Aster Veren

Aster Veren
Episode 159




-Mila-


Ku buka pintu ruang kerja tuan Ansel dengan perlahan, berharap tidak mengeluarkan suara deritan yang bisa mengganggu tidur nona.


Ya, seharusnya sekarang nona sudah terlelap karena obat tidur yang ku masukan ke dalam teh hijau kesukaan nona. Awalnya aku tidak mau membantu Hans, tapi setelah mendengar penjelasan Hans mengenai nona yang sibuk belakangan ini. Aku jadi mengerti.


Aku juga sering melihat lampu ruang kerja tuan Ansel masih menyala di subuh hari, itu berarti nona tidak tidur semalaman kan? Dan lagi saat aku memandikan nona, ekspresi nona terlihat sangat lelah. Bahkan ada lingkaran hitam di bawah matanya.


Mau tak mau, aku yang ikut mengkhawatirkan kondisi nona jadi ikut-ikutan dalam rencana licik Hans untuk membuat nona beristirahat selama satu malam.


"Hans, nona sudah tidur." Ucapku membuat pria itu bergegas menghampiri nona Aster.


"Maafkan saya nona, saya terpaksa melakukan ini demi kebaikan nona." Tuturnya sambil memangku tubuh nona dan membawanya pergi ke kamar tidur nona.


***


"Bagaimana?" Tanyaku pada Hans yang sudah kembali dari kamar nona.


"Aman, sepertinya obat tidur yang kau campurkan bekerja dengan sangat baik." Jawabnya sambil menarik kursi kosong dihadapannya. Lalu tangannya langsung meraih gelas kosong dan mengisinya dengan air.


"Syukurlah nona bisa istirahat juga, aku benar-benar khawatir jika nona sampai jatuh sakit juga." Tuturku sambil meremas celemek yang menghiasi tubuhku.


"Kita tidak akan menggunakan obat tidur lagi untuk kedepannya. Cukup sekali kita menggunakannya."


"Benar. Aku khawatir akan ada efek sampingnya jika nona terus meminumnya." Ucapku menyetujui perkataan Hans.


"Kita harus menjaga nona sebaik mungkin, jangan biarkan musuh keluarga Veren mendekati nona dan membahayakannya." Tutur Hans tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" Tanyaku tak mengerti dengan ucapannya, tidak! Bukannya tidak mengerti, hanya saja, aku merasa bingung dengan perubahan arah pembicaraan Hans yang tiba-tiba. Aku juga jadi berpikiran buruk tanpa sebab saat mendengar ucapannya. Dan itu membuatku semakin membenci diriku yang memikirkan hal buruk akan terjadi pada nona jika kami lengah.


***


-Aster-


Ku buka mataku perlahan saat merasakan udara dingin menyapu wajahku, dan dengan cepat aku bangkit dari posisi terbaring ku saat menyadari aku berada di dalam kamarku.


"Bukankah semalam aku berada di ruang kerja ayah?" Gumamku memperhatikan sekeliling, "kenapa tiba-tiba aku ada di kamar?" Lanjutku merasa bingung sendiri.


"Semalam nona ketiduran saat sedang bekerja. Lalu saya meminta Hans untuk memindahkan nona ke kamar nona." Jelas Mila tiba-tiba keluar dari dalam kamar mandiku.


"Air mandinya sudah siap nona, mau saya bantu–"


"Ah, tidak. Hari ini aku mau mandi sendiri." Tolak ku segera bangkit dari atas tempat tidurku, dan melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi.


"Kalau begitu saya akan menyiapkan sarapan pagi untuk nona. Saya pamit undur diri dulu." Tuturnya sebelum pergi dari kamarku.


Ku hela napas panjang sambil menutup pintu kamar mandiku, "benarkah aku ketiduran?" Gumamku masih tidak yakin dengan ucapan kak Mila, bukannya apa-apa. Aku hanya, padahal belakangan ini aku sangat sulit tidur dan karena hal itu, aku memilih untuk bekerja. Mencoba menyibukkan diri sampai benar-benar kelelahan dan pergi tidur.


Tapi semalam, aku ketiduran? Rasanya sedikit ... lupakan! Mari pergi mandi dan bersiap untuk sarapan sebelum melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.


***


"Nona, untuk pertemuan besok–" tutur kak Mila segera ku potong saat mengingat pekerjaan paling merepotkan.


"Untuk camilannya mau saya buatkan apa?" Lanjut kak Mila membuatku menghela napas singkat.


"Buatkan makanan ringan saja, tunggu! Hem ... sepertinya puding, fudge, cookies, donat dan es krim bagus juga untuk pertemuan besok pagi." Tuturku memikirkan makanan manis yang terpikirkan olehku.


"Kalau begitu akan saya siapkan." Ucapnya sambil menunjukan senyuman hangatnya. Entah kenapa aku jadi merasa terbebani saat melihat ekspresi berseri-serinya kak Mila.


Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa mendadak ekspresinya berubah saat mendengar aku menyebutkan nama makanan yang harus dia siapkan?


"Putri tuan Robert sudah mengofirmasi akan hadir pada pertemuan besok nona, nona Rachel, nona Jane, dan nona Shofi juga sudah meberikan konfirmasinya." Tutur Hans yang sejak tadi berdiri didekatku dengan sekumpulan surat ditangannya.


"Baiklah, kalau begitu tolong siapkan makanan yang cukup untuk pertemuan besok ya kak Mila."


"Baik nona."


Ku hela napas dalam ku untuk yang kesekian kalinya saat mendengar nama orang-orang yang akan hadir di pertemuan besok.


Sebenarnya bukan pertemuan penting, hanya pertemuan biasa yang biasa dilakukan untuk mengakrabkan diri. Apalagi mereka semua adalah putri dari orang-orang yang bekerjasama dengan ayah.


Aku juga tidak tau mereka datang dengan niat sendiri atau paksaan dari orang tua mereka. Tapi aku tidak perduli, karena saat ini aku bisa memahami niatan mereka. Para orang tua itu pasti ingin tetap menjalin kerjasama dengan keluarga Veren meski penerusnya nanti sudah berganti. Jadi mereka harus tetap berhubungan baik dengan keluarga Veren, khususnya diriku kan?


"... di zaman modern ini ternyata mereka masih suka bertukar pesan dengan surat ya? Bukankah lebih efektif jika memberikan kabar dengan cara menelpon?" Gumamku sebelum fokusku kembali teralihkan pada berkas-berkas dihadapanku.


***


"Akhirnya aku bisa bersantai juga ...," gumamku sambil menghela napas lega, lalu ku regangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku dan pegal.


"Apa masih ada pekerjaan yang harus ku tangani?" Lanjutku sambil menoleh ke arah Hans berdiri.


"Untuk hari ini tidak ada nona." Jawabnya sambil memeriksa jadwalku dibuku catatannya.


"Baiklah, kalau begitu aku mau pergi ke rumah kaca. Aku ingin sedikit bersantai disana, kalau ada yang mencariku tolak saja permohonannya." Tuturku sambil bangkit dari posisi duduk ku dan bersiap untuk pergi.


"Baik nona."


Hari ini juga tidak ada kelas, jadi aku bisa sedikit bersantai. Batinku sambil melangkahkan kaki ku menuju rumah kaca, tempat dimana bunga Aster pemberian nenek tinggal disana.


"Ah benar. Tahun ini aku belum mengunjungi makam Ibu dan nenek karena ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Padahal setiap tahun kami tidak pernah terlambat pergi, tapi tahun ini? Sepertinya aku akan pergi sendiri ...," lanjutku bergumam.


Sesampainya di rumah kaca, aku langsung berjalan menuju tempat duduk yang memang sengaja disiapkan di sana sejak lama. Tempat dimana aku dan Carel menghabiskan banyak waktu bersama, tempat dimana aku dan nenek saling berbagi rahasia, dan tempat dimana aku dan ayah menghabiskan waktu tea time pagi kami.


Tiba-tiba jadi teringat dengan anak itu, apa dia baik-baik saja ya? Dia tidak berulah kan? Nilainya baik-baik saja kan? Batinku bertanya-tanya dengan kehidupan Carel di akademi.


Setelah pertemuan kami di restoran malam itu, Carel tidak pernah menghubungiku atau mengirimkan pesan padaku lagi. Dan entah kenapa aku merasa gelisah sekarang.


Sepertinya dia benar-benar marah besar padaku, dan kali ini aku merasa benar-benar akan kehilangan Carel. batinku kembali menghela napas.


.


.


.


Thanks for reading...