Aster Veren

Aster Veren
Episode 155




-Carel-


"... jadi apa yang sedang kalian sembunyikan dariku?" Tanyaku tak bisa menahan rasa penasaranku lebih lama lagi.


Ku lihat Aster menghela napas dalam sebelum menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang didudukinya. Lalu manik ungunya menatapku dengan dingin, terlihat sangat asing. Apa benar dia Aster yang ku kenal?


"Apa yang membuatmu penasaran? Kehadiranku ke kediaman Alterio? Atau waktu liburanku di Singapura? Atau berhentinya aku dari akademi? Pilih salah satu, karena aku tidak akan menjawab semuanya." Tanyanya membuatku tersentak dengan ucapannya itu.


"Nona ...," gumam Hans sedikit melirik pada sosok Aster yang duduk disampingnya, lalu tak lama kemudian dua orang pelayan datang menghidangkan makanan yang dipesan oleh Aster.


"Terima kasih." Ucap Aster kepada kedua pelayan itu, lalu mereka pergi dari hadapan kami setelah menganggukan kepala dan tersenyum tipis pada Aster.


"Beritahu aku semuanya!" Seruku membuatnya mengurungkan niat untuk meraih gelas minumnya.


"Aku memberikanmu pilihan, apa kau tidak bisa memilih Carel?" Tanyanya terdengar kesal.


"Apa kau tidak tau kalau aku membutuhkanmu? Kenapa kau tidak ada disana? Apa aku tidak berarti untukmu? Apa kau ... kau bahkan tidak memberikan ucapan terakhirmu pada ibuku. Kau–"


"... untuk apa aku di sana? Kau kan memiliki Lusy yang bisa menghiburmu ju–" ucapnya memotong ucapanku, dan dengan cepat ku potong ucapannya.


"Aku membutuhkanmu! Bukan Lusy!" Seruku sedikit menaikan nada bicaraku sambil mengepalkan kedua tanganku seerat mungkin, mencoba menahan luapan emosiku yang sudah mencapai puncaknya.


"Kau bahkan tidak meminta maaf padaku untuk kejadian di hari itu, lalu kau bersikap tidak perduli padaku disaat aku membutuhkanmu. Aku–" Lanjutku kembali terhenti saat Aster memotong ucapanku lagi.


"Maaf."


"Ha–hah?"


"Ku bilang maaf, kau ingin aku meminta maaf kan?" Tanyanya membuatku melongo saat melihat ekspresi dinginnya.


"Sebenarnya ... sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu dalam waktu singkat ini?" Gumamku tak bisa mempercayai sosok Aster yang terlihat asing di mataku sekarang.


"Apa tidak ada yang mau kau katakan lagi? Kalau tidak ada, kau boleh pergi sekarang. Saat ini aku ingin makan dengan tenang." Tuturnya kembali mengejutkanku, bisa-bisanya dia mengusirku. Padahal selama ini dia tidak pernah melakukan hal ini padaku.


"Hans!" Serunya benar-benar membuatku kesal, dengan kuat ku gebrak meja dihadapanku sambil bangkit dari posisi duduk ku, menatap lekat manik ungu yang terlihat dingin itu.


"Aku bisa pergi sendiri!" Ucapku saat Hans berniat mengantarku pergi, "Ayo Teo!" Lanjutku sambil melangkahkan kaki ku meninggalkan restoran itu.


***


-Teo-


"Kau yakin tidak mau menjelaskan semuanya pada anak itu?" Tanyaku memperhatikan punggung Carel yang semakin menjauh, lalu kembali beralih pada sosok Aster yang terlihat menyedihkan.


"Ya, tolong rahasiakan semuanya. Saat ini, aku harus fokus pada hal lain. Tolong jaga Carel untuk ku." Tuturnya membuatku mengepalkan kedua tanganku dengan kesal.


"Lakukan saja sendiri. Jangan membebaniku dengan anak itu." Ucapku sambil berdiri setelah menghela napas dalam untuk meredakan emosiku.


"Jika bisa, sudah ku lakukan tanpa kau minta." Jelasnya sambil menunjukan senyuman mirisnya yang berhasil membuatku terkejut.


Sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan sekarang Aster? Batinku bertanya-tanya dengan perubahan sikapnya.


"Mari saya antar tuan." Ucap Hans membuatku mendengus sebal.


"Aku bisa sendiri!" Seru ku sambil pergi meninggalkan mereka, tapi Hans malah mengikutiku dan membiarkan Aster makan sendirian di mejanya.


"Kenapa kau mengikutiku? Sudah ku bilang aku bisa sen–"


"Kau pikir Carel tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya? Baru-baru ini dia ditinggalkan ibunya, lalu Aster bersikap kekanakan dengan menyembunyikan fakta soal kepergiannya ke rumah sakit dan kedatangannya ke kediaman Alterio? Tidakah dia berpikir untuk melembut sedikit?" Tuturku berusaha untuk berbicara sebaik mungkin.


"Saya tau, tapi nona ... saat ini kondisi beliau juga sedang tidak baik-baik saja. Setelah kembali dari Singapura, nona lebih banyak melamun sampai lupa makan. Lalu tiba-tiba nona harus berhenti dari akademi untuk mengurus perusahaan tuan Ansel disini. Pasti berat bagi nona untuk berpisah dengan teman-teman dekatnya di akademi." Jelasnya panjang lebar, tidak membuatku bersimpati.


"Aku tidak perduli. Yang ku tau, seharusnya dia tidak perlu bersikap seperti itu pada Carel." Dengusku bergegas pergi dari depan restoran, meninggalkan Hans disana.


***


"Ck, kenapa headphonenya harus tertinggal disana?" Decak ku kembali ke restoran tempat Aster makan tadi.


Sebenarnya aku enggan kembali ke sana, tapi mau bagaimana lagi. Anak menyebalkan itu memintaku untuk mengambilkan headphonenya yang tertinggal di sana. Dan membawa heandphone ku pergi bersamanya. Ya, dia kembali ke akademi tanpa diriku.


Kenapa juga dia mengeluarkan heandphonenya jika tidak dipakai? Merepotkan. Gerutuku kesal.


Ku hentikan langkahku saat melihat Aster dan Hans keluar dari dalam restoran. Mataku tak bisa berpaling dari sosok Aster sekarang, bukan karena cantiknya saja. Itu hanya salah satu alasan aku memperhatikannya, alasan lainnya yang membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya adalah, tubuhnya yang terlihat berubah.


Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali kami bertemu, dan aku baru menyadarinya sekarang. Padahal tadi kami duduk berhadapan di dalam restoran, tapi kenapa aku tidak menyadarinya?


"Bagaimana kabar ayah sekarang?" Suara Aster menarik perhatianku.


Kabar? Apa sesuatu terjadi pada tuan Ansel? Batinku bertanya-tanya. Rasa penasaranku tiba-tiba memuncak.


"Kondisinya masih sama seperti terakhir kali–" jawab Hans terpotong.


"Sebenarnya kapan ayah akan bangun?" Gumam Aster membuatku terkejut.


Bangun?


"Tuan Arsel pasti akan memberikan kabar pada nona jika tuan Ansel sudah melewati masa komanya. Untuk itu, nona juga harus kuat dan menjaga kondisi tubuh nona untuk tetap sehat." Jelas Hans membuatku kembali terkejut saat mendengar penuturannya.


Jadi tuan Ansel? Batinku masih tak mempercayai indra pendengara ku.


"Bisa kalian ceritakan semuanya padaku?" Tanyaku tak bisa menahan rasa penasaranku lebih lama lagi, aku benar-benar tidak mau menduga-duga tanpa tau kebenarannya seperti orang bodoh.


"Teo?" Gumam Aster terlihat terkejut dengan kehadiranku.


"Ah, tuan pasti mencari ini kan?" Tanya Hans sambil memberikan heandphone Carel ke tanganku. Dengan ragu ku ambil heandphone Carel dari tangannya.


"Ceritakan padaku!" Ucapku lagi tak ingin melupakan pembicaraan mereka.


"Ceritakan apa?" Tanya Aster dengan ekspresi tak bersahabatnya.


"Apa maksudnya tuan Ansel koma? Apa yang sudah terjadi padanya? Apa itu ada hubungannya dengan dirimu yang tiba-tiba berhenti dari akademi?" Tututrku bertanya, mencoba untuk tetap bersabar.


"Tutup mulutmu! Kau mengatakannya terlalu keras, bagaimana jika ada musuh ayahku yang mendengar?" Ucap Aster segera menutup mulutku dengan telapak tangan kanannya, lalu pandangannya menelusuri ke sekitar. Memastikan tidak ada orang yang mendengar ucapanku selain Hans dan dirinya.


"Jadi benar?" Tanyaku lagi sambil melepaskan tangan Aster dari mulutku.


Ku lihat dia menghela napas dalam dan mengangguk lesu, "masuk ke dalam. Aku akan menceritakan semuanya." Ucapnya sambil membuka pintu mobil disampingnya.


.


.


.


Thanks for reading...