
-Aster-
Ku lirik sosok Sarah yang tengah duduk di sampingku, membuat situasi terasa canggung karena kami tidak saling berbicara sejak aku mengajaknya pergi ke ruang tamu bersama Yuna. Sedangkan Dean, dia tengah berbicara dengan Carel di luar.
aku tarik nafasku sedalam mungkin, berusaha mengumpulkan seluruh keberanianku untuk memulai pembicaraan dengan Sarah. Aku harus minta maaf padanya, dia pasti bingung harus berbuat apa saat mengetahui identitas asliku kan?
"A—anu Sarah," ucapku menarik perhatiannya.
"Aku—"
"Maafkan aku Faren—tidak maksudku Aster. Aku—" Potongnya membuatku terkejut, dengan cepat aku potong balik ucapannya karena merasa bingung dengan permohonan maafnya itu, tidak kah aku yang harusnya meminta maaf padanya? Kenapa malah Sarah yang meminta maaf padaku?
"Kenapa kamu yang minta maaf? Bukankah harusnya aku?" Tanyaku tak bisa mengendalikan rasa terkejutku.
"Itu ... emh, pokoknya aku minta maaf."
"Kamu benar-benar membuatku bingung Sarah." Gumamku setelah menghela napas singkat saat mendengar ucapannya. Yah aku tidak bisa mendesaknya lagi saat melihatnya begitu enggan menjelaskan maksud permintaan maafnya.
"Kalau begitu aku juga minta maaf karena tiba-tiba memanggil kalian ke kediaman Veren. Aku tidak menyangka ayah akan meminta Hans untuk menjemput kalian, padahal sebelumnya aku meminta izin untuk pergi ke tempat kalian." Tuturku setelah merasa tenang.
"Lalu, aku juga minta maaf karena sudah membohongi kalian. Kalian pasti sangat terkejut kan? Aku benar-benar minta maaf." Lanjutku tak berani menatap wajah Sarah, yang bisa ku lakukan hanya memperhatikan kedua tanganku yang sudah mengepal di atas pangkuanku.
Hening, tidak ada tanggapan dari Sarah. Apa dia marah? Sudah pasti kan? Siapa yang tidak marah karena dibohongi? Apalagi selama ini dia sangat baik padaku, tapi aku malah membalas kebaikannya dengan kebohongan. Tapi anehnya aku tidak merasa menyesal karena sudah membohongi mereka.
"Ngo—ngomong-ngomong Sarah, apa paman dan bibi tidak ikut bersama kalian?"
"Tidak. Aku bahkan tidak tau kemana mereka pergi sejak kau menghilang dari tempat festival. Apa mereka tidak menghubungimu?" Jawabnya benar-benar membuatku terkejut.
Bagaimana bisa mereka menghubungi ku, aku saja tidak memiliki alat komunikasi karena aku sudah menjual handphone ku beberapa bulan lalu. Aku juga tidak ingat dengan nomor ponsel paman dan bibi.
Apa mereka baik-baik saja ya? Kemana mereka pergi? Kenapa tiba-tiba mereka pergi tanpa meninggalkan jejak? Apa mereka tidak berpikir aku akan mencari mereka? Batinku bertanya-tanya dengan situasi tidak masuk akal ini.
Apa paman dan bibi pergi ke tempat paman Albert? Kalau begitu, haruskah aku memastikannya?
"Ah aku baru ingat, kalian baru saja sampai tapi aku malah menyita waktu istirahatmu. Maafkan aku, untuk sekarang istirahat dulu Sarah. Aku juga akan minta Hans untuk menjemput Dean dan Yuna di rumah kaca." Lanjutku saat menyadari kesalahanku.
Karena merasa senang, tanpa pikir panjang aku langsung membawa Sarah bersamaku dan meninggalkan Dean yang masih ingin berbicara dengan Carel. Lalu Yuna juga memutuskan untuk tinggal bersama kakaknya karena ingin melihat-lihat bunga di rumah kaca.
"Tidak apa-apa, aku senang karena akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Ku pikir setelah kejadian hari itu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Aku juga masih belum percaya kalau kamu adalah seorang perempuan, tapi setelah mendengar suaramu dan bagaimana penampilanmu saat ini. Aku jadi percaya kalau Faren yang aku kenal tidak pernah ada, yang ada hanya sosok Aster yang berpura-pura menjadi anak laki-laki." Tuturnya membuatku tak bisa berkutik.
"Sekali lagi maafkan aku." Gumamku nyaris berbisik.
Lalu ku bangkitkan tubuhku dari tempat duduk ku dan menatap sosok Sarah yang sudah menengadah membalas tatapanku, "pergilah beristirahat Sarah."
***
Waktu sudah menunjukan pukul 07:00 malam, sekarang aku sedang melakukan makan malam bersama dengan ayah dan tamu yang dia undang. Dean, Sarah dan Yuna.
Carel juga masih ada di kediaman Veren, tidak mengherankan juga dia berlama-lama di di tempat ini. Karena biasanya dia selalu pulang saat aku sudah pergi tidur, atau kalau tidak, dia akan menginap dan pulang besok paginya.
Melihatnya yang masih kesal dan tak bisa menyebutkan nama paman Tesar dengan benar, sepertinya dia masih menyimpan dendam.
"B*debah?" Ucap Dean dan Sarah bersamaan, tampak terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"Ayah?"
"Ekhem, kalau begitu selamat datang di kediaman Veren. Semoga kalian nyaman dengan pelayanan di rumah kami." Tutur ayah setelah berdehem, sepertinya dia menyadari situasi canggung yang dia buat.
Padahal kami sedang menikmati makan malam kami, tapi ayah malah mengatakan hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman.
"Kakak, aku mau itu!" Suara Yuna mengalihkan perhatianku, ku lihat dia sudah menunjuk kearah telur dadar dihadapan Dean. Dengan perlahan dan hati-hati, Dean memberikan apa yang adiknya inginkan.
"Terima kasih." Ucapnya sambil memberikan senyuman manis pada Dean, sangat menggemaskan.
"Rupanya kamu masih sangat menyukai telur dadar ya? Syukurlah aku meminta Mila untuk membuatkannya." Tuturku membuat perhatian Yuna teralihkan padaku setelah melahap potongan telur di sendok makannya.
Lalu dengan mata berbinarnya Yuna kembali tersenyum dan mengatakan terima kasih.
"Kau tidak makan pak tua?" Kali ini suara Carel yang menarik perhatianku, membuatku melirik pada sosok ayah yang belum menyentuh piring makannya sedikitpun. Aku benar-benar tidak menyadarinya. Apa ayah tidak nyaman karena makan bersama seperti ini?
"Apa ayah sakit?" Tanyaku kemudian, merasa tidak enak karena hanya fokus pada Dean, Sarah dan Yuna.
"Tidak, lanjutkan saja makanmu."
"Tapi—"
"Aku baik-baik saja." Potong ayah membuatku tidak berani mengucapkan apapun lagi.
"Jangan seperti itu. Makanlah sedikit bodoh, kau membuat putrimu khawatir." Dengus Carel membuatku tersentak, bisa-bisanya dia memiliki mulut ringan seperti itu?
Ku lihat ayah sudah menghela napas panjang dan mulai menyentuh sendok makannya, lalu dengan tenang mulai melahap potongan daging di piringnya.
Entah kenapa aku merasa suasannya malah jadi semakin canggung. Batinku merasa tidak nafsu makan, ku lihat yang lainnya juga seperti itu, kecuali Carel dan Yuna.
Setelah makan malam bersama dengan suasana yang tidak menyenangkan, akhirnya aku bisa terbebas dari situasi canggung itu. Ayah pergi menemui Hans di ruang kerjanya, aku melihat ayah di jemput oleh pria yang tidak ku ketahui di depan ruang makan. Lalu pergi mengikutinya ke ruang kerjanya.
Dilihat dari situasi saat itu, sepertinya ada masalah serius yang sedang mngganggu ayah. Aku tidak tau masalah apa yang sedang terjadi. Tapi dari ekspresinya, aku benar-benar tidak menyukainya. Belum lagi, Carel juga bersikap aneh siang ini.
"Kakak?" Suara Yuna mengejutkanku, ku lihat dia sudah berjalan masuk ke kamarku dengan pakaian tidurnya yang terlihat lucu, berwarna merah muda dengan renda dibagian kerah, lengan dan pinggangnya.
"Ya Yuna?"
.
.
.
Thanks for reading...