Aster Veren

Aster Veren
Episode 80




-Aster-


"Kau sudah selesai? Mau aku bantu?" Suara Kalea mengejutkanku yang sedang melamun karena memperhatikan pita merah jambu yang diberikan Carel sebagai kenang-kenangan untuk ku beberapa tahun lalu. Sebelum aku pergi untuk melakukan perawatan di Singapura.


"Tidak, aku sudah selesai kok." Jawabku sambil menoleh dan tersenyum pada Kalea yang sudah mengabil sikap berdiri dari kursi belajarnya.


"Kalau begitu, mau makan siang sekarang?" Tanwarnya sambil melirik jam dinding yang tersedia di kamar kami.


"Boleh. Kebetulan perutku sudah lapar," jawabku segera bangkit dari kursiku dan bergegas mengikat rambutku yang terurai dengan pita merah jambu ditanganku.


"Sudah selesai." Lanjutku bergumam sambil memperhatikan diriku dipantulan cermin berukuran sedang yang tersedia disamping meja belajarku.


Rasanya sudah lama aku tidak memakainya, dulu saat di Singapura aku sering memakainya untuk menghilangkan rasa rinduku pada Carel. Tapi sejak kepergian nenek, aku sudah jarang memakainya lagi. Benar-benar membuatku bernostalgia.


"Mau pergi sekarang?" Suara Kalea menghentikan kegiatan bercerminku.


"Ya, aku datang ... Kalea mau makan apa?" Jawabku sambil berlari mendekati Kalea diambang pintu yang sudah dibukanya, lalu tangannya menutup kembali pintu kamar kami saat aku sudah keluar bersamanya.


"Entahlah ... aku ingin makan yang berkuah dan pedas. Apa dikantin ada yang seperti itu ya?"


"Berkuah dan pedas, apa itu? Jangan bilang kau mau makan mie instan?"


"Memangnya di akademi semewah ini ada kantin yang menjual mie instan ya?"


"Eh–itu siapa tau kan?"


"... emh, sepertinya bagus kalau ada." Ucapnya membuatku terkejut.


"A–aku juga mau mencobanya kalau memang ada. Soalnya saat di rumah, papa dan para pelayan selalu melarangku makan mie instan meski aku ingin memakannya ... padahal waktu ibu masih ada, aku sering makan mie bersamanya ...." Gumamku mengingat semua momen bersama ayah saat dia memperingati para pelayan untuk tidak memberiku makanan sembarangan.


"Ah!" Ucap Kalea membuatku menoleh padanya, "aku juga tau perasaanmu. Ayah memang orang yang seperti itu." Lanjutnya dengan ekspresi muramnya.


***


Sesampainya di kantin, kami langsung mengantre untuk membeli makanan yang dijual di kantin. Menu makanan yang dibuat setiap harinya berubah, dan terlihat enak. Begitulah informasi yang ku dapat dari kak Nathan saat berpapasan dengannya di halaman akademi sebelum aku pergi menyusul Kalea ke asrama.


"Ngomong-ngomong, aku masih belum bisa melupakan pertengkaran ayah dengan si bodoh itu,"


"... kalau diingatkan aku juga jadi tidak bisa melupakannya. Mereka benar-benar membuatku malu."


"Mereka mempermalukan diri sendiri dimuka umum." Gumamnya membuat ingatan saat itu kembali terbayang dalam otak ku.


Apalagi saat ayah dihadang oleh paman Victor supaya tidak lepas kendali pada Carel, lalu paman Ian menyembunyikan putranya dibelakang tubuhnya sambil tersenyum manis seolah menantang ayah untuk berkelahi. Sifatnya sama seperti Teo saat sedang kesal.


"Mereka juga membuat tuan Albert dan putranya tak bisa berkutik saat melihat sifat asli ayah dan tuan Ian yang sering bertengkar jika dipertemukan." Tuturnya dengan wajah datarnya.


"Pft! Kau ... jangan mengatakannya dengan ekspresi seperti itu," ucapku berusaha menahan tawaku sebisa mungkin, tapi detik berikutnya malah lepas juga. Ya bagaimana tidak? Kalea mengatakannya tanpa tertawa sedikitpun dengan ekspresinya itu. Padahal jika membayangkan ekspresi tuan Albert dan putranya Sean, aku sampai tidak bisa menahan diri saking lucunya.


"Sudah-sudah, kendalikan dirimu. Kau bisa sakit perut jika terus tertawa seperti itu," titah Kalea sambil mengambil pesanannya, begitupun denganku.


Dengan susah payah aku berhasil mengendalikan diriku, namun belum sampai sepuluh detik aku sudah kembali tertawa sambil mendaratkan pantatku di kursi kantin dan meletakan makananku diatas meja. Sedangkan Kalea sudah duduk manis dihadapanku.


"... hahaha, aduh–perutku ... hahaha," gumamku berusaha mengendalikan diriku lagi.


"Ada apa dengannya?" Suara Carel mengejutkanku.


Ku lihat dia sudah duduk disampingku bersamaan dengan Teo yang sudah duduk disamping Kalea juga. Berkatnya aku bisa menghentikan tawaku dalam sekali tarikan napas.


"Kapan kebiasaan burukmu itu menghilang?" Dengusku merasa kesal dengan kebiasaannya yang selalu membuat jantungku terkejut.


"Dia mentertawakan kejadian saat ayah bertengkar dengan tuan Ian." Jelas Kalea membuat Carel membulatkan mulutnya untuk mengatakan "oh".


"Memangnya apa yang lucu dari pertengkaran mereka?" Tanyanya membenarkan posisi duduknya.


"Aku tidak mentertawakan papa dan paman Ian, aku hanya teringat dengan ekspresi tuan Albert dan putranya saat mereka melihat papa dan paman Ian bertengkar." Jelasku sebelum meraih gelas minumku.


"Pft! Benar, aku juga melihat ekspresi mereka. Benar-benar lucu." Ucap Teo menyetujui penjelasanku.


"Hee... hebat juga kalian bisa memperhatikan ekspresi mereka. Aku saja tidak memperhatikannya." Lanjut Carel sambil mengaduk mie?


"Kau–" Ucapku terhenti memperhatikan makanan yang sedang diaduk olehnya.


"Apa?" Liriknya membuatku sebal.


"Dapat mie dari mana?" Tanyaku merasa penasaran karena di kantin tidak menjual mie instan dan membuatku memesan nasi kari dengan terpaksa, "bahkan Teo juga?" Lanjutku saat melihat isi mangkuk Teo.


"Kenapa kau heboh sekali?" Tanya Carel sebelum menyeruput kuah mie kedalam mulutnya, melihatnya saja membuatku tergiur.


"Kau tidak tau? Aster belum pernah makan mie instan lagi semenjak tinggal dengan ayahnya." Jawab Kalea mewakiliku yang tak bisa mengatakan apapun.


"Benarkah?" Tanya Carel dengan sorot mata tak percayanya membuatku mengangguk lemas sebagai jawabannya.


"Kau makan sedikit sekali ya?" Suara Teo membuatku melirik padanya, ku lihat dia sedang memperhatikan apa yang dimakan oleh Kalea dengan tenangnya. Tentu saja aku juga memperhatikannya karena penasaran.


Anak ini! Memangnya aku sependek apa? Geramku dalam hati saat melihat manik hijaunya melirik padaku dengan senyum tipisnya yang terlihat menyindirku. Sangat-sangat jelas menyindirku.


Dengan kesal ku raih sendok makan disamping mangkuk nasi kari yang ku pesan dan menyantapnya dengan kesal.


"Sepertinya ada yang tersinggung ya?" Sindirnya lagi mencoba membuatku semakin kesal, aku tak tersinggung dengan ucapannya. Tapi ekspresinya membuatku sangat terganggu. Sepertinya dia belajar banyak dari Carel ya?


"Ini! Buka mulutmu," suara Carel bersamaan dengan sendok makan yang terulur dihadapanku, ku lihat ada potongan mie dan sedikit kuah diatasnya. Dengan ragu aku menoleh pada Carel yang duduk disampingku.


"Kau bilang ingin mencobanya kan?" Lanjutnya bertanya saat pandangan kami bertemu tatap, dia benar-benar sangat mengerti diriku.


Dengan senang hati ku lahap mie yang diberikan oleh Carel, dan rasanya benar-benar enak meski terasa pedas.


"Kau ingin membunuhku ya?" Tanyaku segera meraih gelas minumku.


"Mau mencoba punyaku?" Tanya Teo yang ternyata sejak tadi memperhatikanku, "punyaku tidak pakai pedas." Lanjutnya membuatku tergiur, apalagi saat Teo menjulurkan sendok makannya juga. Melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Carel. Menyuapiku.


Tapi belum sempat aku membuka mulutku, Carel sudah melahap makanan itu dari sendok Teo dan membuatku terkejut, begitupun dengan Teo.


"Itu untuk ku tau!" Bentak ku sambil memukulnya karena merasa kesal saat melihat jatahku dicuri olehnya.


"Aduh! Sakit tau. Kalau kau sebegitu inginnya makan mie instan aku akan memberikannya padamu. Aku membawa stok mie cukup banyak dari rumah." Tuturnya membuatku berhenti memukulinya.


"Benarkah?" Tanyaku langsung mendapat anggukan cepat dari Teo saat aku menoleh padanya untuk memastikan kebenaran dari ucapan Carel.


"Kalau begitu berikan juga padaku." Ucap Kalea yang sejak tadi membisu, menikmati makan siangnya, dia juga memesan menu makan siang yang sama denganku. Hanya saja porsinya dia potong dari porsi sebenarnya.


"Ya baiklah, nanti aku akan memberikannya pada kalian. Sekarang habiskan saja dulu makanan kalian." Jawabnya kembali melahap potongan mie disendoknya.


"Ngomong-ngomong, pita itu?" Tanya Carel membuatku kembali menoleh padanya saat sedang mengunyah makanan didalam mulutku


"Apa?" Ucapku balik bertanya.


Ku lihat manik merahnya fokus memperhatikan rambutku dan tangan kirinya segera menopang dagunya. Lalu tatapannya beralih padaku, menatap dalam kedalam mataku.


"Jadi kau masih menyimpannya ya?" Lanjutnya sambil tersenyum lebar dengan sedikit rona merah diwajahnya, terlihat menggemaskan.


Menyimpan? Dia lihat apa? Batinku bertanya-tanya, "... ah! Pita ini?" Lanjutku sambil meraih pita yang ku kenakan sebagai ikat rambutku.


"Ya, ku pikir pitanya hilang. Ternyata tersalip di–" Jelasku terhenti saat Teo memotong ucapanku.


"Kau menyukainya?" Tanyanya membuatku menoleh pada Teo.


"Tentu saja, ini kan hadiah pertama yang ku dapatkan dari Carel. Selain itu Carel adalah teman pertamaku, aku–" Jawabku kembali terhenti saat melihat telapak tangak Kalea yang mengangkat, memberiku kode untuk berhenti bicara.


"... kau membuat si bodoh itu tersipu malu. Jangan diteruskan!" Ucapnya membuatku terkejut dan segera menoleh kembali pada Carel. Benar saja, dia terlihat malu. Bahkan wajahnya sudah memerah, aku bisa melihatnya meskipun dia membuang wajahnya dariku.


"Hhaha... kau hebat ya Aster." Ucap Teo sebelum menyantap potongan daging disumpitnya, "bisa membuat orang seperti Carel terdiam karena malu." Lanjutnya membuatku tersenyum geli.


"Benarkah?" Tanyaku mencoba menggoda Carel dengan mencolek bahunya beberapa kali, tapi dia masih menatap kearah lain.


"Dia tidak akan melihatmu sebelum rona merah diwajahnya menghilang." Jelas Kalea langsung mendapat anggukan cepat dari Teo.


"Kalian berdua berisik!" Bentak Carel menatap mereka dengan tatapan dongkolnya karena terus digoda oleh mereka.


Aku yang melihat reaksinya tak bisa menahan diri untuk tidak mentertawakannya. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat wajah Carel yang semerah itu, padahal mau semalu apapun dia, wajahnya tidak akan semerah itu.


Tapi kenapa dia malu ya?


"Kau–juga jangan mentertawakanku!" Titahnya sambil mencubit pipiku seperti biasanya, dan aku hanya bisa pasrah menerima cubitannya itu.


"Terima kasih karena sudah mau berteman denganku Carel." Ucapku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku meskipun pipiku sedang dicubit olehnya.


Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa ingin berterima kasih padanya. Berkatnya aku jadi bisa melewati banyak hari yang menyenangkan bersama dia dan juga keluargaku. Apalagi kalau mengingat pertengkaran Carel dengan paman Arsel dulu, lalu pertengkarannya dengan ayah juga. Dia memang selalu mencari gara-gara pada ayah dan paman.


Lalu meski Carel menyebalkan, anak ini selalu membuatku tersenyum dan tertawa. Dia juga memberikan banyak perhatian dan kehangatan tanpa dia sadari. Dan tanpa ku sadari, aku sudah berteman baik dengannya sampai hari ini.


"Serangan tiba-tiba?" Ucap Kalea dan Teo bersamaan membuatku tersadar dengan cubitan Carel yang sudah tidak ku rasakan diwajahku.


Aku sempat melamun ya? Batinku sambil memperhatikan Carel yang hanya bisa mematung dengan wajahnya yang kembali memerah.


"Dia masih hidup kan?" Tanya Teo membuat Kalea melambaikan telapak tangan kirinya dihadapan Carel, tapi tak ada reaksi darinya.


A–ada apa dengannya?


.


.


.


Thanks for reading...