
-Claretta-
"Sampai akhirpun dia tidak mau mendengarkanku," gumamku kembali mengingat ekspresi tak perduli Albert sebelum pergi dari restoran itu.
Aku bahkan sampai menandatangani surat perpisahan dengannya tanpa memberitau soal kehamilanku padanya.
Padahal selama ini dia sangat menantikannya. Lanjutku dalam hati sambil mengelus perutku dengan air mataku yang kembali menetes.
Lalu apa maksud dari perkataannya itu? Kenapa dia bicara seperti itu? Aku ... dan ibu merencanakan pembunuhan nyonya Marta? Batinku kembali bertanya-tanya dengan apa yang dikatakan oleh Albert sambil menghapus air mataku.
Untuk menghilangkah rasa penasaranku, aku memutuskan untuk pergi ke kediaman ibu setelah menandatangani surat perpisahan itu. Aku ingin memastikan kebenaran dari perkataan yang ku dengar dari Albert. Perkataan yang menuduh ku dan ibu telah melakukan pembunuhan berencana pada nyonya Marta, ibunya Ansel.
***
Sesampainya di rumah ibu, supir keluarga Albert langsung kembali ke kediamannya sesuai perintah yang diterima olehnya setelah mengantarkanku ke rumah ibu.
Lalu dengan cepat aku masuk ke dalam rumah untuk menemui ibu. Ku lihat ibu sedang menonton televisi di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.
"Jelaskan semuanya padaku ibu!" Ucapku membuatnya terlonjak karena terkejut dengan kehadiranku.
"Kau ini! Kenapa tidak memberitauku kalau kau akan berkunjung?"
"Apa yang ibu rencanakan diam-diam dibelakangku?" Tanyaku lagi sambil duduk disofa kosong disamping sofa besar yang diduduki ibu.
"Apa yang kau katakan?"
"Jangan berpura-pura bodoh lagi ibu. Ibu tau apa yang aku dapatkan karena kebodohan ibu?"
"Jaga ucapanmu itu Claretta! Beraninya kamu mengatai ibumu bodoh!"
"Katakan saja padaku kebenarannya. Apa benar ibu sudah merencanakan pembunuhan nyonya Marta?" Tanyaku membuatnya terkejut dengan matanya yang membulat, terfokus padaku.
Tak ada jawaban, tapi aku tau dari diamnya itu ada jawaban pasti yang membuatku yakin kalau ibu benar-benar merencanakan pembunuhan itu tanpa sepengetahuanku.
"Kenapa ibu melakukannya tanpa sepengetahuanku? Ibu tau apa yang ku dapatkan dari masalah yang ibu buat? Dan lagi kenapa ibu harus melakukan hal segi*la itu? Bukankah aku sudah pernah melarang ibu dan meminta ibu untuk berhenti membalaskan dendam kita?" Tuturku sambil mengusap wajahku frustasi.
"Bagaimana bisa ibu berhenti membalaskan dendam ibu pada mereka yang sudah membuat keluarga kita hancur seperti ini?" Tegasnya membuatku kembali menoleh padanya.
"Tapi kita sudah bisa bangkit lagi karena pernikahanku dengan Albert bu, tapi karena ibu. Aku harus berpisah dengan suamiku."
"Apa? Kau bilang apa?"
"Pria itu sudah mengetahui masa laluku dan semua kejahatanku. Bahkan dia juga mengetahui kebenaran dari kematian nyonya Marta dan meminta bercerai denganku. Apa ibu tidak pernah memikirkan perasaanku? Akibat dari apa yang ibu lakukan jika sampai diketahui oleh semua orang?" Tuturku menaikan nada bicaraku sedikit sambil bangkit dari posisi duduk ku.
"Kau bercanda? Bagaimana bisa suamimu–"
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?"
"Itu ...,"
"... padahal aku sudah memutuskan untuk melupakan semuanya. Tapi karena ibu, aku jadi harus bercerai dengan suamiku disaat aku sedang mengandung anaknya. Sekarang ibu puas? Puas sudah menghancurkan kebahagiaanku?!" Lanjutku sebelum pergi ke kamarku.
"Tunggu! Claretta, kau hamil?" Teriak ibu tak ku dengarkan.
***
-Aster-
Waktu sudah menunjukan pukul 07:00 malam. Tapi Kalea masih sibuk belajar di meja belajarnya, begitupun denganku.
Dreet... dreet...
Getar heandphoneku membuyarkan konsentrasi belajarku. Dengan cepat ku raih benda pipih disamping kananku, berdekatan dengan buku paket tebal berukuran cukup besar.
Papa. Batinku saat melihat nama ayah tertera disana.
Bagaimana sekolahmu hari ini? Sudah mendapatkan teman baru seperti yang kau harapkan? Lanjutku dalam hati saat membaca isi pesan dari ayah.
"Teman baru ya?" Gumamku membayangkan teman-teman satu kelasku yang tak bisa akrab denganku karena mereka takut dan segan mendekatiku.
Padahal aku tidak melakukan apapun, kenapa mereka takut padaku? Batinku bertanya-tanya sambil memegangi daguku dengan tangan satunya selagi tangan kananku sibuk memegangi heandphoneku.
"Ku dengar kau satu kelas dengan Nadin ya?" Suara Kalea membuatku terkejut.
"Ya, begitulah. Aku terkejut bisa satu kelas lagi dengannya." Jawabku sambil memutar kursi belajarku untuk melihat sosok Kalea yang masih fokus dengan buku-bukunya.
... ngomong-ngomong, apa Kalea baik-baik saja ya? Apa dia sudah memiliki teman dekat di kelasnya? Lanjutku dalam hati saat mengingat betapa sulitnya aku mendapatkan teman baru.
Jika dibandingkan denganku, bukankan posisi Kalea lebih sulit sekarang? Apalagi saat semua orang tau kalau dia pernah melakukan hal buruk padaku dimasa lalu. Siapapun pasti tidak ingin menjadi temannya.
"Aster, heandphonemu berbunyi." Suara Kalea kembali menyadarkanku dari lamunanku saat melihatnya menoleh padaku. Dengan cepat ku angkat panggilan masuk yang ku terima.
"Kenapa tidak membalas pesanku?"
"Papa?" Gumamku sambil memperhatikan nama yang tertera dilayar heandphoneku yang sempat ku abaikan.
"Maaf, tadi Aster masih sibuk belajar. Bagaimana kabar papa?" Lanjutku mencoba mengalihakan pembicaraan.
***
-Sean-
Ku hempaskan tubuhku keatas tempat tidurku setelah menerima panggilan dari ayah. Panggilan yang membuatku terkejut saat mendengar ayah menceraikan tante Claretta dari mulutnya sendiri.
"Kenapa mendadak dia bercerai?" Gumamku sambil memperhatikan langit-langit kamarku.
Ku pikir ayah tidak akan menceraikan wanita itu, karena dia terlihat begitu mencintainya. Tapi, kenapa ayah mengambil keputusan sebesar ini tanpa mendiskusikannya dulu? Apa kakak mengetahui perceraian ayah? Lanjutku dalam hati sambil meraih bantal disampingku dan memeluknya dengan erat.
Meski aku tidak menyukai ibu tiriku, aku memiliki banyak kenangan baik bersamanya. Bahkan lambat laun aku mulai bisa menerimanya sebagai ibuku. Tapi, kenapa disaat aku mulai membuka hatiku ayah malah bercerai dengannya? Padahal dulu dia sempat memohon padaku dan kakak untuk merestui hubungannya dengan tante Claretta. Tapi sekarang, dengan mudahnya dia menceraikan orang yang dia perjuangkan? Semudah itukah cintanya menghilang?
"... ternyata aku benar-benar tidak menyukainya." Gumamku mengingat wajah ayah saat dia menceraikan ibu disaat usiaku masih tujuh tahun. Meski bayangan saat itu tak begitu jelas, tapi aku masih bisa mengingat hari menyedihkan itu.
Saat kakak memeluk tubuhku dengan erat dibawah guyuran hujan deras dan mencegahku untuk tidak mengejar ibu yang pergi dari rumah dengan menggunakan taxi. Padahal hari itu, aku sangat yakin kalau ibu juga tidak ingin berpisah dengan ayah.
"Aku tidak akan menjadi orang seperti ayah!" Lanjutku bertekad bersamaan dengan suara pintu kamar yang terbuka dari luar, menampilkan sosok Hendric.
"Kau sudah kembali?" Lanjutku bertanya sambil bangkit dari posisi terbaringku dan menyibak rambutku kebelakang saat merasakan rambutku mengganggu penglihatanku.
"Ya, kau belum mengganti seragam mu?" Lanjutnya sambil melemparkan kaleng minum kearahku, dengan cepat ku tangkap kaleng itu sebelum memperhatikan seragam sekolahku yang belum juga ku ganti.
"Aku akan menggantinya sebentar lagi. Tapi kenapa kau hanya membawakanku minuman kaleng? Apa tidak ada makanan yang bisa ku makan?"
"Pergi saja ke kantin. Kantin buka sampai pukul sembilan malam kan?"
"Kau habis dari sana kan? Kenapa tidak membawakanku makanan?" Dengusku merasa kesal dengan sifatnya yang penuh perhitungan itu. Benar-benar anak yang tidak bisa diandalkan.
Dia benar-benar tidak suka melakukan hal-hal secara suka rela ya? Lanjutku dalam hati.
.
.
.
Thanks for reading...