
-Aster-
Ku hela napasku sedalam mungkin setelah menguap karena tak kuasa menahan kantuk saat merasakan sinar matahari yang menghangatkan tubuhku. Sinar matahari yang masuk melalui jendela kelas saat tirai yang menutupi jendela itu dibuka selebar mungkin oleh orang yang pertama kali masuk kelas pagi ini.
"Kalau tau begini, aku tidak akan ikut bergadang selama dua hari ini." Gumamku sambil bersedekap diatas meja, lalu menundukan kepalaku diatas telapak tanganku. Mencari posisi nyaman sebelum menghadapkan wajahku kearah sinari matahari yang sudah menyoroti kulit wajahku.
Hangatnya ..., batinku sambil menutup mataku, merasakan kehangatan diwajahku.
"Ku harap masalah mereka selesai dengan baik." Gumamku masih menutup mataku, mengingat kembali apa yang sudah terjadi selama dua hari terakhir ini.
Kalea dan Tia benar-benar membantu Nadin semampu mereka untuk memperbaiki hubungan kak Nathan dan Nadin, berbagai cara mereka lakukan supaya pertunangan itu bisa terus berlanjut. Aku juga sempat memikirkan hal apa yang bisa ku bantu untuk Nadin, tapi tidak ada. Tidak ada yang bisa ku bantu selain mendo'akan kebaikan untuknya.
Aku juga tidak bisa ikut dalam pembicaraan mereka, padahal setiap ada waktu aku selalu menyempatkan diri untuk membaca novel romantis, mengumpulkan semua bahan dan mempelajarinya supaya bisa berguna disaat-saat seperti ini. Tapi tidak ada hal berguna yang bisa ku usulkan untuk rencana mereka.
"Akhirnya Kalea dan Tia yang menyusun rencana untuk Nadin," gumamku setelah menghela napas berat, mengingat betapa tak bergunanya aku sekarang.
Hah~ apa dengan membaca buku saja tidak cukup? Kenapa aku tidak bisa membicarakan soal hubungan seperti itu dengan mereka? Padahal aku juga ingin ikut dalam pembicaraan mereka, tapi kenapa tidak bisa? Batinku sambil menepuk-nepuk pelan kepalaku sebelum merasakan hembusan angin yang menyapu kulit wajahku dengan lembut.
"Ku kira kau tidur, ternyata cuma bermalas-malasan saja." Suara Carel bersamaan dengan bayangan tubuhnya yang menghalangi sinar matahari diwajahku, bahkan tanganku yang sedang sibuk menepuk-nepuk kepalaku pun sudah dicengkramnya dengan kuat.
Dengan cepat ku buka mataku dan ku dapati sosok Carel yang berdiri menghalangi sinar matahari itu, sesuai dengan dugaanku, "Kau tidak boleh menepuk-nepuk kepalamu seperti itu!" Serunya membuatku mendengus kesal karena waktu melamunku terganggu olehnya, ditambah lagi dengan sengaja dia menghalangi sinar matahari yang sedang ku nikmati.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Kenapa semakin jelek saja?" Lanjutnya bertanya membuatku mengernyit kesal saat melihat senyum sarkasnya.
"Mau mengajak ku bertengkar?" Ucapku balik bertanya sambil melepaskan tanganku yang dia cengkram dengan paksa.
"Kau hobi sekali menggoda Aster ya Carel? Setiap bertemu selalu saja mengajaknya bertengkar," ucap Teo membuatku menoleh kearahnya yang sudah duduk dibelakangku. Ku lihat dia sudah menunjukan senyum manis biasanya, senyuman yang tidak ku pernah ku sukai darinya. Melihatnya saja membuatku kesal berkali-kali lipat dari sebelumnya.
"Tumben kau bermalas-malasan seperti itu, wajahmu juga terlihat letih. Apa kau tidur dengan nyenyak?" Lanjutnya bersamaan dengan tubuhku yang sudah membelakanginya, berusaha untuk melepaskan pandanganku dari senyum menyebalkannya itu.
"Apa ada hal yang mengganggumu?" Timpal Carel bertanya.
Apa ku beritau mereka ya? Mungkin mereka bisa membantuku memberikan pandangan mereka mengenai masalah Nadin dan kak Nathan. Lalu siapa tau aku jadi bisa memikirkan hal bagus untuk membantu Nadin kan? Batinku mempertimbangkan jawaban yang akan ku berikan pada mereka sebelum memberitau inti masalahnya.
"Ada ya?" Ucap Carel mengejutkanku, bagaimana bisa dia menebak setepat itu? "Katakan!" Lanjutnya setelah menghela napas letihnya dan menyenderkan tubuhnya pada kusen jendela di samping tempat duduk ku, menghalangi sinar matahari yang sempat ku nikmati.
"Ka–kau sangat menyebalkan ya?" Gumamku merasa kesal dengan tingkat kepekaan yang dimilikinya.
"Kau tidak akan bisa membohongiku, sudah ku bilang kan? Wajahmu itu mudah dibaca." Jelasnya membuatku sulit untuk menelan salivaku, padahal baru saja aku berpikir untuk sedikit berbohong padanya. Tapi dia berhasil menebak isi pikiranku lagi.
"Benar, ekspresimu sangat mudah di baca dan itu terlihat lucu. Apalagi saat kau terkejut ketika orang lain berhasil menebak apa yang terjadi denganmu, ekspresimu jadi beragam." Lanjut Teo masih dengan senyum manisnya, terlihat seperti sedang menggodaku.
"Hee ... be–benarkah?" Gumamku merasakan panas diwajahku saat mendengar penjelasan Teo. Aku bahkan tidak tau wajahku bisa mengeluarkan banyak ekspresi yang mudah dibaca seperti yang dikatakan oleh kedua anak itu.
Meski aku sering mendengarnya dari Carel kalau wajahku mudah dibaca.
"Jadi, apa yang mengganggumu?" Tanya Carel membawaku kembali ke topik pembicaraan yang dia buat untuk ku.
"Itu, sebenarnya ...."
***
"Hee... jadi yang ku lihat di luar itu, mereka sedang membicarakan kejelasan hubungan mereka ya?" Gumamku tak kuasa menahan senyumanku.
"Jadi begitu ya ...." Lanjutku membuat Aster menatapku dengan tajam.
Kenapa? Dia marah? Batinku bertanya-tanya dengan ekspresinya yang tiba-tiba berubah saat aku tersenyum. Entahlah rasanya aku merasa puas saat mendengar hubungan mereka bermasalah, apalagi dulu Nadin selalu bersikap jahat pada Aster kan? Jadi aku merasa ini balasan yang tepat dari perbuatannya di masa lalu.
Hebat juga si Nathan bisa memutuskan hal sebesar itu untuk mengakhiri hubungannya dengan si Nadin saat dia tau kalau perempuan itu juga terlibat dalam kejahatan Kalea pada Aster di masa lalu, lalu dia juga membuat Kalea menderita selama beberapa tahun terakhir ini. Batinku memuji tindakan pria itu tanpa ku sadari.
"Jadi hubungan mereka sedang bermasalah ya?" Tanya Teo membuat Aster mengangguk lesu.
"Kau? Aneh!" Ucapku saat mataku bertemu tatap dengan manik ungunya.
"Ap–apa? Tidak, aku tidak aneh! Kenapa kau ikut-ikutan mengataiku aneh?" Sangkalnya terlihat kesal.
"Memangnya siapa yang mengataimu aneh selain aku?"
"Nadin dan Kalea!" Dengusnya sambil membuang wajah dariku, menghindari tatapanku. "Memangnya apa yang aneh? Aku merasa normal kok," lanjutnya menggerutu sambil mengembungkan pipinya, sudah lama aku tidak melihat ekspresi kesalnya yang seperti itu. Terlihat sangat menggemaskan.
"Pft ...," gumamku berusaha menahan tawaku saat membayangkan pipinya meledak saat ku tusuk dengan jari telunjuk ku.
"Kau? Jangan mentertawakanku diam-diam begitu!" Serunya semakin kesal dan mulai memukul tanganku yang ku lipat diatas dadaku.
"Ya habis kau aneh! Benar kan Teo?"
"Tidak, aku normal!" Kilahnya.
"Kau normal kalau tidak memperdulikan masalah orang lain, apalagi orang-orang yang pernah menyakitimu di masa lalu." Jelas Teo membuatku mengangguk mantap, menyetujui ucapannya itu.
"Aku kan sudah memaafkan mereka, dan lagi ... apa aku harus membalas perbuatan mereka dulu sebelum memutuskan untuk berteman dengan mereka? Kalau aku membalas dendam, apakah masalahnya akan selesai sampai disitu? Tidak kan? Karena membalas dendam bisa membawa dendam baru, lalu masalahnya tidak akan pernah selesai." Jelasnya dengan suara naik turun sebelum akhirnya dia berbicara dengan nada rendah.
Aku yang mendengarnya tak bisa mengatakan apapun selain menatapnya dengan bangga, bahkan tanpa sadar tangan kananku sudah meraih puncak kepalanya dan mengelusnya selembut mungkin. "Yah, kau memang seperti ini orangnya kan?" Gumamku sambil menunjukan senyuman lebarku padanya saat mata kami kembali bertemu tatap.
"Ekhem!" Dehem Teo membuatku segera melepaskan tanganku dari puncak kepala Aster, "kalau mau bermesraan bisa pergi ke tempat lain? Kalian bisa menjadi bahan gosip baru nantinya." Lanjut Teo membuatku memperhatikan sekitarku, ternyata penghuni kelas Aster dan Teo mulai memenuhi kelas mereka.
"Ap–apa maksudmu bermesraan?" Protes Aster dengan rona merah diwajahnya.
"Yah persetan dengan gosip, aku tidak perduli! Aku pergi dulu ya Aster, nanti kita makan siang bersama. Aku akan membawakan makanan kesukaanmu, aku jamin kau akan suka. Jadi, sampai nanti!" Tuturku sebelum berjalan meninggalkan kelas mereka, ku lihat Aster tidak bisa mengatakan apapun karena aku tidak memberikannya kesempatan untuk membalas ucapanku.
Dia terlihat sangat lucu, batinku saat melihat ekspresi bingung diwajahnya.
Lalu ku langkahkan kakiku menuju pintu keluar saat melihat sosok Sean dan temannya memasuki kelas melewatiku begitu saja. Mata kami juga sempat bertemu tatap, namun dengan cepat dia mengalihkan pandangannya sambil memasang ekspresi gembiranya, "pagi Aster!" Serunya menyapa Aster, entah kenapa aku tidak menyukainya.
Apa karena dia terlihat blak-blakan menunjukan rasa sukanya pada Aster? Membuatku jengkel saja!
.
.
.
Thanks for reading...