Aster Veren

Aster Veren
Episode 40




-Arsel-


Setelah selesai menelpon kakak ku, dan mendengar rencana kepindahannya ke Singapura dalam waktu dekat ini. Aku langsung pergi ke kamar Aster.


Sesampainya di kamar Aster, aku langsung berjalan kearah tempat tidurnya dan duduk disampingnya yang sudah terlelap dalam tidurnya.


Waktu juga sudah menunjukan pukul 10:15 malam, tapi pikiranku masih tertuju pada penjelasan kakak mengenai rencana kepindahannya itu. Aku sampai tidak bisa tidur memikirkan ucapannya itu.


Dia bilang ingin menyelesaikan pekerjaannya di Singapura dan tinggal selama beberapa tahun disana, tentu saja dia memiliki alasan lain kenapa harus mengajak Aster bersamanya.


Seperti yang dikatakan Aster sebelumnya, kakak ku itu ingin mengobati penyakit Aster dan aku juga dengar kakak mengatakan hal yang sama seperti yang di katakan oleh Aster.


"Tapi aku masih tak percaya kalau ada alasan lainnya kenapa dia ingin mengajak Aster pergi bersamanya ... alasannya untuk menjauhkan Aster dari orang-orang seperti Claretta." Gumamku sambil meraih kening keponakanku dan mengelusnya selembut mungkin.


Aku tau banyak orang yang ingin menghancurkan keluargaku karena dendam pribadi mereka pada mendiang ayahku yang terkenal tangguh dalam berbisnis. Tapi aku tak pernah berpikir kalau mereka bisa merencakan hal-hal gila yang tak bisa ku bayangkan.


Claretta bekerjasama dengan Tesar untuk menjauhkan Aster dari kakak, bahkan si br*ngsek itu sampai berani melukai keponakanku. Lalu kakak berhasil membongkar kejahatan mereka dan menjebloskan mereka kedalam penjara.


Tapi Claretta dibebaskan oleh Victor atas permintaan ibunya Claretta dengan satu syarat yang harus dipenuhi olehnya. Syarat yang diberikan oleh kakak ku yang menyebalkan.


Victor harus mengambil alih hak asuh Kalea dari Claretta dan menjauhkan anak itu dari ibunya, karena ibunya Claretta sudah menyetujui perpindahan hak asuh itu tanpa sepengetahuan Claretta. Victor pun mengeluarkan wanita itu dari dalam penjara, tapi tak lama kemudian Claretta mengetahui niat Victor membebaskannya dan berniat menemui pria itu. Tapi Claretta tidak mengetahui tempat tinggal Victor yang baru, jadi dia pergi ke kantor kakak dan membuat keributan disana.


"Jadi itu alasan Claretta datang ke kantor kakak ya ... aku bahkan tak bisa memikirkan hal gila apa yang dipikirkan oleh kakak ku, hebat juga dia bisa menyadari niat buruk kakak ku." Gumamku saat mengingat pembicaraanku dengan kakak melalui telpon.


Tapi kakak benar-benar memikirkan semuanya dengan baik ya, dia sampai bekerja sama dengan Victor untuk menghancurkan Claretta dan ibunya.


"... sejujurnya aku masih menyayangi Kalea, karena itu aku meminta Victor untuk menjaganya. Lagipula dia ayahnya ... kau tau Arsel? Selama ini Claretta dan ibunya terlalu keras dalam mendidik Kalea, karena itu aku selalu ada untuk melindungi Kalea disaat dia membutuhkan sosok seorang ayah ...." Suara kakak kembali terngiang dalam kepalaku.


"Hah~ aku masih belum bisa percaya kalau Victor tidak mengetahui Claretta memiliki anak darinya. Apalagi saat kakak bilang Victor dijebak oleh wanita itu, sebenarnya apa yang dipikirkan wanita itu?!" Gumamku merasa kesal sendiri saat mengingat wajah Claretta. Entah kenapa aku mulai berpikir dia wanita mur*han sekarang.


Tapi ya, kakak ku juga tidak tau kalau kak Helen mengandung anaknya saat itu. Batinku sambil memperhatikan wajah Aster yang terlihat tenang dalam tidurnya.


"Sepertinya akhir-akhir ini kamu jarang bermimpi buruk lagi ya Aster ...." Gumamku sambil tersenyum melihat wajahnya.


"... aku benci mengakuinya, tapi apa yang dipikirkan oleh kakak ada benarnya. Dia harus menjauhkan Aster dari orang-orang seperti Claretta yang ingin menghancurkan keluarganya untuk sementara waktu, setidaknya sampai Aster bisa menjaga dirinya sendiri dan ku harap penyakitnya juga bisa disembuhkan," Lanjutku mengingat wajah ayah yang memiliki penyakit sama dengan Aster.


***


-Aster-


"Selamat pagi paman," ucapku saat melihat paman yang sudah menungguku diruang makan.


"Pagi Aster, hari ini kamu masih ada ujian susulan ya?" ucap paman membalas sapaan pagiku dengan senyuman tipisnya.


"Iya, Aster berencana menyelesaikan semuanya hari ini." Tuturku membalas senyuman paman dengan senyuman lebarku sebelum duduk disampingnya untuk menikmati sarapan pagi bersama paman.


"Menyelesaikan semuanya?" Tanya paman terlihat bingung.


"Iya, kemarin Aster ikut ujian susulan dan menyelesaikan setengah mata pelajaran dikelas Aster, jadi hari ini Aster tinggal menyelesaikan setengahnya lagi." Jelasku.


"Bukannya ujian susulannya diadakan selama satu minggu? dan setiap harinya sudah ada jadwalnya kan?" Tanya paman terlihat bingung.


"Hha–ha, Aster minta ujian khusus sama bu Estelle." Jawabku memaksakan tawaku.


"Ujian khusus?" Tanya paman lagi setelah meminum air digelasnya.


"Iya, Aster ingin cepat-cepat menyelesaikan ujiannya dalam waktu dua hari." Jawabku sambil memperhatikan nasi goreng dihadapanku.


"Kenapa terburu-buru begitu? apa tidak apa-apa menyelesaikannya lebih cepat dari jadwal?" Tanya paman terlihat khawatir.


"Kalau begitu, hari ini biar pamanmu yang mengantarmu ke sekolah oke." Tutur paman terlihat begitu bersemangat membuatku ikut bersemangat juga.


"Siapa yang akan mengantar putriku ke sekolah?" Suara ayah mencuri perhatianku dan paman.


"Kau?!" Ucap paman terlihat terkejut saat melihat sosok ayah yang sudah berjalan kearah kami.


"Aku tidak pernah dengar kau akan mengantarnya ke sekolah hari ini." Tutur ayah membuatku menoleh pada paman.


"Kau mendengarnya barusan kan?" Jelas paman terlihat kesal.


"Tidak tuh! setauku hari ini Aster akan pergi bersamaku." Ucap ayah yang sudah berdiri didekat paman.


"Bohong kau pasti dengar tadi!" Bentak paman terlihat semakin kesal.


"Hari ini aku yang akan antar." Ucap ayah langsung meraih tubuhku dan menggendongnya.


A–ada apa ini? Batinku tak mengerti dengan siatuasiku saat ini.


"Kau! dia masih sarapan, jangan bawa pergi seenaknya!" Geram paman mencoba menahan emosinya.


"Sarapannya di mobil saja ya ...." Tutur ayah setelah membawa dua buah roti yang sudah diolesi slay coklat olehnya saat sedang berdebat dengan paman sebelum menggendongku.


"Tapi paman bilang mau mengantar Aster ke sekolah hari ini," tuturku sambil menerima roti ditangan ayah.


"Biarkan saja, dia banyak pekerjaan hari ini. Jadi aku yang akan mengantarmu." Jelas ayah sambil meninggalkan paman di ruang makan.


"Aku nganggur hari ini tau!" Teriak paman yang sudah mengikuti langkah ayah dibelakangnya.


Kenapa mendadak aku diperebutkan seperti ini? Batinku merasa tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan ayah dan paman, yang bisa ku lakukan hanya memasang senyuman kaku ku saat ayah melirik kearahku.


"Kau tidak mau diantar olehku?" Tanya ayah mengejutkanku.


"Bu–bukan begitu, mana mungkin Aster tidak mau–" Jawabku terpotong.


"Kalau begitu ayo kita pergi." Ucap ayah sambil tersenyum tipis dan segera memasukanku kedalam mobil yang sudah terparkir dihalaman rumah paman.


"Oii!" Ucap paman berusaha menghentikan ayah, tapi sepertinya tidak berhasil.


"A–aster pergi dulu ya paman ...." Pamitku merasa tak enak pada paman.


"Jangan bicara padanya!" Ucap ayah yang sudah masuk kedalam mobil dan segera menutup kaca mobil bagianku yang sempat menunjukan wajah paman disana.


"Pa–papa ...." Gumamku sambil melihat paman yang semakin kesal dibuatnya.


"Dasar kakak bodoh menyebalkan!!" Teriak paman sebelum ayah melajukan mobilnya, dan ku lihat diam-diam ayah sudah tersenyum geli membuatku bertanya-tanya apa yang lucu dari pertengkarannya dengan paman.


Lalu ku lihat sosok paman dari pantulan kaca spion luar yang menunjukan senyuman lebar paman yang tak bisa ku mengerti juga.


Apa papa dan paman selalu seperti ini? Batinku bertanya-tanya sampai tanpa sadar aku ikut tersenyum karena kelakuan ayah dan paman.


.


.


.


Thanks for reading...