
-Ansel-
Setelah meletakan semua barang-barang Aster di kamarnya dan berpamitan pada ibu asrama disana. Aku pun bergegas pergi dari asrama untuk menemui Aster yang sedang menungguku di depan gerbang akademi. Ya, aku memintanya untuk menunggu disana.
"Aku terlalu lama berbincang dengan ibu asrama itu, semoga Aster masih menungguku disana." Gumamku mengingat pembicaraanku dengan ibu asrama.
Aku meminta bantuannya untuk menjaga putriku karena dia memiliki masalah dengan paru-parunya. Ya meski sudah lama dia tidak sesak napas, dan sudah menjalani pengobatan juga. Tapi aku masih tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya, apalagi dalam waktu yang lama dia akan tinggal di asrama tanpa pengawasan dariku, jadi aku sedikit mencemaskannya.
"Sepertinya kau sangat mengkhawatirkan kesehatan putrimu ya?" Suara Victor mengejutkanku, "yo! Selamat pagi." Lanjutnya sambil unjuk gigi saat aku menoleh kearahnya yang sudah berjalan disampingku setelah menepuk bahuku dengan tangan kirinya.
"Kau menguping?" Tanyaku membuatnya menggeleng dengan cepat.
"Tidak, tidak sengaja!" Jawabnya dengan senyum kaku diwajahnya. Terlihat mencurigakan, "aku mendengar pembicaraanmu diakhir ... lalu, terima kasih karena sudah meminta ibu asrama untuk menempatkan Kalea dengan Aster di kamar yang sama." Lanjutnya dengan tatapan harunya.
"Bukan masalah, lagipula hubungan mereka sudah membaik."
"Aku benar-benar berterima kasih banyak padamu karena tetap menyayangi Kalea meski dia pernah berbuat jahat pada putrimu." Tuturnya kembali menyeringai.
"Aster juga semakin baik pada Kalea, padahal dulu dia selalu diganggu olehnya. Dia bahkan menjaga Kalea saat Albert menatapnya dengan sinis, seandainya saat itu aku ada disampingnya. Mungkin sudah ku hajar pria itu!" Lanjutnya semakin cerewet.
"Tapi kau bisa tau sebanyak itu ya? Padahal malam itu kau tidak ada disampingnya."
"Lea menceritakan semuanya padaku," jawabnya dengan senyum mirisnya, "kau tau? Hatiku sangat sakit saat melihat Claretta memperlakukan putrinya sebagai orang asing. Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia saat itu. Bahkan saat ini pun, aku masih sering bertanya-tanya. Apakah dia bahagia hidup bersamaku? Ataukah lebih bahagia saat dia hidup bersama dengan Claretta? Mungkin saja hati kecilnya selalu menginginkan kelengkapan keluarganya. Tapi dia tidak bisa mengatakannya, dan terkadang aku merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan itu hingga dia terlahir dengan nasib seperti ini ... seandainya, seandainya dulu aku tau Claretta menjebak ku. Mungkin putriku tidak akan terlahir dalam keluarga yang seperti ini." Lanjutnya panjang lebar sambil memperhatikan langit biru pagi ini dengan mata berkaca-kacanya.
Aku bahkan tidak bisa menghiburnya. Jika ditanya kenapa? Mungkin karena aku juga sama bodohnya dengan Victor. Aku pun memiliki penyesalan dalam hidupku, dan rasa bersalah yang begitu besar pada Helen dan putriku. Jadi aku tidak bisa memberikan kata-kata penghiburan yang baik untuknya.
"Ngomong-ngomong, aku sudah menemukan–" Ucapnya terpotong saat Ian menghalangi langkah kami tepat di depan gerbang akademi.
"Aster? Dia ...." Gumamku saat menyadari putriku tidak ada disana.
"Dia sudah masuk bersama Kalea, Carel dan Teo." Jawab Ian setelah menghela napas beratnya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kusut sekali ...." Tanya Victor menarik perhatianku untuk melihat ekspresi Ian, seperti yang dikatakan Victor. Wajahnya sangat kusut.
"Dia terus mencarimu belakangan ini, kau sangat sibuk ya?" Jawabnya sambil menunjuk seseorang dibelakangnya.
Lalu ku lihat sosok Albert berdiri dibelakang Ian sambil tersenyum tipis saat bertemu tatap denganku.
"Albert?" Gumamku bersamaan dengan Victor.
"Kenapa kau membawanya kesini?" Tanya Victor tak mengerti, begitupun denganku.
"Aku bertemu dengannya di parkiran. Lagipula dia datang untuk mengantar putranya." Jelas Ian.
"Jadi kenapa dia mencariku?" Tanyaku tak ingin banyak berbasa-basi lagi.
***
-Aster-
Upacara penyambutan siswa baru telah selesai, dengan tertib semua orang keluar dari dalam aula dan pergi ke kelas mereka masing-masing, begitupun dengan siswa baru. Kami dibimbing oleh anggota osis menuju kelas kami.
Karena Kalea mengambil jurusan berbeda denganku, maka aku pergi sendiri bersama siswa-siswi yang tidak ku kenal. Carel pun pergi ke barisan lain yang sesuai dengan jurusan yang dia ambil.
Sesampainya di depan kelas, dua kakak kelas yang membimbing kami itu langsung pergi setelah memberikan sedikit arahan pada kami mengenai jadwal hari ini.
"Mereka sangat keren ya," ucap seseorang didepanku memperhatikan kepergian dua kakak kelas itu.
Lalu secara perlahan kaki ku mulai melangkah mengikuti orang-orang yang sudah masuk kedalam kelas dengan tertib.
Kata kakak kelas tadi, kami bebas memilih tempat duduk kami kan? Batinku mulai berjalan kesisi paling dalam kelas untuk memilih tempat duduk ku sendiri.
"Aster!" Suara Nadin mengejutkanku, terutama saat tangannya meraih telapak tangan kananku dengan semangat.
"Nadin?" Gumamku merasa bingung dengan kehadirannya, ku pikir dia tidak satu kelas denganku karena aku tidak melihatnya dalam barisan tadi.
"Satu bangku yuk." Ucapnya sambil unjuk gigi.
"Hee... kau bilang mau satu bangku denganku tadi? Apa itu bohong?" Tutur seseorang dibelakangnya.
Ku lihat dia sudah mencebikan bibirnya dengan tatapan berkaca-kacanya. Postur tubuhnya pun terlihat tinggi dengan rambut hitam sebahunya yang ditata rapi dengan poni panjangnya yang disalipkan ke belakang telinganya.
... cantik, seperti model. Batinku merasa terpukau dengan sosok perempuan itu.
"Apa aku pernah mengatakan itu?" Tanya Nadin terlihat mengingat-ingat.
"Kau mengatakannya beberapa detik lalu loh." Jawab perempuan itu semakin merengek.
"Iya kah? Hhaha, sepertinya aku lupa. Maaf ya Tia." Jelasnya sambil tertawa geli memperhatikan ekspresi perempuan yang dia panggil Tia itu.
"Anu Nadin–" Ucapku ingin melepaskan tangannya, tapi dia menggenggamnya dengan erat.
"Ya?" Tanyanya sambil tersenyum tipis.
"Tanganmu, bisa kau lepas?" Tanyaku berusaha berbicara sebaik mungkin.
"Ah, ya. Maaf hehe ... kau mau duduk disitu? Kalau begitu aku akan duduk disi–ni," Tuturnya sambil melepaskan tanganku sambil menoleh kebelakangnya saat aku akan duduk dibangku ku. Tapi ucapannya langsung terputus saat melihat seorang pria yang sudah mengisi bangku disampingku, "He–hey kau! Kenapa duduk disinu? Aku kan yang duluan–" Lanjutnya terlihat kesal.
"Duluan? Tidak tuh, aku sudah duduk disini sebelum kau berlari mendekati dia." Jawabnya sambil menunjuk kepadaku setelah aku duduk ditempatku, "benar kan?" Lanjutnya bertanya pada orang dibelakangnya.
"Ya, Sean sudah duduk lebih dulu sebelum kau berlari mendekati temanmu." Jawab orang itu membenarkan perkataan pria bernama Sean itu.
"Kau tinggal cari tempat duduk yang lain saja, kenapa berisik sekali?" Suara Teo membuatku menoleh kearah belakangku, dan ku lihat dia sudah tersenyum hangat padaku saat tatapan kami bertemu.
"Teo? Kau juga disini?" Tanyaku membalas senyuman hangatnya. Entah kenapa aku merasa sedikit tenang sekarang karena ada orang yang ku kenal. Padahal sebelumnya aku merasa takut.
"Tidak mau, aku mau dekat dengan Aster. Kau pindah saja ke belakang. Laki-laki harus mengalah pada perempuan kan?" Ocehnya tak mau mengalah.
"Aku akan mengalah kalau perempuan itu adik ku atau kekasihku. Tapi kau bukan siapa-siapa bagiku. Jadi kenapa aku harus mengalah padamu?" Jawab Sean dengan sorot mata sinisnya.
"Kau!" Geram Nadin terlihat lebih kesal dari sebelumnya.
"Sudahlah Nadin, kita isi bangku kosong dibelakang saja." Bujuk Tia sambil meraih tangan Nadin, namun dengan cepat dia menepis tangan Tia begitu saja.
Dari dulu Nadin memang kasar ya? Ku kira perubahan tubuhnya juga berlaku dengan perubahan sifatnya. Ternyata tidak ya? Batinku tak ingin mengingat masa laluku lagi, terutama saat Nadin mendorongku dan membuatku terluka.
"Carel mengajak kita makan siang bersama setelah kelas selesai. Kau mau pergi?" Tanya Teo berusaha mengalihkan perhatianku dari keributan disampingku.
"Benarkah?" Tanyaku langsung mendapatkan anggukan cepat dari Teo, "... padahal aku ingin berkeliling dulu." Lanjutku bergumam sambil memegangi dagu ku, membayangkan seluas apa akademi ini dan hal apa saja yang bisa ku temukan di akademi saat berkeliling nanti. Dan lagi aku sangat penasaran dengan perpustakaannya.
Ku harap perpustakaannya sangat luas dan– Batinku tak bisa melanjutkan dugaanku saat menyadari tatapan Teo yang menggangguku.
"Kenapa?" Tanyaku berkeringat dingin saat melihat senyum tipisnya.
"Kau,"
"Ya?"
"Mau berkeliling untuk mencari perpustakaan kan?" Lanjutnya membuatku terkejut saat dia berhasil menebak isi pikiranku.
"Ba–bagaimana kau bisa tau?" Tanyaku tak bisa mengendalikan ekspresi terkejutku.
"Kau kan kutu buku, dan lagi dulu aku sering melihatmu di perpustakaan sekolah. Kau selalu duduk di tempat-tempat sempit yang tak terlihat, seperti sengaja menyembunyikan dirimu dari–" Jelas Teo terpotong saat suara Sean memanggilku dengan lantang.
Apa? Batinku bertanya-tanya saat melihat Sean, Tia dan Nadin menatapku dengan serius.
"Kau, apa kau mau duduk disamping dia?" Tanyanya sambil menunjuk Nadin.
"Itu ...." Gumamku tak bisa melepaskan pandanganku dari Nadin yang terlihat penuh harap, sedangkan Tia memasang ekspresi bertentangan meskipun matanya masih terlihat berkaca-kaca. Sepertinya Tia sangat ingin duduk bersebelahan dengan Nadin.
"Katakan saja, kau tidak perlu takut ya kan Nadin?" Ucap Teo membuatku melirik kearahnya yang sedang memperhatikan Nadin dengan senyum manisnya yang sudah lama tidak ku lihat. Senyuman yang selalu dibenci oleh Carel dan selalu ku hindari karena sangat mengerikan.
Apa dia sedang memberikan ancaman dengan senyumannya? Ekspresinya yang seperti itu kan selalu dia tunjukan saat dia sedang kesal. Apa dia kesal karena obrolannya denganku di potong? Batinku bertanya-tanya.
"Kau mau duduk dekatku kan Aster?" Tanya Nadin mengabaikan pertanyaan Teo.
Mereka memang mengerikan ya? Tak mau mengalah satu sama lain. Disaat seperti ini kenapa Kalea tidak ada didekatku, aku jadi tidak memiliki alasan untuk menolak Nadin kan? Batinku sambil tersenyum tipis pada Nadin.
Tidak, aku harus bisa tegas! Aku harus bisa mengatakan tidak. Kalau seperti ini terus, tidak akan ada yang berubah padaku. Sebelum berpisah dengan Kalea, dia mengatakan padaku untuk bisa bersikap tegas dan berani mengatakan tidak jika aku tidak mau melakukan hal yang tidak ku inginkan. Aku–harus bisa bersikap tegas pada diriku sendiri. Jika Kalea saja bisa berubah, aku ... aku juga harus bisa. Aku tidak mau terus-terusan dilindungi oleh Carel dan Teo. Aku juga tidak mau Nadin terus-terusan mengganggu Kalea. Aku, aku juga ingin melindungi Kalea. Lanjutku dalam hati.
"Aster?" Suara Nadin menyadarkanku dari lamunan panjangku.
"... tidak mau." Jawabku setelah menghela napas panjang.
"Apa?" Tanya Nadin terlihat sangat terkejut dengan jawaban yang ku berikan.
"Maaf Nadin. Aku tidak mau duduk berdekatan dengan orang yang belum pernah meminta maaf padaku atas apa yang pernah dia lakukan padaku dimasa lalu." Jelasku merasakan sudut bibirku tertarik keatas, dan tanpa sadar aku sudah tersenyum manis padanya. Meniru ekspresi yang sering ditunjukan oleh Teo saat sedang kesal.
"Ap–apa? Apa maksudmu? Minta maaf? Aku? Aku minta maaf? Pada siapa?" Tanyanya dengan ekspresi pura-pura lupanya itu.
"Padaku."
"Kenapa?"
"Mau ku katakan didepan semua orang?" Tanyaku sambil mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan. Bahkan bisikan beberapa anak perempuan mulai memenuhi ruangan sekarang.
"Kenapa? Ada masalah apa mereka?"
"Yang berdiri itu Nadin kan? Dan yang rambut hitam itu Aster?"
"Ya, ku pikir mereka berteman baik. Tapi kelihatannya Aster tidak suka dengan Nadin."
"Tadi dia bilang tidak mau duduk dekat Nadin karena dia tidak pernah meminta maaf padanya kan?"
"Ya, kira-kira kenapa Nadin harus minta maaf? Memangnya apa yang dulu dia lakukan pada Aster?"
Begitulah bisikan orang-orang yang terdengar olehku, ku lihat Nadin tak berkutik ditempatnya dengan telapak tangan yang sudah mengepal disamping tubuhnya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Ayo pergi Tia." Ucapnya segera berlalu dari hadapanku dan pergi kearah bangku kosong dibelakang kelas bersama dengan Tia.
"Hah~" Gumamku sambil menghela napas lega, bahkan kedua tanganku sudah bergetar hebat saking takutnya. Padahal tadi aku bersikap sangat berani, kenapa sekarang malah gemetaran begini? Lanjutku dalam hati sambil tersenyum miris.
"Hhaha, ternyata aku masih lemah ya?" Lanjutku bergumam mentertawakan diriku sendiri yang selemah ini saat berhadapan dengan orang yang ku takuti dimasa lalu.
.
.
.
Thanks for reading...