
-Aster-
"Ada apa dengan kalian?" Suara Kalea membuatku dan Carel langsung menoleh padanya yang baru menutup kembali pintu kamar dibelakangnya.
"Ka–kalea," gumamku merasa lega saat melihat sosoknya.
"Ku–pikir ibu asrama kembali lagi." Lanjut Carel setelah menghela napas leganya sambil melepaskan cubitannya dari wajahku.
"... tidak ku sangka orang bodoh ini benar-benar membolos." Gumam Kalea yang sudah berdiri dibelakang Carel.
"Siapa yang kau panggil bodoh?!"
"Stt..." Desisku mencoba menenangkan Carel, jangan sampai ibu asrama kembali lagi ke kamarku karena mendengar suara anak laki-laki dari kamarku.
"Ah!" Gumamnya langsung mengerti dengan responku.
"Bodoh," ejek Kalea membuat Carel mendelik kesal padanya.
"Kalian ini benar-benar tidak bisa akur ya?" Gumamku tak bisa memberikan komentar apapun lagi pada mereka berdua.
"Ngomong-ngomong kenapa kau kesini?" Tanya Carel setelah menghela napas letihnya.
"Kau lupa kamar ini kamarku juga?" Jawab Kalea dengan ketus, "normalnya aku yang tanya kenapa kau bisa disini? Jika tau kau akan datang, aku tidak akan membeberkan kamarku padamu." Lanjutnya sambil melirik sinis pada Carel.
"Jadi Lea yang memberitau kamar kita pada Carel?" Tanyaku kembali bangkit dari posisi berbaringku.
***
-Sean-
"Makanan kantin hari ini sangat enak ya," gumam Hendric yang berjalan disampingku. Tampaknya dia sangat menyukai menu makan siang hari ini, terlihat dari ekspresinya.
"Itu kan anak–" Ucap seorang perempuan yang berdiri tak jauh dariku.
"Sst..." Desis perempuan lainnya sambil menutup mulut perempuan dihadapannya.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Hendric yang menyadari situasi disekitar kami.
"Kau juga menyadarinya ya?" Ucapku sambil memperhatikan semua orang yang memperhatikanku diam-diam, bahkan ada beberapa diantara mereka yang terang-terangan memperhatikanku dengan tatapan yang belum pernah ku lihat sebelumnya.
"Cih, aku benar-benar tidak suka dengan tatapan mereka." Lanjutnya berdecih, membuatku melirik kearah Hendric yang membalas tatapan mereka dengan tatapan tajamnya.
"Kau benar." Ucapku menyetujui ucapan Hendric.
Lalu ku lihat pria berambut pirang keluar dari kelasku dengan tergesa-gesa. Dia temannya Aster ya? Atau kekasihnya? Batinku mencoba mengingat kembali kedekatannya dengan Aster.
"Tapi bukannya saat di pesta kak Nathan, keluarga mereka baik-baik saja ya?" Bisik perempuan lainnya kembali menarik perhatianku, ku lihat mereka sibuk memperhatikan ponselnya.
"Kenapa tiba-tiba mereka bercerai?" Lanjut yang lainnya membuatku paham dengan tingkah laku mereka.
Ah, soal perceraian ayah dengan tante Claretta ya? Batinku sambil menghela napas kasar.
"Kenapa?" Tanya Hendic membuatku melirik kearahnya.
"Tidak, bukan apa-apa. Ayo masuk." Jawabku memimpin perjalanan kami memasuki kelas.
Saat memasuki kelas pun, tatapan semua orang di dalam kelas terlihat sama dengan orang-orang diluar. Sangat mengganggu.
"Kenapa semua orang sangat tertarik dengan masalah orang lain ya?" Gumamku merasa kesal tanpa alasan.
"Apa? Kau bilang sesuatu?" Tanya Hendric.
"Anu–Sean ... apa benar ayahmu bercerai dengan ibumu bukan karena masalah itu? Atau me–" Tutur Tia menghampiriku dengan ekspresi yang sulit untuk ku gambarkan.
"Apa yang kau katakan? Jangan membuatnya merasa tidak nyaman. Aku yakin mereka bercerai bukan karena masalah itu." Lanjut Nadin yang memotong ucapan temannya.
"Apa yang kalian bicarakan sih?" Tanya Hendric mewakili rasa penasaranku.
"Kau ... apa kau belum lihat beritanya di internet? Banyak artikel buruk tentang ibu tirimu loh, dan alasan kenapa ayahmu menceraikannya. Tapi ya, aku tidak tau itu benar atau tidak. Makanya aku ingin mendengarnya langsung darimu karena kau keluarganya. Dan kau pasti tau alasan sebenarnya–" Jelas Tia membuatku langsung mengeluarkan heandphoneku dan mencari artikel yang mereka maksud.
"Tapi kau lihat sendiri semua bukti yang ditunjukan tuan Ansel kepada media kan? Sudah pasti mereka terlibat dalam kecelakaan nyonya Marta. Dan lagi tuan Ian juga membantu penyelidikannya, jadi mana mungkin tuan Ansel memfitnah tante Claretta." Lanjut Tia tidak ku perhatikan karena terlalu fokus membaca artikel diponselku.
"Tia benar, mana mungkin tuan Ansel memfitnah mereka. Setauku keluarga Veren itu tidak akan pernah menyentuhmu jika mereka tidak diusik lebih dulu." Tutur suara pria yang entah siapa.
Begitulah yang ku dengar dari mereka saat sedang membaca artikel tentang perceraian ayah yang dihubungkan dengan penangkapan tante Claretta bersama ibunya, atas tuduhan pembunuhan berencana pada kepala keluarga Veren terdahulu nyonya Marta Veren. Ibunya tuan Ansel.
"Ap–apa maksudnya ini?" Gumamku tak bisa berkata apapun lagi, bahkan kepalaku terasa kosong setelah membaca artikel itu.
Aku ... tidak pernah diberitau alasan ayah menceraikan tante Claretta, lalu mendadak artikel ini muncul? Sebenarnya ada apa ini? Apa kakak tau soal ini? Batinku bertanya-tanya dan mengabaikan bisikan orang-orang di kelas.
***
-Teo-
"Benar-benar membosankan ...." Gumamku sambil memainkan heandphoenku dengan bermalas-malasan di tempat duduk ku.
Si anak menyebalkan itu juga tidak kelihatan di kantin. Siapa? Siapa lagi kalau bukan Carel. Lalu Kalea juga pergi dengan cepat ke asramanya saat bel istirahat berbunyi. Aku melihatnya berlari dengan cepat melewati kelasku. Sepertinya dia mengkhawatirkan kondisi teman sekamarnya.
"Apa dia pergi ke asrama perempuan juga?" Lanjutku berkeringat dingin membayangkan Carel pergi ke asrama perempuan dan tertangkap oleh ibu asrama.
Tidak mungkin, batinku mencoba untuk menepis pikiran negatifku tentang Carel. Tapi semakin ku tepis, aku malah semakin mengkhawatirkannya. Apalagi saat mengingat sifat buruknya yang seperti itu. Pasti bukan hal sulit untuknya menyusup ke asrama perempuan kan?
"Kalau memang benar dia menyusup kesana. Aku akan memarahinya nanti. Ya, akan ku marahi dia!" Ucapku tanpa sadar sudah menganggukan kepalaku dengan mantap, menyetujui isi pikiranku sendiri. Bersiap untuk memarahinya.
"... ini kan ibu tirinya Sean," suara Tia membuat perhatianku teralihkan padanya.
"Kau benar, ini tante Claretta." Ucap Nadin menyetujui ucapan teman satu bangkunya setelah melihat layar heandphone Tia.
"Dia ditangkap polisi?!" Lanjut Tia segera menutup mulutnya.
Ditangkap polisi?
"Dia juga sudah bercerai dengan tuan Albert?" Lanjut Nadin membuatku penasaran dan langsung mencari nama tuan Albert di internet.
Tapi yang muncul malah berita soal perceraiannya dengan tante Claretta, ibunya Kalea. Disusul dengan berita penangkapan tante Claretta dan ibunya atas tuduhan pembunuhan berencana pada kepala keluarga terdahulu Marta Veren.
"Ini?" Gumamku merasa sangat terkejut dengan apa yang ku lihat.
Bagaimana bisa mereka melakukan hal sejahat ini pada nyonya Marta? Lanjutku dalam hati langsung mengingat sosok Aster dan Kalea yang baru berbaikan. Padahal hubungan mereka baru saja membaik, apa akhirnya mereka akan kembali seperti dulu lagi?
"Tidak, posisinya tidak akan sama." Gumamku mengingat posisi Kalea saat ini, anak itu sudah dikucilkan dihari pertama masuk sekolah. Jika semua orang tau kalau orang yang ditangkap ini adalah keluarganya, dia pasti akan semakin dikucilkan. Dan, bisa saja Aster juga menjauhinya.
"Aku harus melakukan sesuatu." Gumamku segera berlari keluar kelas untuk mencari Kalea. Entahlah, kenapa aku mengkhawatirkan anak itu sekarang? Padahal aku tidak pernah memperdulikannya. Tapi semenjak Aster memperlakukannya sebagai temannya, tanpa sadar aku sudah menganggapnya sebagai temanku juga.
Ku harap dia belum melihat artikelnya, akan lebih baik jika dia tidak tau. Karena orang-orang pun tidak mengenal Kalea sebagai putrinya Claretta kecuali Nadin.
***
"Carel!" Teriak ku saat melihatnya di halaman akademi. Dengan cepat aku berlari menghampirinya.
"Harus ya meneriaki namaku?" Tanyanya disaat aku sedang berusaha mengatur napasku yang tidak beraturan akibat berlarian kesana-kemari untuk mencari Kalea, tapi yang ku temukan malah anak menyebalkan ini.
"Lupakan itu dan lihat ini." Ucapku segera memberikan heandphoneku ketangannya setelah napasku berhasil ku kendalikan.
Ku lihat Carel mulai membaca artikel diponselku setelah berdecak malas. "Ini serius?" Tanyanya terlihat begitu terkejut dengan manik merahnya yang terus menatap layar heandphoneku.
"Entahlah, tapi beberapa menit sebelumnya, aku melihat wawancara tuan Ansel yang disiarkan secara live di–" Jelasku segera dipotong olehnya.
"Akan ku tanyakan pada ayah." Ucapnya sambil memberikan heandphoneku kembali ketanganku sebelum dia berjalan kearah asrama pria dengan tergesa-gesa.
"Tunggu! Carel! Kau mau membolos?!" Teriak ku tak didengarkan.
.
.
.
Thanks for reading...