Sedikit." Jawabku merasakan sakit di tenggorokanku, sepertinya aku terlalu memaksakan diri untuk berbicara dengan suara laki-laki. Aku bahkan tidak menyadarinya kalau suaraku sedikit serak dan tenggorokan ku juga gatal.
"Bicara seperti biasanya saja Aster, istirahatkan tenggorokanmu sebentar." Tutur bibi setelah membisu selama beberapa saat.
"Bibi benar."
"Jangan terlalu memaksakan diri, bibi tidak mau kamu jatuh sakit lagi nantinya."
"Iya, maaf sudah membuat bibi khawatir." Ucapku sambil membalas senyuman hangat bibi. "Tapi meski begitu bibi, tolong tetap panggil aku dengan nama Faren oke. Jangan sampai Dean dan Yuna mendengar bibi memanggilku dengan nama lain." Lanjutku membuat senyuman bibi memudar.
"Ah, kamu benar."
Aku tidak akan bisa mengatasinya kalau sampai Dean atau Yuna mendengar bibi memanggil nama asliku. Apalagi Dean juga terlihat mulai mencurigai ku karena aku pernah menolak untuk tidur di kamar yang sama, dan sore ini aku hampir tertangkap basah saat sedang mengganti pakaianku di kamar.
Karena kejadian itu aku merasa usiaku berkurang setengahnya. Batinku sambil meraih cangkir teh di hadapanku dan menyesapnya.
"Ini enak." Ucapku merasakan rasa manis yang berbeda, apalagi wangi tehnya yang tidak biasa.
"Benarkah? Syukurlah kalau kamu menyukainya."
"Daun teh apa yang bibi gunakan?"
"Itu—"
"Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam begini?" Suara paman mengejutkanku dan bibi. Ku lihat paman sudah mendekat dan duduk di samping bibi.
"Kamu bangun?" Tanya bibi membuat paman menoleh kearahnya.
"Karena kamu tidak ada di sampingku." Dengus paman terlihat kesal.
Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah paman yang terlihat asing ini. Aku belum pernah melihat paman bersikap seperti itu selama aku tinggal bersamanya, tapi entah bagaimana malam ini aku melihatnya.
Dia terlihat seperti anak kecil yang merajuk. Batinku sambil meminum sisa teh di cangkirku.
.
.
.
Thanks for reading...