
-Carel-
"Kau gila! Kenapa baru memberitauku sekarang?" Ucapku nyaris berteriak, merasa kesal pada diriku sendiri yang mendadak tumpul dengan sekitarku.
Harusnya aku tau, kalau Aster tidak akan berubah semudah itu jika tidak–sial! Ini semua terjadi hanya karena permainan kakek dengan pak tua pemilik akademi ini. Gara-gara mereka, Aster sampai harus tunduk pada Lusy dan menerima perlakuan buruk dari kedua teman anak itu?
... dugaan ku soal Aster yang menerima ancaman itu, ternyata itu semua benar.
"Seandainya mereka memberitauku, aku bisa melakukan sesuatu untuk membuat semua ini tidak pernah terjadi." Lanjutku menggerutu sambil mengepalkan kedua tanganku dengan seluruh kekuatanku.
"Memangnya hal apa yang bisa kau lakukan selain membuat onar?" Tanya Dwi membuatku mendengus sebal padanya. Ya, itulah alasan mengapa semua orang menutupi masalah yang sedang mereka hadapi sekarang.
"Aster saja mengerti dan langsung membantuku saat aku meminta dia untuk menjauhimu. Bahkan ayahnya sendiri sudah lebih dulu memerintahkan Aster untuk menjauhimu." Lanjutnya memberikan penjelasan padaku.
"Tidak adil!"
"Apanya? Semuanya sudah selesai dan kau baru bilang ini semua tidak adil?"
"Tentu saja! Memangnya siapa yang mau terlihat bodoh hanya karena tidak tau masalahnya dari awal? Dan lagi, kau sampai bilang Aster tidak datang ke pemakaman ibu, padahal dia datang." Protesku mengingat kembali ucapan Dwi hari itu.
"Aku hanya membantunya, dia sendiri yang memintaku untuk tidak memberitahumu."
"Apapun alasannya, harusnya kau berkata jujur padaku!"
"Aku sudah melakukannya hari ini."
"Kau!" Geramku tak membuatnya takut. Ku lihat dia malah menikmati makanannya dengan lahap.
"Makan makanan mu sebelum dingin. Setelah ini aku akan mengantarmu kembali ke akademi." Tuturnya membuat selera makanku hilang.
"Kau saja yang habiskan." Ucapku sambil mendorong piring makanku kedekatnya. Ku lihat Dwi sudah menatapku dingin, sepertinya dia tidak mau menghabiskan makananku. Tapi aku tidak perduli, yang ku perdulikan saat ini adalah Aster.
Karena aku, dia sampai harus menjauhiku dan berakting menjadi anak menyebalkan. Hanya karena tidak mau melihatku dipindahkan ke kelas lain, dia tidak ingin ancaman kakek menjadi kenyataan, Dwi juga bilang dia melihat Aster mengunjungi ibu beberapa kali tanpa sepengetahuanku.
Lalu hal yang membuatku merasa tersentuh adalah, alasan dia menjauhiku karena dia tidak mau aku bertindak gegabah dan membuat rumor buruk tentangku tahun lalu tersebar. Dia juga ingin membuatku tetap fokus pada pelajaranku, tapi dia tidak tau kalau karenanya, fokusku malah menghilang.
... dengan ini semua pertanyaanku sudah terjawab. Tapi entah kenapa aku tidak merasa lega sedikit pun saat mengetahui semuanya. Aku malah merasa semakin kesal sekarang.
"Berhenti memasang ekspresi menyeramkan seperti itu!" Seru Dwi membuatku mendelik sebal padanya, ku lihat dia kembali melahap makanan dihadapannya sebelum melanjutkan ucapannya.
"... kau mau tau alasan dia menyuruhku berbohong padamu di hari kepergian ibu?" Tanyanya membuatku mengernyit bingung, tiba-tiba saja rasa penasaranku kembali memuncak.
"Apa ada alasan lain?"
"Memangnya apa yang kau pikirkan?"
"Dia melakukannya supaya membuatku semakin membencinya kan?"
"Bodoh! Dia tidak mau membuatmu khawatir dan nekat menyusulnya ke Singapura."
"Ha–hah? Maksudnya?" Tanyaku tak mengerti dengan ucapannya.
"Aku baru mendengar beritanya dari ayah beberapa hari yang lalu saat dia pergi ke Singapura,"
"Ayah bilang, tuan Ansel mengalami kecelakaan dihari yang sama dengan kepergian ibu. Maka dari itu Aster memintaku untuk berbohong padamu, dan dia pergi ke luar negri untuk menemui ayahnya." Jelasnya membuatku terkejut setengah mati.
"Jadi ...," gumamku tak bisa membayangkan perasaan Aster hari itu, dia pasti sangat ketakutan tapi dia, dia malah sempat-sempatnya memikirkanku?
Ya, tidak salah juga. Jika aku mengetahui kejadian yang sebenarnya, aku malah akan benar-benar pergi menyusulnya dan menemaninya. Tapi karena aku tidak mengetahui kebenarannya, aku hanya bisa berduka sendirian sambil mempertanyakan sikap Aster yang begitu tega padaku.
"Apa ... dia baik-baik saja?" Tanyaku kemudian saat bertemu tatap dengan manik merah Dwi.
"Aster?" Tanyanya membuatku mengangguk cepat.
"Entahlah, ekspresinya selalu terlihat sama sejak dia menggantikan posisi ayahnya." Jawabnya membuatku gemas.
Maksudnya sama itu seperti apa? Aku bahkan tidak pernah membayangkan ekspresi yang dimaksud oleh Dwi. Terakhir kali aku melihatnya adalah, saat aku pergi ke rumahnya bersama Kalea. Dan aku melihatnya kesakitan hari itu karena Aster meminum racun yang dicampurkan dengan teh hijaunya.
Bahkan orang yang meracuninya belum tertangkap sampai saat ini, awas saja kalau dia sampai ditemukan!
***
-Aster-
Sudah satu minggu sejak kepulangan ayah, dan aku belum pernah bertegur sapa lagi dengannya. Saat melihatnya, ayah selalu berpura-pura tidak melihatku. Tapi saat Kalea berkunjung, ayah baru bisa berbasa-basi padaku. Meski hanya sepatah dua patah kata.
Melihat kebersamaan ayah dan Kalea membuatku jadi bernostalgia, mengingat masa laluku yang selalu merasa iri pada anak-anak yang memiliki seorang ayah dan mendapatkan cintanya.
Lalu hari ini, untuk pertama kalinya perasaan iri itu kembali muncul. Tapi sebisa mungkin aku sembunyikan perasaan itu, karena aku tidak mau membuat Kalea merasa khawatir dan tidak enak padaku.
Sampai detik ini, Kalea belum tau mengenai kondisi ayah yang sebenarnya. Karena aku sudah meminta semua orang di rumah untuk tutup mulut. Aku juga sudah pernah bicara dengan ayah untuk masalah ini, dan ayah menyetujui usulanku untuk berpura-pura mengingatku dan menganggapku sebagai putri sungguhannya saat sedang bersama orang lain. Ya, meski sebenarnya aku benar-benar putrinya.
"... sepertinya besok aku harus pergi ke tempat ibu," gumamku tiba-tiba mengingat ibu, dan sangat merindukannya.
Aku tidak bisa menundanya terlalu lama lagi hanya karena ayah tidak mengingatku. Kalau ayah tidak ingat memangnya kenapa? Toh aku bisa pergi sendiri, tidak perlu ditemani oleh siapapun. Karena biasanya pun begitu, hanya saja sudah sangat lama aku tidak merasa sendirian.
"Ternyata sendirian itu rasanya seperti ini, aku sampai lupa bagaimana rasanya ...," lanjutku bergumam sambil menghirup udara dingin malam ini.
Ku tatap cahaya bulan yang semakin meredup karena tertutupi awan, gugusan bintang pun perlahan menghilang ditelan awan. Menyisakan kegelapan malam yang terlihat sepi, hanya ada angin dan awan.
Ku hela napas letihku saat hembusan angin kembali menerpa wajahku, lalu ku rapikan rambutku yang tertiup angin sebelum kembali ke dalam kamarku, Meninggalkan teras kamar.
Waktu juga sudah menunjukkan pukul 11:00 malam, tapi sayang rasa kantuk ku belum muncul sedikitpun. Yang ada hanya kumpulan ingatan bersama ayah yang mulai memenuhi kepalaku.
Saat-saat terindah ketika ayah menunjukan rasa sayangnya padaku, saat ayah bertengkar dengan paman Arsel ketika akan mengantarku ke sekolah. Lalu saat ayah memanjat pohon untuk mengambilkan buah yang ku inginkan, dan saat ayah tidur disampingku sambil memeluk tubuhku dengan hangat, mengusap rambutku dengan lembut dan mengecupnya.
Semua ingatan itu benar-benar membuatku semakin ingin berlari menemui ayah dan terjun kedalam pelukannya. Tapi tidak bisa ku lakukan, karena ayah yang sekarang ... dia tidak mengingatku.
.
.
.
Thanks for reading...