Aster Veren

Aster Veren
Episode 134




-Kalea-


"Hah~ lelahnya ...," gumam ku setelah menghela napas letih.


"Lea!" Seru Nadin menghentikan langkahku, ku lihat dia sudah berlari mendekatiku.


"Nadin?"


"Kau habis dari perpus?" Tanyanya sambil merangkul ku dengan senyum lebarnya.


"Begitulah, kau sendiri?" Jawabku kembali melanjutkan langkahku menuju pintu keluar akademi, dan Nadin mengikuti langkahku dengan rangkulan tangannya dibahuku.


"Aku habis membersihkan lokerku hehe ...,"


"Kau masih saja seperti dulu ya? Tidak berubah sedikitpun." Gumamku mengingat sosok Nadin yang selalu sibuk saat akan menghadapi hari ujian. Bukan sibuk belajar, melainkan sibuk membersihkan barang-barang serba ada didalam lokernya.


"Ngomong-ngomong dimana Aster? Dia tidak bersamamu?" Tanyanya membuatku menggeleng.


"Dia sudah kembali ke asrama lebih dulu."


"Hmm ... lalu bagaimana hubungannya dengan Carel? Apa sudah membaik?"


"Entahlah, keduanya belum menunjukan tanda-tanda untuk bergerak."


"Begitu ya ... padahal kalau salah satu dari mereka ada yang bergerak, mereka pasti–"


Plak!!


Suara tamparan cukup keras menghentikan langkahku dan Nadin, bahkan Nadin yang sedang berbicara pun refleks menutup mulutnya saat melihat sosok Aster ditampar oleh perempuan tak dikenal.


Mataku sampai membelalak terkejut, nafasku terasa sesak dan hatiku terasa panas. Dengan cepat ku langkahkan kedua kaki ku mendekati mereka, begitupun dengan Nadin.


"Lepaskan tanganmu!" Seru Nadin mencengkram tangan perempuan yang tengah menjambak rambut Aster dengan kuat.


"Dia–" Gumamnya terlihat terkejut dengan kehadiran kami.


"Kau baik-baik sa–tidak!" Ucapku saat melihat sudut bibirnya mengeluarkan darah dan tapak tangan berwarna merah diwajahnya


"... Nadin, Lea?" Gumam Aster menoleh padaku. Membuatku emosiku memuncak.


"KAU!!" Geramku langsung meraih wajah perempuan yang baru saja menampar Aster, ku tekan wajahnya sekuat mungkin dengan tangan kananku.


"Kau sadar dengan apa yang sudah kau lakukan?" Lanjutku penuh penekanan, rasanya sangat menjengkelkan.


"Salsa ...," gumam Lusy yang baru ku sadari kehadirannya, "lepaskan Salsa!" Lanjutnya dengan air mata yang merembes keluar dari mata coklatnya.


"Anu Lea, Nadin. Aku tidak apa-apa jadi–" Ucap Aster tak ku perdulikan.


"Kalian pikir bisa lepas begitu saja setelah melukai Aster?" Tanya Nadin terdengar mengintimidasi.


"... apa yang terjadi disana?"


"Eh itu? Mereka sedang dirundung?"


"Itu Nadin dan Kalea kan?"


"Ah ternyata mereka belum berubah ya?"


"Mereka masih suka merundung,"


"Itu–Lusy dan kedua temannya!"


"Mereka merundung cucu pemilik akademi? Berani sekali."


"Apa tidak ada yang mau menghentikan mereka?"


"Ka–kasihan Lusy ...,"


"Sepertinya kita dianggap sebagai orang jahat lagi Lea." Tutur Nadin melepaskan tangan perempuan dihadapannya dengan kasar. Ku lihat pergelangan tangannya memerah akibat cengkraman Nadin.


"Aku tidak perduli!" Seruku.


"Su–sudah Lea, hentikan." Ucap Aster berusaha melepaskan tanganku dari perempuan dihadapanku, siapa namanya? Salsa?


"Minta maaf!!" Tekanku tak berniat untuk melepaskan wajahnya.


"Tidak akan! Dia yang harusnya minta maaf pada Lusy!" Tolaknya berusaha melepaskan tanganku.


"Hmm ... jadi kau menolak?" Tanyaku semakin menekan wajahnya.


"Salsa!" Ucap Lusy dan satu temannya terlihat cemas.


"Lepaskan Salsa!" Lanjut Lusy menatapku dengan tajam, berbeda dengan sebelumnya.


"Hah~ kalau sudah begini Lea tidak bisa dihentikan loh. lebih baik kalian turuti apa maunya saja. Kalau tidak aku juga tidak akan bisa lebih sabar dari sekarang." Jelas Nadin menekankan kalimat terakhirnya.


"Su–sudah Lea. Kita kembali ke asrama saja ya? Aku sungguh baik-baik saja." Tutur Aster sekali lagi, mencoba untuk menghentikan ku. Ku lihat tangannya meraih tanganku dengan gemetar.


Ku lepasan wajahnya dengan kasar dan menamparnya dengan seluruh kekuatan ku. Membalas perbuatannya pada Aster.


"Lea?" Ucap Aster dan Nadin bersamaan.


"Lea, apa yang kau–lakukan?" Suara Teo tak ku perdulikan, dia langsung terdiam saat aku meliriknya sekilas.


"Impas! Sekali lagi ku lihat kalian berkeliaran disekitar Aster. Bukan hanya wajah, tapi ku patahkan kaki kalian supaya tidak bisa mendekati Aster satu jengkalpun." Tuturku penuh penekanan.


Ah, rasanya masih ingin melakukan sesuatu pada mereka. Tapi jika ku lakukan lebih dari ini, bisa-bisa aku mendapat masalah lebih besar.


"Kau beraninya menampar Salsa!" Seru Lusy dengan air mata buayanya. Aku bisa tau dengan sekali lihat.


"Ada apa ini?" Suara Carel membuatku menoleh ke arah kedatangannya.


Jadi ini alasan dia menunjukan air mata buayanya? Batinku setelah melirik ke arah Carel.


"Carel, mereka—mereka menggangguku dan kedua temanku hiks ...," ucapnya membuatku kesal, ku lihat Nadin juga merasakan apa yang ku rasakan.


"Hah!!" Geramku.


"Le–Lea, su–sudah ya. Kita kembali sekarang, besok kita harus menghadapi ujian kan?" Tutur Aster membuatku menghela napas dalam dan meraih tangannya, berniat untuk pergi.


"Tunggu!" Teriak Lusy menghentikan langkahku yang hendak membawa Aster pergi bersama dengan Nadin.


"Kau mau membangunkan sisi menyeramkannya Lea ya?" Tanya Nadin berusaha menahan rasa kesalnya.


"Mi–minta maaf pada Salsa!" Lanjut perempuan itu mencoba membuatku semakin kesal.


"Tidak mau." Tolak ku.


"Lea kau tau kan sedang berurusan dengan siapa?" Tanya Carel terdengar malas, "menyerah saja dan minta maaf padanya. Semua orang memperhatikan kalian." Lanjutnya membuatku megepalkan tangan kananku yang tidak menggandeng tangan Aster.


"Kau yakin mengatakan hal itu padanya?" Suara Sean melangkahkan kakinya mendekatiku dan Aster. Kami memang sudah berbalik badan dari semua orang dan hendak pergi dari tempat itu. Tentu saja mereka tidak tau pasti apa yang sudah terjadi.


"Padahal saudaraku ini berniat membantu temannya, kau baik-baik saja Aster?" Lanjutnya sudah berdiri dihadapan kami.


"Eh dia bilang apa? Saudara?"


"Siapa?"


"Sean ... apa Kalea saudaranya Sean?"


"Tidak mungkin, keluarga Albert kan–"


Anak menyebalkan ini! Kenapa harus mengatakan hal yang tidak-tidak disaat semua orang memperhatikanku? Dia mau bunuh diri ya? Padahal gosip tentangnya sudah terkubur, kenapa malah digali lagi?


"Apa maksudnya?" Gumam Teo.


"Hendric!" Seru Sean.


"Ya ya, aku tau." Jawab si pemilik nama.


"Ayo Nadin!" Ucapku mengajaknya pergi. Aku tidak mau membuang-buang waktu bersama orang-orang bodoh itu. Dan aku harus segera mengobati luka Aster.


"Obati yang benar ya!" Teriak Sean tak ku perdulikan.


"Terima kasih Lea, Nadin. Tadi itu benar-benar menakutkan ...," ucap Aster terdengar lesu.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi Aster? Kenapa mereka mengganggumu? Anak itu bahkan sampai menamparmu. Pasti rasanya sakit kan?" Tanya Nadin menghujani berbagai pertanyaan pada Aster.


"Bukan hal besar, aku baik-baik saja. Ini tidak sakit." Jawabnya singkat, berusaha menunjukan senyuman terbaiknya.


"Jangan bohong!" Seruku memudarkan senyumannya.


"Benar! Katakan saja pada kami." Lanjut Nadin.


"Itu ...,"


"Aster!" Suara Carel menghentikan langkahku yang tengah menggandeng tangan Aster, bukan berhenti tanpa alasan. Tentu saja karena Carel menarik tangan Aster yang satunya sampai membuat langkah Aster terhenti dan refleks membalikan tubuhnya kearah Carel.


"Ini!" Lanjutnya saat melihat bekas tamparan diwajah Aster. Ekspresinya langsung berubah seratus delapan puluh derajat.


Padahal sebelumnya terlihat datar, saat melihat Aster tatapannya berubah cemas dan sekarang terlihat begitu kesal. Apa karena dia menyadari alasanku tidak mau meminta maaf pada mereka? Atau karena dia tidak bisa melindungi Aster? Entahlah yang manapun pasti membuatnya kesal.


"Tunanganmu itu sangat menjijikan ya Carel?" Tuturku kembali merasa kesal dengan perilakunya, apalagi saat melihat air mata buayanya. Lalu kelakuan kedua temannya, anak itu memanfaatkan temannya untuk mengganggu Aster dengan berakting sebagai orang lemah yang selalu diganggu oleh Aster begitu?


"Kau menyadarinya juga Lea?" Tanya Nadin sama kesalnya denganku.


.


.


.


Thanks for reading...