
-Aster-
"Ha–ha?!" Ucap Kalea terlihat begitu terkejut.
"Memutar balikan fakta? Aku tidak salah dengar?" Lanjutnya tak terima dengan ucapanku.
"Ada apa?" Bisik beberapa anak perempuan yang baru kembali dari kantin.
"Jelas-jelas Kalea itu–" Ucap Nadin segera ku hentikan.
"Bukan putrinya Ansel Veren, dari namanya saja sudah ketahuan kan?" Jelasku berusaha membalas tatapan tajam Nadin, meski sebenarnya aku masih merasa takut padanya.
"Benar juga, kalau tidak salah nama panjang Aster kan ada Veren-nya. Veren itu marga kan?" Bisik beberapa anak memperburuk suasana hati Kalea, bisa ku lihat dari raut wajahnya.
***
Waktu bergulir dengan cepat, kini bel pulang sekolah sudah berdering membuat semua orang berhamburan keluar dari dalam kelas mereka.
Aku masih tidak percaya dengan reaksi Kalea siang ini, batinku mengingat ekspresi kesalnya karena tidak bisa membalas ucapanku. Bahkan Nadin pun tak bisa membantunya.
Untuk pertama kalinya aku berani melawan Kalea, tapi rasanya benar-benar masih menakutkan. Aku takut kalau-kalau dia meminta Nadin untuk bermain fisik lagi. Bukan apa-apa, hanya saja tubuh gempal Nadin tak bisa ku hadapi, sekali senggol saja tubuhku bisa langsung tumbang, tapi tetap saja aku melawan mereka.
"Apa ini artinya aku berhasil menaklukan rasa takutku pada Kalea dan Nadin? seperti aku menaklukan perasaan takutku pada mimpi buruk ku ...," gumamku terhenti saat mengingat kegagalanku.
"Tidak, aku belum bisa menaklukan mimpi buruk ku. Aku masih sering terbangun karena mimpi itu ... tapi setidaknya aku sudah berani melawan Kalea, kemajuan yang bagus." Lanjutku sambil berjalan menyusuri koridor menuju gerbang sekolah.
"Minggir!" Suara Kalea mengejutkanku, terutama saat tubuhnya menyenggol tubuhku.
"Kau baik-baik saja?" Suara seorang anak laki-laki dari arah belakangku, dengan cepat aku menoleh kearahnya setelah melihat punggung Kalea yang menjauhiku tanpa mengerjaiku seperti biasanya.
"Eh? Si–siapa ya?" Tanyaku memperhatikan manik hijau daun dengan rambut pirangnya.
Ah, anak yang belakangan ini selalu mengawasiku. Batinku saat mengingat semua gerak-gerik mencurigakannya.
"Ah, ini pertama kalinya kita bicara ya. Kenalkan namaku Teo dari kelas 3B." Jawabnya sambil mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum tipis.
"A–aster." Ucapku sambil menjabat tangannya sebentar dengan perasaan ragu.
"Apa kau baik-baik saja? Selama ini aku selalu melihatmu diperlakukan buruk oleh kedua anak tadi. Apa mereka–" Tanyanya segera ku hentikan.
"Ya–aku baik-baik saja." Jawabku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku.
"Kalau mereka mengganggumu lagi, katakan saja padaku." Tuturnya sambil melewatiku dan berjalan kearah parkiran mobil.
Apa yang dia katakan? Kenapa dia bicara begitu? Kenapa aku harus bilang padanya kalau aku diganggu oleh Kalea dan Nadin? Batinku bertanya-tanya.
"Aku tidak mengerti ...." Gumamku merasa pusing sendiri sambil memperhatikan lingkungan sekitar.
"Sepertinya pak supir terlambat menjemputku." Ucapku saat tak mendapati mobil paman yang biasanya terparkir didekat mobil kepala sekolah.
Ku lihat mobil yang dimasuki Teo sudah pergi melewati gerbang sekolah. Lalu disisi lain aku melihat tante Claretta yang sedang berdiri didekat mobilnya, menyambut putrinya dengan gembira.
Sepertinya hari ini ayah tidak menjemput Kalea ya ..., batinku tak mendapati sosok ayah dimanapun, bahkan mobil yang dimasuki Kalea bersama ibunya pun bukan mobil yang biasanya digunakan oleh ayah.
"Sebaiknya aku tunggu pak supir di depan gerbang sekolah saja." Ucapku segera berjalan menuju gerbang sekolah.
"Nak Aster hari ini pulangnya jalan kaki ya?" Suara pak satpam menghentikan langkahku.
"Jalan kaki? Aster mau nunggu pak supir kok–" Jawabku terpotong.
"Eh, tapi itu didepan gerbang udah ada yang jemput nak Aster loh." Jelas pak satpam membuatku bingung.
"Siapa?" Tanyaku.
"Katanya sih pamannya nak Aster. Coba aja dilihat dulu," jawab pak satpam sambil mengulas senyum hangatnya membuatku semakin penasaran dengan orang yang menjemputku itu.
Paman? Apa paman merah yang menjemputku? Tapi jalan kaki? Batinku bertanya-tanya, seingatku paman tidak pernah menjemputku tanpa kendaraan pribadinya.
"Lama tidak bertemu Aster." Suara seorang pria dewasa menghentikan langkahku.
Suara familiar yang selalu membuatku ketakutan setengah mati setiap kali memejamkan mata, sorot mata tajam yang tak ingin ku lihat dan aroma minyak wangi yang membuat kepalaku sakit.
Tubuhku juga mendadak membeku ditempat dengan keringat dingin yang membasahi tubuhku. Bahkan detak jantungku mulai berpacu dengan cepat sekarang.
Bagaimana bisa paman Tesar menemuiku disekolah seperti ini? Bukankah harusnya paman– batinku bertanya-tanya.
"Benar kan orang ini paman nak Aster?" Suara pak satpam meruntuhkan lamunanku.
"Ya–iya pak." Jawabku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku saat merasakan ancaman dari sorot mata paman.
"Kalau begitu mari pak, saya pamit." Ucap paman Tesar langsung meraih tanganku.
Entah kenapa dadaku terasa sesak sekarang, pikiranku tak bisa menepis bayangan paman yang berusaha mencekik leherku dengan tangan besarnya malam itu.
Dan sekarang, tangan besar itu malah menggandeng tanganku dengan erat. Bahkan sorot matanya mengatakan untuk menurut padanya.
Ibu, paman merah. Batinku merasa takut setengah mati sekarang, bahkan tanpa sadar aku berharap paman merah ada disampingku sekarang.
"A–aster tidak mau ikut paman." Ucapku setelah mengumpulkan semua keberanianku dan langsung menghentikan langkahku tepat dipersimpangan jalan.
"Jangan memberontak." Ancam paman dengan sorot mata tajamnya.
"Tapi Aster–" Ucapku terhenti saat merasakan tamparan keras diwajahku.
Ngiiiiing...
Ah, telingaku berdenging ... sakit, ini? Batinku tak kuasa menahan buliran bening dimataku yang sejak tadi coba ku tahan.
Ku lihat wajah paman Tesar tampak kesal, padahal mulutnya terus bergerak tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
***
-Ansel-
"Jalanan hari ini lebih ramai dari biasanya, semoga saja aku masih sempat menjemput Aster." Gumamku saat berhasil lolos dari kemacetan.
Dengan cepat ku tancap gas memasuki jalanan menuju sekolahan Aster.
Ah, kenapa mendadak firasatku tidak enak begini? jalanan ini juga, kenapa tiba-tiba sesepi ini? Batinku tak bisa berhenti menggerutu.
"Oke tinggal melewati persimpangan jalan setelah itu–" Gumamku terhenti saat melihat seorang pria menampar anak kecil dipinggir jalan dan refleks ku injak rem mobilku saat menyadari sosok anak kecil yang berdiri dihadapan pria itu.
"As–ter?" Lanjutku langsung melepaskan sabuk pengamanku dan bergegas keluar dari dalam mobilku setelah mematung selama beberapa detik untuk memahami situasiku saat ini.
Ku lihat Aster membeku ditempatnya sambil memegangi pipi kirinya, lalu mataku terfokus pada cairan merah yang keluar dari telinganya. Darah?
Dengan cepat aku menghampirinya saat pria itu meraih tangan Aster dan menariknya dengan paksa, perlakuan kasarnya benar-benar membuatku kesal.
"Kurang ajar! beraninya kau memukul putriku seperti itu." Ucapku langsung melayangkan tinju kewajahnya dan membuatnya hilang keseimbangan sampai tersungkur ketanah.
Entah kenapa aku merasa marah sekarang, rasanya darahku mendidih melihat putriku diperlakukan seperti itu oleh orang asing sepertinya.
"Kau," ucapnya terdengar kesal, "beraninya ikut campur!" Lanjutnya terhenti saat pandangannya bertemu tatap denganku.
"Pa–papa hiks ...." Suara Aster menyadarkanku, ku lihat tangan kanannya gemetar memegangi lengan jasku selagi tangan satunya memegangi telinganya.
"Papa?" Gumam pria itu kembali menarik perhatianku.
"Jadi kau–" Lanjutnya terhenti dan bergegas pergi dari hadapanku dengan terburu-buru.
Kenapa dengannya? sebelumnya terlihat sangat berani, tapi ... lupakan! Batinku langsung meraih tubuh Aster dan menggendongnya sampai kedepan mobilku.
Untuk sekarang bawa Aster ke rumah sakit dulu, aku tidak bisa membiarkannya kesakitan seperti ini. Lanjutku tak bisa mengabaikan darah yang mengalir keluar dari telinganya.
"Selanjutnya, aku tidak akan pernah membiarkannya lolos begitu saja!" Gumamku setelah mendudukan Aster dikursi bagian depan mobil.
.
.
.
Thanks for reading...