Aster Veren

Aster Veren
Episode 228




-Ansel-


Ku lirik jam dinding yang sudah menunjukan waktu pukul 03:30 sore, dan Aster bersama Khael belum juga kembali dari luar.


Saat aku menghubungi Hans, dia hanya bilang akan kembali beberapa menit lagi karena tidak bisa mengganggu waktu bersenang-senang Aster dan Khael.


Harus ku akui kalau kedatangan Kalea bersama teman-teman yang lain sangat membantuku, apalagi belakangan ini Aster terlihat semakin bosan meski bersama dengan Carel dan Khael.


... mungkinkah karena aku tidak mengizinkannya pergi menemui anak-anak di wilayah Albert? Batinku mengingat acara makan pagiku dengan Aster dan Khael.


"Aku ingin hubunganku dan putriku segera membaik seperti dulu lagi. Tapi jika aku bertindak terlalu berlebihan, dia pasti tidak akan menyukainya kan?" Lanjutku bergumam sambil memperhatikan halaman rumah dari lantai atas, dibalik jendela ruang kerjaku. Cuacanya tampak cerah meski matahari sudah turun dan hampir pergi. Tapi cahaya yang masih tersisa tampak hangat.


Aku dan Arsel sudah sepakat untuk kembali pada pekerjaan kami masing-masing setelah bertemu dengan Albert kemarin malam. Dan sekarang anak itu sudah kembali disibukan dengan pekerjaannya.


Lalu, aku juga harus mulai pergi ke kediaman Alterio untuk melaporkan kondisiku sekarang. Jika diizinkan, mungkin Ian akan mempekerjakan ku kembali dan menarik Victor keluar dari posisinya. Tapi aku tidak terlalu berharap banyak padanya, bisa saja dia akan memasangkannya denganku untuk menyelesaikan beberapa masalah yang mengganggunya.


"Eric!" Seruku sambil melirik ke arahnya duduk, dia terlihat begitu fokus dengan pekerjaannya hingga aku merasa ragu untuk mengganggunya.


Tapi, perasaan ragu itu hanya bertahan sebentar saat aku melihat waktu sudah kembali berlalu tapi anak-anak itu masih belum juga kembali?


"Eric!" Panggilku lagi, lebih keras dari sebelumnya tapi juga tidak lebih rendah dari biasanya.


"Ya—iya tuan?" Responnya sambil menoleh ke arahku dan mulai mengabaikan berkas-berkas di hadapannya.


"Susul anak-anak itu dan bawa mereka semua pulang. Sudah waktunya Aster beristirahat dan melakukan pemeriksaan rutin." Titahku membuatnya bergegas bangkit dari posisi duduknya.


"Baik, akan saya laksanakan." Ucapnya sebelum keluar dari ruang kerjaku.


Kalau dipikir-pikir, kami berdua belum pernah berkunjung ke makam Helen lagi ya? Batinku tiba-tiba mengingat mendiang istriku saat melihat langit sore yang tampak indah. Lalu beralih pada ingatan saat aku dan Aster pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya sebelum berkunjung ke rumah bi Siti dan tuan Zaenal, orang-orang yang sudah merawatnya sebelum bertemu dengan keluarga ku.


Semua kenangan di hari itu mulai memenuhi kepalaku sekarang, apalagi saat mengingat ekspresi bahagia Aster ketika aku mengambilkan beberapa buah jambu untuknya. Senyuman hangat dan kecupan singkat di pipiku saat itu, rasanya masih seperti mimpi bagiku.


Wajahnya saat itu dan saat ini benar-benar berbeda. Aku bahkan hampir tidak mengenalinya sejak dia menunjukan ekspresi seperti itu pada Albert kemarin malam.


Pantas saja Arsel merasa senang saat menerima laporan dari Hans kalau keponakannya sudah bersikap seperti layaknya orang Veren.


"Dia benar-benar sudah belajar banyak hal ya? Lalu karenaku, hidupnya jadi berantakan ...," Gumamku merasa sangat menyesal dengan diriku sendiri.


***


Ku langkahkan kedua kaki ku menuju ruang makan setelah Eric menjemputku. Lalu ku lihat, semua orang sudah menungguku di sana. Bahkan anak Alterio itu masih berada di kediamanku.


Apa dia tidak berpikir untuk pulang? Sudah berapa hari dia menginap di rumah ku?


"Selamat malam semuanya." Ucapku menyapa mereka semua.


"Malam paman!" Seru Khael dengan ekspresi riangnya, seperti biasanya.


"Selamat malam ayah." Lanjut Aster sedikit menundukkan kepalanya beberapa saat bertemu tatap denganku.


"Ya, malam pak tua." Susul Carel dengan gaya bicaranya yang menyebalkan, seperti biasanya juga.


"Selamat malam tuan Veren." Timpal ketiga anak yang ku undang karena Aster ingin bertemu dengan mereka, secara serempak mereka membalas sapaanku.


"Duduklah, dan nikmati makan malam kalian." Ucapku membuat mereka semua segera menduduki tempat mereka masing-masing.


Tak lama kemudian Hana dan Mila segera menghidangkan menu makan malam kami, mulai dari ayam goreng, sup, steak sapi, salad dan beberapa makanan berat lainnya. Tidak lupa mereka juga sudah menyiapkan makanan pencuci mulut, mulai dari buah-buahan dan puding kesukaan Aster.


"Bagaimana hari kalian di kediaman Veren. Apa kalian sudah bisa beradaptasi?" Tuturku berusaha menghilangkan suasana hening yang terasa sangat menggangguku.


"Berkat anda, kami bisa beradaptasi dengan baik. Lalu orang-orang di rumah ini juga sangat ramah." Jelas anak perempuan di samping Carel dengan senyuman tipisnya.


"Benar. Terima kasih untuk kenyamanan yang sudah anda berikan tuan." Lanjut pria yang duduk disamping anak kecil itu.


"Bukan masalah. Untuk kedepannya kalian bisa memberitauku jika ada hal yang kalian butuhkan."


"Terima kasih, tapi sepertinya kami tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Karena kami harus pergi ke sekolah." Tutur perempuan itu membuatku sedikit terkejut.


Karena mendengar kata sekolah, aku jadi teringat dengan pendidikan Aster yang terhenti karena masalahku. Apa dia tidak melanjutkan pendidikannya saat tinggal bersama dengan Tesar?


"Ah benar juga." Ucap Aster terlihat sedih karena mereka tidak bisa tinggal lebih lama lagi.


"Lalu kapan kalian akan kembali?"


"Kami sudah memutuskan akan kembali besok lusa." Jawab perempuan itu lagi lengkap dengan senyuman tipisnya.


"Kalau begitu, mari kita habiskan banyak waktu yang menyenangkan sebelum kalian pergi." Tutur Aster terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.


"Hal menyenangkan ya?" Gumam Carel menarik perhatianku.


Ku lihat anak itu sudah membuat ekspresi seriusnya, menatap makanan dihadapannya, terlihat sangat jelas kalau dia sedang berpikir dengan keras. Lalu tak lama kemudian senyuman lebarnya merekah, sepertinya dia sudah mendapatkan ide yang menarik. Meski aku tidak tau, apa yang dia rencakan. Tapi aku sangat yakin, jika itu demi Aster, sepertinya hal apapun akan dia lakukan dengan sepenuh hatinya.


"Berhentilah memasang ekspresi seperti itu Carel bodoh!" Seru Khael membuatku terkejut, begitupun dengan Carel dan yang lainnya.


Dengan serempak semua orang langsung melihat ke arah Carel. Dan anak itu, dia dengan cepat mengubah ekspresinya dan menatap tajam pada sosok anak kecil yang sudah menyinggung perasaannya.


"Pft ...," gumamku berusaha menahan tawaku, entah kenapa melihat ekspresi mereka berdua membuatku geli. Baik Khael dan Carel, keduanya tidak ada yang mau mengalah. Padahal seingatku, dulu Khael sangat takut pada Carel. Tapi entah sejak kapan, anak ini jadi sangat berani padanya.


"Ayah?" Ucap Aster membuatku terkejut.


"Ekhem! Kalian berdua berhentilah dan lanjutkan makan malam kalian." Dehemku setelah berhasil menenangkan diriku.


"Dia yang mulai!" Seru Carel setelah mendengus sebal.


"Kau yang mulai." Timpal Khael tidak ingin kalah.


"Apa?"


"Ya! Kau yang mulai memasang ekspresi menjijikan seperti itu."


"Me—menjijikan?" Gumamku tidak mempercayai indra pendengaranku. Bagaimana mungkin anak kecil sepertinya bisa mengatakan hal seperti itu pada orang yang lebih dewasa? Apa Arsel yang mengajarinya?


"Hah!" Geram Carel berhasil membuat Khael bungkam. Sepertinya kali ini dia berhasil membuat keberanian Khael menciut.


.


.


.


Thanks for reading...