
-Ansel-
Ku hela napas letihku sambil berjalan menuju ruangan tempat keluarga Ravindra mengadakan pesta untuk putranya bersama dengan Ian dan orang tua lainnya.
"Tampaknya kau sangat kelelahan ya? Apa kau baik-baik saja datang ke pesta seperti ini?" Tanya Ian membuatku melirik kearahnya sekilas.
"Bukan hal besar." Jawabku singkat sambil memasuki ruang pesta setelah kedua pelayan yang berjaga didepan pintu membukakan pintu untuk ku dan orang-orang dibelakangku.
"Mereka juga datang ya?" Gumamnya membuatku menoleh kearah yang dilihat oleh Ian, ku lihat seorang pria berpakaian rapi dengan jas hitam bermotif garis vertikal putih sedang berbincang dengan tuan rumah. Bahkan mataku tak bisa berpaling dari sosok Claretta yang berdiri disamping pria itu.
"Itu?" Tanyaku tak bisa melanjutkan ucapanku sendiri.
"Albert dan Claretta." Jawab Ian meyakinkan penglihatanku.
"Sepertinya dia datang bersama kedua putranya ...." Lanjutnya membuatku menoleh kearah dua orang anak laki-laki yang mirip dengan Albert, mereka sedang berbincang bersama beberapa perempuan yang mengerubuni mereka.
Bagaimana dengan Kalea? Batinku segera mencari sosok gadis itu, entah kenapa aku merasa mengerti dengan perasaan Kalea jika melihat pemandangan seperti ini didepan matanya.
Dia bahkan masih bisa tertawa seperti itu tanpa memperdulikan putrinya. Lanjutku masih dalam hati saat menemukan Kalea yang baru datang memasuki ruangan melalui pintu lainnya bersama dengan Victor.
"Mereka baru tiba ya? Ngomong-ngomong dimana Aster? Kenapa semua orang mengelilingi ruang kosong ditengah? Ada apa disana?" Gumamku sambil mendekati kerumunan itu saat melihat Carel menatap kesal pada sesuatu yang ada ditengah-tengah kerumunan itu.
"Wah-wah mereka sedang berdansa loh Ansel, lihatlah! Mereka begitu serasi." Tutur Ian yang sudah pergi lebih dulu kedekat kerumunan, dia bahkan menunjukan senyuman manisnya yang membuatku merinding saat melihatnya.
"Mereka benar-benar serasi ya?"
"Siapa perempuan itu? Aku baru melihatnya."
"Siswa baru kah?"
"Saudaranya?"
"Temannya?"
"Jangan-jangan pacarnya."
"Cantik ya ... pakaian yang dikenakannya juga terlihat indah, apa itu rancangan Arselio?"
Begitulah bisikan-bisikan yang ku dengar dari anak-anak perempuan dihadapanku, membuatku langsung terfokus pada pemandangan yang tersuguh dihadapanku saat mendengar nama Arselio disebutkan.
Anak itu memang sudah menjadi designer terkenal sejak kepergianku ke Singapura. Tapi tak pernah ku bayangkan kalau dia terkenal dikalangan anak muda juga.
"A–apa yang anak itu lakukan?" Gumamku merasa kesal saat melihat putra keluarga Ravindra sedang berdansa dengan putriku.
"Apalagi? Semuanya seperti yang kau lihat, mereka sedang ber-dan-sa Ansel." Jelas Ian penuh penekanan diakhir kalimatnya dengan senyum tipisnya.
"Akan ku hentikan mereka!" Geramku segera dihentikan oleh Ian dan Rigel tepat dilangkah pertamaku.
"Tolong tenangkan dirimu tuan," tutur Rigel segera memegangi tangan kiriku, sedangkan Ian memegangi tangan kananku.
"Kau bodoh ya?! Aku tau kau sangat menyayangi putrimu, tapi tidak seprotektif ini juga. Bisa-bisa putrimu tidak akan bisa mendapatkan teman baru selain putraku." Lanjut Ian mengomeliku dengan ekspresi datarnya yang lebih menjengkelkan daripada apapun.
"Cih!" Decihku bersamaan dengan tepukan tangan semua orang yang menyaksikan penampilan Aster bersama Nathan berakhir.
Aku benar-benar akan menemuimu Arsel! Batinku merasa kesal pada orang itu, karena ulahnya yang membuatkan pakaian seperti itu untuk putriku. Dia jadi berdansa dengan Nathan, tokoh utama acara malam ini. Padahal aku sudah bersiap untuk menghalangi semua laki-laki yang mendekati putriku.
"Nona berjalan kemari tuan," ucap Rigel segera melepaskan tangannya dariku, begitupun dengan Ian yang ikut melepaskanku.
"Papa, kenapa pertemuannya lama sekali?" Tanya Aster saat sampai dihadapanku dengan rona merah diwajahnya, selain itu dia juga terlihat kelelahan.
"Maaf tadi–" Ucapku terhenti saat melihat anak berambut putih dengan manik merah itu sudah berdiri disamping Aster dengan tatapan kesalnya.
"Kenapa kau berdansa dengan orang itu?!" Ucapnya nyaris berteriak mengejutkan Aster.
***
-Aster-
Akhirnya selesai, aku benar-benar malu. Ingin pulang .... Batinku tak bisa menahan perasaan maluku karena menjadi pusat perhatian, ditambah lagi kakiku sudah menginjak kaki kak Nathan beberapa kali. Pasti kak Nathan kesakitan karenaku.
Setelah memberikan salam hormat pada kak Nathan, aku pun langsung berjalan menghampiri ayah yang berdiri diantara paman Rigel dan pria lainnya. Mereka benar-benar memegangi tangan ayah dengan kuat selagi ayah meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari mereka.
"Papa, kenapa pertemuannya lama sekali?" Tanyaku saat sampai dihadapan ayah yang sedang sibuk merapikan pakaiannya.
Belum sempat ayah menjawab, Carel sudah berdiri disampingku dengan ekspresi kesalnya, "kenapa kau berdansa dengan orang itu?!" Ucapnya nyaris berteriak membuatku sedikit terkejut dengan reaksinya.
"Berani kau membentak putriku ya? Mau ku potong lidahmu itu hah?!" Ucap ayah penuh penekanan dengan tatapan tajamnya yang menusuk.
Dia bilang putraku? Jangan bilang dia ayahnya Carel? Batinku bertanya-tanya dengan pria disamping ayah.
"Hee... kau juga ayah sayang anak ya? Padahal kau sangat menyayangi putramu, tapi kau tidak bisa membuatnya bahagia ya? Setiap saat dia selalu kabur ke kediamanku. Sepertinya kalian saaaaangat tidak akur ya?" Ejek ayah dengan senyum sarkasnya.
"Kau!"
"Hentikan! Kalian berdua membuatku malu tau!" Ucap Carel menarik perhatian mereka berdua sesaat, namun mereka kembali beradu mulut tanpa memperdulikan kehadiran kami. Bahkan paman Rigel pun tak bisa melerai pertengkaran mereka.
"Mereka kalau dipertemukan memang selalu seperti itu, abaikan saja mereka dan pergilah bersenang-senang." Suara paman Victor membuatku menoleh kearah kedatangannya.
"Paman," gumamku saat melihatnya tersenyum ramah padaku.
"Selamat malam Aster, senang melihatmu kembali ceria seperti sebelumnya." Tuturnya membuatku tersenyum malu saat tangan kanannya meraih puncak kepalaku.
"Sepertinya aku sudah membuat banyak orang khawatir ya?" Gumamku mengingat hari-hariku yang terus murung meratapi kepergian nenek, apalagi aku sempat menangis tersendu-sendu juga didepan makam nenek. Dan saat itu paman Victor juga ada disana.
"Tidak perlu dipikirkan, sekarang pergilah dan bersenang-senanglah bersama tamu lainnya yang sebaya denganmu." Tuturnya kembali menunjukan senyuman ramahnya sambil melepaskan tangannya dari puncak kepalaku.
"Benar! Tinggalkan saja sekumpulan orang tua bodoh ini. Ayo pergi!" Ucap Carel setelah menghela napas pasrahnya, menyetujui ucapan paman Victor dan segera menarik pergelangan tanganku menuju teras.
"Kita mau kemana? Bukankah paman Victor menyuruh kita berbaur dengan yang lainnya?" Tanyaku mengawali pembicaraan sambil mengikuti langkah lebarnya menuju teras.
"Carel?" Tanyaku lagi tak mendapatkan jawaban darinya.
... sepertinya papa tidak menyadari kepergianku, jika dia menyadarinya ... papa pasti langsung menghentikan Carel. Batinku sambil menoleh kearah ayah yang masih beradu mulut dengan ayahnya Carel.
"Paman berambut putih itu ayahmu?" Tanyaku mencari topik lain, berharap kali ini dia merespon pertanyaanku dengan lebih baik dari sebelumnya.
"Hem." Jawabnya singkat tanpa menoleh padaku sedikitpun.
Sebenarnya ada apa dengannya? Batinku sambil menghela napas pasrah.
"... anu–kenapa kau ada disini?" Tanyaku lagi tak bisa menahan rasa penasaranku dengan kehadirannya. Entahlah, disisi lain aku merasa senang saat melihatnya. Apalagi beberapa hari terakhir ini dia menghilang dan tak pernah menemuiku lagi. Jadi saat melihatnya, hatiku tak bisa menahan perasaan senangku.
"Kenapa?" Ucapnya balik bertanya sambil melepaskan genggaman tangannya saat kami sampai diteras.
"Aneh saja, bukankah orang-orang yang diundang keacara malam ini adalah siswa-siswi yang akan masuk ke akademi dan para kakak kelasnya yang dekat dengan kak Nathan? Ya–meskipun aku merasa tidak begitu dekat dengan kak Nathan sampai harus diundang keacaranya." Jelasku mengingat penjelasan ayah dan segera mengesampingkan perasaan senangku.
"Yah–itu ... sebenarnya aku juga memutuskan untuk masuk ke akademi. Jadi aku menghadiri pesta orang itu bersama ayahku. Dan lagi bukan orang itu yang mengatur undangannya, jadi ini semua tidak ada hubungannya dengan kedekatanmu dengan si Nathan. Aku bahkan tidak bersahabat dengannya." Jelasnya sebelum menghela napas beratnya.
"Ja–jadi kau masuk akademi? Kenapa? Apa karena aku?" Tanyaku merasa terkejut untuk beberapa detik, entahlah rasanya hatiku tidak karuan sekarang. Aku merasa tidak enak pada Carel karena sudah menjadi umpan untuknya, padahal sebelumnya aku merasa amat senang.
"Eh? A–aku masuk akademi karena keputusanku sendiri kok, kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Jangan bohong! Aku masih ingat bagaimana ekspresimu hari itu. Kau sangat-sangat tidak mau masuk akademi karena tidak bisa sering mengunjungi ibumu, selain itu kau tidak mau jadi penerus keluarga Alterio. Tapi, kenapa kau ... bagaimana dengan ibumu?" Tuturku menjelaskan isi pikiranku.
"Aku tidak berbohong, aku masuk akademi untuk mewujudkan cita-citaku. Ibuku juga mendukungku dan dia berjanji akan segera pulih untuk ku, jadi kau tidak perlu khawatir." Jelasnya sambil mengelus puncak kepalaku dengan lembut, bahkan sorot matanya terlihat begitu hangat meleburkan tatapan kesal yang dia tunjukan sebelumnya.
"... apa kau tidak senang aku masuk ke akademi yang sama denganmu? Ku kira kau akan senang–"
"Te–tentu saja aku sangat senang.Tapi ... ayahmu? Kakekmu? Apa mereka juga mendukungmu?" Tanyaku tak bisa berhenti menilik manik merahnya itu, aku benar-benar mengkhawatirkannya sekarang.
"Ayah mendukungku, tidak tau dengan kakek. Dia bilang akan mengurus kakek untuk ku. Selain itu ...," Tuturnya menggantung, membuatku mengernyit bingung menunggunya melanjutkan ucapannya. Tapi tak kunjung ku dapatkan.
"Apa?" Tanyaku saat tak mendapatkan jawaban yang ku tunggu.
"Tidak ada, Kau tidak kedinginan berpakaian seperti ini?" Jawabnya mengalihkan pembicaraan dengan tatapannya yang mulai memperhatikan penampilanku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Cantik." Lanjutnya sambil tersenyum lebar membuatku salah tingkah saat mendengar pujiannya itu.
"Ja–jangan mengalihkan pembicaraan!" Protesku merasa kesal dengan sifat buruknya yang tak kunjung membaik itu.
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan, kau memang can–" Belanya terpotong saat melihat Kalea menemukan kami diteras.
"Ka–kalea ...," gumamku tak bisa mengatakan apapun lagi selain melihat ekspresi datarnya yang terlihat tegas, namun tatapannya terlihat berkabut. Aku belum pernah melihat ekspresinya yang seperti itu.
Apa yang terjadi dengannya? Dia terlihat ... sedih?
"Mencariku?" Tanya Carel membuatku menoleh padanya yang sudah menatap Kaela dengan tatapan dinginnya.
.
.
.
Thanks for reading...