Aster Veren

Aster Veren
Episode 186




-Aster-


Setelah turun di halte bis, aku bergegas berjalan kembali menuju toko roti paman karena harus memberitahu bibi kalau mereka tidak bisa mengantar pesanan bibi hari ini. Selain itu, aku tidak bisa membuat bibi bekerja di toko terlalu lama karena bibi sedang mengandung.


Akhir-akhir ini aku sering melihat bibi kesulitan karena harus bolak-balik ke kamar mandi untuk muntah. Benar-benar membuatku khawatir.


"Berikan padaku!" Teriak seseorang membuatku menoleh ke arah sumber suara, ku lihat seorang anak kecil tengah di kerubuni oleh dua anak perempuan dan satu anak laki-laki.


"Yuna?" Gumamku saat melihat anak kecil yang dikerubungi itu. Dengan cepat aku mendekati mereka.


"Sudah ku bilang, aku mau meminjamnya. Berikan padaku!"


"Sudahlah, jangan memaksanya."


"Benar, Nanti dia bisa nangis dan mengadu pada kakaknya. Kamu tau kan kakaknya sangat menyeramkan."


"Aku tidak perduli, aku mau lihat benda itu." Ucap anak perempuan keras kepala itu berusaha merebut benda yang dimiliki Yuna.


"Tidak mau, jangan sentuh!" Teriak Yuna tak mau kalah dari anak dihadapannya, berusaha untuk mempertahankan benda dalam pelukannya.


"Kamu!" Geram anak itu tak terima dengan penolakan Yuna.


"Ah jangan." Gumamku segera meraih tangan anak perempuan yang tidak ku ketahui namanya itu, aku memegangnya dengan hati-hati saat melihatnya hampir memukul Yuna.


"Kak Faren." Ucap Yuna saat melihatku.


"Siapa kamu? Jangan menggangguku. Aku mau—" Teriaknya lagi menguji kesabaranku. Padahal dua anak lainnya terlihat baik, mereka bahkan membujuk dia untuk berhenti mengganggu Yuna. Tapi anak ini tidak mau mendengarkan.


"Yuna, apa mereka teman-temanmu?" Tanyaku menoleh pada anak kecil berusia 7 tahun dibelakangku.


"Tidak, mereka bukan teman-temanku." Jawabnya terlihat ketakutan bersembunyi di belakangku.


"Ah baiklah, kalau begitu kamu tidak perlu meminjamkan mainanmu pada mereka." Tuturku kembali memperhatikan ketiga anak dihadapanku, aku juga sudah melepaskan tangan anak tadi.


"Kamu—"


"Kalau kalian ingin meminjam mainanya, cobalah untuk mulai berteman baik dengan Yuna. Kalau tidak diberikan izin untuk meminjamnya maka jangan memaksa oke." Potongku berusaha menjelaskan selembut mungkin.


"Siapa kamu berani mengaturku?" Dengusnya benar-benar membuatku kesal, bahkan tanpa sadar aku sudah menatapnya sinis sampai mereka bertiga gemetaran menatapku.


"A—ayo pergi!" Ajak anak perempuan yang mengajak ribut tadi. Ku lihat ketiganya segera pergi dari hadapanku, tapi anak itu, aku rasa dia tidak akan berhenti disini. Apalagi setelah aku melihat anak itu menoleh tidak suka pada Yuna.


"Kamu baik-baik saja?" Tanyaku sambil berjongkok dihadapan Yuna.


"Ya, terima kasih." Jawabnya sambil tersenyum lebar.


"Kalau boleh tau, benda yang kamu pegang itu apa?" Lanjutku kembali bertanya saat melihat kotak kecil berukuran 15x7cm itu. Aku baru pertama kali melihatnya, dan ukiran di kotak itu terlihat sangat cantik.


"Ini, aku menyimpan banyak potongan puzzle di sini." Jawabnya sambil membuka kotak ditangannya dan menunjukannya padaku.


Mataku benar-benar tak bisa berpaling dari semua potongan puzzle itu, itu benar-benar cantik sampai aku kesulitan mendeskripsikannya. "Boleh aku menyentuhnya?" Tanyaku lagi segera mendapatkan anggukan singkat darinya.


"Ini terbuat dari apa? sepertinya bukan dari kertas—apa ini terbuat dari kayu?" Tanyaku setelah memegang sepotong puzzle di tanganku.


Ku lihat senyuman lebar Yuna kembali merekah saat aku menoleh padanya, apa aku terlalu kekanakan? Maksudku, ekspresi wajahku yang tak bisa ku kendalikan saat merasa kagum pada suatu hal.


"Iya itu dari kayu, kakak membuatkannya untuk ku." Jawabnya membuatku takjub.


"Benarkah? Dean membuatkannya untukmu?"


"Iya." Angguknya lagi.


"Tidak, yang menggambar di puzzle ini kak Sarah." Jawabnya sambil menggeleng lemah.


"Hee, aku tidak tau mereka memiliki bakat seperti ini." Gumamku segera memasukan kembali potongan puzzle di tanganku ke dalam kotak cantik yang dipegang oleh Yuna.


Dilihat dari sikap kasar anak tadi, jelas saja Yuna tidak mau meminjamkan mainannya. Dia takut salah satu potongan puzzlenya hilang, apalagi mainannya sangat berharga karena yang membuatnya adalah Dean. Kakak satu-satunya yang tinggal bersama dengannya.


"Yuna!" Suara Dean mengejutkanku.


"Kakak?"


"Kamu disini Faren? Pamanmu mencarimu." Lanjutnya saat aku bangkit dari posisi berjongkok ku.


"Ah, aku habis pergi ke tempat lain." Ucapku sambil mengusap tengkuk ku.


"Kak Faren tadi membantu Yuna." Ucap anak itu membuatku terkejut, kenapa dia harus bilang pada Dean? Dihadapanku pula. Kalau mau bilang, bilang saja saat aku sudah pergi dari hadapan kalian.


"Benarkah?" Tanya Dean langsung mendapatkan anggukan singkat dari adiknya itu. "Memangnya kamu membantu apa?" Lanjutnya menoleh padaku, membuatku kesulitan untuk menjawab pertanyaannya.


"Hihi, berkat kak Faren. Anak-anak nakal itu tidak berani mengganggu Yuna." Ceplos Yuna benar-benar membuatku malu.


"Tidak, bukan apa-apa. Ini hanya—"


"Jadi mereka mengganggumu lagi?" Potongnya sambil meraih tubuh adiknya dan memeriksanya. Sepertinya dia khawatir adiknya terluka.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya, paman pasti menungguku di toko."


"Ah ya, dia bersama bibimu di toko." Jawab Dean sebelum aku pergi meninggalkan mereka.


"Faren! Terima kasih ya." Teriaknya membuatku mempercepat langkahku.


***


"Aku pulang."


"Kamu sudah datang?"


"Ya, mereka bilang tidak bisa mengantar pesanan hari ini. Mungkin besok atau lusa, mereka bilang akan menghubungi jika semua bahannya sudah ada." Jelasku sambil berjalan mendekati bibi yang masih duduk di kursi belakang meja kasir.


"Ah, jadi mereka juga sedang menunggu pasokan ya. Akhir-akhir ini memang sulit mendapatkan bahan pokok. Apalagi sulitnya kendaraan di wilayah ini." Tutur bibi terlihat memikirkan sesuatu.


"Apa sebaiknya aku pergi ke kota? Meski jauh, harganya lumayan murah." Ucap paman yang baru keluar dari dapur.


"Iya murah, tapi tetap saja butuh ongkos." Timpal bibi membuat senyuman paman memudar.


"Benar. Jadi mau beli di kota atau di pasar sekitar sini, harganya sama saja." Gumam paman setelah menghela napas letih.


Untuk pertama kalinya, keluarga paman mengalami kesulitan. Dan aku tidak bisa membantu banyak, aku bahkan tidak mendapat ide apapun untuk meringankan beban mereka. Padahal mereka sudah mengurusku dengan baik.


"... sepertinya karena musim kemarau jadi banyak petani gagal panen, bahan pokok jadi sulit didapatkan. Gandum dan beras juga harganya sudah naik dari bulan lalu kan?" Tutur bibi membuat paman ikut dalam pembicaraannya.


"Benar, aku juga dengar dari orang-orang sekitar banyak petani yang mengeluh karena gagal panen. Selain itu musim kemarau tahun ini lebih lama dari biasanya, mereka pasti kesulitan mendapatkan air untuk tanaman mereka kan?"


Begitulah pembicaraan yang aku dengar. Kalau di kota meski musim kemarau terjadi lebih lama pun. Pasokan air tetap ada karena semuanya sudah diperhatikan oleh pemerintah. Tapi untuk wilayah yang belum tersentuh seperti tempat ini. Pasokan air yang di dapat sedikit bahkan nyaris tidak ada.


.


.


.


Thanks for reading...