
-Kalea-
"Ugh! Ini sst ...," gumamku merasakan denyutan hebat dikepalaku saat kepalaku terbentur tembok karena menghindari serangan pria bertubuh besar yang mengejar Aster. Ku lihat Aster juga sudah tersungkur karena menghindari serangan dari pria itu.
Ku sibak rambutku yang menghalangi penglihatan ku, lalu dengan cepat berlari ke arah Aster yang berada dalam bahaya.
Pria bertubuh besar itu sudah mengacungkan belatinya, bersiap untuk menikam Aster yang sudah terpojok. Lalu dengan cepat ku paksakan tubuhku untuk bergerak dan meraih tongkat yang tergeletak tak jauh dari tempatku tersungkur.
Ku layangkan pukulan sekuat tenaga pada punggung pria itu dengan tongkat yang ku genggam, padahal aku berniat memukul tengkuknya. Tapi pandanganku sedikit kabur karena rasa sakit dikepalaku. Dan pukulanku tidak berhasil membuatnya hilang kesadaran, pria itu hanya tersungkur selama beberapa saat. Lalu kembali berdiri dengan terhuyung, mendekati Aster dengan benda tajam yang masih setia digenggamnya.
"Jangan ganggu Aster!" Teriak ku segera berlari mendekati Aster dan memeluk tubuhnya dengan seluruh kekuatanku. Dan berharap pria itu mengurungkan niatnya untuk menikam Aster, meski ku yakin dia tidak akan mundur begitu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk memasang badan untuk melindungi Aster. Namun detik berikutnya Aster langsung mendorongku menjauh.
"Lea!" Serunya sebelum mendorongku. Lalu aku melihat belati itu berhasil menggores tangan Aster bersamaan dengan suara tembakan yang membuatku terkejut.
Tembakan? Batinku segera menoleh ke arah sumber suara tembakan itu berasal. Ku lihat Ayah sudah berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri. Kemudian ku tolehkan kembali kepalaku pada sosok pria yang hampir menikam Aster, ku lihat dia sudah tersungkur kesakitan di dekat Aster.
***
-Aster-
Ku dorong tubuh Kalea dengan seluruh kekuatanku, membuatnya menjauh dari hadapanku saat aku melihat pria itu bersiap untuk menusukan benda tajam itu pada Kalea.
Ku lihat Kalea meringis karena dorongan ku, lalu detik berikutnya aku melihat belati itu bersiap untuk mendarat di dadaku, namun dengan sisa tenagaku, aku berhasil menghindari serangan pria itu meski tanganku tergores oleh benda tajam itu.
Dor!
Suara tembakan mengejutkanku disela-sela ringisanku, dan ku lihat pria bertubuh besar dihadapanku itu tiba-tiba terhuyung dan tersungkur kesakitan dihadapanku.
"Da–darah?" Gumamku saat melihat cairan merah mulai menggenang dibawah tubuhnya.
"Kemarilah Lea!" Teriak suara Ayah menarik perhatianku, lalu ku lirik sosok Kalea yang masih terduduk lemas di tempatnya sambil memegangi keningnya yang berdarah akibat berbenturan dengan tembok saat menghindari serangan pria yang sudah tergeletak di hadapanku.
Ku lihat Ayah mulai berjalan mendekati Kalea dengan ekspresi khawatirnya yang sudah lama tidak ku lihat. Padahal putrimu lebih membutuhkanmu, tapi yang pertama kau datangi malah anak orang lain ..., batinku merasakan sakit jauh di dalam hatiku saat Ayah mengusap kening Kalea dengan saputangannya.
"Aster!" Seru Kalea yang entah sejak kapan dia sudah berjongkok di depanku. Tangannya berniat meraih bahuku, namun belum sempat dia meraihnya aku sudah menepis tangannya dengan kasar dan membuatnya melongo.
"A–Aster?" Gumamnya terlihat bingung, tapi tidak ku perdulikan.
"Kau cari mati ya?" Tanya Ayah dengan suara dinginnya membuatku menengadah, melihatnya berdiri tepat di belakang Kalea. Menatapku dengan tajam, sampai rasanya menusuk kedalam hatiku.
"Sudah di bantu bukannya berterima kasih kau ma–" Lanjutnya terhenti saat mendengar seruan Kalea.
"Hentikan Ayah!" Seru Kalea memotong ucapan Ayah. Ku lihat Ayah sudah membungkam mulutnya dan mengindahkan seruan Kalea.
"... aku tidak pernah memintanya datang untuk membantuku!" Ucapku sambil mengepalkan kedua tanganku, mengumpulkan seluruh kekesalanku disana. Padahal aku cuma berharap Ayah datang dan menyelamatkanku, bukan berharap dimarahi seperti ini.
"Kau benar-benar tidak tau diri. Ayo pergi Lea!" Ucapnya semakin membuat hatiku sakit. Aku tau Ayah melupakanku, tapi aku tidak pernah berpikir Ayah akan mengatakan hal-hal menyakitkan seperti itu padaku.
Padahal selama ini aku selalu berusaha menjadi putri yang baik, selalu bersabar untuk menunggu ingatan Ayah tentangku kembali, bekerja keras untuk membantu pekerjaan Ayah dan mengambil alih sebagian pekerjaan Ayah.
Apa Ayah tau betapa lelahnya aku mencoba untuk menjadi anak yang tidak mudah diremehkan oleh orang-orang dari keluarga lain? Mencoba menjadi anak yang lebih berguna yang bisa meringankan beban Ayahnya, di saat semua orang mulai berpikir untuk meninggalkan Ayah dan berpaling pada keluarga lain untuk melanjutkan bisnis mereka, karena mereka tidak mempercayai kemampuanku.
"Apa sebaiknya aku mati saja?" Gumamku melirik benda tajam di dekat pria yang sudah tak sadarkan diri itu.
"A–Aster? Apa yang–hentikan!" Ucap Kalea saat aku berniat melukai diriku sendiri. Ku lihat Kalea bertindak cepat dan berusaha keras untuk merebut belati di tanganku. Sedangkan Ayah sudah pergi entah kemana?
"Jangan bodoh Aster! Cepat lepaskan belatinya, kau bisa terluka. Lihatlah kondisi tubuhmu saat ini! Apa kau mau menambahkan satu luka lagi di tubuhmu?"
"Jangan menghentikan ku Lea! Kau tidak mengerti kenapa aku–" Ucapku nyaris berteriak bersama buliran air mata yang sudah membanjiri wajahku.
"Aku mengerti perasaanmu Aster, aku–"
"Tidak! Kau tidak mengerti sedikitpun!" Kilahku memotong ucapannya bersamaan dengan air mata yang semakin deras membasahi wajahku.
"... kalau begitu lebih banyaklah menceritakan kesulitanmu padaku agar aku mengerti bodoh!" Serunya terdengar kesal setelah membisu selama beberapa detik.
"Aku–"
"Jangan mencari alasan lagi dan berhentilah merengek!" Potongnya membuatku semakin kesal sampai tanpa sadar belati yang kami perebutkan sudah menusuk perut Kalea dan membuatku terkejut saat melihatnya meringis menahan sakit.
"Aku ... apa yang–" Gumamku benar-benar terkejut dengan apa yang sudah ku lakukan. Bisa-bisanya aku hilang kesadaran dan berniat untuk mengakhiri hidupku, tapi ditengah itu semua karena kebodohanku Kalea–dia sampai menerima luka tusuk diperutnya.
"Hiks Lea ...," lanjutku dengan tangan gemetaran. Ku lihat Kalea menahan sakit saat mencabut benda itu dari perutnya, lalu ku rasakan kedua tangannya meraih tubuhku dan memeluk ku dengan hangat.
"Tidak apa-apa Aster, aku ti–"
"Huwaaaa berhentilah bicara, aku—aku akan mencari bantuan. Ayah! Ya Ayah! Aku, tunggulah disini sebentar." Tangisku pecah saat mendengar suara Kalea yang kesakitan akibat ulahku.
"He–hentikan dulu pendarahannya, Lea!" Lanjutku melepaskan pelukannya dengan hati-hati sebelum merobek bawahan rok yang ku pakai, ku gulung kain itu dan menekan luka Kalea supaya pendarahannya berhenti.
"Apa yang sudah terjadi?" Suara berat Ayah mengejutkanku. Ku lihat Ayah sudah berdiri menatapku dan Kalea secara bergantian.
"Ayah ...," gumam Kalea dengan suara lemahnya. Dengan cepat Ayah mendekati Kalea dan memeluknya dengan hati-hati, kemudian menepis tanganku yang masih memegangi perut Kalea.
"Aku ... benar-benar tidak sengaja–" Jelasku masih terisak.
"Jadi kau yang sudah membuat Lea jadi seperti ini?" Tanya Ayah memotong penjelasanku.
"Tidak Ayah, Aster tidak bersalah. Jangan marahi dia," lirih Kalea membuatku tak bisa berpaling dari wajahnya yang sudah berkeringat dingin menahan rasa sakit diperutnya.
"Kau benar-benar tidak tau diri! Kau harus membayarnya." Ucap Ayah tidak mendengarkan Kalea, ku lihat Ayah sudah mengacungkan pistolnya kearahku. Bersiap untuk menembak ku?
"Tidak Ayah!" Ucap Kalea bersamaan dengan peluru yang sudah melesat ke arahku membuatku refleks menutup kedua mataku.
"Ck!" Decak Ayah membuatku kembali membuka mataku, "enyahlah dari hadapanku! Jangan pernah menunjukan batang hidungmu jika kau ingin selamat. Jika aku melihatmu meski secara kebetulan, detik itu juga aku akan menghabisi mu!" Lanjutnya sambil memangku tubuh Kalea yang sudah tidak sadarkan diri.
.
.
.
Thanks for reading...