
-Ansel-
Setelah selesai mengunjungi makam ibu dan Helen, aku pergi ke rumah bi Siti bersama dengan Aster.
Sesampainya di rumah bi Siti, kami disambut hangat oleh pasangan suami istri yang sudah berumur.
Aster tampak bahagia bisa bertemu dengan mereka, dan bi Siti yang dimaksud oleh Aster pun juga sama bahagianya saat melihat putriku datang berkunjung. Mereka terlihat seperti nenek dan cucu yang harmonis.
"Papa aku mau main dibelakang sama bi Siti ya." Tuturnya sebelum berlari meninggalkan ruang tamu diikuti oleh langkah bi Siti dibelakangnya.
"Jadi ...." Suara pria paruh baya dihadapanku mengejutkanku.
"Ansel, nama saya Ansel ayahnya Aster." Jelasku yang mengerti dengan kebingungan yang dirasakan oleh pria itu.
"Ah nak Ansel ini ayahnya Aster. Nama saya Zaenal suaminya Siti sahabat baik ibunya Helen." Tuturnya memperkenalkan diri.
"... terima kasih karena sudah merawat putri saya disaat saya tidak ada disampingnya." Tuturku merasa malu dengan diriku sendiri yang terlihat tidak berguna dan menyedihkan ini.
"Tidak masalah, kami senang bisa merawat Aster disisa hidup kami. Aku juga merasa senang bisa melihat Aster bertemu dengan ayahnya. Dia terlihat bahagia sekarang, dan aku merasa lega melihatnya kembali ceria seperti dulu." Tutur pak Zaenal sebelum meraih cangkir teh dihadapannya.
"Sejujurnya saya tidak yakin bisa menjadi ayah yang baik untuknya, apalagi selama ini saya tidak pernah ada disampingnya. Saya merasa menjadi orang paling buruk sekarang, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membesarkannya." Jelasku tak bisa menatap mata pak Zaenal yang sedang menikmati teh dicangkirnya.
"Saya yakin kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk putrimu. Meski kamu pernah melakukan kesalahan dimasa lalu, bukan berarti kamu harus menghukum dirimu sendiri dengan menjelek-jelekan dirimu dihadapan orang lain," tuturnya setelah menyimpan cangkir teh ditangannya diatas meja.
"Harusnya kamu mengatakan dengan bangga kalau kamu adalah ayahnya Aster dan akan membesarkannya dengan baik, tak perduli bagaimana masa lalumu. Bukankah yang terpenting sekarang adalah kau bisa bertemu dengan putrimu?" Lanjutnya membuatku sedikit tersentak dan langsung menatap sorot mata hangatnya.
Tak pernah ku sangka akan ada orang yang mengatakan hal sebaik ini padaku disaat aku berpikir mungkin semua orang akan menjelek-jelekanku, berpikiran buruk tentangku dan memandangku sebagai sampah karena telah menelantarkan anak dan istriku, lalu kembali disaat istriku sudah tiada.
Benar-benar sangat buruk bukan? Tapi semua itu memang benar adanya, dan aku tak ingin membela diri atas perbuatanku itu.
"Manfaatkanlah waktu kebersamaan kalian sebelum putrimu beranjak dewasa dan ingin menikah dengan pria yang dicintainya, anak perempuan itu lebih cepat tumbuh loh." Lanjutnya lagi sambil tersenyum hangat padaku yang masih membeku mendengarkan penuturan hangatnya itu.
Rasanya hati kecilku merindukan kehadiran ayah sekarang, jika ayah masih hidup ... mungkin dia juga akan memberikan nasihat untuk ku, sama seperti yang dilakukan oleh pak Zaenal saat ini. Batinku merasa melihat sosok ayah dalam diri pak Zaenal.
"Bapak benar." Ucapku segera membalas senyuman hangatnya bersamaan dengan suasana hatiku yang perlahan membaik.
... rasanya semua bebanku menghilang begitu saja setelah berbicara dengan pak Zaenal.
***
Setelah berbincang cukup lama, aku memutuskan untuk menyusul Aster dihalaman belakang rumah bi Siti, mengikuti langkah pak Zaenal yang memanduku pada Aster dan istrinya.
"Bibi aku mau itu!" Suara Aster sambil menunjuk buah jambu biji yang terlihat matang tergantung diatas pohon, bersamaan dengan kedatanganku dan pak Zaenal.
"Wah bibi tidak bisa mengambilnya, jambunya terlalu tinggi." Gumam bi Siti terdengar kecewa begitupun Aster.
"Ada apa?" Tanya pak Zaenal mendahuluiku.
"Ini Aster mau jambu biji itu, tapi jambunya terlalu tinggi jadi aku tidak bisa mengambilnya." Jelas bi Siti sambil menunjuk jambu biji yang dia maksud.
"Kalau begitu biar ku ambilkan, boleh saya memanjat pohon jambunya?" Tuturku langsung mengambil inisiatif untuk memanjat, biar bagaimanapun aku tidak bisa mengabaikan ekspresi kecewa putriku itu.
"Ah, tentu. Berhati-hatilah." Ucap bi Siti mengizinkanku.
"Pa–papa bisa manjat?" Tanya Aster terlihat terkejut saat melihatku memanjat dengan cepat.
"Tentu saja bisa." Jawabku yang sudah memanjat cukup tinggi sambil memetik jambu biji yang diinginkan Aster.
"Uwaah papa hebat!" Teriaknya begitu kegirangan, tanpa sadar aku sudah tersenyum tipis memperhatikan tingkah lucunya yang sudah melompat kegirangan ditempatnya sambil tertawa lepas.
"Hahaha, papamu memang hebat ya." Lanjut pak Zaenal ikut tertawa melihat tingkah menggemaskan putriku.
"Benar, papaku paling hebat sedunia hehe ...." Ucap Aster begitu membanggakanku, dan untuk pertama kalinya aku merasa sedikit malu mendengar pujian dari anak kecil sepertinya. Bahkan tawa bi Siti dan pak Zaenal semakin menjadi.
"Kalau begitu coba petik lebih banyak untuk dibawa pulang." Ucap bi Siti sedikit berteriak sambil menengadah padaku setelah puas tertawa.
Aku yang masih anteng duduk di dahan pohon jambu hanya bisa memperhatikan mereka diam-diam dari atas.
"Petik yang banyak papa!" Teriak Aster mengulangi ucapan bi Siti, entah kenapa semakin diperhatikan aku merasa semakin gemas melihat ekspresinya itu.
Kemudian tanpa membuang-buang waktu lagi, akupun kembali melanjutkan pekerjaan memetik buah jambu yang diminta oleh Aster sambil mendengarkan pembicaraan mereka dibawah.
Tanganku tidak bisa memegang semua jambunya, gumamku sambil melepaskan jas abu yang ku kenakan dan menggunakannya untuk membungkus semua jambu yang berhasil ku petik. Lalu dengan cepat aku turun dari atas pohon setelah merasa cukup memetik beberapa jambu berukuran besar.
"Segini cukup?" Tanyaku sambil menunjukan hasil petikanku pada Aster.
"... uwaah jambunya besar-besar." Gumamnya begitu fokus pada semua jambu ditanganku dengan sorot mata berbinarnya.
"Berikan padaku, biar ku cuci dulu sebelum dibungkus, kau siapkan bungkusannya." Ucap bi Siti langsung meraih semua jambu ditanganku dan membawanya masuk kedalam rumah diikuti oleh pak Zaenal yang diminta menyiapkan bukusan oleh istrinya.
"Terima kasih papa," ucap Aster sambil tersenyum lebar padaku, membuatku ikut tersenyum karenanya.
"Papa kemari, menunduk!" Lanjutnya memintaku untuk menunduk. Entah apa yang direncanakannya, aku hanya bisa menuruti kemauannya dan berlutut dengan salah satu kakiku untuk menyamakan tinggiku dengannya.
"Ada apa?" Tanyaku sambil menunduk bersamaan dengan tangan mungilnya yang langsung meraih kepalaku dan membuatku terkejut.
"Dapat." Ucapnya sambil membuang daun kering dari ... rambutku?
Belum selesai aku berpikir, tiba-tiba tangan mungil putriku itu langsung meraih wajahku dan langsung memberikan ciuman hangatnya dipipiku.
"Ini?" Gumamku begitu terkejut sambil memegangi pipi kananku, untuk pertama kalinya aku merasakan ciuman hangat dari putriku sendiri. Padahal biasanya aku diam-diam mencium keningnya saat dia sedang tidur dan kebetulan aku berkunjung ke rumah Arsel.
Tentu saja Arsel tidak tau aku melakukan hal itu, jika dia tau dia tidak akan tinggal diam. Apalagi baru-baru ini dia mengatakan hal tak berguna ingin tinggal bersama dengan Aster selamanya.
"Terima kasih, hehe... Aster sayang papa, sangat!" Ucapnya menghancurkan lamunanku dengan pelukan hangatnya. Dengan ragu ku balas pelukannya dengan kedua tanganku.
Aku akan merawat putri kita dengan baik Helen. Batinku teringat dengan paras cantik istriku saat dia sedang tersenyum manis padaku.
.
.
.
Thanks for reading...