Aster Veren

Aster Veren
Episode 219




-Kalea-


"Aster, dokter sudah menunggumu." Ucap ayah kemudian, membuat Aster menghela napas panjang sebelum bangkit dari tempat duduknya.


"Maafkan aku karena harus meninggalkan kalian." Tuturnya sambil menunjukan senyuman tipisnya yang terlihat dipaksakan.


"Tidak apa-apa, pergilah dan periksa kondisi tubuhmu. Akan lebih baik jika kau pulih dengan cepat." Lanjut Teo membalas senyuman Aster.


"Benar. Jangan pikirkan kami dan fokuslah pada pengobatanmu." Timpal Carel sambil menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi yang dia duduki.


"Sampai nanti kakak."


"Kalau begitu aku permisi dulu, sampai nanti juga Khael." Ucapnya diikuti oleh langkah ayah, lalu disusul oleh Hans yang sudah menunggunya di pintu sejak tadi.


"Sekarang katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka terlihat begitu aneh?" Tanyaku kemudian, tidak bisa menahan rasa penasaranku lebih lama lagi. Aku bahkan tidak bisa mengucapkan apapun saat Aster berpamitan tadi.


"Aneh?" Gumam Khael membuatku melirik kearahnya yang sudah menatapku dengan bingung.


"Ah itu—"


"Mau main bersamaku Khael? Aku punya sesuatu untukmu, ayo kita pergi melihatnya." Potong Teo membuatku semakin bingung dengan situasi tidak masuk akal ini. Kenapa dia berusaha menjauhkan Khael dari ku?


"Ayo!" Serunya segera turun dari kursinya dan berlari meninggalkan rumah kaca dengan terburu-buru, "cepatlah Teo." Lanjutnya berbalik sekilas dan kembali berlari meninggalkan Teo lebih dulu. Lalu mau tak mau Teo mengikutinya dan melirik kearahku sekilas, aku yang melihat tatapan seriusnya hanya bisa mengernyit bingung.


"Tidak usah bingung seperti itu." Ceplos Carel membuatku menatapnya dengan tajam.


"Bagaimana aku tidak bingung jika kalian saja tidak menjelaskan situasinya dengan benar padaku? Dilihat dari reaksi Teo, sepertinya dia sudah mengetahui hal yang membuatku bingung lebih dulu dariku kan?" Tuturku tak bisa mengendalikan nada bicaraku yang terdengar kesal.


"Benar. Kau pasti bingung kenapa ayahmu melarangmu untuk datang kemari kan? Dan kenapa Teo harus diam-diam mengajakmu ke sini?" Ucapnya membalas tatapanku dengan tajam.


Ku telan salivaku saat merasakan suasana yang tidak biasa, rasanya saat Carel menatapku dengan tatapan tajamnya itu, suasana di sekitarku mendadak menjadi dingin. Apa suhunya berkurang disekitarnya?


"... sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini padamu. Tapi aku rasa kamu harus mendengarnya."


"Apa? Apa yang dia bicarakan?" Gumamku bertanya-tanya dengan apa yang ku dengar.


***


Ku remas pakaianku seerat mungkin, berusaha untuk mengendalikan perasaanku. Rasanya benar-benar menyakitkan setelah mendengar alasan kenapa aku dilarang berkunjung ke kediaman Veren.


Kenapa papa tidak mengatakannya langsung saja padaku? Kenapa aku harus mendengar hal ini dari orang lain? Batinku sambil menggigit bibir bawahku dengan gemas, berusaha menekan genangan air mataku yang semakin menumpuk.


"... untuk menebus kesalahan dan penyesalannya pada Aster, tuan Ansel memutuskan untuk memperbaiki hubungan mereka. Salah satunya dengan bersikap tegas pada orang luar sepertimu, sepertinya setelah kejadian hari itu dia jadi menyadari sesuatu. Kalau kehilangan orang yang sangat dia sayangi itu lebih menyakitkan dari apapun, disisi lain dia juga sudah menyadari rasa cemburu Aster terhadapmu. Sampai sini kau paham kan?" Suara Carel kembali terngiang dalam kepalaku.


Setidaknya aku mengerti kenapa ayah tidak mengizinkanku untuk memanggilnya ayah lagi. Aku juga, sepertinya begitu bodoh dan terbutakan oleh kasih sayang ayah sampai tidak menyadari perasaan Aster. Kalau aku jadi dia, aku juga tidak ingin ayahku dianggap sebagai ayah oleh orang lain.


"Tapi ... kenapa dia menahannya selama ini? Kenapa dia tidak mengatakannya langsung padaku? Kenapa harus aku yang menyadarinya lebih dulu? Padahal dia bisa langsung bicara padaku dan melarangku untuk memanggil tuan Ansel dengan sebutan ayah. Bodoh!" Gumamku dengan air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mataku.


Aku merasa sangat bodoh sekarang, diam-diam menangis sendirian di rumah kaca setelah ditinggalkan oleh Carel. Lalu Teo juga tidak kunjung kembali untuk menjemputku.


"Apa ini artinya aku tidak akan bisa sedekat dulu dengan Aster?" Lanjutku mengingat kebersamaan ku dengannya selama di asrama.


Sangat menyakitkan, apalagi jika mengingat aku tidak mengetahui apapun tentangnya. Karena Aster begitu tertutup dan tidak pernah mengandalkan siapapun saat dia berada dalam kesulitan. Apa karena dia sudah terbiasa sendiri?


Ah benar! Dari dulu kan dia memang seperti itu ..., batinku mengingat kembali masa-masa kecilku saat aku merundungnya dibangku sekolah dasar.


"Aku benar-benar melupakan dosaku yang satu itu."


"Apa yang kau bicarakan?" Suara Aster mengejutkanku, refleks aku menoleh kearah kedatangannya setelah menghapus air mataku dengan terburu-buru.


"Aster?"


"Kau menangis?" Tanyanya terlihat begitu terkejut, "kenapa? Ada apa?" Lanjutnya benar-benar membuatku kesal.


"Berhentilah bersikap baik seperti itu!" Seruku menepis tangannya yang berniat meraih wajahku.


"Apa?"


"Aku sudah dengar semuanya dari Carel. Kau, kau cemburu padaku karena kedekatan ku dengan ayah—tidak maksudku tuan Ansel, itulah kenapa tuan Ansel melarangku untuk menemuimu kan? Aku ... kenapa kau tidak mengatakannya langsung padaku? Padahal kau bisa melarangku, tapi kenapa—"


"Aku tidak pernah bilang seperti itu." Potongnya membuatku tersentak, "aku memang iri melihat kedekatanmu dengan ayah. Apalagi saat dia begitu mengkhawatirkanmu hari itu tap—"


"Kalau begitu katakan padaku untuk tidak memanggil tuan Ansel dengan sebutan ayah lagi! Dan ku mohon jangan memintaku untuk menjauhimu. Aku, aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku di masa lalu, aku akan memperbaiki diriku, jadi biarkan aku tetap menjadi temanmu. Aku tidak mau hubungan kita berakhir ...," Potongku sambil bangkit dari posisi duduk ku, membalas tatapan Aster dengan air mataku yang kembali tumpah.


"Hah~ dengarkan aku dulu." Ucapnya setelah menghela napas panjang, membuatku terkejut saat dia memegangi bagian dadanya yang terluka.


"A—Aster? Kau baik-baik saja kan?"


"Aku tidak tau alasan ayah melarangmu memanggilnya dengan sebutan ayah lagi. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkannya—atau mungkin pernah. Tapi yang ku tau, saat kau memanggil ayahku dengan sebutan ayah, aku merasa seperti kita ini bersaudara. Apalagi saat kau berusaha untuk menghentikan perbuatan gilaku dan merebut belati di tanganku hari itu." Tuturnya membuatku tak bisa berkata-kata untuk beberapa saat, pendengaranku terhenti pada kata "saudara" yang Aster ucapkan.


Entahlah, rasanya tidak bisa ku pahami. Tapi ada sedikit rasa lega di sana karena pada akhirnya Aster tidak membenciku seperti yang ku pikirkan. Namun tetap saja, aku merasa sangat buruk sekarang karena Aster tidak berteriak padaku sedikitpun.


Setidaknya ... marahlah padaku satu kali. Terserah kau mau marah karena perbuatanku di masa lalu atau karena hal lainnya yang bersangkutan dengan ayah. Aku tidak perduli, yang ku mau kau lepaskan emosimu yang satu itu padaku. Dengan begitu, mungkin rasa bersalahku akan sedikit berkurang. Batinku sambil mengepalkan kedua tanganku dengan erat selagi air mataku terus berjatuhan.


.


.


.


Thanks for reading...