
-Ansel-
Beberapa hari sebelumnya, aku meminta Rigel untuk menjemput Claretta dan mengantarnya ke rumahku karena aku malas mendatangi kediamannya.
Selain itu aku sengaja memanggilnya karena ingin memperlihatkan kondisi Tesar padanya.
Wajahnya benar-benar berubah menjadi pucat pasi saat mendapati sosok Tesar yang babak belur tersungkur dilantai, dan matanya beralih menatapku dengan penuh tanya.
"Ah, kau sudah datang." Ucapku angkat bicara sambil berdiri tak jauh dari tempat Tesar tersungkur.
"A–ada apa ini Ansel?" Tanyanya terlihat gemetaran dan melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Ada apa?" Gumamku bertanya balik padanya, "kau yakin bertanya padaku?" Lanjutku membuat langkahnya terhenti tepat didekat Tesar.
"Hey, katakan padanya!" Titahku melirik kearah Tesar yang berusaha untuk bangkit dari posisi tengkurapnya.
"Ka–kau memintaku untuk mencelakai anak itu ...." Tuturnya setelah berhasil mengambil sikap duduk senyamannya sambil memegangi perutnya yang sempat ku tendang saat dia berusaha melawanku sebelum Claretta datang.
"Ha–ha? A–apa yang kau katakan?" Tanya Claretta terlihat gugup setengah panik, "aku–aku tidak pernah memintamu untuk mencelakai Aster, jangan sembarangan menuduh!" Lanjutnya.
"Apa yang kau katakan? Bukankah kita sudah sepakat untuk menjauhkan anak itu dari Ansel? Kau sendiri yang bilang ingin menikah dengan Ansel supaya putrimu bisa menjadi penerus keluarga Veren kan?!" Jelas Tesar dengan suara naik turunnya, mencoba untuk menahan emosinya sebaik mungkin.
"Aku tidak pernah bilang begitu, jangan asal menuduh! Kau yang bilang ingin balas dendam pada Ansel melalui anak itu kan?" Ucap Claretta nyaris berteriak.
"Dan kau memintaku untuk mencelakainya!" Tegasnya menatap tajam mata Claretta.
Hah~ mereka benar-benar ... membuatku kesal! Batinku merasa kesal sambil menghela napas kasar saat mendengar perdebatan bodoh mereka yang saling menuduh satu sama lain.
Lalu ku lihat Tesar merogoh saku celananya dan mengeluarkan heandphonenya. Detik berikutnya aku mendengar suara Claretta dan ibunya keluar dari heandphonenya.
"... Kau yakin Ansel bilang begitu?"
"Ya, dia bilang ibunya akan mencabut nama Veren darinya kalau dia sampai menikah denganku ... kalau begini kita tidak akan bisa menjadikan Kalea sebagai penerus keluarga Veren, sekarang bagaimana?"
"Hah~ sepertinya kita harus memulai dari Marta dulu."
"Apa maksud ibu?"
"Kita singkirkan orang itu dulu, dengan begitu kau bisa menikah dengan Ansel tanpa ada yang menghalangi, nama Veren juga bisa dimiliki oleh Kalea dan dirimu nantinya."
"Si–singkirkan bagaimana? Ibu tidak berniat mencelakai tante Marta kan?"
"Kau!!" Bentak Claretta pada Tesar bersamaan dengan rekaman suara yang sudah habis.
Wanita ini!! Batinku merasa tambah kesal padanya.
"Pada akhirnya ucapanmu berkebalikan dengan apa yang ku dengar barusan. Kau bilang hanya ingin menikah denganku demi Kalea tak perduli nama Veren ada padaku atau tidak. Tapi ternyata kau sangat menginginkan nama Veren dariku dan berniat menyingkirkan ibuku ...." Tuturku membuatnya terkejut.
Mungkin sebelumnya dia sempat melupakan kehadiranku disampingnya sampai dia meluapkan emosinya dengan membentak Tesar seperti itu.
"Itu–itu semua–" Ucapnya berusaha menjelaskan namun segera ku potong ucapannya.
"Tidak benar?" Lanjutku menatapnya tajam bersamaan dengan air matanya yang menetes.
"Dia–suara itu, itu pasti bukan suaraku! Dia pasti memalsukan rekaman itu untuk menjebak ku." Tuturnya masih bersikeras membela dirinya.
"... mau sampai kapan kau berbohong padaku?" Tanyaku disela isak tangisnya.
"He?" Gumamnya terlihat bingung.
"Kau pikir selama ini aku tidak mengawasimu?" Tanyaku semakin tak ingin melepaskan pandanganku darinya, entah kenapa aku malah menikmati rasa takut yang tergambar diwajahnya itu.
"Kau ... memata-mataiku?" Tanyanya setelah membisu selama beberapa detik.
"Aku? Untuk apa aku memata-mataimu?" Jawabku balik bertanya.
"Aku hanya mendapat bantuan dari orang tak terduga." Jelasku segera melirik kearah Rigel yang memperhatikan kami di dekat pintu sejak tadi.
"Tuan?" Ucapnya segera memasukan heandphonenya kedalam saku jas hitamnya, aku memintanya untuk merekam pembicaraan kami secara diam-diam sebagai barang bukti.
"Orang tak terduga?" Gumamnya semakin kebingungan.
"Rigel bawa mereka ke kantor polisi!" Titahku membuat pria itu berjalan cepat kearah Tesar yang sudah membisu mendengarkan pembicaraanku dengan Claretta.
"Tidak–dengarkan aku dulu Ansel! Semua yang dikatakan orang itu tidak benar, semuanya bohong! Ansel–" Tuturnya segera ku hentikan dengan tatapan tajamku, sebenarnya aku sangat ingin memberinya pelajaran seperti yang ku lakukan pada Tesar. Tapi aku tidak bisa menganiaya seorang wanita.
"Ka–kantor polisi? Kenapa?" Tanya Claretta terlihat begitu terkejut saat mendengar ucapanku sebelumnya.
"Kenapa?" Tanyaku penuh penekanan mencoba untuk tetap sabar dengan menahan emosiku sendiri.
"Aku tidak salah apa-apa Ansel!" Lanjutnya sambil meraih tanganku dan memasang ekspresi memelasnya, sementara Tesar terlihat pasrah ditangan Rigel.
"Hah~ sepertinya kau sudah menjadi ayah yang baik untuk putrimu ya ...." Gumam Tesar membuatku menoleh kearahnya yang sedang menunduk memperhatikan bercak darahnya dilantai.
Apa yang dia katakan? Batinku bertanya-tanya bersamaan dengan suara sirine mobil polisi yang memasuki halaman rumahku.
"Ansel!" Ucap Claretta membuatku kembali menatapnya.
"Kau bercanda kan? Kau tidak akan memasukanku ke penjara kan? Aku tidak melakukan apapun–" Lanjutnya mengoceh masih memegangi tanganku dengan erat.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Tanyaku sambil menepis tangannya dari tanganku.
"Tidak Ansel! Kalau aku masuk penjara ... Kalea, bagaimana dengan Kalea?" Ucapnya kembali meneteskan air mata.
Kalea ya ..., batinku merasa kasihan pada anak itu, biar bagaimanapun aku sudah lama mengenalnya. Dia pasti merasa sedih kalau tau ibunya dipenjara, dan saat dia tau aku yang menendang ibunya ke penjara, dia pasti membenciku.
Tapi aku tidak bisa membiarkan masalah ini begitu saja, kalau terus didiamkan mereka akan terus mengganggu Aster.
"Ansel!" Lirihnya yang sudah terduduk lemas dihadapanku.
"Kalea ... kau berikan saja dia pada Victor." Ucapku segera meninggalkannya di ruang tamu.
"Bagaimana bisa aku mempercayakan Kalea pada orang itu?" Teriaknya menghentikan langkahku, "kau tau kan dia orang seperti apa?" Lanjutnya bertanya.
"Ya. Sepertinya Victor sudah banyak berubah, aku sudah menemuinya belum lama ini. Dan orang tak terduga yang membantuku mengungkap jati dirimu adalah dia. Bawa mereka pergi Rigel!" Jelasku sebelum pergi ke kamarku.
"Ba–bagaimana bisa kau menemui Victor? Kau! Ansel!" Teriaknya terdengar samar dari dalam kamarku.
"Bagaimana bisa?" Gumamku sambil menghempaskan tubuhku pada tempat tidurku.
Victor yang kau bilang pria br*ngsek tak berperasaan itu sudah menodaimu kan? Tapi nyatanya dia dijebak olehmu lalu kau mendekatiku dan meminta perlindungan dariku.
"Sejak awal semuanya sudah kau rencanakan ya ...." Lanjutku bergumam saat mengingat pertemuan pertamaku dengan Claretta.
Victor bahkan tidak tau kalau Claretta mengandung anaknya ... yang dia tau Claretta menjebaknya dan melemparnya ke penjara atas tuduhan pelecehan terhadapnya. Lalu reputasi keluarga Victor pun hancur begitu saja. Batinku mengingat percakapanku dengan Victor.
"Sebenarnya ada dendam apa dia dengan keluargaku?" Ucapku bertanya-tanya saat mengingat rencana Claretta dan ibunya yang ku dengar dari rekaman Tesar tadi.
"Aku harus menanyakan semuanya pada ibu, dia pasti tau titik permasalahannya. Dan lagi ... kalau tidak salah sebelumnya keluarga Victor itu rekan kerja ayah kan? Tapi saat reputasinya hancur, ayah melepaskan kerjasamanya dengan keluarga itu," lanjutku sambil bangkit dari posisi terbaringku mencoba untuk mengingat semua rangkaian kejadian sebelum ayah melepaskan kerjasamanya dengan keluarga Victor.
Claretta menjebak Victor dan menghancurkan reputasi keluarga itu, lalu Claretta dan ibunya berencana menyingkirkan ibu dan Aster untuk merebut nama Veren dariku dengan menikahkan putrinya denganku dan menjadikan Kalea sebagai penerus keluarga Veren. Lalu setelah itu apa? Apa hanya sampai situ rencananya? Batinku tak bisa memikirkan apapun lagi.
.
.
.
Thanks for reading...