
-Ansel-
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menemui Hans di ruangannya bersama dengan Rigel.
Sebelum kami masuk ke ruang rawatnya, seseorang baru saja membuka pintu ruangan itu dan keluar dari dalam ruangan Hans, terlihat mencurigakan.
"Siapa dia?" Gumam Rigel, sepertinya dia juga merasakan apa yang ku rasakan saat melihatnya keluar dari ruangan Hans dengan santainya melewati kami begitu saja.
"Bisa kau ikuti dia?" Pintaku membuat Rigel terkejut.
"A–apa maksud tuan?" Tanyanya tak mengerti.
"Entahlah, aku hanya tidak ingin melewatkan sesuatu dalam penyelidikan ini. Jadi awasi siapapun yang terlihat mencurigakan, hubungi aku jika mendapatkan informasi." Jelasku sebelum masuk ke dalam ruang rawat Hans, meninggalkan Rigel di depan pintu begitu saja.
Ku lihat Hans sedang duduk menyandar pada bantal dibelakangnya sambil memperhatikan pemandangan luar dari jendela besar di dekat tempat tidurnya.
"Syukurlah kau sudah siuman." Ucapku mengejutkannya yang langsung menoleh saat mendengar suaraku.
"Siapa kau?" Tanyanya membuatku terkejut saat mendengar ucapannya.
"Apa maksudmu? Kau lupa padaku?" Jawabku balik bertanya, "... apa luka dikepalamu itu sangat berat?" Lanjutku bergumam sambil memperhatikan perban dikepalanya.
Apa ini artinya dia hilang ingatan? Tapi tidak ada laporan seperti itu dari dokter, jelas-jelas kepalanya hanya terbentur–tidak mungkin bisa membuatnya gegar otak atau hilang ingatan kan? Batinku berkeringat dingin saat mengingat semua penjelasan dokter yang menanganinya.
"Apa lukanya separah itu?" Lanjutku bergumam.
"Apa anda mengenal saya?" Tanyanya menyadarkanku dari lamunanku.
"Ya, begitulah. Kau adalah salah satu pelayan di rumah ibuku." Jawabku.
"Pelayan?" Gumamnya sambil meraih kepalanya dengan tangan kanannya, sepertinya dia berusaha mengingat sesuatu.
***
"Jadi bagaimana tuan? Apa Hans sudah menceritakan semuanya?" Tanya Rigel saat aku baru masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya dia hilang ingatan." Jawabku setelah menghela napas berat membuatnya terkejut.
"Ba–bagaimana bisa?"
"Entahlah, kau juga merasa ada yang janggal bukan? Tapi dokter yang menangani Hans bilang, mungkin saja dia syok berat setelah mengalami kecelakaan itu sampai dia lupa ingatan seperti itu." Jelasku sambil memijat keningku yang mulai berdenyut lagi.
Rasanya masalah ini semakin rumit saja.
"... lalu bagaimana denganmu? Kau dapat informasi mengenai pria yang keluar dari ruangannya Hans?" Lanjutku bertanya.
"Maafkan saya tuan, saya kehilangan dia saat mengejarnya keluar rumah sakit." Jelasnya merasa bersalah.
"Sepertinya dia sadar kalau sedang diawasi, untuk berjaga-jaga minta Eric dan Tomi untuk mengawasi Hans sampai dia keluar dari rumah sakit. Lalu laporkan situasinya setiap hari padaku. Dan kau, fokus saja dengan tugasmu. Cari tau soal pria itu." Jelasku mengingat perawakan pria yang keluar dari ruangan Hans.
"Baik." Ucapnya sebelum menyalakan mesin mobilnya.
***
-Aster-
"Kalau begitu lakukan apa yang ingin kau lakukan!" Ucapku setelah mengendalikan emosiku.
"Ha?! Memangnya kau pikir semudah apa berani mengatakan hal mustahil seperti itu?" Tanyanya sambil memasang ekspresi terkejutnya.
"Kau benar-benar ingin melakukan apa yang kau inginkan Carel?" Tanyaku tak bisa berhenti menatapnya dengan tatapan tak percayaku.
Bagaimana tidak? Beberapa detik lalu dia mengeluh ingin melakukan hal yang ingin dia lakukan, tapi saat aku mengatakan dia bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan, anak itu malah bilang mustahil? Sebenarnya dia percaya bisa melakukan apa yang dia inginkan atau tidak sih? Kenapa meragukan dirinya sendiri?
"Berhenti menatap remeh padaku seperti itu!" Teriak Carel terlihat kesal.
"Hee..."
"Sudah ku katakan berhenti menatapku seperti itu!" Ucapnya lagi sambil mencubit pipiku dengan gemas.
"Aaa... aw–sakit, lepaskan! Kenapa kau suka sekali mencubit pipiku sih?" Tuturku berusaha melepaskan cubitannya yang menyakitkan itu.
"Daripada ku pukul." Ucapnya sambil melepaskan cubitannya dan langsung melipat kedua tangannya didepan dada dengan membuang pandangannya dariku.
"Duh kau ini ... memangnya apa yang mustahil dari mewujudkan keinginanmu itu?" Tanyaku sambil mengelus pipiku yang terasa sakit.
"... keluargaku, kakek ku ingin aku masuk akademi untuk mempersiapkanku menjadi penerus keluarga Alterio berikutnya kan?" Tuturnya membuatku mengangguk paham bersamaan dengan tubuhnya yang sudah menyender pada sandaran kursi taman yang kami duduki.
Hee... jadi dia ingin menjadi dokter untuk menyembuhkan ibunya. Batinku merasa tersentuh dengan perkataannya. Aku memang tau dia ingin menjadi seorang dokter dari ayah, tapi aku tidak tau alasannya untuk menyembuhkan ibunya.
"Kalau begitu, kau malah harus mewujudkan keinginanmu itu kan?" Lanjutku saat bertemu tatap dengan manik merahnya itu.
"Tapi–"
"Bicarakan saja lagi dengan kakekmu, jika dijelaskan dengan benar dia juga akan mengerti bukan?"
"Entahlah, aku sudah mencobanya berkali-kali. Tapi hasilnya tetap sama ... tak didengarkan." Jelasnya setelah menghela napas pasrahnya.
"Kau yakin cara bicaramu benar?" Tanyaku tak bisa mempercayai ucapannya itu.
"Kau meragukanku?"
"Ya–kan cara bicaramu itu selalu menyebalkan. Siapa tau kakekmu tidak mau mendengarkanmu karena kau bicara seenaknya." Jelasku sambil membayangkan bagaimana biasanya Carel berbicara hal-hal menyebalkan padaku.
"Kau!" Deliknya membuatku terkejut dan segera bangkit dari posisi duduk ku.
"A–aku baru ingat harus latihan bersama Teo. Aku pergi dulu, sampai nanti." Tuturku berusaha melarikan diri dari Carel, namun langkahku kalah cepat darinya. Tanganku sudah dicekal olehnya, mau tak mau aku pun mengurungkan niatku untuk kabur. Aku juga bisa melihat Carel yang sudah berdiri dari posisi duduknya.
"Latihan? Bersama Teo? Latihan apa?" Tanyanya menatapku serius.
"I–itu ... aku diundang ke acara perayaan kelulusan kak Nathan, didalam undangan tertulis ada sesi berdansa. Jadi aku mau belajar berdansa bersama Teo." Jelasku sambil memalingkan pandanganku kesembarang arah, entahlah rasanya menakutkan melihat Carel menatapku dengan serius begitu.
"Kau–masuk akademi itu?" Tanyanya membuatku mengangguk lemas.
Padahal aku berniat menyembunyikannya, bukan apa-apa. Aku hanya ingin Carel melakukan apa yang dia ingin lakukan seperti masuk sekolah ke sekolah yang dia inginkan, bukannya masuk ke akademi karena ada aku disana.
Lagipula dari awal aku ini hanya umpan untuknya, jadi ku mohon jangan memakan umpannya! Meskipun aku sedikit berharap kalau Carel akan masuk ke akademi. Aku benar-benar membayangkan kami masuk ke sekolah yang sama sekarang. Batinku segera menggelengkan kepalaku untuk menepis pikiran egoisku.
"Pa–papa ingin mempersiapkanku menjadi penerus keluarga Veren berikutnya. Jadi ...." Jelasku tak bisa menjelaskan lebih jauh lagi.
"Kenapa harus belajar bersama Teo?"
"He? Ka–karena aku masuk melalui jalur partner, dan aku adalah partner Teo jadi–" Jelasku terpotong.
"Kemarilah." Ucapnya langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya, membuatku terkejut setengah mati.
"Ca–carel?" Tanyaku saat merasakan tangan kanan Carel dipinggangku, tangan satunya memegangi tangan kananku setelah menautkan tangan kiriku dibahunya.
"Pegang tanganku yang benar, lihat mata lawan berdansamu, jangan menunduk. Saat berdansa kau harus menatap lawan berdansamu untuk menghargainya, selain itu kau bisa berkomunikasi melalui tatapan saat sedang berdansa, jangan terlalu banyak bicara karena bisa mengganggu orang lain yang berdansa disekitarmu. Lalu perhatikan juga langkahmu saat sedang berdansa, jangan sampai kau menginjak kaki lawan berdansamu." Jelas Carel panjang lebar sambil membimbingku untuk melakukan pergerakan yang dia jelaskan.
Dia mengajariku berdansa? Me–mengejutkan. Batinku tak bisa berkata apapun saking terkejutnya, selain itu penjelasannya mudah dipahami dan entah kenapa aku tidak bisa berpaling dari wajah tampannya itu.
Aku tau dia memang tampan sejak kecil, tapi saat dilihat dari dekat ... lebih tampan lagi. Lanjutku masih dalam hati, entah kenapa aku malah bangga karena memiliki teman setampan Carel. Ya–meskipun sifatnya sedikit buruk.
"Sudah ku katakan jangan menunduk–" Suara Carel mengejutkanku sampai tanpa sadar kakiku sudah menginjak kakinya.
"Ma–maaf." Gumamku merasa bersalah karena tidak fokus pada pelajaran yang diberikan Carel, padahal dia berniat membantuku, tapi aku malah bersikap kurang ajar karena tidak memperhatikannya.
"Tubuhmu kecil tapi tenagamu cukup besar ya." Tuturnya sambil memperhatikan kakinya yang tak sengaja ku injak.
"Kau!" Geramku merasa kesal sendiri saat mendengar nada bicara menyebalkannya itu.
"Pft... Hha–hahaha, kau terlalu fokus memperhatikan ketampananku ya?" Tawanya membuatku malu, entah bagaimana dia bisa menebak isi pikiranku setepat itu. Tapi, melihatnya tertawa seperti ini membuat hatiku lega.
Akhirnya dia bisa tertawa lagi.
"Tampan? Tidak tuh, wajahmu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wajah papa ku." Sangkalku sambil melipat kedua tanganku di atas dada dan membuang pandanganku darinya.
"Hee... bohong! Wajahmu tidak mengatakan apa yang baru saja kau ucapkan barusan." Tuturnya dengan senyuman sarkasnya.
"Kau!"
"Apa? Aku tampan kan? Iya kan?" Tanyanya sambil menyibak rambutnya kebelakang, masih dengan senyum sarkasnya yang membuatku terpaku untuk beberapa saat.
"Su–suka-suka kau saja!" Dengusku berusaha menyembunyikan perasaan malu ku darinya.
Kenapa dia terus menggodaku seperti ini? Kenapa juga dia memiliki wajah setampan itu? Bukankah itu tidak adil? Karena bukan hanya gelar anak orang kaya yang dia dapat, tapi wajah tampannya juga sudah dikenal banyak orang.
.
.
.
Thanks for reading...