Aster Veren

Aster Veren
Episode 238




-Aster-


"Lihat itu, apa mereka pasangan kekasih? Sangat serasi ya?"


"Benar, cantik dan tampan. Pakaiannya juga cocok di tubuh mereka."


"Aku setuju. Padahal biasanya ada beberapa orang yang tidak pantas mengenakan pakaian couple kan? Dan karena sering dikira bucin, orang-orang jadi menghindari memakai pakaian couple dengan pasangan mereka. Tapi saat melihat mereka rasanya aku juga jadi ingin membeli pakaian couple."


"Haha, kalau begitu kau cari pasangannya dulu sana!"


"Ya akan ku cari di sekitar sini sialan."


"Haha ... mereka terlihat sangat bersenang-senang ya?" Gumamku yang mendengar pembicaraan kelompok perempuan yang melewati ku dan Carel.


Dilihat dari arahnya, mereka baru keluar dari pintu keluar area wahana roller coaster. Sepertinya mereka baru selesai bermain wahana itu.


Irinya ... padahal aku juga ingin segera menyelesaikannya. Tapi antreannya sangat panjang, sudah lebih dari sepuluh menit aku mengantre, tapi belum ada tanda-tanda aku akan segera mendapat bagian. Batinku memperhatikan barisan di depanku yang terlihat padat dan rasanya sangat panas karena berdesak-desakan, terik mataharinya juga sangat mengganggu.


"Kemarilah!" Ucap Carel berganti posisi denganku, lalu tubuhnya membelakangi sinar matahari dan berdiri menghadapku yang sudah menghadap kedepan, berlawan dengannya.


"Kau!" Lanjutnya sambil menunjuk seorang perempuan diluar antrean, ku lihat perempuan itu tampak kebingungan dan dengan perlahan mulai mendekati Carel bersama dengan temannya.


"Iya?" Tanyanya.


"Bisa aku beli kipasmu?"


Eh? Apa yang dia lakukan? Kenapa harus membeli darinya? Kalau kau kita kan bisa beli dipenjualnya langsung. Batinku benar-benar dibuat terkejut.


"Bisa tidak?" Tanya Carel terlihat tidak sabaran.


"Ca—Carel jangan seperti itu." Ucapku tak didengarkan.


"Ah aku paham. Silahkan! Aku memberikannya secara gratis, semoga sukses." Tutur perempuan itu lebih mengejutkanku, lalu dengan cepat dia memberikan kipas itu pada Carel dan segera pergi setelah mengedipkan satu matanya dengan ibu jarinya yang sudah dia tunjukan pada Carel. Entah apa maksudnya itu?


"Hah~ perempuan aneh. Aku kan berniat membelinya, kenapa dia memberikannya dengan gratis?" Dengusnya terlihat kesal memperhatikan kepergian perempuan tadi.


"Haha, kau ini benar-benar ya ... kalau mau kipas kan kita bisa pergi membelinya di penjualnya langsung." Tuturku setelah menghela napas panjang dan kembali memperhatikan barisan dihadapanku.


"Ya, tapi kita kan masih mengantre. Jadi bagaimana kita bisa pergi?" Jelasnya sambil mengipasi ku dengan kipas yang dia terima dari perempuan asing itu.


"Benar juga, kalau kita keluar dari barisan kita harus mengantre ulang."


"Pinter." Angguknya masih mengipasi ku, padahal aku yakin yang lebih membutuhkan angin ini adalah Carel. Dia pasti kepanasan kan karena terkena sinar matahari langsung? Tapi dia malah mengipasi ku.


"Masih gerah?" Tanyanya membuatku tersenyum jahil saat melihatnya menatapku dengan khawatir dan mengusap keringat di keningku.


"Sangat gerah, aku jadi ingin bermain air lagi sekarang."


"Baiklah setelah kita naik roller coaster, ayo kita main air lagi." Tuturnya sambil melirik barisan dihadapan kami.


"Pft ... aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius."


"Hah~ begitu? Jadi kamu hanya bercanda?"


"Hahaha iya." Angguk ku berhasil membuatnya kesal.


"Ya itu bagus, karena pakaian kita tidak jadi basah lagi."


"Ya Tuhan, aku benar-benar menginginkan pria sepertinya. Kenapa dia sangat perhatian pada kekasihnya itu? Beruntungnya dia bisa mendapatkan pria sepertinya ...,"


"Benar. Jarang sekali ada pria yang sepeka itu, aku jadi ingin punya kekasih."


Bisik beberapa perempuan dibelakangku membuatku merasa malu karena menjadi pusat perhatian hanya karena Carel mengipasiku dan berganti tempat denganku.


***


"Hah~ jantungku rasanya hampir copot." Ucapku setelah keluar dari pintu keluar roller coaster bersama dengan Carel.


"Ya, tapi untungnya itu tidak terjadi." Angguk ku sambil memperhatikan sekitarku, "apa hanya perasaanku saja? Atau memang orang-orangnya semakin banyak?" Lanjutku bertanya-tanya dengan kepadatan taman hiburan yang ku kunjungi bersama dengan Carel.


"Aku dengar jarang ada taman hiburan yang buka sampai malam, jadi wajar saja jika taman hiburan ini lebih ramai dari yang lainnya."


"Benarkah?"


"Iya, biasanya kan taman hiburan akan tutup pada pukul 07:00 malam. Tapi untuk tempat ini tutupnya pukul 10:00 malam." Jelas Carel membuatku takjub, aku juga jadi penasaran dengan suasana malam hari di taman ini. Apakah akan berbeda dengan siang hari?


"Apa kamu sudah lelah?" Tanya Carel sambil meraih puncak kepalaku dengan tangan kanannya selagi tangan kirinya masih memegangi kipas.


"Tidak. Aku masih ingin bermain, selain itu aku juga penasaran dengan suasana taman hiburan di malam hari. Apa kita akan tinggal lebih lama? Atau kamu sudah lelah?" Jawabku kembali bertanya.


"Kalau begitu kita akan di sini sampai kamu lelah. Bagaimana?"


"Setuju!"


"Jadi, mau main apa kita sekarang?"


"Kincir angin, tidak. Itu akan bagus jika hari sudah malam kan? Bagaimana kalau hysteria?"


"Baiklah, ayo pergi sebelum antreannya lebih panjang." Ucap Carel menyetujui usulanku dan segera menggandeng tanganku, membawaku pergi ke tempat antrean hysteria.


"Sangat tinggi ...," gumamku sambil menengadah memperhatikan wahana dihadapanku, aku bahkan bisa mendengar teriakan mereka yang sedang bermain hysteria.


"Takut? Mau pergi ke tempat lain?"


"Tidak. Ayo bermain yang ini." Tolak ku sambil menggelengkan kepalaku dan membulatkan tekad ku. Aku tidak tau kenapa mendadak sangat bersemangat untuk mencoba wahana ekstrem setelah mencoba naik roller coaster tadi. Apa adrenalin ku sedang terpacu?


"Oke."


"Ah!" Ucapku tiba-tiba merasa ingin pergi ke toilet.


"Kenapa?" Tanya Carel membuatku terkejut, padahal aku sangat yakin tidak bersuara dengan keras.


"Aku ingin pergi ke toilet hehe ...," jawabku sambil terkekeh.


"Hah~ ayo pergi."


"Eh? Aku bisa pergi sendiri."


"Aku akan mengantarmu dan menunggu di luar."


"Tidak, kamu tidak perlu mengantarku. Tunggu saja di sini sebentar." Tuturku tidak didengarkan karena Carel sudah bergerak cepat membawaku ke toilet.


Dilihat dari jarak dan tempatnya, sepertinya aku akan tersasar jika Carel tidak bersamaku. Apa aku harus bersyukur karena dia mengantarku? Tapi tetap saja, bukankah ini sedikit berlebihan? Menunggu di depan toilet perempuan?


Apa dia tidak memikirkan pandangan orang-orang saat menungguku nantinya?


"Masuklah, aku akan menunggu di sana." Ucapnya sambil menunjuk tempat duduk yang tak jauh dari toilet.


"Hah~ baiklah." Timpal ku setelah menghela napas lega. Sepertinya aku terlalu berlebihan karena memikirkan Carel akan menungguku tepat di depan pintu toilet perempuan.


"Kenapa menghela napas?"


"Tidak itu, aku pikir kamu akan menungguku di depan toilet perempuan."


"Tidak mungkin, bukankah itu akan membuatmu merasa tidak nyaman."


"Benar. Makanya aku merasa lega saat kamu bilang akan menungguku di sana. Kalau begitu aku masuk, aku akan segera kembali jadi tunggu aku ya ...," tuturku segera pergi dari hadapannya.


.


.


.


Thanks for reading...