Aster Veren

Aster Veren
Episode 53 (End Season 1)




-Aster-


"Kau benar-benar akan pergi?" Tanya Carel terlihat murung saat melihatku keluar dari dalam rumah nenek setelah berpamitan pada semua orang.


"Carel ...." Gumamku ikut merasa sedih karena harus berpisah dengan teman pertamaku.


"Aku lupa memberikan ini padamu kemarin, terimalah." Lanjutku sambil memberikan sekantung buah jambu yang dipetik ayah kemarin.


"Apa ini?" Tanyanya sambil membuka kantung keresek ditangannya, "jambu?" Lanjutnya sambil melirik kearahku.


"Kemarin aku pergi ke rumah bi Siti bersama papa. Dan aku langsung ingat Carel saat melihat buah jambu matang dihalaman belakang rumah bi Siti, jadi aku meminta papa untuk memetikannya untuk ku." Jelasku sambil mengingat kejadian kemarin siang, dan ku lihat Carel sudah tersenyum tipis padaku.


"... kalau begini aku benar-benar akan merindukanmu." Tuturnya terdengar sedih berbeda dengan ekspresinya yang terlihat bahagia, sangat tidak sinkron. Mungkin maksud hatinya ingin melepasku dengan bahagia namun hati kecilnya berkata lain.


"Aku juga akan merindukanmu Carel ... biar bagaimanapun kamu teman pertamaku, jadi–" Jelasku terhenti saat Carel tiba-tiba memeluk tubuhku dengan erat setelah meletakan kantung keresek yang ku berikan dilantai.


Carel ... kalau terus seperti ini aku tidak akan sanggup berpisah dengan ekspresi senang loh, aku pasti akan menangis. Jadi .... Batinku terus mengoceh, mencoba untuk menenangkan diriku supaya tidak menangis.


"Berjanjilah padaku Aster," ucapnya masih memeluk ku, "jangan pernah melupakanku." Lanjutnya terdengar menyakitkan.


"Tidak akan." Jawabku membalas pelukan hangatnya, berusaha untuk menahan air mataku yang sudah menggenang.


"Janji ya!" Ucapnya dengan suara gemetar membuatku mengelus punggungnya dengan perlahan.


Bagaimana bisa anak menyebalkan ini bersikap selemah ini hanya karena aku akan pergi jauh?


"Janji." Bisik ku langsung melepaskan pelukan Carel dan ku lihat dia sudah tersenyum lebar dengan sorot mata hangatnya.


Sepertinya perasaannya sudah membaik, tapi kenapa sekarang aku yang ingin menangis? Padahal beberapa detik lalu aku mendengar suara Carel yang bergetar dalam pelukanku.


"Nona ... nona harus cepat kembali dengan sehat ya. Saya akan selalu menunggu kepulangan nona." Teriak kak Hana mengejutkanku dan Carel yang masih berdiri diteras rumah nenek. Lalu tak lama kemudian kak Hana langsung memeluk tubuhku dengan erat.


"Kak Hana." Ucapku sambil membalas pelukan kak Hana dengan perasaan yang semakin campur aduk.


Bayangan wajah semua orang mulai berkelebat cepat silih berganti dalam ingatanku dan membuatku semakin enggan untuk pergi jauh dari sisi mereka.


Tapi saat mengingat orang-orang yang ku sayangi, dengan cepat ku tepis semua pikiran buruk ku itu, biar bagaimanapun aku harus pergi bersama ayah untuk melakukan pengobatan supaya semua orang merasa tenang dan tak perlu mengkhawatirkanku lagi.


Aku sudah mempersiapkan diri untuk hari ini, jadi jangan goyah Aster! Batinku berusaha menguatkan diriku.


"Jangan lupa untuk selalu menghubungi nenek ya sayang." Lanjut nenek saat kak Hana sudah melepaskan pelukannya dariku.


Sekarang semua orang sudah berkumpul diluar, bahkan ayah juga sudah berdiri disamping nenek membiarkan paman Rigel membawa koper ayah dan milik ku masuk kedalam bagasi mobil yang akan mengantar kami ke bandara.


"Iya, Aster pasti akan meminta papa untuk menghubungi nenek supaya kita bisa berbicara lewat telpon." Ucapku sambil menunjukan senyuman terbaik ku supaya tidak membuat mereka khawatir.


"Nenek baik-baik ya, jangan terlalu capek kerjanya." Lanjutku tak bisa menahan air mataku lagi saat melihat wajah semua orang dihadapanku.


"Aduh cucuku, kenapa kamu menangis? Kita hanya berpisah untuk sementara, setelah pekerjaan ayahmu dan pengobatanmu selesai. Kita akan kembali berkumpul lagi, jadi jangan sedih lagi ya." Tutur nenek sambil memeluk tubuhku dengan hangat.


"Nenek." Gumamku langsung membalas pelukan nenek.


"Cepatlah kembali Aster, jaga kesehatanmu dan awasi ayahmu terus ya. Dia selalu lupa waktu jika sudah terlalu fokus dengan pekerjaannya." Suara kak Wanda yang baru tiba dirumah nenek bersama dengan paman Arsel, paman merahku.


"Benar, kakak ku itu sangat gila kerja!" Lanjut paman terdengar mengejek.


"Memangnya kau pikir kau tidak gila kerja? Bukankah kau lebih gila kerja dariku? Jangan membuat Eric kesulitan setiap waktu." Ucap ayah membalas ejekan paman.


"Hah?! Siapa bilang? Aku tidak segila dirimu loh! Aku juga tidak pernah membuat Eric kesulitan." Ucap paman yang sudah berdiri dihadapan ayah dengan ekspresi kesalnya.


"Duh kalian ini masih saja suka bertengkar ya? Bukankah tidak baik bertengkar dihadapan anak kecil?" Ucap nenek sambil melepaskan pelukannya dariku.


"Benar! Dasar orang tua–" Lanjut Carel langsung dihentikan oleh paman yang sudah mencubit pipi Carel dengan gemasnya.


"Siapa yang kau bilang orang tua hah?!" Tanya paman penuh penekanan.


"Swakit bodoh! Lepwaskan tanganmu dwari wajhaku yang tampwan ini!" Geram Carel berusaha melepaskan tangan paman dari wajahnya.


"Kau ini tidak malu apa bertengkar dengan anak kecil?" Tanya kak Wanda membuat paman segera melepaskan cubitannya dari wajah Carel.


"Hah! Siapa yang kau sebut anak kecil?!" Teriak Carel tak terima dibilang anak kecil selagi tangannya sibuk mengelus pipinya yang sudah memerah karena dicubit paman.


"Kau! Memangnya kau pikir usiamu itu berapa tahun?" Jawab kak Wanda dengan senyuman sarkasnya membuat paman terkekeh.


"Pft ...." Gumamku berusaha untuk menahan tawaku sebaik mungkin, namun detik berikutnya aku malah ikut tertawa bersama paman bergitupun dengan kak Wanda dan yang lainnya.


"Jangan mentertawakanku!" Teriak Carel terlihat kesal, namun detik berikutnya dia malah ikut tertawa bersama kami.


"Sudah-sudah, sebaiknya kalian segera pergi ke bandara. Jangan sampai ketinggalan pesawat karena terjebak macet." Tutur nenek setelah puas tertawa.


"Benar," ucap ayah segera meraih tubuhku dan langsung menggendongku dipangkuannya. Belakangan ini ayah memang sering menggendongku ya?


"Kalau begitu kami pergi sekarang." Lanjut ayah bersamaan dengan tangan paman Rigel yang sudah membukakan pintu mobil bagian belakang untuk kami.


"Hati-hati dijalannya ya, jika sudah sampai segera hubungi aku." Ucap paman sambil merangkul kak Wanda disampingnya.


"Biar ku pikirkan nanti." Ucap ayah terdengar ketus sambil mendudukanku dibangku belakang.


"Woi!" Teriak paman terdengar kesal.


"Papa." Ucapku langsung bertemu tatap dengan manik merah ayah.


"Iya‐iya nanti ku hubungi." Ucap ayah setelah menghela napas pasrahnya, membuatku tersenyum lega saat melihat senyuman lebar paman merah dan suara tawa nenek.


Paman dan papa memang tidak pernah bisa akur ya?


"Ah tunggu!" Ucap paman saat ayah baru saja menutup pintu mobilnya setelah ikut masuk kedalam mobil menyusulku.


"Apalagi?" Tanya ayah yang sudah membuka kaca mobil disampingnya.


"Ini untukmu Aster, buka setelah kalian sampai ya. Jaga dirimu baik-baik." Ucap paman sambil memberikan sebuah surat ketanganku dengan tatapan hangatnya.


"Ya, terima kasih paman. Aku akan segera sembuh dan kembali lagi kesini." Tuturku membalas senyuman paman.


"Jangan lihat!" Ucap ayah langsung menutup wajahku dengan tangan kirinya.


A–ada apa? Batinku bertanya-tanya, tak mengerti dengan reaksi asing ayah yang seperti ini.


"Apa sih? Dasar pelit!" Umpat paman terdengar kesal.


Tuk tuk tuk!


Terdengar suara ketukan kaca mobil disisiku, dengan cepat aku menoleh kearah kaca itu dan ku dapati Carel disana.


Ku lirik sekilas kearah ayah dan paman yang masih sibuk berdebat. Lalu kembali melihat kearah Carel yang terlihat menggemaskan dalam diamnya.


"Mau saya bukakan kacanya nona?" Suara paman Rigel sedikit berbisik, membuatku menoleh kearah spion mobil yang sudah menampilkan senyuman paman Rigel.


"Hehe, iya tolong paman." Ucapku ikut berbisik, lalu tak lama kemudian kaca mobil bagianku pun terbuka.


"Aster." Ucap Carel terlihat ragu.


"Ada apa Carel?" Tanyaku sambil mendongakan kepalaku keluar mobil.


"... kenang-kenangan dariku." Jawabnya sambil menunjukan bungkusan kecil berwarna merah muda kepadaku.


"Untuk ku?" Tanyaku, langsung mendapat anggukan cepat darinya. Bahkan wajahnya sudah memerah, sangat menggemaskan. Disaat-saat seperti ini seorang Carel bisa bersikap seperti anak kecil kebanyakan, padahal biasanya selalu bersikap sok dewasa.


"Terima kasih Carel. Aku akan menyimpannya dengan baik." Lanjutku sambil meraih bungkusan kecil itu dari tangannya dan memberikan senyuman terbaik ku untuknya.


"Ya." Ucapnya membalas senyumanku lebih baik dari senyumanku.


"Menjauh dari mobilku!" Ucap ayah menyadarkanku akan perdebatannya dengan paman yang masih berlanjut.


"Kau mengusirku hah?!" Tanya paman terdengar kesal.


"Tentu saja! Kalau kau terus disini kapan kami akan pergi?" Jawab ayah langsung membuat paman bungkam.


"Be–benar juga ya ...," guman paman langsung menjauh dari mobil ayah.


"Sampai jumpa Aster!" Ucap paman dan Carel yang sudah berdiri disamping paman.


"Ya, sampai jumpa semuanya. Jaga diri kalian baik-baik ya." Teriak ku sambil mendongakan kepalaku dikaca mobil bagian ayah, lalu melambaikan tanganku pada mereka saat mobil ayah melaju menjauhi rumah nenek.


Kemudian mataku menangkap paman Tomi dan paman Eric didepan gerbang masuk rumah nenek, mereka langsung membungkukan tubuhnya untuk memberikan hormat saat melihat mobil ayah keluar dari kediaman nenek.


Hari ini aku akan pergi ke tempat baru bersama papa. Demi semua orang yang menyayangiku, aku akan segera kembali dalam keadaan sehat. Batinku sambil menoleh pada ayah yang sudah tersenyum lembut padaku dengan sorot mata hangatnya.


"Apa kamu sedih?" Tanya ayah melunturkan senyumanku.


"Kenapa?" Jawabku balik bertanya, bukannya aku tidak sedih. Tapi kan aku pergi bersama dengan ayah, jadi aku tidak perlu khawatir kan? Dan kenapa ayah bertanya hal itu padaku?


"Karena tadi kamu menangis, ku pikir kamu tidak mau ikut bersamaku dan terlihat akan membatalkan perjalanmu." Jelas ayah dengan tatapan seriusnya.


"Mana mungkin ... kalau dibilang sedih, Aster tidak bisa berbohong soal itu. Karena sejak bertemu dengan paman Arsel, hidup Aster jadi berubah dan dikelilingi banyak orang baik seperti papa. Jadi Aster sedih karena harus berpisah dengan mereka disaat Aster mulai terbiasa dengan mereka." Tuturku mengatakan isi pikiranku saat ini.


"Tapi karena Aster pergi bersama papa, Aster tidak khawatir lagi. Selama bersama papa Aster akan ikut kemanapun papa pergi." Lanjutku sambil tersenyum pada ayah, ku harap kekhawatirannya menghilang setelah melihatku baik-baik saja.


Aku tau ayah mungkin merasa ragu juga untuk mengajak ku pergi. Tapi aku tidak ingin berjauhan lagi dengan ayah yang selama ini ku harapkan, jadi aku akan terus bersama ayah selamanya.


"Begitu ya?" Gumam ayah sambil tersenyum tipis dan mengelus puncak kepalaku dengan lembut.


.


.


.


Thanks for reading...