Aster Veren

Aster Veren
Episode 222




-Aster-


Ku lihat Khael sudah menatap tajam manik merah Carel dengan sangat serius.


"Kak Aster belum boleh pergi keluar. Di luar bahaya." Ceplosnya masih menatap manik merah Carel dengan tajam.


"Aku kan pergi bersamanya, jadi tidak akan bahaya dong." Ucap Carel berusaha membela dirinya setelah menghela napas singkat dan mengubah posisi duduknya dengan melipat kedua tangannya didepan dada bidangnya.


"Pokoknya tidak boleh. Atau aku akan memberitau paman kalau Carel menculik kakak." Dengusnya sambil menggebrak meja dihadapannya.


Melihatnya marah dan kesal seperti itu, entah kenapa malah terlihat menggemaskan daripada menakutkan di mataku. Apa karena Khael masih kecil ya? Berbeda dengan Carel, kalau dia marah, rasanya aku jadi sangat takut untuk mendekatinya.


Ku lirik sosok Hana yang berdiri disamping Khael tanpa banyak berbicara. Jika diingat lagi, sejak tadi dia memang tidak banyak bicara, hanya menyapa ayah satu kali dan selebihnya cuma menunjukan senyuman hangatnya setiap kali aku melirik kepadanya.


"... tidak mau!" Seru Khael mengejutkanku, aku tidak tau mereka sedang membahas apa karena pikiranku yang teralihkan pada sikap Hana yang terlihat aneh.


"Hee... sungguh? Padahal aku bisa membelikanmu banyak makanan manis kesukaanmu. Kalau begitu aku tidak perlu membawamu pergi ya?" Tutur Carel membuatku menoleh bingung padanya, apalagi saat melirik jahil kearah Khael yang terlihat kesal.


"Apa yang kau bicarakan? Kenapa malah mau membuat anak kecil menangis?" Tanyaku saat melihat mata Khael yang sudah berkaca-kaca.


"Aku tidak—aku hanya berusaha membujuknya untuk ikut pergi. Kalau dia pergi bersama kita, dia tidak akan mengadukan kepergian kita pada pak tua itu kan?" Jelasnya membuatku menghela napas panjang sebelum bangkit dari posisi duduk ku setelah menyelesaikan sarapan pagiku yang berisik.


"Yah itu akan terjadi kalau kita pergi berdua. Tapi ... kamu pikir aku mau pergi denganmu?" Tanyaku kemudian sambil menatap Carel yang sudah melihatku dengan kepalanya yang menengadah.


"Apa? Jadi kau tidak mau pergi bersamaku?" Tanyanya terlihat begitu terkejut karena penolakan ku.


"Lain kali. Ayo pergi lain kali, aku masih ingin banyak beristirahat."


"Cih, baiklah kalau begitu."


"Pft—hahahaha, kasian Carel hahaha ...," Tawa Khael pecah bersamaan dengan kepergian ku, aku yang melihatnya tertawa seperti itu merasa sedikit lega karena anak itu tidak jadi menangis.


"Berisik kau bocah!"


Alasanku menolak ajakannya bukan karena alasan yang ku buat-buat, tapi karena memang aku merasa tubuhku masih butuh banyak waktu untuk beristirahat. Apalagi saat aku merasakan sakit di dadaku yang terluka, aku merasa lukanya belum sepenuhnya pulih.


***


"Anda baik-baik saja nona?" Tanya Hana sambil menyuguhkan secangkir teh hangat kehadapan ku yang tengah duduk santai di sofa kamarku.


Rasanya sudah lama sekali aku tidak bermalas-malasan seperti ini, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku begitu menikmati waktu luangku?


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong dimana Khael?" Jawabku setelah sempat mengabaikan pertanyaannya


"Setelah bertengkar dengan tuan Carel, tuan muda langsung pergi bersama tuan Arsel ke ruang kerja tuan Ansel." Tuturnya.


"Hmm ... lalu dimana Carel? Apa dia sudah kembali ke kediamannya?" Tanyaku lagi sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 09:25 pagi.


"Seingat saya tuan Carel belum kembali ke kediamannya. Mungkin beliau ikut pergi ke ruang kerja tuan Ansel bersama tuan Arsel dan tuan muda ... apa mau saya panggilkan?"


"Tidak, tidak perlu. Aku hanya bertanya saja."


Ku lirik sosok Hana yang berdiri di dekatku dengan ekspresi tenangnya yang berlawanan dengan sorot matanya. Aku tidak terlalu mengerti, tapi aku yakin itu tatapan khawatir yang dia coba tahan.


Kalau dipikir-pikir, sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan Hana kan? Sekalinya bertemu pun hanya sebentar, lalu tiba-tiba dia menjadi pelayan pribadinya Khael. Aku tidak tau bagaimana perasaannya, tapi perasaan yang ku rasakan sekarang adalah kerinduan.


Aku merindukan saat-saat kebersamaan ku dengan Hana. Saat-saat dia membantuku untuk berdandan, memandikanku dan merawatku saat aku sakit. Rasanya seperti menemukan sosok ibu padanya.


Apa Hana ... merasa sangat terpukul saat mendengar berita kematianku hari itu? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan air teh di cangkir yang ku pegang, lalu ku hela napas panjang sebelum meletangan cangkir teh ditanganku keatas meja.


"Hana ...," ucapku kemudian sambil bangkit dari tempat duduk ku dan berjalan mendekatinya.


Dengan ekspresi bingungnya Hana pun mulai bertanya, "ada apa nona?"


Ku sunggingkan senyuman tipis ku sebelum meraih tubuhnya dan memeluknya dengan penuh perasaan.


"No—nona?"


"Maafkan aku Hana, selama ini kamu pasti sangat sedih karenaku kan? Aku tau seberapa mengejutkannya hal itu—"


"Ti—tidak, saya mohon jangan meminta maaf pada saya nona. Saya paham kenapa nona melakukan hal itu, pasti nona sangat ketakutan selama ini karena menjadi incaran banyak orang. Saya ... saya sangat bersyukur nona masih hidup sekarang. Maafkan saya karena tidak ada disaat nona kesulitan." Potongnya dengan suara isak tangisnya yang terdengar memilikuan. Bahkan kedua tangannya sudah membalas pelukanku dengan erat.


"Hana ...," gumamku sambil mengelus punggungnya, berusaha memberikannya ketenangan selagi menahan buliran air mata yang sudah memenuhi pelupuk mataku.


"Terima kasih." Lanjutku bersama jatuhnya air mataku yang sudah ku tahan sejak tadi.


"Saya harap kedepannya nona bisa hidup lebih bahagia. Lalu berjanjilah satu hal pada saya, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup anda atau menyakiti diri anda lagi nona." Ucapnya masih dengan suara bergetar karena isak tangisnya.


***


-Ansel-


"Apa maksudnya ini?" Tanyaku tak bisa mempercayai apa yang baru saja ku lihat dalam dokumen yang dikirimkan Albert melalui asisten pribadinya.


"Seperti yang tertulis di sana tuan." Jawab pria yang diutus oleh Albert membuatku memicingkan mata, menatapnya dengan tajam.


"Tidak perlu menatap saya seperti itu tuan. Tuan Albert hanya ingin meminta imbalan yang sesuai pada anda karena sudah menjaga putri anda, selain itu tuan Albert sudah membantu anda dengan memberitaukan kebenaran soal nona Aster yang masih hidup. Dengan begitu anda dan orang-orang anda bisa menemukannya dan membawanya kembali." Lanjutnya sebelum menunjukan senyuman tipisnya yang terlihat menyebalkan.


"Aku tidak bisa membantah hal itu, aku sangat berterima kasih untuk kejujurannya. Tapi apa-apa dengan imbalan tak masuk akal yang dia minta ini? Apa dia gila?" Tuturku tak habis pikir dengan jalan pikiran Albert yang meminta persetujuanku untuk menyatukan Aster dengan putra keduanya Sean.


Dia pikir dia bisa seenaknya menjodohkan putranya dengan putriku? Lalu, kenapa juga Ian mendukung rencana Albert untuk menyatukan putranya dengan putriku? Lanjutku dalam hati saat melihat tanda tangannya di berkas persetujuan yang dilampirkan.


"Ku pikir dia tidak mendapatkan hak untuk ikut campur." Gumamku sambil memijat keningku yang ku mulai berdenyut memikirkan kelancangan Ian. Padahal dia tidak memiliki hak untuk ikut campur, tapi kenapa bertindak seenaknya dibelakangku?


Bukankah semua orang tau kalau Aster itu putriku? Jadi kenapa persetujuan dari Ian lebih penting dari persetujuanku sebagai ayah kandungnya?


.


.


.


Thanks for reading...